Move On - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Pina

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 24 November 2021

5 hari lalu

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Move On

    Tentang Seorang perempuan bernama Puja yang jatuh hati kepada Gading, teman satu kerjanya. Tentang rasa cinta sendiri yang membawa luka mendalam.

    Dibaca : 151 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Perkenalkan nama ku Puja. Tidak ada kepanjangan, hanya Puja saja. Aku berumur 22 tahun dan sekarang bekerja di sebuah rumah makan di Mall besar, Jakarta. Aku ingin bercerita sedikit tentang kejadian yang ku alami beberapa tahun lalu tapi masih membekas diingatan ku bahkan sampai sekarang.

    Semua itu bermula pada saat aku bekerja di rumah makan itu. Aku berkenalan dan bertemu dengan banyak teman-teman disana. Aku termasuk orang yang ceria dan suka berbaur jadi tidak sulit bagiku untuk mendapatkan teman. Aku juga termasuk orang yang kiat dalam bekerja Atau melakukan suatu hal baru, Jika aku benar bersungguh-sungguh saat melakukannya pasti akan dengan mudah kupahami. Jadi sebenarnya tidak ada rintangan yang sulit bekerja di restaurant itu. Tapi semua berbeda saat sudah melibatkan perasaan.

    Aku bertemu dan berkenalan dengan satu pria, di restaurant itu. Tidak ada yang istimewa darinya. Dia sama seperti pria-pria lainnya. Biar aku jelaskan, dia tidak terlalu tampan, Kulit nya sawo matang dan tinggi nya melebihi aku. Tapi ada satu hal yang membuatnya berbeda, yaitu tutur kata dan pembawaan nya. Gerakan tubuhnya saat dia berbicara membuat aku terkadang tersihir.

    “Puja, pulang sama siapa? Bareng sama saya aja.” Ucapnya saat kami sedang bersih-bersih karena toko sudah akan tutup. Aku berpikir sejenak mencerna ajakan nya yang memang terbilang tiba-tiba. Rumah ku dan Gading memang searah walaupun jaraknya memang tidak terlalu dekat.

    “Kayanya aku dijemput deh.” kataku padanya. Karena memang setiap harinya aku di antar dan dijemput ayah.

    “Gak usah dijemput, bareng aja.” Aku diam sebentar lalu kemudian mengangguk setuju untuk pulang bareng dengan dia walaupun memang ada perdebatan panjang diotak ku. Saat itu aku belum punya rasa apapun pada Gading. Jadi waktu dia mengajak ku untuk pulang bareng aku pun biasa-biasa saja.

    Aku semakin sering pulang dengan Gading. Dan aku juga semakin sering terlibat percakapan dengan dia. Tidak mungkin juga aku di perjalanan hanya diam kan, sedangkan waktu yang ditempuh dari tempat kerja kerumah ku saja hampir satu jam lamanya membuat aku pun menjadi sering mengobrol dengan dia. Gading juga termasuk orang yang humble dan mudah berbaur. Saat bicara dengan dia pun topik datang terus tanpa berhenti.Karena sudah terbiasa, aku menjadi nyaman dengan dia, membuat aku secara tidak sadar menaruh hati padanya. Kurasa itu yang membuat rasa suka itu muncul tiba-tiba dihatiku. Ada satu lagi kejadian yang membuat aku terpesona oleh nya.

    Saat itu hari minggu dan semua karyawan restauran ku memutuskan untuk makan bersama. Karena temoat kerja ku tutup pukul 10 malam, kami pun makan dan mengobrol di sebuah tempat makan angkiran sampai pukul 11 malam. Saat itu pun dari awal aku sudah berniat untuk pulang bareng dengan Gading, dia yang menawarkan. Aku tidak tahu apa aku ini orang yang memang mudah untuk suka dengan orang atau tidak. Tapi bahkan jika aku pikir-pikir lagi jika diberi kesempatan apa aku ingin mengulang kejadian ini lagi atau tidak, aku tidak akan pernah ingin mengulang nya.

    Saat itu aku sedang datang bulan, tapi memang bukan hari-hari penting jadi aku dengan sengaja tidak menggunakan pembalut. Tapi bodoh nya, saat teman-teman yang lain sudah bergiliran pulang, hanya tinggal aku dan Gading, aku bangkit dari duduk dan noda darah sudah tercetak di celana yang kupakai. Memang tidak banyak tapi tetap saja terlihat. Saat itu aku menggunakan kulot dengan warna coklat susu yang membuat noda darah itu langsung tercetak jelas dicelana ku.

    “Puja... Kamu sedang datang bulan?” tanya ragu Gading yang saat itu ada dibelakang ku. Menatap horor bagian noda itu. Aku yang masih belum sadar dengan apa yang terjadi hanya mengangguk mengiakan pertanyaan nya itu. Lalu tanpa berkata lagi dia menujuk ragu bagian belakang ku membuat aku melihat bagian belakang ku. Mata ku yang tidak sampai untuk melihat ke arah sana, membuat tangan ku otomatis menyentuh bagian itu. Tangan ku basah dan bercak merah menempel jelas disana.

