Pena Itu Bernama Gol A Gong - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Menemukan jalan keluar dari setiap persoalan

Janwan S R Tarigan (Pegiat Literasi)

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Agustus 2020

Rabu, 24 November 2021 12:41 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Pena Itu Bernama Gol A Gong

    Sapaan “Gol A Gong” yang melekat padanya ada sejarahnya. Gol A Gong adalah nama yang ia sematkan pada penanya, yang berarti di antara “Gol” dan “Gong” ada A. Gol artinya tujuan, sementara A adalah kependekan dari Allah, dan Gong merupakan simbol gaungan atau gema. Jika dirangkai bermakna “Usaha mencapai tujuan yang bermanfaat dan bergema harus dijembatani oleh Allah. Baginya, nama pena tersebut merupakan doa sekaligus pegangan menjalani profesi sebagai penulis.

    Dibaca : 88 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pernahkah kita bertanya, mengapa dalam proses pendidikan kita tidak terlepas dari aktivitas menulis? Mulai dari pendidikan tingkat dasar kita belajar menulis ejaan huruf, tingkatan selanjutnya kita diajar menulis cerita dan esai, dan pada tingkat pendidikan tinggi mahasiswa diharuskan melakukan penelitian yang luarannya adalah laporan. Kemampuan sesorang seperti diukur dari kemahirannya menulis. Mengapa? Tidak lain karena ada segudang manfaat menulis, diantaranya dapat meningkatkan daya ingat, menata ide dan pengalaman, sekaligus sebagai media mendalami dan mengabadikan ilmu pengetahuan. Dengan menulis apapun itu jenisnya berarti kita turut menyumbang gagasan sebagai pelajaran di masa mendatang (transfer knowledge). Pepatah lama menyebut “menulis adalah bekerja untuk keabadian”.

    Dari sejarah kita belajar, bahwa manusia tidak pernah lepas dari dunia tulis-menulis (aksara). Kualitas aksara beriringan dengan kemajuan peradaban, sebagaimana mantabnya aksara di Mesir Kuno, Cina Kuno, Mesopotamia, Yunani Kuno yang membuahkan kemajuan peradaban pada masa itu. Dapat dikatakan aksara adalah episentrum peradaban.

    Pun halnya dalam silang sejarah Indonesia terekam perkembangan aksara dari masa ke masa turut menyokong peradaban bangsa. Pada zaman kerajaan-kerajaan Nusantara misalnya dikenal huruf Pallawa dalam bahasa Sansekerta yang digunakan sebagai media komunikasi kala itu. Kemudian pada masa perjuangan kemerdekaan, para Pejuang membekali diri dengan membaca buku dan menulis sebagai media media mengkritik Kolonial Belanda dan menebar optimisme perjuangan hingga membuahkan kemerdekaan.

    Kekinian juga kualitas literasi seiring dengan kemajuan dan kesejahteraan suatu bangsa. Tercermin dari Negara Negara di wilayah Skandinavia yang literasinya baik sejalan dengan tingkat kesejahteraa dan kebahagiaannya juga tertinggi dibanding Negara lain. Tampak jelas kualitas literasi bangsa berperan penting menciptakan peradaban berbasis kesejahteraan. Lantas bagaimana kondisi literasi Indonesia? Hasil studi OECD menunjukkan tingkat literasi Indonesia dari 70 negara yang disurvei di posisi 10 terbawah. Data ini perlu dijadikan refleksi sekaligus pemicu memperbaiki literasi di tanah air.

                Belakangan ini literasi tidak lagi sebatas membaca dan menulis, dalam perkembangannya sudah da literasi numerasi, digital, finansial, sains, dan budaya. Namun tetap, literasi baca-tulis tak tergantikan sebagai literasi dasar yang jadi prasyarat penguasaan literasi lainnya. Karenanya upaya memantapkan literasi baca-tulis merupakan langkah awal yang teramat penting dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

                Salah satu pegiat literasi yang konsisten dengan visinya “membangun dunia kata” adalah Herri Hendrayana Harris, akrab disapa “Gol A Gong”. Sejak muda beliau bermimpi menjadi seorang penulis yang bermanfaat bagi kemajuan peradaban. Membaca kisah perjuangan hingga menjadi penulis sungguh mengagumkan-menginspirasi. Impian yang melibatkan Tuhan dalam prosesnya akan membuahkan hasil manis. Itulah iman yang tersirat dalam bukunya berjudul “Rahasia Penulis: Bukan Sekadar Tips Menulis” yang diterbitkan Intrans Publishing Malang pada tahun 2019 lalu.

                Di awal buku setebal 228 halaman ini mengisahkan perjalanan Gol A Gong hingga menjadi penulis. Prinsipnya berani bermimpi, kerja keras, dan mengandalkan Tuhan. Pada lembar lembar berikutnya disajikan hal hal teknis kepenulisan, mulai dari menulis esai, cerpen, hingga novel. Selain itu juga dijelaskan cara menciptakan wadah kepenulisan melalui komunitas yang ia bentuk. Baginya menjadi penulis bukan soal talenta, melainkan faktor latihan dan ketekunan menulis. Itu satu-satunya jalan, ujarnya. Dia tidak menawarkan tips dan trik instan.

    Pegiat literasi “Rumah Dunia” ini menulis novel pertamanya berjudul “Balada Si Roy” yang terbit di Majalah HAI pada tahun 1988. Sejak saat itu, ia semakin aktif menulis, terlebih saat diberi kesempatan menjadi Wartawan Gramedia. Keputusannya menjadi penulis beriring ketekunan menulis telah menghasilkan karya karya top. Selain terus menulis, ia juga membentuk komunitas literasi Rumah Dunia di Serang Banten yang telah melahirkan banyak penulis dan seniman literasi yang bergiat di tanah air.

    Selang beberapa bulan setelah membaca bukunya, saya meyaksikan penulis berlengan satu ini dikukuhkan sebagai Duta Baca Indonesia periode 2021-2026, menggantikan Najwa Shihab duta baca sebelumnya. Kembali saya merenungkan kisahnya yang ditulis dalam buku tersebut; Mujarab betul Gol A Gong. 

    Sapaan “Gol A Gong” yang melekat padanya ada sejarahnya. Gol A Gong adalah nama yang ia sematkan pada penanya, yang berarti di antara “Gol” dan “Gong” ada A. Gol artinya tujuan, sementara A adalah kependekan dari Allah, dan Gong merupakan simbol gaungan atau gema. Jika dirangkai bermakna “Usaha mencapai tujuan yang bermanfaat dan bergema harus dijembatani oleh Allah. Baginya, nama pena tersebut merupakan doa sekaligus pegangan menjalani profesi sebagai penulis.  

    Melalui tulisannya dalam buku “Rahasia Penulis”, Gol A Gong menyentuh hati para pembaca agar memaknai betul pentingnya berliterasi, khususnya mengembangkan budaya menulis gagasan demi kemajuan peradaban. Tiap rangkaian katanya menggugah hati dan pikiran agar konsistensi dan optimis menggapai mimpi sebagaimana sudah diterapkannya dan berhasil. Buku ini cocok dibaca mereka yang penasaran dan tertarik dengan dunia kepenulisan, sastra, dan kisah perjuangan. Salam literasi!



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.