Ikatan Buntil - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Setiyo Bardono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 November 2021

Selasa, 23 November 2021 05:49 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Ikatan Buntil

    Cerpen ini mengisahkan sosok Lastri, penjual buntil yang tegar menghadapi persoalan hidup. Saat membuat buntil, Lastri harus mengikat dengan kuat dan rapi, agar isian buntil tidak berontak saat dikukus dan direbus. Sebagaimana Lastri mengikat kuat rahasia kepedihan hatinya agar tidak diketahui orang lain, terutama warga Kampung Telaga. Rahasia apakah itu?

    Dibaca : 417 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Lastri mengangkat lembaran daun pepaya dari dalam panci menggunakan alat penjepit. Uap air panas menguarkan aroma khas rembusan daun pepaya. Lasti mencicipi secuil daun pepaya. Tak ada rasa pahit singgah di lidahnya, kekuatan segenggam tanah liat telah meluruhkan pahit pada daun pepaya.

    Orang menyebut tanah liat itu dengan nama ampo. Entah bagaimana asal mulanya hingga ampo bisa dimanfaatkan untuk menghilangkan rasa pahit daun pepaya. Mungkin karena tanah adalah lambang kesabaran. Kesabaran yang bisa meluruhkan pahitnya kehidupan.

    Khasiat ampo untuk menghilangkan rasa pahit daun pepaya, Lastri dapatkan resepnya dari almarhum ibunya. Karena ampo sulit didapatkan di pinggiran ibukota, Lastri rutin mendatangkan ampo dari Purworejo, kota kelahirannya. Setiap kali stok ampo sudah menipis, Lastri akan menelpon Pakde Istanto untuk mengirim sepuluh atau dua puluh kilo ampo.

    Beberapa wilayah di Pulau Jawa menjadikan ampo sebagai camilan, ada juga yang menggunakan ampo sebagai obat. Meskipun sudah akrab dengan ampo, tapi Lastri belum pernah mencoba memakannya. Tanah liat kok dimakan, pasti rasanya aneh, pikir Lastri.

    Jam dinding menunjukkan pukul setengah delapan malam. Lastri sejenak menatap layar televisi yang masih setia menayangkan sinetron berseri yang kisahnya semakin mengada-ada dan tak masuk akal. Sebenarnya, setiap kali menonton sinetron, Lastri merasakan pahit nasib yang mendera hidupnya. Namun, tayangan televisi menjadi satunya hiburan saat  ia memasak buntil, sayuran lain, dan lauk untuk dijual esok pagi.

    Andai saja segenggam ampo mampu mengurangi rasa pahit nasib yang dialaminya, atau menghilangkan kepedihan yang sekuat tenaga ia pendam dalam hati. Lastri tak ingin nasib malang yang menimpa dirinya menjadi pembicaraan warga Kampung Telaga. Entah sampai kapan Lastri bisa menyimpan kepedihan itu. Di kampung yang padat ini dinding-dinding rumah punya telinga, tak mudah untuk menyimpan rapat sebuah rahasia.

    “Doakan Ibu ya Nak. Doakan agar ibu kuat menjalani semua cobaan ini,” kata Lastri sambil mengelus perut buncitnya.

    Selain mengikuti kearifan lokal menggunakan ampo, Lastri juga mempraktikkan tips kekinian dengan menambahkan baking powder agar daun pepaya tetap hijau. Semua tips maupun resep dilakukan agar buntil dagangan Lastri tampil menarik dan rasanya bikin ketagihan sehingga laris manis dibeli orang. Tak heran jika banyak warga Kampung Telaga yang menjadi pelanggan buntil Jeng Lastri.

    Seketika Lastri terhenyak. Jika buntil masakannya bisa menarik minat banyak orang, kenapa nasibnya jauh berbeda. Apakah ia sudah tidak cantik dan menarik lagi, hingga Mas Purnomo, suaminya tega berpaling pada perempuan lain. Mengapa Mas Purnomo tega menghianati janji suci untuk tetap setia dan menua bersama.