    Rasanya aku ingin langsung pergi dari hadapan nya, ingin langsung menghilang detik itu juga. Aku kikuk dan bingung harus berbuat apa dan ini pertama kalinya aku mengalami kejadian seperti ini. Tak disangka-sangka Gading membuka jaket bomber hitam yang sedang ia kenakan dan menyerahkan nya padaku.

    “Tutupi dulu pakai ini.” katanya sambil menyerahkan jaket itu padaku. Aku langsung mengambil jaket itu dan ku ikatkan di pinggang ku. Aku mengambil tisu makan diatas meja dan mengelap bangku yang tercetak darah ku disana.

    “Kau pulang duluan aja. Aku biar naik angkot.” Kataku padanya. Aku tidak enak jika harus naik ke motor nya dengan keadaan aku yang seperti ini.

    “Gimana bisa kaya gitu.”

    Mata Gading mengeliling, kepala nya memutar dan berhenti menatap pom bensin yang tak jauh diujung jalan.

    “Kita ke pom bensin dulu aja. Di sana pasti ada kamar mandi.”

    “Kalau begitu aku jalan saja.”

    “Naik ke motor ku.” Perintahnya. Aku pun naik ke motor itu. Walaupun dengan perasaan tak enak sudah membuat motor nya terkena noda darahku. Sesampainya dipom itu dia menyuruhku untuk langsung masuk ke kamar mandi sedangkan dia ke indomaret yang terletak di samping pom bensin itu untuk membeli pembalut untuk ku.

    Sumpah, rentetan kejadian malam itu sangat jelas diingatakan ku. Aku sangat malu sampai tidak berani untuk menatap matanya, tapi ucapan terima kasih tetap kuucapkan banyak-banyak. Sejak saat itu, setiap kali aku bertemu dengan nya jantung ku serasa berdetak dua kali lebih cepat. Aku menjadi sedikit gugup dan sedikit malu-malu kucing kalau bicara dengan diam Saat itu juga aku sadar kalau aku menyukainya.

     

    *****

     

    Hari-hari pun berlalu. Aku meminta padanya untuk tidak menceritakan kejadian memalukan itu oada orang lain dan dia pun berjanji tidak akan menceritakan nya. Aku bersyukur, bagaimana jika pria yang bersama ku saat itu bukan Gading melainkan pria lain. Memikirkannya saja sudah sangat mengerikan. Aku pun semakin dekat dengan dia. Dia selalu menghantar ku pulang dan kami selalu bertukar pesan jika ada waktu dan kesempatan. Lambat laun aku sedikit bingung dengan hubungan ku dengan dia. Kami berteman tapi kenyataan nya hubunga ini tidak bisa hanya disebut pertemanan.

    Jujur sebagai wanita aku menginginkan adanya kepastian. Tapi Gading tidak pernah membahas itu dengan ku. Aku juga tidak tahu dia merasakan perasaan yang sama juga dengan ku atau tidak. Padahal aku sudah memberikan banyak isyarat dan kode kalau aku menyukai nya tapi dia tidak pernah menangkap itu.

    Aku ingin mengatakan yang sejujurnya dengan dia tapi aku takut pandangan dia terhadapku akan berubah. Apa yang akan orang bilang jika perempuan menyatakan cinta terlebih dahulu? Sangat tidak etis bukan ? Memikirkan hal itu membuat aku menahan semua perasaan ku diam-diam dan mencoba sabar dengan menunggu sampai Gading sendiri yang menyatakan cintanya padaku.

    Berbulan-bulan berlalu, perasaan ku pun semakin membesar. Aku menjadi bergantung padanya. Selalu mengirimi dia pesan atau meminta ijin padanya padahal ku tahu itu tidak diwajibkan sama sekali. Tapi aku tetap melakukan itu.

    Hingga suatu ketika aku benar-benar menguatkan keyakinan ku untuk menyatakan perasaan ku padanya, karena perasaan ini sudah tidak bisa ditahan lagi. Malam itu saat aku dan dia baru sampai di depan rumah ku. “Ingin mampir dulu?” tanya ku mencoba mengajak nya masuk karena memang akan ku katakan perasaan yang niatnya akan kukatakan sambil duduk dengan secangkir teh hangat didepan rumah ku.

    “Lain kali.” Katanya sambil menghidupkan mesin kendaraan nya lagi berniat pergi.

    “Kalau begitu bisa tunggu sebentar? Ada sesuatu yang ingin aku katakan.” Dia pun mematikan lagi mesin kendaraan nya dan menatapku lekat. Kutarik nafas dalam dan kuhembuskan perlahan. Detak jantung ku susah mulai memompa kuat sampai aku tidak bisa menahan nya lagi.

    “Gading... Mungkin ini pertama kalinya bagimu mendengar ini. Tapi ini juga pertama kalinya untuk ku mengatakan ini pada pria. Aku menyukaimu dan ingin menjadi pacarmu.”

    “Maksudnya?”

    “Aku menyukaimu dan ingin menjadi pacarmu. Bisa tolong jangan suruh aku mengulangnya lagi, aku malu.” Aku tertunduk malu, tidak berani menatap matanya.

