Perjalanan Antar Generasi atau Kisahnya Menilik yang Lalu - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Meru Sigit Estiono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 17 November 2021

Kamis, 18 November 2021 07:09 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Perjalanan Antar Generasi atau Kisahnya Menilik yang Lalu

    Apa itu? Apa ini? Kok bisa? Loh?

    Dibaca : 2.974 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Peringatan : Dianjurkan untuk makan dan minum terlebih dahulu. Jika otot dan sendi berangsur pegal. Perut lekas bersahut nyaring, itu sebab tidak singkat dan dekat kisah ini, sebagaimana akan diceritakan memiliki daya jelajah yang melelahkan.

    ***

    Mungkin tidak banyak yang tahu apa itu Clereng dan di manakah itu Clereng. Clereng merupakan panggilan akrab warga setempat untuk Pemandian Clereng. Sebuah kolam alami yang memiliki mata air sendiri. Berada di Dusun Mrunggi, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, D.I. Yogyakarta.

    ***

    Tepat tiga puluh tahun tiga bulan tiga hari yang akan datang, lahirlah seorang anak laki-laki bernama Ryzen Core Celeron. Sebuah nama yang khas bagi anak yang lahir pada generasi beta (β) itu.

    Sepuluh tahun kemudian...

    “Ceritakan padaku sebuah masa lalu yang indah tentang Clereng...” tanya seorang bocah generasi beta itu yang kini duduk di bangku sekolah dasar kepada simbah buyutnya. Ada keraguan tersirat di wajah kriput simbah buyut itu. Sejenak ia memandang mata Ryzen yang merupakan cucunya itu. Bulat, cerah, berbinar, dan penuh rasa keingintahuan.

    Diberikanlah Ryzen kalung antik yang lebih menyerupai sebuah tasbih. Sebenarnya dia baru tahu jika zaman dulu tasbih wujudnya semacam ini. Karena yang dia tahu jika ingin bezikir dia menggunakan aplikasi e-zikir yang praktis.

    “Pergilah kamu ke Pemandian Clereng! Kamu akan mendapatkan jawabannya...” seru simbah buyut pada cucunya.

    Dua ratus meter ke timur lalu berbelok 90° ke selatan melintasi jalan setapak yang kini jarang tertilas tapak. Ryzen begegas menggunakan sepeda listiknya menuju Pemandian Clereng sambil menenteng kalung antik pemberian simbah buyut tadi.

    Sesampainya di pintu masuk, dia disambut suara nyaring mesin air yang sebenarnya jauh dari tempatnya berdiri. Tak ada yang istimewa di sini. Satu kolam renang ukuran 50 meter dan satu kolam anak dengan perosotan yang berkelok ke kanan dan kiri. Satu lagi. Ada kolam yang katanya kolam ini alami karena airnya berasal dari mata air sendiri. Memang masih ada unsur alami yang tersemat pada kolam ini. Namun, tampak didominasi bangunan modern seperti semen yang sengaja dibuat untuk pinggirannya.

    Terlepas dari semua itu, Ryzen tertarik dengan batu bongkah bulat hitam berlumut yang kira- kira berdiameter satu meter. Sontak dia menghampiri batu bulat itu. Entah mengapa pada wayah surup ini, seolah ada sesuatu yang menarik Ryzen untuk segera menghampiri batu itu. Satu jengkal jarak Ryzen dengan batu, tiba-tiba Ryzen tersedot ke dalam batu yang seketika bersinar terang. Lorong spiral yang membuatnya sedikit mual melemparnya jauh ke kehidupan lampau yang usang.

    ***maturist 1945***

    “Di mana aku? Mengapa aku di sini? Tempat apa ini?” katanya seperti orang yang ling-lung.

    Sebuah tempat yang sangat asing baginya. Kosong. Hanya semak belukar, ilalang, rerumputan, pohon beringin, pohon munggur, dan tanah yang kering. Sepertinya tidak ada manusia yang hidup di sini. Dia masih ingin tahu di mana dia sekarang. Dia menerka-nerka kiranya di mana dia sekarang. Dia mengamati sekelilingnya 360° penuh dari pusat pijakannya. Dia berhenti memutar lehernya dan mulai mengernyitkan dahinya. Harap-harap matanya dapat membidik sesuatu yang sepertinya tidak asing baginya. Ya. Seperti sebuah batu bulat yang menyedotnya tadi. Hanya saja tidak ada lumut yang menyelimutinya. Bukannya puas, tapi dia malah tambah bingung. Bingung. Dan sangat bingung.

    “Jika ini tempat yang sama dengan Pemandian Clereng. Di mana airnya?” batinnya heran.

    Dari jauh, dia lagi-lagi melihat hal yang aneh. Seorang laki-laki berperawakan gagah lengkap dengan kumis tebal yang menempel rapat di antara hidung dan mulutnya. Baju lurik dan iket yang ia kenakan sambil membawa tongkat kayu yang agaknya penuh akan karisma. Terlihat pria paruh baya itu menancapkan tongkatnya. Lalu ia duduk bersila sembari menengadahkan tangannya seolah tengah meminta sesuatu kepada-Nya.

    Tiba-tiba air yang begitu jernih dan melimpah memancar dari tempat di mana tongkat itu ditancapkan. Terlihat indah pancaran air yang begitu jernih terhiasi semburat kuning sinar matahari. Berangsur-angsur air itu menggenang dan membentuk sebuah kedung.

    “Tidak...Apa ini? Apakah aku bermimpi?” sambil dia mencubiti pipinya sampai memerah.

    Ternyata semua ini benar adanya. Ryzen disodorkan penampakan yang tak masuk akal. Sebuah tongkat yang ditancapkan ke tanah mengeluarkan air yang melimpah. Dia tak habis pikir. Padahal sebuah sumur yang tidak ada apa-apanya dengan ini, perlu digali bahkan dibor berkali-kali agar keluar airnya.

    Lagi-lagi dia tertarik ke batu bulat hitam. Tiba-tiba Ryzen tersedot ke dalam batu itu dan lorong spiral kembali membawanya ke suatu tempat.

    ***baby boomer 1946-1965***

    “Aku tahu di mana aku sekarang. Aku masih di tempat yang sama. Lihat, ada batu hitam itu lagi. Kedung itu juga ada,” katanya dalam hati yakin.

    Suasana yang sangat berbeda, sangat ramai orang di sini. Tua muda, laki perempuan membaur jadi satu memenuhi kolam itu. Sampai-sampai air yang ada tak terlihat lagi. Tawa yang natural selaras dengan tempat yang teduh dan hijau ini.

    Tapi ada yang aneh. Ryzen yang jelas-jelas berdiri di tengah keramaian, seolah tak dihiraukan oleh orang-orang yang lalu-lalang di hadapannya.

    Pakdhe! Lik! Bulik! Mas! Mbak!” serunya sambil tersenyum mencoba menyapa orang di sekelilingnya. Tak satu pun orang menggubris sapaannya itu.

    ***generation X 1965-1980***

    Ryzen mulai terbiasa dengan sensasi spiral aneh yang sebelumnya telah membuatnya mual. Mulutnya dibuat menganga dengan pemandangan yang begitu berbeda. Terdapat tiga kolam yang mengelilinginya. Dengan dua kolam yang kelihatannya anyar. Satu kolam standar nasional dan yang satunya lagi kolam anak lengkap dengan perosotan yang berkelok manja.

    Bukan. Bukan kolam yang membuatnya menganga keheranan. Tetapi, begitu ramainya suasana di sini. Tiga kolam penuh dengan manusia, bahkan tidak sedikit orang yang berlalu lalang, berdagang, dan bergoyang. Ya, seperti ada hajatan besar yang sedang berlangsung.

    “Acara apa ini? Ulang tahun desa? Peresmian kolam baru?” Ryzen bertanya-tanya dalam hati. Tak ada gunanya juga jika bertanya dengan orang di sini—budeg.

    ***generation Y 1980-1995***

    Semakin ke sini Ryzen semakin menikmati sensasi teruntang-anting dalam spiral waktu. Semakin ke sini Ryzen semakin paham jika spiral aneh itu adalah spiral waktu. Semakin ke sini Ryzen semakin menyadari jika batu bulat itu merupakan pintu ke spiral waktu. Namun, semakin ke sini Ryzen semakin bingung apa yang membuatnya bisa melakukan semua ini.

    “Ngiiiinnngggg...” suara nyaring yang sedikit memekakkan telinga Ryzen.

    Telinganya mulai risih dan ia mencoba untuk mulai “mengendus” di manakah sumber suara itu.

    Setelah berjalan 20 puluh meter lurus ke depan atau lebih kurang selama  satu menit. Sampailah Ryzen di sebuah bangunan yang lokasinya hanya lima meter dari kolam anak. Tidak begitu besar. Tetapi, ada tiga sampai empat mesin besar yang entah untuk apa mesin itu. Yang jelas mesin itulah yang memekakkan telinganya. Pipa-pia besi besar bercatkan biru terhubung ke masing-masing mesin itu.

    Tak sengaja, Ryzen melihat plakat yang tertempel di dinding bangunan itu dengan tanda tangan besar berwarna kuning keemasan. Ryzen mencoba mendekatinya dan mulai membacanya.

    “Perusahaan air minum daerah. Sembilan belas delapan empat,” itulah yang Ryzen tangkap pertama kali.

