Terbangun dalam Mimpi

Sabtu, 20 November 2021 11:40 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Seseorang yang terbangun seperti dalam mimpi.

Nessa membuka mata, lalu mendapati tubuhnya ada di sebuah lubang. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia terbelalak mengetahui setiap sudut tempat itu hanya terbuat dari tanah. Apakah dia sedang bermimpi? Ataukah dia sesungguhnya sudah ....

"Tidaak!" Dia mencoba menutup matanya lagi, sembari berharap itu hanyalah mimpi.

***

"Wah, waduk ini benar-benar memesona, ya. Tidak rugilah kita sampai harus menginap di rumah warga, demi bisa rekreasi ke tempat ini." Aku berdecak kagum memandang hamparan air di hadapanku.

"Yuk, kita abadikan momen ini dulu!" Siska berseru dari belakang kami.

Aku dan ketiga temanku memang sedang berkunjung ke tempat wisata di kota yang terkenal dengan pabrik bajanya. Berdasarkan foto-foto yang tersebar di internet, waduk ini tampak indah sekali. Airnya pun sangat bening. Maklum saja, Waduk Krenceng juga sebagai tempat penghasil air mineral.

Namun, yang membuat kami tertarik ialah misteri di dalamnya. Aku sesungguhnya tidak percaya dengan mitos-mitos atau apalah yang berkaitan dengan mahluk gaib. Menurutku, itu paling hanya akal-akalan orang tua sini yang ingin menakut-nakuti anak mereka supaya tidak bermain terlalu jauh. Bisa juga menjegah supaya anak-anak mereka tidak bermain hingga larut malam.

Ah, kisah yang sangat klise. Di tempat tinggalku pun ada mitos-mitos yang beredar yang kurang lebih sama. Akan tetapi, tidak terjadi apa-apa kepada diriku. Padahal aku acapkali melanggarnya. Lagi pula sejauh mata memandang, aku tidak mendapati keganjilan di sini. Jadi, sudah kuduga pasti itu hanya bualan belaka.

***

"Kenapa kau membiarkan anak-anak dari kota itu menginap di rumah ini?" Suamiku bertanya dengan nada menyelidik.

"Aku hanya menyediakan tempat saja kepada mereka, Pak. Lagi pula, mereka tidak akan macam-macam. Mereka, kan, masih anak SMA." Aku berbicara, sembari masih memotong-motong tempe di atas papan.

Suamiku malah menghela napas. "Apakah kau tidak ingat tragedi dua tahun silam? Aku khawatir akan terjadi lagi, Bu."

"Semuanya akan baik-baik saja, Pak. Menurutku mereka anak-anak yang baik. Ya, walaupun mereka berasal dari kota, tetapi hati mereka cukup bersih." Aku mulai memasukan satu per satu tempe ke atas wajan.

"Ya sudahlah, jika kau berpikir seperti itu. Semoga saja apa yang kulihat di depan, sekadar ketakutanku saja." Suamiku lantas keluar dari dapur.

Tadi pagi, rumahku memang didatangi oleh tiga anak perempuan. Mereka bukan datang dari luar kota, melainkan masih di sekitaran kota tempat tinggal kami. Lebih tepatnya mereka tinggal di pusat kota. Agak mengherankan memang ada anak-anak muda yang rela tinggal di perkampungan demi bisa berekreasi. Sebab, makanan yang tersedia tentu tidak biasa mereka konsumsi.

"Sekali-kali tidak mengapalah kami makan makanan tradisional, Bu," ucap gadis yang bernama Siska.

"Betul, Bu. Lagi pula, ini akan menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan, kok. Nanti, kan, kami jadi punya cerita kepada teman-teman, ketika libur sekolah telah usai." Mita menimpali.

Aku tersenyum mendengar jawaban polos mereka. Dari situ, aku bisa merasakan ketulusan mereka. Mereka benar-benar hanya ingin berlibur, tanpa bermaksud mencari sesuatu. Akhirnya ketiga anak perempuan itu kuizinkan menginap selama tiga hari di rumah ini. Hitung-hitung supaya suasana rumah ini tidak hening. Setidaknya kedatangan mereka telah membuatku tak lagi kesepian.

