Alimah Fauzan, Rangkul Perempuan Bangkit dari Ketidakberdayaan - Humaniora - www.indonesiana.id
x

sangpemikir

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Oktober 2021

Rabu, 24 November 2021 18:47 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Alimah Fauzan, Rangkul Perempuan Bangkit dari Ketidakberdayaan

    16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan merupakan kampanye internasional untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia. Aktivitas ini pertama kali digagas oleh Womens Global Leadership Institute di 1991 yang disponsori oleh Center for Womens Global Leadership. Setiap tahunnya, kampanye ini digelar dari tanggal 25 November yang merupakan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan hingga tanggal 10 Desember yaitu Hari Hak Asasi Manusia Internasional.

    Dibaca : 90 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dilansir dari laman Komnas Perempuan, rentang waktu tersebut dipilih untuk menghubungkan secara simbolik kekerasan terhadap perempuan dan HAM, serta untuk menekankan bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan salah satu bentuk pelanggaran HAM. 16 hari juga dipilih karena penghapusan kekerasan terhadap perempuan membutuhkan kerjasama yang bersinergi dari berbagai lapisan masyarakat untuk bergerak. Mulai dari aktivis HAM perempuan, pemerintah, hingga masyarakat umum. Sebab, hal ini akan sangat sulit dilakukan kalau hanya mengandalkan aktivis HAM perempuan saja.

    Di Indonesia sendiri, payung untuk melindungi perempuan telah dibentuk melalui Komnas Perempuan. Komnas Perempuan memprakarsai dan memfasilitasi penggalakkan Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan sejak tahun 2003. Kampanye itu berlangsung di wilayah-wilayah yang menjadi mitra Komnas Perempuan.

    Apalagi mengingat kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia selama 12 tahun meningkat hampir delapan kali lipat. Beragam spektrum dan bentuk kekerasan terekam dalam CATAHU 2020. Tidak hanya itu saja, kekerasan terhadap anak perempuan juga melonjak sebanyak 2.341 kasus, dari tahun sebelumnya yang hanya sekitar 1.417 kasus. Kenaikan dari kasus ini yang paling banyak terjadi adalah kasus inses dan kasus kekerasan seksual.

    Sementara dalam data pengaduan yang datang ke Komnas Perempuan, tercatat ada kenaikan yang cukup signifikan dari pengaduan kasus cybercrime yaitu sebanyak 281 kasus. Kasus siber terbanyak berbentuk ancaman dan intimidasi penyebaran foto dan video porno korban. Kekerasan seksual terhadap perempuan disabilitas dibandingkan tahun sebelumnya juga naik 47 persn dan korbannya terbanyak adalah disabilitas intelektual.

    Dilansir dari Suara, kasus kekerasan terhadap perempuan selama pandemi Covid-19 juga mengalami peningkatan selama 75 persen. Komnas Perempuan mencatat jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan mencapai 14.719 kasus, 75,4 persen terjadi di ranah personal dan 24,4 persen di ranah komunitas.



    Manfaat Komunitas

    Salah satu yang berperan penting untuk melakukan perubahan adalah dengan hadirnya komunitas. Dilansir dari Wellbeing People, komunitas bisa menjadi ruang aman seseorang karena biasanya berisikan orang-orang dengan pola pikir, karakteristik, dan kesukaan yang sama. Meski begitu, setiap komunitas umumnya memiliki batasannya masing-masing yang bekerja sesuai dengan kebutuhan komunitas itu sendiri.

    Komunitas memiliki berbagai manfaat bagi seseorang, khususnya dalam melakukan perubahan. Sebab komunitas menjadi ruang untuk mendapatkan dan memberikan dukungan pada orang lain, sementara manusia umumnya membutuhkan dukungan saat menghadapi stres atau masalah sehingga kesehatan mental dan fisiknya dapat terjaga. Komunitas juga bisa memberikan pengaruh dan merasa berdaya, khususnya komunitas yang memberikan pengaruh yang baik untuk anggotanya.

