Menjemput Ibunda Tersayang - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Anas. Annie Spratt dari Pixabay

Rahmat Ali

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 18 November 2021

Jumat, 19 November 2021 08:19 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Menjemput Ibunda Tersayang

    Besok siangnya Ibunda berangkat lagi meninggalkan kami berdua yang masih kanak-kanak. Walau begitu anehnya aku yang usia delapan menjelang sembilan sudah merasa dewasa dan memahami bahwa hidup ini tidak lepas dari hal-hal yang merintang-rintang. Aku bisa mengibaratkan Ibunda tidak beda  Betina Rajawali meninggalkan sarang untuk terbang dengan tujuan sucinya memburu rezeki.

    Dibaca : 332 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Masih lamakah? Begitu aku membatin.

    Saat itu senja baru berlalu. Yang menggantikannya malam agak gelap tepat saat aku duduk di seonggok batu menongol ujung jembatan batas luar desaku. Sudah sampai di mana Ibunda berjalan? Masih di tengah kota yang tidak peduli itu? Aku masih menunggu dengan sabar. Demikian aku lakukan setiap habis senja. Kukira Ibunda sudah selesai memberikan les privat kepada seorang yang membutuhkan tambahan pelajarannya yang kurang jelas. Dengan les tersebut sang murid tidak perlu ragu-ragu lagi.

    Ayahanda, baru meninggal setahun yang lalu ketika usiaku masih di angka delapan. Berarti dini sekali untuk menghadapi kehidupan. Saat itu memang zamannya perang kemerdekaan sehabis proklamasi tahun 1945. Terjadi arus pengungsian besar-besaran. Orang-orang dari kota berentet berjalan kaki amat panik ke arah selatan. Mereka menjauhi ledakan dan tembakan-tembakan. Kami sekeluarga yang hanya terdiri dari Ayahanda, Ibunda, aku dan adikku perempuan baru berusia dua tahun terhanyut dalam arus pengungsian. Tahu- tahu Ayahanda jatuh sakit dan diakhiri meninggal. Gelagapan kami semua tidak punya kepala keluarga lagi. Sekembali dari mengungsi tahu-tahu rumah kami sudah musnah hancur terkena ledakan bom hingga tinggal puing-puing saja. Begitu sinopsis riwayat yang singkat mengejutkan kami.

    Aku masih duduk di atas onggokan batu ujung jembatan batas pinggir desaku. Belum sampai juga Ibunda? Tentu berjalannya terseok-seok, haus dan lapar. Namun kutahu Ibunda tetap kuat. Ku yakin tidak lama muncul di depan wajahku. Ibunda sabar dan tabah saat mengajari muridnya yang minta diberi les privat itu. Berkat pendidikan Ibunda saat di Yogyakarta zaman mudanya dulu maka dimanfaatkan setelah lulus. Penugasannya mengajari membaca dan menulis di desa-desa. Banyak sekali manfaatnya. Mereka tidak buta huruf lagi. Mereka bisa menikmati kemajuan zaman walau masih taraf minimal. Mereka jadi sayang kepada Ibunda. Malah ada yang menginginkan ya jadi menantu. Sayang Ibunda tidak tergesa-gesa. Ibunda tetap betah menjalankan tugas yang amat langka itu. Pendapatan ya untuk meneruskan hidup ya dari masyarakat desa-desa itu. Tidak sangka suatu hari seorang laki-laki melamar ya jadi istri. Dialah Ayanda. Berkah berdatangan dari Langit. Dialah Tuhan Yang Maha Esa. Ayahanda mampu membeli rumah dengan pohon-pohon subur di sekitarnya. Di tahun itu aku dilahirkan Ibunda. Tiga tahun kemudian adikku perempuan lahir menyusul.

