Jendela Dunia Terbuka Tepat 100 Tahun Indonesia - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Dokumentasi Pribadi

043_Azzahra Islami Putri

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 18 November 2021

Senin, 22 November 2021 19:40 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Jendela Dunia Terbuka Tepat 100 Tahun Indonesia

    2045 TEPAT 100 TAHUN INDONESIA DAN DIHARAPKAN TINGKAT LITERASI PEMUDA-PEMUDI BONUSDEMOGRAFI MEMILIKI KUALITAS YANG TERBAIK. SALAH SATU CARA MENINGKATKAN KUALITASNYA ADALAH DENGAN MEMBACA.

    Dibaca : 275 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Buku dikenal sebagai jendela dunia yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk mengetahui segala ilmu pengetahuan, cerita pengalaman orang lain, dan imajinasi seseorang. Namun apakah buku menjadi hal yang menarik bagi warga Indonesia? Sejak dulu, Indonesia memang memiliki tingkat minat baca yang sangat rendah karena rata-rata hanya ada kurang lebih 18.000 judul buku per tahun. Jika dibandingkan dengan Tiongkok yang saat itu rata-rata 140.000 judul buku per tahun. Terlihat Indonesia masih tertinggal sangat jauh. Saat ini tingkat minat baca di Indonesia juga masih tergolong sangat rendah. Terbukti dari beberapa survei yang dilakukan, Indonesia hampir mendekati urutan terakhir.

    Dampak nyata dari rendahnya minat baca sangat terlihat dan terasa, mulai dari kurangnya tingkat pengetahuan dan wawasan individu hingga pribadi yang malas, egois, serta tidak peduli terhadap sekitar. Tentu dampak dari persoalan ini dipengaruhi banyak faktor yaitu kurangnya pembiasaan membaca sejak dini, kurang meratanya keberadaan perpustakaan, dan tingginya harga buku.

    Dalam situs Perpustakaan Kemendagri terdapat artikel yang dipublikasikan pada 23 Maret 2021 dengan judul Tingkat Literasi Indonesia di Dunia Rendah, Ranking 62 Dari 70 Negara. Dari judul saja sudah terlihat jelas keadaan minat baca masyarakat. Judul tersebut bukan hasil imajinasi seseorang melainkan dari hasil survei yang dilakukan Program for International Student Assesment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019. Selain itu, menurut penelitian UNESCO dengan studi yang berjudul The World’s Most Literate Nations menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara.

    UNESCO memiliki standar yaitu minimal tiga buku baru untuk setiap orang setiap tahun. Namun, total jumlah bahan bacaan dengan total jumlah penduduk Indonesia memiliki rasio 0.09, yang artinya satu buku ditunggu oleh 90 orang setiap tahun. Berbeda jauh dan berbanding balik dengan negara di Asia Timur di antaranya Korea, Jepang, Cina yang rata-rata memiliki 20 buku baru bagi setiap orang.

    Untuk mengatasi permasalahan minat baca yang rendah perlu ada kontribusi pemerintah dan kerjasama dengan masyarakat. Pertama, untuk mengatasi kurangnya pembiasaan membaca sejak dini, perlu adanya pelatihan untuk orang tua dengan meyampaikan ilmu parenting yang sebenarnya sangat dibutuhkan. Dalam ilmu parenting, orang tua akan belajar mengenai cara mengatasi permasalahan pada anak, cara berkomunikasi dengan baik, cara membentuk kepribadian anak, memahami diri anak, termasuk menumbuhkan minat baca pada anak. Pelatihan ini berguna untuk lebih mempersiapkan sosok orang tua yang ideal.

    Kedua, untuk mendukung peningkatan minat baca, perlu ada sarana dan prasarana yang memadai yaitu buku dan perpustakaan. Sangat disayangkan harga buku di Indonesia cukup tinggi hingga meningkatkan pula kasus pembajakan buku. Selain itu, persediaan perpustakaan kurang merata, khususnya di luar Pulau Jawa. Untuk mengatasi kedua faktor tersebut, perlu pemerataan perpustakaan di berbagai daerah dengan ketersediaan buku yang lengkap dan fasilitas yang memadai. Jika perpustakaan tersedia secara merata, masyarakat dapat memanfaatkannya dengan baik dan bagi masyarakat yang kurang mampu dapat meminjam buku.

    Ketiga, di zaman sekarang dengan teknologi yang sangat memadai untuk dimanfaatkan sebagai upaya meningkatkan minat baca. Aplikasi perpustakaan daring dan gratis dengan menyediakan buku digital yang dapat dipinjam oleh pengguna. Kemungkinan besar aplikasi perpustakaan daring tersebut dapat menjangkau masyarakat manapun karena tidak dapat dipungkiri, setiap lapisan masyarakat dengan berbagai usia memiliki gawai pribadi.

    Dari upaya-upaya sederhana tersebut, diharapkan minat membaca pada masyarakat semakin naik. Selain itu, pemuda-pemudi saat ini, yang menjadi bonus deomografi pada tahun 2045 tepat 100 tahun Indonesia dapat menjalankan dan memperbaiki negara ini jauh lebih baik dari sebelumnya. Hal tersebut karena pemuda-pemudi memiliki kualitas diri dan pemikiran yang jauh lebih baik dan fleksibel sesuai dengan perkembangan zaman.

    Jika persoalan ini terabaikan, tidak menutup kemungkinan masyarakat Indonesia akan lebih tertinggal dari negara lainnya sehingga tidak mampu bersaing secara global. Sangat disayangkan, apabila Indonesia kembali terjajah karena kebodohan yang ditimbulkan dari kurangnya minat membaca. Oleh karena itu, sangat perlu menggiatkan minat baca di Indonesia. Demi Indonesia yang lebih baik!

    Ikuti tulisan menarik 043_Azzahra Islami Putri lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.