    “Maaf Puja. Aku sepenuhnya paham dengan perkataan mu. Tapi maaf kita tak bisa berpacaran.” Katanya membuat kepala ku mendongak otomatis. Menatapnya dengan perasaan lara.

    “Kenapa? Bukan kah kau juga menyukaiku?”

    “Kurasa kau salah paham. Aku menganggap mu hanya sebagai teman. Kau perempuan baik, aku nyaman dengan mu dan saat mengobrol dengan mu juga menyenangkan. Tapi itu semua tidak membuat aku ingin menjadikan mu pacar. Bisakah kita hanya berteman saja?”

    “Kau pikir aku bisa mengendalikan perasaan ku? Kita tidak akan bisa berteman jika seperti itu. Aku pasti aku selalu terbayang-bayang akan kau.” Aku malu dan sakit hati dengan semua ini. Penolakan nya dan semua tindakan manis yang dia lakukan untuk ku melebur dibenak ku. Aku langsung berlalu pergi masuk kedalam. Tak peduli dengan Gading yang masih terdiam didepan rumah ku.

    Aku menangis sejadi-jadinya. Pernyataan cinta yang kulakukan hanya membuat aku terlihat bodoh. Ini bahkan lebih memalukan dari pada darah mens ku yang tembus itu. Esok harinya, aku tidak kuat untuk melihat wajah Gading, jadi aku memutuskan tidak masuk kerja hari itu.

    Aku mencoba menghilangkan rasa sakit dan bayang-bayang penolakan malam itu. Aku memikirkan kembali semua yang Gading lakukan untuk ku. Rasanya tak mungkin jika itu semua dia lakukan tanpa punya perasaan apapun padaku. Membangunkan ku di pagi hari dan sesekali membawakan ku sarapan sampai menghantar aku pulang, mustahil itu semua ia lakukan jika ia tidak mencintaiku.

    Mencoba untuk mengelak tapi kenyataan yang kudapat malah sebaliknya. Ternyata semua hanya pikiran ku saja. Hanya aku yang mempunyai perasaan padanya. Sedangkan Gading tidak.

    Dua hari lamanya aku tidak masuk kerja. Hari ini kuputuskan untuk melanjutkan hidupku. Entah apa yang harus kulakukan saat bertemu dengan Gading tapi kali ini pasti akan aku hadapi. Aku juga tidak ingin terlalu berlarut-larut dengan keadaan.

    “Bisa bicara sebentar?” tanya Gading padaku. Aku menatap nya lagi lalu dengan cepat mengalihkan pandangan ku. Seharian ini aku tidak memperdulikan dia. Kucoba tidak menganggap kehadiranya sama sekali walaupun Gading terus mencoba untuk bicara padaku.

    “Aku minta maaf soal itu. Tapi apa benar jika kita tidak bisa berteman ?”

    “Aku sangat malu. Jadi kurasa akan sulit untuk berteman dengan mu.”

    “Aku akan resign jika sangat mengganggumu. Aku juga tidak bisa jika bekerja dengan keadaan seperti ini. Akan lebih baik bagi kita berdua jika aku pindah kerja.” Aku menatap matanya yang sedang menatap kearah ku juga. Ada tatapan rasa bersalah sekaligus sedikit perasaan khawatir yang kutangkap dari sorot mata nya itu.

    “Tidak perlu. Aku hanya perlu waktu sebentar untuk memulihkan perasaan ku. Jika kau sampai melakukan itu yang ada aku yang merasa bersalah. Kau bisa sabar kan ?”

    “Jika itu keinginan mu.”

    Aku mengangguk.

    *****

    Enam bulan itu adalah yang terberat untukku. Karena aku juga belum bisa untuk menghilangkan perasaan ku dan mencoba menerima nya sebagai teman. Hubungan kami pun hanya sebatas rekan kerja. Hanya bicara jika memang itu diperlukan.

    Aku mencoba mengikhlaskan nya dan menerima semua nya tapi itu sangat sulit. Bahkan aku menjadi sering menangis kala mengingat hubungan percintaan ku yang seperti itu. Tapi ada satu titik dimana aku sudah benar-benar lelah. Saat dimana Gading membawa pacar nya saat kami sedang berkumpul untuk makan-makan.

    Hati ku sakit. Pasti! Tapi apa boleh buat dia memang bukan untuk ku. Takdir hanya mempertemukan kami bukan menyatukan. Saat itu aku benar-benar mengikhlaskan dia. Melihat nya tertawa lepas walaupun bukan untuk ku memang menyakitkan tapi aku akan tetap berusaha untuk melupakan nya.

     

    Aku juga berhak bahagia. Dengan melupakan nya dan meninggalkan semua rasa sakit kepedihan ku, aku yakin kalau suatu saat nanti pasti aku akan menemukan kebahagian ku juga. Semua ada porsi nya masing-masing hanya tinggal masalah waktu saja. Dan aku berharap suatu saat aku akan menemukan lelaki yang tepat, yang ku cinta dan mencintaiku juga.

     

    Tamat.

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.




    Oleh: Ranang Aji SP

    22 jam lalu

    Firman Hening

    Dibaca : 55 kali