    Aku sempat masuk sekolah di Sekolah Rakyat desaku. Kondisi ya waktu itu kedesaan sekali. Walau begitu guru-guru amat berdedikasi tinggi. Pakaian mereka sederhana saja. Bapak guru bercelana sebatas dengkul dan bersepatu. Ibu guru berkain kebaya tetapi tidak bersandar tidak berselop. Berarti telanjang kaki saja alias berceker. Kebetulan dia guruku. Mengajari membacakan buku tulisan bertulisan Jawa. Mula-mula aku kagok dan menuliskannya di batu tulis bengkak-bengkok. Lama-lama terbiasa juga sehingga benar dan lancar.

    Tahu-tahu diumumkan Proklamasi Kemerdekaan 1945. Tidak lama setelah bala tentara Jepang kalah, terjadi perang. Orang-orang dari kota berjarak jalan kaki melewati jalan aspal depan rumah kami. Terimbas pengungsianlah kami sekeluarga. Beberapa minggu kemudian Ayahanda  sebab sakit lalu meninggal. Seperti sudah kusebutkan rumah kami terbakar. Sisa puing-puing. Dari sisa tabungan Ibunda syukur alhamdulillah bisa membeli rumah bambu untuk kami tinggi bertiga.

    Hilang riwayatku yang ku batin cukup panjang di masa lalu. Kembali lagi pada realitas masih di atas onggokan batu ujung jembatan di batas pinggir desaku. Sudah sampai di mana sekarang? Berapa diterima honor dari Ibunda memberi les privat? Yang diterima tidak jelas. Mungkin sekedar memberi beberapa puluh rupiah saja. Jelas tidak Sebanding dengan perjalanan pakai kaki saat tengah hari yang amat panas atau saat hujan lebat. Untung Ibunda selalu membawa payung. Walau begitu sebagian bajunya tertetes air hujan dari sela-sela lubang bocoran di payung. Sebagai variasi menjelang pulang sehabis memberikan les yang punya rumah membekali sebungkus dengan sisa sayur dan sedikit lauk. Anggap saja itu upah tambahan. Dengan menentang bungkusan di dalam tas untuk mengajar itu Ibunda mulai melangkah tujuan rumah tempatku bersama adikku perempuan.

    Aku lega sudah sampai di onggokan batu ujung jembatan lokasiku nunggu. Ku tunggu Ibunda pelan-pelan dan setengah jam kemudian sampai di pintu rumah. Tidak usah lama menunggu. Aku yakin kami bertiga lapar dan haus. Ibunda hanya menjumput setengah genggaman nasi di bungkusan daun itu. Dimasukkan ke mulut Ibunda berwujud tidak lebih dari dua suapan. Sisanya yang tinggal dua pertiga bungkusan untuk kami berdua, aku dan adik. Andai dihitung cuma tiga suapan saja berikut sisa sayur dan lauk agak basi. Tertelan juga ke dalam mulut. Suapan minimal itu kami doronglah dengan sereguk air mentah. Toh lega juga perut terisi dan terasa cukup mengenyangkan. Setelah itu kami ke dipan bertikar tipis sehabis sholat Isya. Alhamdulillah kami semua bisa tidur pulas, tanpa mimpi sama sekali.

    Besok siangnya Ibunda berangkat lagi meninggalkan kami berdua yang masih kanak-kanak. Walau begitu anehnya aku yang usia delapan menjelang sembilan sudah merasa dewasa dan memahami bahwa hidup ini tidak lepas dari hal-hal yang merintang-rintang. Aku bisa mengibaratkan Ibunda tidak beda  Betina Rajawali meninggalkan sarang untuk terbang dengan tujuan sucinya memburu rezeki. Ibunda membubung tinggi dengan kepak-kepak sayapnya yang renta menuju Langit. Setelah berhasil menyergap mangsanya di daratan Bumi lalu pulang kembali ke sarang, tempat kami abang dan adikku perempuan menunggu hasil buruan. Saat itu Ayahanda di pusara sebagai Jantan Rajawali menatap bangga kemudian tersenyum.

     

    Jakarta, 18 November 2021

    Rahmat Ali

    Ikuti tulisan menarik Rahmat Ali lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.