Urgensi Parental Engagement dalam Peningkatan Prestasi Belajar Siswa - Analisis - www.indonesiana.id
x

Orangtua mendampingi putra-putrinya belajar

Rurin Elfi Farida

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 18 November 2021

Minggu, 21 November 2021 08:51 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Urgensi Parental Engagement dalam Peningkatan Prestasi Belajar Siswa

    Kondisi pandemi menjadikan terjadi perubahan frontal kondisi belajar siswa. Pembelajaran tatap muka yang digantikan dengan moda daring ternyata berimbas pada munculnya fenomena Learning Loss di samping juga meningkatnya kecanduan gadget pada kalangan pelajar. Orangtua harus menjadi mitra guru di sekolah jika tak ingin masa depan putra-putrinya hampa. Keterlibatan orangtua inilah yang dinamakan Parental Engagement.

    Dibaca : 589 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dalam perspektif pembelajaran digital, keterlibatan orang tua menjadi faktor penentu keberhasilan dan kesuksesan peserta didik di dunia akademik. Australian Research Alliance for Children and Youth (ARACY) tahun 2012 menjelaskan bahwa Parental Engagement merupakan kerjasama antara keluarga, sekolah, dan komunitas untuk meningkatkan kesadaran orang tua tentang manfaat terlibat dalam pendidikan anak-anak mereka dan memberi anak-anak keterampilan untuk melakukannya.

    Tak hanya guru di sekolah, orang tua juga mempunyai peran utama dalam menentukan kesuksesan para  peserta didik dalam pembelajaran. Lompatan kondisi pembelajaran dari manual menjadi serba digital mau tak mau menjadi ralita yang harus dihadapai di era milenial ini. Tentu, tak ada satu pun orang tua yang menginginkan kegagalan pada putra-putrinya. Mereka selalu berharap, berdoa dan melakukan yang terbaik demi kesuksesan putra-putrinya. Nah, partisipasi aktif orangtua akan sangat menentukan kesuksesan pendidikan bagi putra-putri mereka. 

    Agar tidak terjadi miss understanding, orangtua harus paham betul posisinya dalam Parental Engagement ini. Keterlibatan seperti apa yang ideal bagi para orang tua, sehingga anak akan bisa mendapatkan hasil maksimal dari sebuah proses pembelajaran. Dengan demikian, itulah kelak yang akan menjadi bekal mereka untuk meningkatkan eksistensi dan prestasi dalam kehidupan mereka sekarang maupun di masa mendatang. Berikut adalah fungsi orangtua dalam Parental Engagement:

    1. Communicator dan Supporter

    Bagi yang mempunyai anak-anak di kelas kecil, maka peran orang tua adalah sebagai communicator atau penghubung komunikasi antara guru dan anak. Hal ini tentu dikarenakan keterbatasan pemahaman anak dalam memahami instruksi ataupun materi dari guru. Sedangkan untuk anak-anak di kelas tinggi, maka orangtua cukup menjadi supporter atau pendukung saja karena mereka sudah bisa menerjemahkan dengan baik instruksi dari guru. Tentu orang tua tidak disarankan untuk melakukan intervensi terlalu jauh agar tidak mempengaruhi kualitas diri anak dan juga potensi dalam dirinya untuk terus berkembang ke arah yang lebih baik. Orang tua cukup mendukung, mengarahkan ke arah pemahaman yang benar dan selanjutnya memberikan support kepada putra-putrinya untuk mampu mengeksplorasi kemampuan dirinya dalam rangka menjadi sosok generasi unggul. Bukan malah semua dikerjakan oleh orang tua, yang justru pada akhirnya akan mematikan potensi yang dimiliki oleh anak-anak tersebut. 

    2. Motivator

    Selain guru, orangtua juga berperan dominan sebagai pemberi motivasi. Motivasi agar anak selalu bersemangat dalam menjalani rangkaian proses pembelajaran menjadi hal yang sangat urgen. Terlebih di tengah carut marut pandemi kemarin. Orang tua sebagai pendamping utama anak dalam pembelajaran digital tentu mempunyai peran sangat penting. Dengan adanya pemberian motivasi yang tepat dan intens dari orang tua, bisa dipastikan anak-anak akan bisa mencapai kesuksesan dalam studinya baik dalam bidang akademik maupun non akademik. Tak hanya menyiapkan anak untuk berhasil dan bangga dengan hasil belajar dan kerja kerasnya, namun, hal penting lain adalah menyiapkan kemampuan menghadapi kegagalan. Tidak semua anak mempunyai AQ (Adversity Quotient) yang sangat diperlukan dalam kehidupan sosial masyarakat kelak. 

    3. Fasilitator

    Orang tua berkewajiban memberikan fasilitas bagi putra-putrinya dalam proses pembelajaran digital. Semakin maksimal orangtua memfasilitasi putra-putrinya dalam pembelajaran, semakin optimal pula hasil yang didapatkan. Fasilitas tak hanya materi namun juga immateri. Kenyamanan dalam belajar, memahami kapan anak  butuh istirahat, kapan waktunya ikut membantu pekerjaan rumah dan banyak hal lain yang harus dikondisikan sesuai dengan latar belakang kehidupan keluarga masing-masing. Memang tak mudah untuk beradaptasi, tapi bukan berarti tak bisa. Pelahan tapi pasti, kita sudah mulai terbiasa dengan iklim pandemi yang membuat kita bisa menentukan harus ke sana atau ke sini, berdasar pertimbangan kebijakan yang tentu tidak sama dalam tiap keluarga.

    4. Supervisor

    Sebagai supervisor orang tua memastikan anaknya mendapatkan ketercukupan waktu, tempat yang kondusif dan etos belajar  yang baik. Pengawasan secara maksimal tentu juga akan mendapatkan hasil maksimal. Kendala yang terdeteksi dari awal tentu akan bisa diatasi lebih dini. Pengawasan apakah anak terlampau sibuk dengan tugas atau justru dengan gadgetnya, akan menjadi kunci penentu dalam keberhasilan parental engagement ini. Orang tua harus bisa memastikan bahwa putra-putrinya tidak mengalami kendala papun dalam proses pembelajaran baik selama daring maupun tatap muka terbatas yang mulai diberlakukan belum lama ini. 

    Memang tak selamanya kita bisa menjalankan peran tersebut dengan maksimal karena mayoritas orangtua masa kini adalah orangtua yang sibuk dengan karir dan tugas masing-masing. Namun, setidaknya jika orang tua memahami urgensi pendampingan terhadap putra-putrinya, maka anak juga akan mendapatkan motivasi untuk meningkatkan prestasi dan kesuksesan dalam bidang akademik. 

     

    Ikuti tulisan menarik Rurin Elfi Farida lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.