***

Matahari telah kembali ke peraduannya. Kini cahaya itu digantikan oleh lampu-lampu yang berasal dari rumah warga. Aku, Mita, dan Siska mulai berjalan menuju tempat penginapan kami. Sepanjang perjalanan, Siska tak henti-hentinya memfoto apa saja yang dia lihat. Maklumlah, di rombongan kami, hanya dia yang punya kemampuan menangkap objek di sekitar dengan baik. Sekali klik, hasilnya sudah memuaskan, dan jarang sampai berkali-kali.

Sesampainya di rumah Bu Sumi, kami langsung disambut dengan menu makanan yang menggugah selera. Walaupun hanya sayur bening yang di dalamnya ada wortel, dua piring tempe goreng, dan semangkuk sambal, tetapi sudah bisa membuat perut kami berbunyi. Sembari makan, kami juga bercakap-cakap dengan Bu Sumi dan Pak Supri. Suasana di sini hangat sekali. Mereka memperlakukan kami dengan baik. Padahal kami hanyalah tamu.

"Kalau boleh tahu, apakah bapak dan ibu mempunyai anak?" Aku bertanya, sambil masih mengunyah tempe goreng.

Pak Supri tiba-tiba menghentikan kegiatan makannya. "Anak kami sudah tidak ada, Nak."

Aku menutup mulut terkejut. "Duh, maafkan saya, ya, Pak. Saya tidak tahu kalau anak bapak sudah tidak ada."

Pantas saja aku tidak melihat seorang anak pun, sejak tadi siang aku berkunjung ke rumah ini. Ternyata anak semata wayang mereka telah tiada. Mereka bercerita bahwa anaknya dua tahun lalu terpeleset di pinggir waduk. Lalu terjatuh dan tenggelam. Sempat berhari-hari tak ketemu. Namun, ketika ditemukan, dia sudah tak bernyawa lagi.

Walaupun waduk itu sudah tak asing lagi bagi si anak, tetapi namanya kecelakaan tetap saja tidak dapat dihindari. Aku jadi merinding mendengar penuturan mereka. Apalagi kata mereka, si anak itu seumuran dengan kami. Sejujurnya aku ingin bertanya lebih lanjut, tetapi aku takut mereka bersedih lagi.

***

Nessa membuka matanya lagi. Namun, pemandangan itu masih sama. Dia benar-benar tidak mengerti mengapa bisa ada di dalam lubang itu. Terakhir yang dia ingat, Nessa terpeleset dan jatuh ke dalam air. Setelah itu, dia tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.

Dia lantas menggerakkan tubuhnya. Dia masih mengenakan pakaian yang sama. Dia mencoba untuk bangun. Kepalanya pun menengadah. Dia lagi-lagi terkejut. Di atas sana tampak permukaan air yang sebelumnya dia lihat di waduk itu. Apakah mungkin dia sekarang berada di dasar waduk? Namun, bagaimana mungkin di tempat itu tidak ada air?

Nessa mulai ketakutan. Dia takut tidak bisa kembali lagi ke atas permukaan. Dia sama sekali tidak membawa apa-apa. Dia tidak bisa menghubungi siapa-siapa. Sementara dia hanya sendirian.

Dia memeluk lutut, lantas butir-butir air dari matanya terjatuh. "Aku sebenarnya di mana? Kenapa aku bisa berada di sini?"

"Hei, kau kenapa? Maafkan aku, ya. Aku terlalu lama tidak melihat keadaanmu." Suara laki-laki itu tiba-tiba muncul.

Nessa kian ketakutan. Siapakah sosok lelaki itu? Apakah dia yang menyelematkan Nessa? Namun, bagaimana caranya?

Nessa mencoba untuk memberanikan diri mencari sumber suara. "Aku di mana, ya? Dan aku kenapa?"

Dia tak menyangka ternyata lelaki di hadapannya itu masih remaja. Kira-kira seumuran Nessa.

"Kau tadi terjatuh ke dasar waduk ini. Aku lantas membawamu ke rumahku. Maaf, hanya seadanya. Tapi, aku bahagia melihatmu sudah siuman."