    Komunitas pun dapat menjadi tempat yang baik untuk tumbuh dan kembang karena biasanya setiap orang memiliki ide dan pengetahuan baru. Komunitas pun dapat menjadi ruang belajar baru sebab mereka yang bergabung, meskipun mempunyai pola pikir, karakteristik, dan kesukaan yang sama, cenderung memiliki latar belakang yang berbeda. Dari sana, setiap orang bisa mempelajari hal baru sambil bersama-sama melakukan perubahan untuk hidup yang lebih baik.

     

    Komunitas Perempuan Berkisah

    Untuk itu, hadirlah Komunitas Perempuan Berkisah. Komunitas ini menjadi sebuah media pembelajaran yang secara khusus dan intens menceritakan proses pemberdayaan yang perempuan yang pernah Alimah Fauzan, Founder Perempuan Berkisah rasakan. Dalam perkembangannya, Alimah merangkul dan mengajak perempuan lain untuk mengirimkan kisah mereka, baik kisah pemberdayaan perempuan, kisah pribadi terkait persoalan perempuan, ataupun berbagi sudut pandang dan gagasan dalam tulisan opini.

    Alimah merasa jarang menemukan media yang secara khusus memuat kisah pembelajaran pemberdayaan atau pengorganisasian komunitas secara detail apa adanya, termasuk strategi dan pembelajarannya. Semisal bagaimana cara mulai berdaya, tantangan apa saja yang dihadapi, bagaimana cara berinteraksi antara pendamping dan warga yang diberdayakan, strategi dan pengalaman yang sangat personal yang jarang diungkapkan dalam proses pemberdayaan dan lainnya. Dari sanalah, kemudian ia mendirikan Komunitas Perempuan Berkisah.

    Awalnya, komunitas ini bertujuan untuk berbagi pengetahuan, pembelajaran, dan kisah inspiratif pemberdayaan perempuan di berbagai daerah. Tidak hanya itu saja, Alimah dengan Komunitas Perempuan Berkisah juga melakukan mengangkat berbagai persoalan berbasis gender, namun yang menjadi utamanya adalah perempuan.

    Dengan latar belakang Alimah yang bekerja sebagai Jurnalis NGO juga seringkali terjun melakukan peliputan yang membahas soal perempuan. Ia banyak bertemu orang yang aktif melakukan kegiatan pemberdayaan perempuan dan mendapatkan banyak inspirasi dan cerita tentang perempuan.

    Namun tidak hanya itu saja, ia bersentuhan langsung dengan berbagai persoalan perempuan korban kekerasan seksual, perdagangan manusia, kekerasan dalam rumah tangga, persoalan buruh migran perempuan, hingga persoalan perempuan dalam menghadapi tantangan mengakses program pembangunan di desa dan sejumlah persoalan lainnya baik di Jawa, maupun luar Jawa.

    Sehingga di luar kisah pemberdayaan itu, ada pula kisah-kisah pribadi yang jarang diungkap oleh perempuan dalam Komunitas Perempuan Berkisah. Seperti persoalan perkawinan anak, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual, dan ragam persoalan yang sangat rentan menimpa perempuan.

    Barulah di 2019, Komunitas Perempuan Berkisah aktif di media sosial Instagram dan mendapatkan respon yang cukup positif dan menjadi kekuatan bagi sesama perempuan. Banyak perempuan yang mengirimkan kisah mereka ke sosial media Perempuan Berkisah hingga akhirnya anggota komunitas mulai kewalahan. Mereka pun lalu berinisiatif untuk membuka lowongan relawan.

    Mulanya  beberapa orang yang bergabung di tahun 2015 dan hanya digerakkan oleh beberapa orang, kini Komunitas Perempuan Berkisah telah memiliki ribuan pengikut dan sering mengadakan sejumlah pertemuan kota besar, seperti Tangerang Selatan, Bandung, Semarang, dan Yogyakarta. Kepengurusan Komunitas Berkisah pun terbagi dalam enam wilayah, Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah-Yogyakarta, Sumatra, dan Indonesia Timur.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.