x

Iklan

Dian Purnomo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 13 November 2021

Senin, 15 November 2021 06:25 WIB

Mirat

Kak, kalau mati nanti menurutmu Ibu akan jadi setan nggak? Kalau ibu jadi setan, menurutmu siapa orang pertama yang akan didatanginya, Kak? Kalau ibu beneran jadi setan kak, dia pasti datangin aku pertama kali. Ibu bahkan mungkin lupa pernah punya anak kamu. Ngapain repot-repot datangin kamu? Justru karena selama hidup ibu lupa kalau punya anak aku. Mungkin nanti setelah nyawanya dicabut dari badan, dia ingat lagi kalau ada aku.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

“Kak, kalau mati nanti menurutmu Ibu akan jadi setan nggak?”

Seandainya kakiku tidak sedang sangat kaku oleh gips yang membungkusnya dan gorden kamar ini seraihan tangan, aku sudah akan membukanya dan menoyor siapapun yang menanyakan hal bodoh itu. Bercanda ataupun serius, pertanyaannya sangat konyol. Atau mungkin aku mendengarnya dengan telinga yang masih sensitif setelah terbentur aspal dan terpelanting ke dalam got.

Tidak ada jawaban.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

“Kalau ibu jadi setan, menurutmu siapa orang pertama yang akan didatanginya, Kak?”

Kuduga usianya belum genap 25 tahun. Mungkin dia masih kuliah. Atau juga tidak. Mungkin dia terlalu banyak terpapar guyonan media sosial yang sama sekali tidak lucu. Aku memposisikan diri sebagai kakaknya. Aku yakin dia tidak akan menjawab pertanyaan itu.

Mungkin anak itu belum pernah kehilangan orang tuanya. Waktu bapak pulang, pedihnya – dan sampai sekarang mengingatnya saja masih menyakitkan – seperti setengah hidupku tercabut. Aku juga tidak sedekat itu dengan bapak, tetapi membayangkan lebaran-lebaran berikutnya tanpa bapak, melihat kaos-kaos oblongnya yang tidak lagi putih akan absen dari jemuran belakang rumah kami selamanya, membayangkan palu andalannya tidak akan lagi beradu dengan paku di rumah kami saja, meluruhkan air mataku lagi. Dan pelipisku tetiba basah. Setengah karena ngilu di kaki datang tanpa permisi, sisanya karena pedih mengingat bapak tidak akan mengunjungiku dan menemani di rumah sakit ini.

Ibu sedang dalam perjalanan. Tadinya kupikir tidak perlu mengabari dia sama sekali. Tapi adikku berpikir berbeda. Jadi kubiarkan dia mengabarkan pada ibu berita kecelakaanku.

“Donal.” Akhirnya ada suara lain selain si bocah 20-an tadi.

“Kenapa Donal?” Tanya bocah itu.

“Ibu sudah mengingatkanku tentang menikahi laki-laki itu, tapi aku tidak mendengarkan ibu. Ternyata semua yang ibu bilang tentang dia benar.”

Suaranya dingin. Aku merinding. Buatku suara pedih perempuan itu terdengar sedingin setan ketimbang ibunya – seandainya setelah mati sang ibu jadi setan nanti.

“Jadi beneran dia selingkuh?” suara hijau itu bertanya tanpa ampun. Tidak ada nada empati sedikitpun. Duh, ingin kuinjak kakinya.

Tidak ada jawaban lagi. Mungkin kakaknya mengangguk.

“Sama sekretarisnya?”

Tidak ada jawaban lagi.

“Dia nggak bisa milih jalan hidup yang beda apa? Selingkuh sama sekretaris is old school. Eh tapi, sekretarisnya lebih cantik dari kamu nggak sih?”

Tuhan, dia yang akan jadi setan kalau mati, kurasa. Sama sekali tak punya hati anak ini.

“Kalau ibu beneran jadi setan kak, dia pasti datangin aku pertama kali.”

“Ibu bahkan mungkin lupa pernah punya anak kamu. Ngapain repot-repot datangin kamu?”

“Justru karena selama hidup ibu lupa kalau punya anak aku. Mungkin nanti setelah nyawanya dicabut dari badan, dia ingat lagi kalau ada aku.”

Aku kehabisan kata. Kamus di kepalaku kosong karena anak ini.

“Kalau ibu habis ini perlu dirawat di rumah, gantian kamu yang jagain ibu ya?” Tanya sang kakak. Sudah kuduga, dialah yang selama ini menjaga ibunya.