"Tapi, kenapa kau bisa tinggal di sini? Dengan siapa? Dan apakah kau ...." Nessa agak takut mengutarakan pertanyaan itu.

Lelaki itu tersenyum. "Kau tidak perlu tahu aku siapa. Yang penting kau bisa selamat dan akan kubantu supaya kau bisa kembali ke duniamu."

Nessa tak habis-habisnya dibuat terkejut oleh lelaki di hadapannya. Ditambah lagi dengan keadaannya sekarang. Dia bingung kenapa bisa ada tempat tinggal di dasar waduk. Dia pun bingung kenapa bisa ada manusia di dalam air. Benaknya benar-benar menyimpan sejuta pertanyaan.

"Baiklah, kalau memang kau tidak mau membuka identitasmu. Yang penting sekarang, bantu aku supaya bisa kembali dengan selamat." Nessa akhirnya pasrah.

"Baik. Sekarang berbaringlah, lalu tutup matamu."

Nessa menuruti perintah itu. Lalu, suasana kembali hening. Dia merasa ditinggal sendirian lagi. Entah di mana lelaki itu berada, yang penting dia bisa selamat.

***

"Akhirnya kau sadar juga, Nes."

Aku seperti mendengar suara Mita. Aku lantas membuka mata. Aku melihat ada Siska, Mita, Pak Supri, dan Bu Sumi sedang mengelilingiku. Ternyata aku berada di ruang tengah rumah pasangan suami istri itu.

"Akhirnya aku bisa kembali." Aku berkata lirih.

"Nes, kami khawatir sekali tadi melihatmu tenggelam. Untung saja ada petugas yang bisa menyelam dan menyelamatkanmu." Siska tampak lega sekali.

"Tapi, tadi aku justru diselamatkan oleh seorang lelaki. Dia seumuran dengan kita bertiga. Lalu, entah bagaimana caranya, dia membantuku supaya bisa kembali."  Penjelasanku malah membuat ekspresi Pak Supri dan Bu Sumi terkejut.

"Kau ... melihat itu, Nak?" Bu Sumi menatapku lekat-lekat.

Aku mengangguk lemah. Aku lantas menceritakan ciri-ciri anak lelaki itu. Kemudian lubang yang menjadi tempat istirahatku. Mungkin itu makam, tetapi entahlah. Aku masih belum percaya dengan kejadian janggal ini.

Setelah mendengar penuturanku, Pak Supri lantas bercerita tentang adanya rumah mahluk gaib di dasar waduk itu. Katanya, setiap korban yang tenggelam kemungkinan untuk selamat itu kecil. Kalaupun selamat, korban akan bercerita bahwa dia dirawat oleh seseorang di dasar waduk. Seseorang itu bisa berbeda-beda. Entah seorang anak kecil, orang tua, bahkan remaja. Biasanya yang terpeleset itu orang-orang yang sempat berbicara sombong. Lalu, seperti ada yang menariknya ke dalam air.

Aku pun baru ingat perkataan yang kuucapkan sebelum tenggelam. Aku merasa bebas karena diizinkan orang tua untuk berlibur bersama teman-teman. Tidak seperti anak perempuan lain yang sedikit-sedikit dilarang bepergian. Lalu, ketika aku berjalan menuju tepi waduk untuk berfoto, tiba-tiba aku terjatuh. Padahal saat itu tidak berjalan mundur. Aku benar-benar melihat ke depan. Seketika aku tak ingat apa-apa lagi. Apakah mungkin itu ujaran kesombongan?

"Apakah mungkin aku saat itu berada di dunia yang berbeda? Ataukah aku sedang bermimpi? Namun, aku merasa lelaki itu, tempat itu, dan keadaan itu nyata."

Tamat

Cilegon, 15 November 2021.

Tentang Penulis

Vivi Intan Pangestuti adalah disabilitas netra yang lahir di Wonogiri, 5 Juli 1999. Saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Vivi Intan

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Terbangun dalam Mimpi

Senin, 22 November 2021 18:43 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua