Aku Bukan Bodoh, Aku Disleksia - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Imam Setiawan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 November 2021

Rabu, 24 November 2021 18:38 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Aku Bukan Bodoh, Aku Disleksia

    Kisah Guru yang juga penyandang disleksia. bercerita memberikan inspirasi memahami anak-anak dengan disleksia.

    Dibaca : 23 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Aku bukan Bodoh, Aku Disleksia

     

    Ketika saya masih dimasa-masa sekolah, kata bodoh adalah kata yang sering saya dengar dan bahkan melekat dikepala saya. Ketika datang kesekolah saya mendengar kata bodoh bukan cuma dari teman sekolah, guru dan juga orang sekitar.

    Menjadi sedikit berdeda itu menjengkelkan, saya mendengar semua hal aneh yang masuk kedalam telinga saya dari masa sekolah dasar. Ketika orang-orang terdekat saya mencoba memperbaiki saya, saat itu saya mulai benar-benar percaya bahwa saya bodoh.

    Setiap hari saya melihat, mendengar, diajari orang terdekat, setiap anak harus belajar dengan cara yang sama, dan bahwa setiap anak cocok dengan kotak yang sama. Tetapi sangatlah jelas, saya tidak normal dan saya tidak akan cocok dengan kotak itu dalam waktu dekat.

    Saya merasakan ada sebuah rahasia besar ketika saya masih kecil, seperti ada yang perlu diperbaiki sebelum ada yang mengetahuinya, seperti sebuah kode-kode rahasia yang menumpuk dan otak tidak teratur dalam otak dan dalam diri saya.

    Orangtua saya melihat betapa tidak bahagianya saya dengan pembelajaran yang saya terima, dan mereka benar-benar tidak memberitahu saya mengapa dan bagaimana, serta apa yang harus saya lakukan dengan keadaan ini.

    Saya tahu, orangtua saya sangat khawatir, takut akan saya, meskipun wajah mereka tidak memperlihatkannya. Ketika anak sebaya saya sudah bisa membaca, menulis dan berhitung, dan saya belum. Orangtua saya mulai memberikan saya pengobatan, mulai dibawa ke dokter spesialis mata, dan akhirnya dibawa kedokter anak dan psikolog.  Hari-hari saat itu hanya dipenuhi dengan tes, bertemu dokter, mengantri obat, menghindari banyak makanan, diet dan itu justru membuat saya semakin stress dan tertekan.

    Ketika kebanyakan orang berfikir tentang disleksia, mereka pikir itu hanya membaca, menulis dan berhitung, dan hal yang utama yang mereka lihat adalah hal yang buruk dari disleksia dan menjadikan kata bodoh sebagai hasil akhir dari sebuah pembelajaran.

    Ayah saya mencari tahu apa yang harus saya lakukan disekolah, bukan karena saya berbeda, hanya saja mereka mengira saya bodoh, dan satu yang ayah saya harapkan dari mereka adalah memahami apa yang ada dari saya.

    Sejak saat itu, ayah selalu berkata bahwa kata bodoh yang mereka berikan ke saya adalah bukan salah mereka. Jadi, sekarang saya tahu dan menyadari bahwa saya tidak bodoh, tetapi saya pintar dengan cara saya sendiri dan tidak perlu diperbaiki untuk masuk dalam pembelajaran yang ideal dan berstandar dari sekolah.

     

    Saya Imam setiawan

    I’m Dyslexic and I Speak-Up



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.