Timnas Takluk oleh Passing-Control Pemain yang Lemah - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Timnas

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 17 November 2021 05:46 WIB

  • Sport
  • Topik Utama
  • Timnas Takluk oleh Passing-Control Pemain yang Lemah

    Alih-alih mendongkrak ranking FIFA, paaukan Garuda malah kalah dari Afghanistan oleh passing-control pemain yang lemah. Memilukan.

    Dibaca : 418 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Saya selalu menulis prediksi sebelum timnas Indonesia berlaga, terutama dalam laga resmi yang ada poin dari FIFA. Namun, untuk laga Indonesia versus Afghanistan, saya tak berminat menulis prediksi. Alasannya, selain sudah dapat menebak apa yang akan diperbuat Shin Tae-yong (STy) terutama dalam memasang komposisi pemain, saya juga sudah memprediksi Garuda akan kalah.

    Ternyata, apa yang saya pikirkan terbukti. Apa pun alasannya, pasukan STy takluk dari tim yang negaranya terus berkonflik dan kompetisi internalnya pun tak jelas. Uniknya, ranking FIFA Afghanistan berada di atas Indonesia. Pupus sudah harapan Indonesia mendongkrak ranking FIFA.

    Passing-control memilukan

    Prediksi Indonesia akan kalah yang sudah saya pikirkan, memang terbukti. Tetapi lebih terbukti lagi, apa yang selama ini dikeluhkan oleh STy, bahwa meski sudah masuk timnas, passing-control para pemain kita memilukan.

    Sepanjang laga berlangsung, hingga akhirnya gawang Garuda jebol di menit 84, semua musababnya dari passing-control bola pemain kita yang nampak sangat lemah.

    Herannya, STy tetap saja mempertahankan pemain di lapangan meski pemain-pemain bersangkutan terus membikin kesalahan elementer. Passing salah, control salah.

    Sepanjang laga, kita terus disuguhi sepak bola passing salah, control salah, memaksa menguasai bola dan direbut lawan. Menyianyiakan peluang emas dan peluang lainnya.

    Susah rasanya.

    Susah rasanya, bila Garuda menatap Piala AFF 2020 yang akan bergulir 5 Desember 2021 di Singapura, bila hanya mengandalkan para pemain yang sekarang ada di Turki, lalu dikasih kesempatan merumput, passing salah, control salah, egois, dan lainnya.

    Bila STy teriak ingin minta pemain naturalisasi, lalu ada yang menentang. Ternyata pemimpin negeri ini juga mendukung pemain naturalusasi. Mungkin karena memang sudah sulit mengandalkan pemain lokal.

    STy pun tentu tahu, mana pemain lokal yang bisa diboyong ke Piala AFF, tak harus mengikuti aturan konyol PT LIB dan Klub Liga 1, yang hanya mengizinkan boleh memanggil maksimal 2 pemain dari setiap tim, kompetisi pun tetap bergulir saat Piala AFF bergulir. Parah dan tidak masuk nalar bila berpikirnya waras.

    Piala AFF, meski bukan termasuk kalender FIFA, tapi dia adalah harga diri bagi segenap negara Asia Tenggara. Indonesia pun konsisten menjadi pecundang. Terus diremehkan Vietnam, tak dipandang Malaysia, dan dikecilkan Singapura.

    Melihat penampilan Garuda malam ini, yang sangat menjemukan, rasanya STy harus lebih cerdas lagi memasang komposisi pemain. Jangan membiarkan pemain yang passing-control saja salah, tapi terus dibiarkan ada di lapangan. Sudah begitu, pergantian pemain belakang pun sangat tak tepat karena kualitasnya.

    Kita lihat bagaimana STy mengolah timnas Indonesia saat menjajal kekuatan Myanmar pada 25 November 2021? Apakah akan ada perubahan signifikan? Apakah pemain akan kembali unjuk salah passing dan control hingga menyiakan peluang menjadi gol. Salah passing dan control juga hingga bikin Garuda kejebolan? Sungguh, versus Afghanistan menjadi laga yang menjemukkan.

    Berharap ranking FIFA terdongkrak, passing-control yang lemah malah bikin salah dan kekalahan sendiri.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.