Hibah, Heboh tapi Nikmat - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi blunder atau kesalahan. Steve Buissinne dari Pixabay.com

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 24 November 2021 20:59 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Hibah, Heboh tapi Nikmat

    Sampeyan terbengong-bengong: tiba-tiba saja ada tiga mobil baru yang terpaksa sampeyan parkir di halaman rumah, sebab belum tersedia garasi. Mendadak saja tiap akhir pekan sampeyan punya kegiatan baru, mengunjungi tanah-tanah baru yang dihibahkan kepada sampeyan. Ada kebun sayuran, ada sawah, ada rumah bergaya art deco dengan paviliun, dan banyak lagi. Seperti absurd, tapi nyata.

    Dibaca : 1.452 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Lantaran banyak berita tentang hibah yang bisa bikin kaya mendadak, sampeyan pun ingin merasakan. Tapi sampeyan cukup tahu diri, sekedar membayangkan saja atau hanya berangan-angan bagaimana sih rasanya memperoleh hibah. Cukup dalam angan-angan, sebab sampeyan tidak ingin membikin heboh karena hibah—hibah resmi yang jumlahnya melonjak, hibah atas nama pertemanan, hingga hibah tanpa tanda serah terima; pokoknya macam-macam hibah.

    Nah, sampeyan lalu membayangkan tiba-tiba mendapat hibah berupa sebidang tanah seluas 1.000 meter persegi dengan rumah berukuran 100 m2 tingkat dua berdiri di atas tanah itu, kira-kira apa yang akan sampeyan lakukan? Pemberi hibah tak mau memperkenalkan diri [setidaknya kepada publik], bahkan ia mengutus seseorang untuk menyerahkan sertifikat hak atas tanah dan bangunan itu kepada sampeyan.

    Diterima, gak ya? Itu pikiran yang sempat terlintas di benak sampeyan. Mendadak pula muncul mesin kalkulator di benak dan langsung menghitung: harga tanah sekian plus harga bangunan sekian. Hah, gede amat? “Kenapa bapak anu menghibahkan tanah ini ke saya? Apa pesan bapak anu?” sampeyan bertanya kepada lelaki pengantar sertifikat itu. “Tidak ada pesan apa-apa pak, beliau hanya berkirim salam semoga bapak sehat menjalankan tugas,” jawab pengantar.

    Sampeyan tercenung dan kaget ketika pengantar itu bilang mau pamit. “Tunggu dulu, kalau hibah kan harus ada aktanya?” “Tidak usah repot-repot ngurus akta, pak. Sertifikat yang bapak pegang itu sudah atas nama bapak. Permisi, pak. Selamat sore.” Pengantar itu pergi meninggalkan sampeyan yang termangu, diterima tidak ya? Kalau tidak saya terima, pengantar itu sudah bermobil jauh. Kalau tidak saya terima, tanahnya begitu luas. Lagian, sudah atas nama saya. Tiba-tiba saja sampeyan berteriak kegirangan hingga orang-orang yang sedang berlalu lalang di jalan depan rumah berpaling dan keheranan.

    Esok harinya sampeyan kedatangan tamu lain lagi, lelaki berbusana perlente dan beraroma wangi. Kebetulan hari Minggu, sampeyan sedang bersantai menikmati kopi dan kudapan. Aroma parfum yang menyengat membuat sampeyan berpaling. “Selamat pagi, pak,” kata lelaki itu, dan sampeyan membalasnya.

    “Saya sebentar saja, mampir, boleh minta waktu pak?” “Ada apa ya?” tanya sampeyan keheranan. “Minggu lalu saya sempat lihat mobil bapak parkir di halaman kantor saya, saya pikir kok sudah waktunya diganti model baru.” “Oh ndak perlu diganti, saya masih suka mobil itu kok.” “Kalau begitu, bapak perlu nambah koleksi.” “Saya belum bisa beli mobil baru.” “Bapak tidak usah repot-repot pergi ke dealer, besok mobil akan diantar kemari. Sekarang saya mau menyerahkan surat-surat kendaraannya buat bapak. Ini, pak, mohon diterima.”