    Lastri membentangkan lembaran daun pepaya yang sudah direbus, menata sedemikian rupa agar bisa menampung isian buntil yang sudah disiapkannya. Sebelumnya Lastri sudah menghaluskan beragam bumbu sebagai isi buntil mulai dari bawang putih, bawang merah, kencur, cabai merah, garam dan gula. Bumbu yang halus dicampur dan diaduk dengan parutan kelapa, petai atau mlanding, dan ikan teri.

    Setiap kali membentangkan lembaran daun pepaya, Lastri merasa seperti menata lembaran hatinya agar lapang menampung manis pahit kehidupan. Lastri dengan tekun menakar dan menaruh isian buntil di atas lebaran daun pepaya kemudian membungkusnya dengan rapi. Selanjutnya, tangan Lasti cekatan mengikat buntil daun pepaya dengan seutas tali rafia.

    Lastri harus mengikat dengan kuat dan rapi, agar isian buntil tidak berontak saat dikukus dan direbus. Sebagaimana Lastri mengikat kuat rahasia kepedihan hatinya agar tidak diketahui orang lain, terutama warga Kampung Telaga. Mungkin suatu ketika rahasia itu akan terbuka, sebagaimana ikatan buntil harus dibuka sebelum orang menikmati kelezatannya.

    Jika menuruti resep dari ibunya, seharusnya Lastri mengikat buntil dengan tali dari bambu. Namun di pinggiran ibukota sudah sulit mencari bambu muda untuk membuat tali. Lastri jadi teringat, jika ibunya membuat buntil, tanpa diminta ayahnya dengan gesit membelah bambu kemudian membuat tali.  Ayah akan membantu ibu mengikat buntil daun talas di atas balai bambu yang ada di dalam dapur.

    Lastri sering iri dengan kemesraan antara ayah dan ibunya. Mereka tetap setia, menua bersama, hingga kematian memisahkan keduanya. Pasti ayah dan ibunya sudah bahagia di sisi-Nya. Tak terasa airmata perlahan meleleh dari kedua mata Lastri. “Apakah aku mampu seperti ayah dan ibu, sementara Mas Purnomo…,” batin Lastri menjeritkan beban berat.

    Di kampung halaman Lastri, orang lebih suka membuat buntil dari daun talas. Lastri pernah mencoba membuat buntil dari daun talas, namun lidah warga Kampung Telaga lebih menyukai buntil dari daun pepaya. Tentu saja Lastri harus menyesuaikan diri agar buntil dagangannya laku. Tapi terkadang ada juga warga pendatang yang memesan buntil dari daun talas. Tentu saja Lastri tak pernah menolaknya, seperti peribahasa yang sudah dimodifikasi: Di mana dagangan dijunjung, di situ selera berpijak.

    Setelah buntil-buntil rapi terikat, Lastri menyiapkan dandang untuk mengukusnya. Memasak buntil memang harus sabar dan telaten. Ada beberapa proses yang harus dilakukan oleh Lastri. Mulai dari  merebus daun papaya, menyiapkan isian, membungkus dan mengukus, menyiapkan bumbu untuk kuah, hingga hingga memasak buntil dalam kuah. Tahapan-tahapan tersebut Lastri jalani dengan kesabaran dan hati yang ikhlas agar buntil masakannya lezat dan selalu dirindukan oleh para pelanggan.

    Namun kesetiaan, rasa cinta, dan kesabaran Lastri mendampingi Mas Purnomo ternyata tak berbuah manis. Kadang Lastri berpikir, apakah saat menjalani hari-hari bersama suaminya, ada kesalahan langkah, ada bumbu yang tertukar, atau terlalu banyak menaburkan garam. Apakah Lastri terlalu sibuk di dapur hingga gagal membaca perubahan sikap dan tingkah laku Mas Purnomo.