“Kamu mau ke mana?”

“Gantian aku yang mau pergi. Empat tahun aku bertahan berdiri di antara ibu dan Donal. Memastikan ibu tidak merasa kehilangan dua anak bersamaan.” Lalu dia diam sesaat, “Karena kamu egois meninggalkan kami.”

“Kamu ada tapi bikin ibu kesel, Kak. Kawin sama Donal pasti mengingatkan ibu sama kegagalannya dengan bapak.”

Tidak ada tanggapan dari kakaknya.

“Dia nggak ngasih nafkah kamu kan?”

Kakaknya masih diam.

“Lahir batin?” masih kurang dia menyakiti kakaknya.

Ini semakin menarik buatku. Aku bisa menebak ceritanya sampai di sini. Sayangnya anestesiku sudah nyaris hilang sama sekali. Pedih dan panas mulai menjalari kaki dan naik ke atas. Tiba-tiba aku mencium bau aspal terbakar matahari dan air got yang amis. Supir ojek online itu ngebut, digilasnya seekor kucing sewarna aspal. Dia terkejut dan segera menarik rem. Tapi terlambat. Ban depannya berdecit menggores aspal ke arah kanan sementara ban belakang terus berputar lupa diajak kerja sama. Badanku tak terkendali terlempar dari jok motor, ditangkap gravitasi dan masuk ke got terbuka.

Yang selanjutnya kuingat adalah lorong rumah sakit. Suara-suara begitu berisik dan aku tidak mengenal satu wajahpun. Semua hanya mata dan suara-suara bertanya. “Ada yang bisa dihubungi?” Kepalaku pusing mencoba mengingat nomor salah seorang yang bisa mereka hubungi. Deretan nomor yang kuingat hanya nomor telpon rumah lama yang sudah tidak aktif lagi, dan nomor telpon mantan pacar SMA-ku. Aku memilih kembali memejamkan mata.

“Kamu kayak ngingetin ibu kalau perjuangannya masih jauh dari akhir.” Kata si anak kencur itu lagi.

Si kakak masih diam.

“Untunglah kalian nggak punya anak.”

Si kakak diam. Lalu menjawab lirih, “Sekarang dia punya anak sama perempuan itu. Mungkin bukan anak Donal juga. Siapa yang tahu dia tidur sama siapa aja.”

“Nggak boleh ngomong gitu. Kalau ibu dengar kena lagi kamu nanti. Perempuan harus berpihak pada sesama perempuan.”

Mereka berdua diam.

“Kaki ibu dingin.” Si kencur yang bicara.

“Kaki ibu memang selalu dingin.”

Lalu terdengar suara batuk yang bukan suara dari kedua orang yang sedari tadi berbincang.

“Bu.” Suara si kakak. “Paran udah datang.” Si anak yang tidak datang ketika pembagian hati itu bernama Paran rupanya.

Suara batuk lagi tapi lebih pelan.

“Ibu.” Kata anak tadi.

“Sudah dapat yang kamu cari?” kurang lebih itu yang kudengar dari suara si ibu. Entah benar persis seperti itu atau aku berharap itu yang ditanyakannya. Tapi nadanya dingin.

“Ibu jangan ngajak berantem ya. Aku nggak terbang 9000 kilo buat berantem sama ibu.”

“Tapi kamu ke sini untuk memastikan ibumu jadi setan?” rupanya si ibu mendengar pembicaraan kedua anaknya sedari tadi. Mampus kau anak bau kencur.

Ini akan jadi laga yang seru. Sesakit apapun badanku, aku akan berusaha keras untuk tidak melewatkan setiap percakapan. TV yang tergantung sejajar dengan gorden yang memisahkan kami sedari tadi menyala tanpa suara. Jadi bukan salahku kalau ikut mendengar drama keluarga tetangga kamarku ini.

“Maaf. Ibu tahu aku bercanda, kan?” Takut juga anak itu pada ibunya. Atau mungkin dia tidak enak hati karena ibunya sedang sakit.

“Ibu tidak akan jadi setan kalau mati nanti. Percuma. Setan orang mati cuma ditakuti di film-film.” Kata ibunya – tetap dengan nada dingin.

“Ibu nggak capek?” si Paran bertanya lagi.