    Lelaki perlente nan wangi itu menyerahkan map berisi surat-surat dan langsung pamit. “Eh, tunggu dulu. Ini untuk apa?” “Biar bapak bisa pakai mobil ini, kalau mobil lama bapak sedang dicuci.” “Lho, saya kan gak kenal saudara?” “Ini pak, kartu nama saya. Permisi.” Begitu tamu itu kelihatan punggungnya dari jauh, sampeyan buru-buru membuka map. Isinya: BPKB dan STNK atas nama sampeyan. Wah, ini hibah lagi ya? Hibah tanpa tanda serah terima. Sampeyan ambil kartu nama itu, dan tertera di situ: presiden direktur anu anu corporation.

    Wah, ternyata betul, begitu pikir sampeyan, rezeki bisa datang dari mana saja dan tanpa disangka-sangka, bahkan dari orang yang tidak saya kenal. Peristiwa semacam itu bukan terjadi dua kali saja, tapi berlangsung terus-menerus, sehingga sampeyan bingung apa sebenarnya yang sedang terjadi?

    Sampeyan terbengong-bengong: tiba-tiba saja ada tiga mobil baru yang terpaksa sampeyan parkir di halaman rumah, sebab belum tersedia garasi. Mendadak saja tiap akhir pekan sampeyan punya kegiatan baru, mengunjungi tanah-tanah baru yang dihibahkan kepada sampeyan. Ada kebun sayuran, ada sawah, ada rumah bergaya kolonial dengan paviliun, dan banyak lagi. Seperti absurd, tapi nyata. Dari semula terkejut, kemudian sampeyan tersenyum; isteri tersenyum, anak-anakpun tersenyum. “Minggu depan kita nginep di sini ya pak, barbekyuan,” kata anak sampeyan yang masih remaja. Menerima hibah ternyata nikmat, pikir sampeyan.

    Sekitar 3 bulan setelah hibah pertama ia terima, sampeyan menghitung mobil sampeyan sudah bertambah 10 buah dari berbagai merek terkenal dan tipe terbaru. Tanah sampeyan membengkak dari semula 500 meter persegi yang sampeyan beli beberapa tahun silam, kini total menjadi 20 ribu meter persegi, termasuk rumah peristirahatan di lereng gunung. Semuanya hibah alias pemberian. Hibahnya pun langsung tanpa perlu ganti nama, sebab semua surat sudah atas nama sampeyan. Sampeyan ngucek-ucek mata: “Beneran nih? Asli?”

    Sampeyan duduk termangu sore itu, masih memikirkan semua kejadian ini dan berusaha menemukan penjelasan yang masuk akal, ketika tiba-tiba seorang lelaki mendatangi sampeyan dan menyerahkan map. Isinya amplop dengan kop resmi sebuah institusi, di dalamnya ada undangan pelantikan. Sampeyan bertanya: Siapa yang dilantik? “Ya Bapak. Bapak ditunggu ya besok jam 10 pagi di kantor, harap Bapak mengenakan pakaian resmi jas dan dasi, hadir bersama ibu ya, pak.” “Lho, ada apa ini?” “Bapak belum ditelepon? Baru saja diputuskan Bapak diangkat menjadi kepala kantor pusat. Besok Bapak langsung dilantik. Mohon hadir satu jam sebelumnya ya, pak, gladi resik sebentar. Permisi, pak.”

    Di kursi teras, sampeyan termangu, apakah hibah yang bertubi-tubi itu ada kaitannya dengan pengangkatan ini? Apakah mereka tahu lebih dulu kalau saya akan jadi kepala? “Pak, masuk ke dalam, nanti masuk angin, anginnya tambah kencang,” kata istri sampeyan mengingatkan. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.