    Suara salam dan ketukan pintu membuat Lastri terjaga dari lamunannya. Lastri mengenali suara dari sosok yang menemaninya mengarungi bahtera rumah tangga hampir tiga tahun lebih. Lastri bangkit untuk membukakan pintu menyambut kedatangan suaminya. Biasanya setelah mengucap salam, Purnomo langsung masuk rumah jika pintu tidak dikunci.

    Sejak dua bulan terakhir, Mas Purnomo selalu menunggu Lastri membukakan pintu rumah kontrakan. Lastri merasakan ada perasaan bersalah dalam diri Mas Purnomo sehingga mau menanti Lastri membukakan pintu hatinya. Lastri melihat suaminya berdiri dengan tangan kiri menggenggam jaket hitam. Lastri membalas salam dan mencium tangan suaminya, dan kembali ke dalam rumah sebelum suaminya sempat mencium keningnya. Mas Purnomo masuk ke dalam rumah dan duduk di tikar plastik.

    “Masih ingat jalan pulang Mas,” kata Lastri sambil membuat teh hangat untuk suaminya. Sudah tiga hari, suami tidak pulang ke rumah.

    “Jangan bicara begitu. Nova sedang sakit, jadi Mas harus menemaninya di rumah sakit,” kata Mas Purnomo.

    Entah mengapa setiap kali mendengar nama perempuan itu, ada pisau tajam yang menyayat hati lasti. Pisau tajam itu kemudian membelah jeruk nipis hingga mengucurkan cairan yang membasahi luka hatinya. Tak terbayangkan betapa perihnya.

    “Mengapa kamu tega bermain api, Mas,” batin Lastri sambil menatap nyala api di kompor. Lastri harus memastikan nyala api tidak terlalu besar agar buntil-buntil yang dikukus di dalam panci bisa matang sempurna.  

    “Harusnya kamu juga bisa menjaga api kesetiaan yang ada di hatimu Mas, hingga tak perlu ada drama tertangkap basah sedang bermesraan dengan perempuan lain. Ya Allah, kenapa kisah di sinetron-sinetron itu harus aku alami juga,” batin Lastri.

    Lastri kembali berkutat dengan bumbu-bumbu dapur. Kali ini ia harus menyiapkan bahan untuk kuah buntil. Perlahan Lastri membersihkan bawang merah, bawang putih, cabai, kemiri, kunyit, daun salam, daun jeruk, gula dan garam. Setelah dihaluskan, bumbu tersebut akan ditumis, diberi air dan santan kelapa. Nantinya, buntil yang sudah dikukus akan dimasukkan ke dalam kuah dan dimasak dengan api kecil hingga bumbu meresap sempurna.

    Bawang merah yang dikupasnya seketika mengundang lelehan airmata. Lastri kembali teringat saat suaminya bersimpuh mengakui kesalahan dan dosanya. Dengan terisak, Mas Purnomo meminta izin agar bisa memenuhi tuntutan keluarga Nova untuk segera menikahi perempuan itu. Jika tidak, Mas Purnomo diancam akan dilaporkan ke kantor polisi. Pengakuan dan permintaan Mas Purnomo bagai petir yang menyambar kesadaran Lastri. Dengan sekuat tenaga ia mencoba meredam bara amarah yang menyala-nyala.

    Sebagaimana ia mengikat rapi dan kuat buntil daun pepaya, saat itu tak ada teriakan, tamparan keras, atau piring terbang. Tak ada pertengkaran yang pecah. Lastri memilih mengikat dan memendam kuat luapan emosinya. Meskipun hatinya hancur berantakan, Ia tak ingin warga Kampung Telaga berdatangan dan menjadi bahan gunjingan tujuh hari tujuh malam.   

    “Eh, ibu-ibu tahu nggak, itu Jeng Lastri yang suka jualan buntil, ternyata suaminya selingkuh lho. Kabarnya ketahuan pas lagi berduaan terus digerebek warga.”