“Yang dicari belum ketemu kok mau berhenti.” Jawab si ibu ketus. Lalu terbatuk lagi. “Kamu sendiri, kenapa pulang?”

“Aku pulang karena kak Gati mohon-mohon.”

Nih anak pengen dibenturin ke sofa banget sih. Gemas sekali aku mendengar kejujurannya.

“Paran!” kakaknya mengingatkan.

Ibunya terbatuk-batuk lagi.

“Kamu nggak berubah, Paran.” Ada nada senyum dalam kalimat ibunya.

“Kalau aku bilang aku seperti Ibu di bagian itu, Ibu juga nggak akan percaya kan? Ibu selalu mikir kalau aku anak bapak. Padahal mungkin bapak juga pergi karena nggak tahan sama Ibu.”

“Paran, udah deh.” Kakaknya mencoba menghentikan.

“Bapakmu pergi karena tidak tahan sama ibu, dan takut sama perjuangan ibu. Itu kita semua sudah sama-sama tahu. Dan kamu memang seperti bapakmu. Kamu takut sama perjuangan ibu dan kamu memilih pergi.”

“Bapak pergi karena perempuan lain,” si kakak gusar. “Sama seperti Donal.”

“Perempuan itu hanya menguatkan bapak pergi lebih cepat, Gati. Tanpa perempuan itu, bapak juga akan pergi dari Ibu.” Sang ibu membela mantan suaminya. “Kalau Donal aku tidak tahu kenapa dia pergi. Mungkin justru karena kamu terlalu penurut. Nggak ada tantangannya.”

Drama keluarga ini lebih menarik dari sinetron apapun yang kutonton sepuluh tahun lalu di TV. Terlebih lagi karena aku tidak melihat semua tokohnya sama sekali. Ini lebih mirip ketika aku membaca novel, yang semua tokohnya dideskripsikan dengan kata-kata dan aku bisa menginterpretasikan sesuka hati. Bedanya kali ini, semua tokoh bersuara tetapi tidak ada wujudnya. Dalam novel biasanya penulis membantuku dengan menggambarkan warna baju, rambut, bola mata, tinggi, dan besar kecil badannya. Dalam cerita audioku kali ini, berbeda dengan drama radio yang memakai efek suara untuk mendukung penceritaan. Cerita audioku tidak ada musik yang menegangkan, mendayu pilu, atau smash bombastis penanda ketegangan meningkat. Dramaku murni percakapan. Seperti audio mentah setelah para pengisi suara merekam suara dan sebelum ditambahkan efek oleh editornya. Nada bicara mereka kutangkap sekenanya dan kadang kumaknai sendiri. Kepalaku berdenyut lebih kencang dari yang seharusnya, karena penasaran.

Pikiranku semakin liar membayangkan seperti apa rupa Paran, Gati dan ibunya. Tidak ada suara lagi. Mereka semua diam.

“Jam berapa operasinya?” sang ibu akhirnya bersuara.

“Lima belas menit lagi perawat akan ke sini katanya.” Jawab sang kakak.

Drama liarku akan berakhir lima belas menit lagi. Antara tak sabar tapi juga tak ingin mengakhiri khayalan liar, aku semakin berkejaran dengan berbagai kemungkinan. Aku bahkan tidak tahu sang ibu akan operasi apa. Tapi bayanganku dia berusia 60-an. Sorot matanya tajam dan rahangnya keras. Rambutnya mungkin sudah hampir putih semua, tapi itu membuatnya semakin berwibawa.

Gati Perempuan berusia 30-an. Rambutnya panjang bergelombang dan wajahnya sayu. Matanya masih menyimpan duka karena suami celaka yang berselingkuh. Dia sudah menyerahkan segalanya tetapi tidak mendapatkan yang diimpikannya.

Paran, Perempuan berumur 20-an. Paling tua 27 tahun. Dia kabur dari rumah sejak lulus SMA atau kuliah, mungkin ke Amerika atau Eropa. Sembilan ribu kilometer dari Jakarta. Dia bersekolah atau mungkin bekerja di sana. Bisa jadi pekerja resmi atau imigran gelap. Wajahnya setegas ibunya. Kurasa dia tidak pernah akur dengan sang ibu karena keduanya seperti berkaca. Sering kali kita tidak menyukai orang lain karena melihat apa yang kita benci dalam diri kita di orang tersebut.