    Ryzen mengangguk-anggukan kepalanya seolah paham akan suatu hal dan sesekali menoleh ke jajaran mesin-mesin berisik itu.

    ***generation Z 1995-2010***

    Spanduk besar menyambutnya di depan pintu masuk Pemandian Clereng. Seperti sebuah spanduk promosi. Tetapi, sama sekali tidak tertera harga di dalamnya.

    AirKu. Air minum dalam kemasan. ‘Bela Beli Kulon Progo’,” kurang lebih seperti itu isi spanduk warna-warni yang berlatar batik gebleg renteng.

    ***generation alpha 2011-2024***

    Rasanya seperti naik Airbus 350 kelas bisnis. Tapi, sayangnya hanya sekejap dan tiba- tiba sudah landing[11]. Ya seperti itulah perasaan Ryzen yang sudah kesekiankalinya tersedot spiral waktu. Semakin ke sini semakin nyaman saja rasanya.

    Baru saja “landing” dari penerbangan serba singkat. Ryzen disuguhkan sebuah pemandangan yang menohok. Begitu sepi kecuali tiga petugas PDAM yang berjaga. Begitu sunyi kecuali suara nyaring mesin air dan suara gesekan sapu lidi dengan tanah. Terlihat semua kolam asat tanpa setetes air kecuali kolam alami.

    “Lohhh?...” hanya itu yang sempat Ryzen katakan sebelum kembali tersedot spiralwaktu.

    ***

    Berbeda dengan sebelumnya, Ryzen langsung terpental di teras depan rumahnya. Senyum kecil tergores di wajah simbah buyutnya. Seolah telah mengetahui jika Ryzen akan datang. Posisinya tak berubah sejak Ryzen pertama kali pergi meninggalkan rumah.

    “Gimana, marem?” tanya simbah sembari menyruput teh bebas gulanya.

    “Mmmm... Belum, Mbah. Kenapa kok namanya Clereng? Siapa pria gagah itu? Acara ramai-ramai apa itu? Kenapa aku bisa tertarik ke batu bulat dan tersedot spiral waktu? Dan kenapa aku tidak bisa berbicara dengan orang-orang di sana bahkan mereka seolah-olah tidak melihatku? Kenapa Pemandian Clereng menjadi sepi?” tanyanya panjang lebar tanpa jeda.

    “Pria yang menancapkan tongkat itu adalah Sunan Kalijaga. Sekarang tongkatnya menjelma menjadi pohon beringin yang miring ke timur. Nah, air yang memancar akibat tongkat Sunan Kalijaga dan terkena semburat kuning sinar matahari itu menimbulkan kesan yang menyilaukan. Kesan silau itu diibaratkan dengan ungkapan ‘mak clering’. Karena lidah orang Jawa, ungkapan ‘clering’ berubah menjadi ‘clereng’ yang digunakan hingga saat ini. Acara ramai-ramai itu adalah padusan, acara itu rutin diadakan sekali setahun sebelum bulan Ramadan sebagai bentuk menyucikan diri. Kalung yang kau pakai itulah yang membuatmu dapat tersedot ke spiral waktu. Mereka tidak mengetahui keberadaanmu karena kamu bukan bagian dari generasi mereka. Menjadi sepi karena ada kolam baru yang lebih modern di kota,” terangnya seakan-akan simbah tahu segalanya.[*]

    Cerita ini diadaptasi oleh mitos yang berkembang di masyarakat mengenai awal mula terbentuknya Pemandian Clereng, tradisi masyarakat setempat, dan eksistensinya sebagai objek wisata dengan menambahkan bumbu-bumbu sebagai pemanis cerita.

    Catatan :

    1. Wayah surup : waktu menjelang magrib
    2. Ling-lung : kebingungan
    3. Lurik : baju adat khas D.I. Yogyakarta
    4. Iket : sejenis blangkon
    5. Pakdhe : sebutan untuk paman atau kakak dari orang tua
    6. Lik : sebutan untuk adik dari orang tua/ atau lebih muda dari orang tua
    7. Bulik : sebutan untuk bibi atau adik dari orang tua
    8. AirKu : produk air minum dalam kemasan yang merupakan ekonomi kreatif Kabupaten Kulon Progo dan sudah menyumbangkan APBD yang cukup
    9. Bela Beli Kulon Progo : slogan atau konsep dasar untuk mencintai berbagai potensi ekonomi kerakyatan di Kulon Progo.
    10. Gebleg renteng : motif batik khas Kabupaten KulonProgo
    11. Landing : mendarat
    12. Marem : puas
    13. Padusan : acara/tradisi tahunan dalam rangka menyucikan diri sebelum memasuki bulan


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.




    Oleh: Ranang Aji SP

    22 jam lalu

    Firman Hening

    Dibaca : 55 kali