    Ah yang benar bu. Suami Jeng Lastri kan pendiam gitu.”

    “Saya juga kaget bu dengar berita ini. Makanya ibu-ibu harus hati-hati jangan sampai suami ibu main hati ama perempuan lain. Rajin-rajin cek hape-nya.”

    “Kasihan ya Jeng Lastri, mana lagi hamil. Kalau saya jadi Jeng Lastri, sudah saya uleg Mas Purnomo.”

    Saat itu Lastri sebenarnya ingin langsung meminta cerai, tapi ia teringat jabang bayi yang ada dalam kandungannya. Ia tidak ingin anaknya lahir tanpa sosok ayah yang mengumandangkan adzan di telinga kanan dan menyerukan ikamah di telinga kiri. Nanti setelah bayinya lahir, Lastri akan memikirkan langkah terbaik. Mungkin ia akan membawa anaknya pulang kampung, membangun kehidupan baru di tanah kelahirannya.

    Sambil menunggu buntil matang, Lastri menyiapkan bumbu dan menyiangi sayuran yang akan dijualnya esok pagi. Rencananya, Lastri akan memasak sayur kacang panjang dan touge, sayur asem, sambel goreng kentang ati ampela, dan orek tempe. Seusai sholat subuh, Lastri akan memasak semua sayuran yang sudah disiapkannya.

    Jika pagi hari semua sayuran sudah matang, Lastri akan memajangnya di etalase kacang depan rumah kontrakannya. Lastri akan mengirimkan kabar ke grup WhatsApp ibu-ibu Kampung Telaga, “Menu hari di Warung Jeng Lastri: buntil, sayur kacang panjang campur touge, sayur asem, sambel goreng kentang ati ampela, dan orek tempe. Monggo mampir, nggak perlu repot masak.”

    Sebelum hamil, Lastri biasanya berjualan buntil dan sayur matang lainnya dengan mendorong gerobak menyusuri jalan dan gang di Kampung Telaga dan sekitarnya. Warga Kampung Telaga sudah hafal teriakan Lastri yang khas: Buntiiiilllll… Buntiiiilllll….

    Semua itu dilakukan Lastri untuk membantu meringankan beban suaminya yang bekerja sebagai office boy di sebuah perusahaan swasta. Sejak menikah, keduanya mendambakan memiliki sebuah rumah mungil agar tak lagi repot mencari kontrakan. Namun rencana manis itu sepertinya tinggal sebatas angan.

    Lastri mendesah. Sambil menatap sinetron di layar kaca, Lastri ia kembali sibuk memotong kacang panjang. Matanya melirik suaminya yang tertidur mendengkur lelap di atas tikar, seakan tak ada persoalan besar di benaknya. Dengan wajah tak kuasa memendam kebencian, Lastri mengacungkan-acungkan pisau ke arah suaminya.

    Ia menarik nafas panjang dan mencoba menata hatinya yang bergejolak. Lastri meneruskan kesibukannya memotong kacang panjang. Batinnya berbisik, “Kesabaran menjelmalah kacang panjang, walaupun dipotong-potong pendek tetap kacang panjang.”

    --- oOo ---

    Depok, 22 November 2021

     

    SETIYO BARDONO. Penulis kelahiran Purworejo dan bermukim di Depok ini telah menerbitkan 3 buku antologi puisi tunggal yaitu  Mengering Basah (2007), Mimpi Kereta di Pucuk Cemara (2012), dan Aku Mencintaimu dengan Sepenuh Kereta (2012). Tiga karya novelnya Koin Cinta (Diva Press, 2013), Separuh Kaku (Penerbit Senja, 2014), dan Bukan Celana Kolor Biasa (Kwikku, 2020)



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.


    Oleh: Aurelia Pratama

    10 jam lalu

    Kannivaloi

    Dibaca : 31 kali