Suara pintu dibuka dari luar. Rumah sakit ini tidak seperti yang ada di film-film hantu. Para perawat tidak memakai sepatu berhak kayu yang menyebabkan bunyi cetak-cetok sebagai penanda kedatangan mereka. Dua orang perawat masuk dan memamerkan senyum manisnya. Yang satu mendorong baki beroda berisi set makanan dalam nampan, satunya lagi membawa alat pengukur tekanan darah.

“Ditensi dulu ya, Bu.” Kata yang satu. Lalu segera meraih tangan kiriku dan berhati-hati mencari celah di antara perban.

Sementara satunya lagi bertanya, “Sudah bisa makan sendiri atau mau disuapi?”

“Bisa sendiri.” Jawabku.

Kehadiran para perawat ini terasa seperti iklan di antara sesi sinetron.

“Sebentar lagi dokternya akan ke sini untuk visit ya, Bu. Semoga lekas sembuh.” Sembari meninggalkan senyum, keduanya berlalu. Makanan sudah tertata di meja tinggi sebelah kananku. Sisi yang masih bisa kugerakkan secara bebas.

Drama keluarga terhenti sesaat. Lama kemudian – setidaknya itu yang kurasakan – dua orang dokter masuk dengan salah seorang perawat yang tadi. Pertanyaan-pertanyaan dokter – yang belakangan kuketahui satu dokter tulang dan satunya saraf sangat menggangguku. Aku ingin segera kembali konsentrasi ke drama keluarga pasien sebelah.

“Paran, Gati, kalau ibu tidak kembali dari meja operasi, tolong baca semua berkas yang ada di lemari. Di situ ibu sudah tandai siapa saja yang bisa melanjutkan kasus-kasusnya. Rumah kalian jual saja. Kau juga pergilah dari rumah itu, Gati.”

“Operasinya pasti berhasil.” Gati menguatkan ibunya.

“Tidak perlu kamu besarkan hati ibu. Jantung tua ini belum tentu mau diajak kompromi.”

Lalu suara terbatuk lagi.

“Paran, kalau ibu mati kamu mau pulang lagi ke Indonesia?”

Aku tidak mendengar jawaban. Tapi samar-samar kudengar hela nafas entah punya siapa.

“Kalau Ibu mati, buat siapa aku pulang?”

“Jadi kalau aku selamat, kamu mau pulang?”

“Dari jauh negeri ini indah sekali, Bu.” Si Paran yang bicara. “Tapi sekaligus menakutkan. Orang menulis gelapnya Indonesia dan aku tidak rela membacanya. Terlebih lagi aku tahu ibu sedang berjuang untuk menjadikan negeri ini terang.”

Tidak ada suara apapun. Rupanya anak itu punya hati.

“Beri aku setahun lagi, kutemani Ibu berjuang.”

Ibunya diam. Bulu kudukku berdiri. Lama tidak ada suara. Lama sekali. Aku menunggu. Lalu Paran bicara lagi, “Ibu benar. Jangan mati dan jadi setan. Kalau ibu hidup, kita jadi setan sama-sama ya, Bu. Masih jauh jalan negeri ini menuju terang.”

Lalu hening. Aku tertidur sejenak dan baru sadar ketika terang berganti remang. Kudengar langkah-langkah bertambah di luar kamar. Tidak ada satupun yang memasuki kamarku. Sampai pengeras suara meminta pengunjung meninggalkan ruang perawatan dan membiarkan pasien beristirahat, barulah kudengar pintu dibuka.

Seorang perempuan seusiaku masuk ragu-ragu. Dia pasti menengok keluarga tetangga kamar. Ah, akhirnya drama akan dimulai lagi.

Tapi aku salah. Langkahnya berhenti di kakiku, memandangku dengan menahan air mata.

“Ibu.”

Aku? Ibunya? Tapi dia seusiaku.

“Ibu, ini Jati.” Rambutnya bergelombang sebahu.

Aku sudah punya anak setua itu? Jadi berapa umurku?

“Prana sedang dalam perjalanan.” Katanya lagi.

Aku tidak tahu apa yang dikatakannya. Tapi aku tahu dia bisa membantuku melakukan sesuatu yang sedari tadi ingin kulakukan.

“Boleh tolong kau bukakan gorden itu?”

Dia melongok ke tetangga kamar ragu-ragu. Lalu menatapku meminta kepastian. Aku mengangguk dan dia membuka gorden pelan.

Tidak ada siapapun di sana.

Ikuti tulisan menarik Dian Purnomo lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler