Penerapan Merdeka Belajar Pada Masa Covid-19 di TK Galatia 3, Kalideres - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Debora Manalu

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 November 2021

Rabu, 24 November 2021 18:45 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Penerapan Merdeka Belajar Pada Masa Covid-19 di TK Galatia 3, Kalideres

    Merdeka Belajar merupakan program yang dirancang oleh bapak menteri pendidikan Indonesia yaitu bapak Nadiem Makarim. Tujuan beliau menyusun program tersebut untuk menciptakan suasana yang bahagia, kreatif dan penuh tanggung jawab antara guru dan orangtua, begitu juga antara guru dan peserta didik. Namun setiap program yang dirancang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dengan demikian pada saat Covid19 sudah mulai menurun akhir September 2021, atas persetujuan pemerintah sekolah TK Galatia 3 mengadakan metode Merdeka belajar melalui dua tahap yaitu secara daring dan luring. Dalam mengadakan mengadakan pembelajaran secara daring dan luring terdapat dampak positif dan negatifnya. Hal ini akan disampaikan penulis sebagai guru TK berdasarkan pengalaman yang sudah dilakukan di lapangan.

    Dibaca : 44.123 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    PENERAPAN MERDEKA BELAJAR PADA MASA COVID19

    DI TK GALATIA 3 KALIDERES TAHUN PELAJARAN 2021

    Merdeka belajar adalah model pembelajaran yang di desain oleh menteri pendidikan dan kebudayaan  Indonesia  yaitu bapak Nadiem Makarim.   Model  pembelajaran ini dilaksanakan bukan membuat peserta didik bebas dan tidak bertanggung jawab atas tugas yang diemban dari sekolah namun sebaliknya bahwa dengan adanya Merdeka belajar akan menggali potensi yang dimiliki guru, peserta didik bahkan orangtua untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas pembelajaran secara mandiri.   Program Merdeka Belajar juga disusun untuk membentuk daya tarik anak agar semangat belajar melalui  kebebasan dalam memilih sesuai minat belajar anak. 

    Dengan adanya program tersebut membuat para pengajar juga lebih bijaksana dan kreatif dalam menyusun  pembelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik. Hal ini juga terjadi pada sekolah Galatia, puncaknya pada saat covid19 sampai ke Indonesia.  Dengan begitu setiap guru dari tingkat TK, SD, SMP dan SMA dituntut oleh Kepala Sekolah untuk belajar bersama mengunakan model pembelajaran Merdeka Belajar dimana guru harus lebih berkualitas dalam menyampaikan materi terutama dalam penggunaan teknologi melalui google driver, zoom, dan google meet.  Namun hal itu tidaklah mudah dilakukan oleh guru yang sudah berumur 40 - 59 tahun dikarenakan guru tersebut belum terbiasa menggunakan teknologi. Seiring berjalannya waktu setiap guru mampu menggunakan teknologi dengan terus melatih diri dan pantang menyerah karena pepatah mengatakan "ala bisa karna biasa". Pepatah itulah yang membuat guru-guru Galatia 3 lebih termotivasi dan dapat menyesuaikan diri dalam menyampaikan pembelajaran  sesuai keadaan yang ada, yaitu melalukan pembelajaran daring menggunakan teknologi.

    Setelah dua tahun covid19 menyerang Indonesia,  terlihatlah pada akhir bulan September 2021 ada penurunan kasus. Hal ini membuat pemerintah dan Menteri Pendidikan memberikan kesempatan dalam pembukaan sekolah dengan tatap muka terbatas.  penerapan program Merdeka Belajar juga terus dilakukan di sekolah Galatia 3 dengan penuh tanggung jawab. setelah izin dari pemerintah sekolah Galatia 3 melakukan program Merdeka Belajar dengan menggunakan 2 tahap. Yang pertama, melalui luring belajar di sekolah secara terbatas dengan mematuhi protokol kesehatan. Yang kedua,melalui daring yang dilakukan pembelajaran dari rumah.

    Sehubung penulis mengajar pada jenjang TK maka pengalaman yang diberikan penulis saat menggunakan program Merdeka Belajar secara daring dan luring dilakukan secara bersamaan di sekolah Galatia. Pembelajaran daring dan luring secara bersamaan dilakukan sekali seminggu sesuai prosedur pemerintah. Pembelajaran itu dilakukan setiap hari Senin. Namun ada anak yang dizinkan oleh orangtua kesekolah  dan ada yang tidak.  Sehingga terdapat dampak positif dan negatifnya diantaranya sebagai berikut: dampak postifnya: melatih anak agar mandiri, guru lebih mengetahui batas kemampuan peserta didik secara nyata, lebih komunikatif secara langsung antara guru dan peserta didik. sedangkan dampak negatifnya: membuat guru kewalahan  dalam mengajar karena melihat dua objek sekaligus secara online dan daring. terbatasnya waktu dalam menjelaskan materi kepada anak. Demikianlah pengalaman yang ditemukan penulis secara langsung saat menggunakan model pembelajaran Merdeka belajar terkhusus saat pandemi covid19. Terima Kasih.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Debora Manalu lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.
















    Oleh: Akhmad Sekhu

    Rabu, 10 Agustus 2022 16:41 WIB

    Sajak Seribu Tahun

    Dibaca : 612 kali