Wajah Dunia Pendidikan Tak Lagi Sama di Tangan Fajriyatun - Humaniora - www.indonesiana.id
x

sangpemikir

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Oktober 2021

Rabu, 24 November 2021 20:54 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Wajah Dunia Pendidikan Tak Lagi Sama di Tangan Fajriyatun

    Sedikit banyak kutipan tersebut menyiratkan, bahwa setiap pertanyaan hari ini dapat terjawab hanya dengan browsing. Itu cara yang mudah sekaligus murah. Artinya, pengetahuan hari ini bukanlah hal yang sukar didapat. Dengan beberapa kali menekan ponsel, setiap pertanyaan niscaya akan menemukan jawaban.

    Dibaca : 56 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Selain itu, keterampilan pada hari ini juga dapat dipelajari secara otodidak. Youtube menyediakannya secara visual. Channel-channel bermutu mengenai, semisal belajar bergitar, melukis, menggambar, dan lain-lain tersebar di sana. Bila kurang nyaman dengan visual, orang bisa menemukannya dalam bentuk tulisan di blog atau web tertentu.

    Akan tetapi, tak setiap orang memiliki kesadaran tersebut. Teknologi atau sebut saja internet, tak selalu difungsikan sebagai perangkat untuk belajar, atau mendidik diri sendiri agar memiliki nilai lebih. Beberapa orang berlama-lama di media sosial, sisanya ngegame hingga berjam-jam.

    Saat di suatu tempat tersedia free wifi, orang berkerumun, tetapi tidak untuk bercakap-cakap, melainkan bermain game bersama sepanjang siang hingga berakhirnya senja. Terutama anak-anak,  ABG, dan anak muda, atau boleh dibilang, orang-orang yang duduk di bangku-bangku SD, SLTP, dan SMU

    Di sinilah sebetulnya, peran seorang guru untuk meluruskan hal-hal yang sifatnya buang-buang waktu. Seperempat hidup seseorang pada usia 6 hingga 18 dihabiskan di sekolah. Seperempat lagi entah ke mana, sisanya tidur. Bahkan, bisa jadi pada rentang usia tersebut, seseorang lebih sering bertemu gurunya ketimbang orang tuanya.

    , guru dalam arti formal, di hadapan seseorang telah menjadi bagian yang berpengaruh dalam hidup. Yang menjadi pertanyaan, pengaruh seperti apa yang akan diberikan seorang guru kepada orang-orang, yang lebih dikenal dengan label: murid?

    Kita tahu, perkembangan zaman sedikit banyak memaksa masyarakat untuk berkembang. Beberapa orang menanggapinya secara positif. Artinya, mereka mau berubah karena memang telah saatnya berubah. Beberapa lagi tersendat-sendat, dan sisanya stagnan.

    Golongan yang terakhir akan berakhir menyedihkan karena zaman akan serta merta meninggalkannya, membuatnya di hadapan lingkungan menjadi tidak relevan. Kita dapat menemukannya pada diri lansia, dan adapula orang-orang paruh baya. Yang menjadi persoalan, beberapa dari mereka menduduki posisi penting dalam dunia pendidikan yaitu seorang guru.

    Sepanjang hari, dari hari ke hari, kegiatan belajar yang dipandu mereka masih saja menggunakan metode lama: menghafal, melafalkan buku secara kencang di kelas, menyalin sebuah catatan yang telah tercetak di buku; yang sebetulnya, masing-masing murid telah memiliki buku itu. Cara-cara seperti ini tidak pernah membuat wajah pendidikan menarik, entah dulu ataupun sekarang, tetapi barangkali tetap ada seorang guru yang melanggengkannya. Murid-murid jenuh. Pelajaran seperti apa yang dapat diterima oleh gerombolan anak-anak yang jenuh?

    Semestinya saat ini, guru-guru dapat mengembangkan metode belajar mengajarnya, mengikuti perkembangan zaman. Selain itu, mereka diharapkan dapat memberikan doktrin positif mengenai teknologi. Sehingga anak didiknya kreatif, inovatif, memanfaatkan teknologi secara positif.

    Itu telah dilakukan oleh Fajriyatun, Guru IPS di SLTP 1 Purwanegara, Kabupaten Banjarnegara. Perempuan kelahiran 20 Oktober 1974 ini telah merebut prestasi pada dunia pendidikan. Pada November 2019, dia menerima penghargaan Tanda Penghormatan Satyalancana Pendidikan dari Presiden, yang diserahkan oleh Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

    Melalui karyanya: Stupa Merah Putih Bermagnet; suatu inovasi pembelajaran untuk melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi (High Order Thinking Skills), Fajri menjuarai lomba dalam bidang IPS dan Bahasa dalam Inovasi.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.