Politisi Tua dan Malaikat Hitam - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ranang Aji SP

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

5 hari lalu

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Politisi Tua dan Malaikat Hitam

    Manusia selalu dalam turbelensi kesadaran. Kesadarannya atas kesalahan terkadang membuatnya ingin berubah, tetapi kesadaran lain datang sebagai godaan.

    Dibaca : 147 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dari balik pagar yang melengkung, matanya melihat serombongan anak sekolah dasar berjalan menuju sekolah. Kakinya, lantas maju selangkah mendekat pagar besi yang bercat hitam, sembari tangannya menyentuh permukaan pagar yang masih terasa sisa embunnya. Anak-anak kompleks yang harum itu mengingatkannya pada nasib anak-anak pinggiran yang nestapa, yang tak terjangkau oleh perhatiannya di masa lalu. Saban usai membaca berita koran di pagi hari, terkadang hatinya tiba-tiba merasa risi, dan malu sendiri karena tak mampu membuat perubahan. Setelah pensiun seperti saat ini, dia benar-benar merasa berdosa.

    Dia membawa pikiran itu ketika berjalan menyusuri jalan menuju taman kompleks perumahan untuk bertemu seorang politisi muda. Pemuda itu mengatakan ingin mendengarkan nasehatnya. Pagi itu dia mengenakan kemeja putih yang ujungnya dimasukannya ke dalam celana flanel abu-abu. Rambutnya putih tersisir rapi dengan balutan pomed wangi kesukaannya sejak 30 tahun silam. 

    Kakinya melangkah melewati pohon-pohon cemara yang berjajar sepanjang jalan, sambil memikirkan hutan-hutan pinus dan burung-burung yang hilang. Nafasnya sedikit sengal saat mengingat cucunya sendiri tak pernah tahu jenis burung yang pernah ada di negaranya. Dahinya berkerut mengingat itu. Lalu dia menghitung berapa temannya yang terlibat hingga membuat hutan-hutan, dan burung-burung itu menghilang, dan berapa banyak yang sudah meninggal, atau berapa banyak dari mereka yang sudah menerima hukuman. 

    **

    Mantan politsi itu tak butuh waktu lama untuk menunggu. Politisi muda itu datang sebelum matahari menjadi jahat. Mobilnya halus berkilat seperti kaca dengan warna hitam menkilap, terpakir anggun di bawah pohon yang rindang. Pemuda itu tak cukup tampan bila tanpa uang yang cukup, pikirnya. Kulit wajahnya sedikit bopeng, tapi ia punya kulit cokelat bersih, dan perut yang belum terlalu buncit. Setidaknya itu mengingatkannya pada sosoknya sendiri ketika muda. Meskipun demikian, dia masih merasa lebih tampan, sedikitnya dua puluh lima persen di atasnya. Mulutnya tersenyum memikirkan itu.

    Pemuda itu menyapanya dengan rasa hormat yang halus, dan membuatnya merasa masih utuh sebagai seorang tokoh politik yang pernah disegani. Daun-daun kekuningan berguguran dari pohon Kiara bersama hembusan angin lembut semilir yang mengantar aroma Bleu de Chanel pemuda itu merasuki hidungnya. Dengan senyum yang lebar, ramah, tapi dengan masih menjaga intesitas harga diri, dia menyambut pemuda itu dengan sikap anggun, mengulurkan tangan untuk berjabat, dan kemuddian menujukkan di mana pemuda itu harus duduk, sehingga mereka bisa bercakap dengan saling berhadapan.

    Dia belum tahu nasehat seperti apa yang akan disampaikannya dalam pertemuan itu, tapi dia merasa penting untuk merencanakan memberi nasehat yang sedikit bernuansa religius pada politisi muda itu. Setidaknya demikian yang dia pikirkan, sebelum kemuddian pemuda itu membuat percakapan yang mengingatkannya akan kejayaannya di masa lalu, dan melupakan seluruh ndiatnya. Pemuda itu bercerita tentang betapa kagumnya dirinya ketika di suatu masa yang sulit, tokoh politik seperti dirinya mampu membuat negara membayar hutang perusahaan milik ketuanya.

    Sanjungan itu membuatnya melayang dan ingat peristiwa di masa lalu. Sebuah kisah kemenangan yang membuatnya menjadi pahlawan yang selalu dipuja. Saat itu usianya masih kisaran 40 tahun. Kini sudah mencapai usdia 75 tahun. Waktu begitu cepat berlalu, dan sebenarnya dia tak lagi mengingat semua itu kecuali merenungkan sesuatu yang mencemaskannya atas semua tindaknnya di masa lalu. Tapi, bersama angin yang sepoi, bersama wangi parfum yang merasukinya, sekali lagi, pemuda itu membuatnya ingat masa jayanya kembali. 

    Politis tua itu tertawa mendengar pemuda itu bercerita, dan dia suka caranya berbicara. Pemuda itu baginya, sekali lagi, seperti gambaran dirinya di masa lalu. Bukan secara fisik, tapi semangat yang menyala terang, ambisi besar yang berkobar, dan keterampilan bicara yang membuat orang terpesona. Setelah mendengar semua cerita pemuda itu yang nyaris adalah pujian-pujian atas peristiwa masa lalunya, dengan suaranya yang bernada riang dia bertanya bagaimana situasi politik saat ini, untuk sekadar berbasa-basi.

    “Saya sudah lama tidak memperhatikan,” ujarnya menekankan keadaannya.

    “Tidak seperti ketika Anda masih aktif,” pemuda itu berkata seolah sedang menyesalkan keputusannya.

    “Tentu saja,” balasnya,”setiap zaman berbeda keadaannya.”

    Politisi tua itu lalu berbicara panjang lebar tentang para politisi setiap zaman dalam irama yang dia suka. Terkadang dia berhenti sejenak hanya untuk menyalakan rokok kesukaannya. Tanpa saos, tanpa cengkeh. Asapnya putih pekat dengan bau menyengat berbaur lamat dengan aroma parfume pemuda itu. Terkadang dia membuat pandangan-pandangan yang ringkas tentang sebuah situasi politik tertentu di zamannya. Ketika berbicara soal demokrasi, suaranya meninggi dengan tekanan tertentu yang membuat politisi muda itu mengangkat dagunya demi untuk mendapatkan kepastian kesannya.

    “Demokrasi,” ujar politisi tua itu,”hanyalah alat dalam politik, di mana kekuasaan adalah tujuan kita. Semua adalah soal retorika.”

    “Seperti halnya Cicero berlatih orasi,” lanjutnya, ”mencoba menaklukan suara debur ombak lautan demi sebuah kemampuan verbal yang retoris sebelum dia benar-benar berhadapan dengan gelombang demokrasi sebenarnya, yaitu pelbagai suara para politisi dan rakyat di masa Romawi kuno.”

    Cerita metaforis itu didengarkan anak muda itu dengan hati yang bergelora, hingga mampu menggerakan hatinya itu untuk mengisi paru-parunya dengan nikotin. Tangan pemuda itu bergerak pelan menjumput satu batang, dan membakar rokoknya dengan gaya seorang koboi dalam film Western. 

    Sementara itu, sang politisi tua sendiri, semakin jauh dia berbicara, semakin lupa betapa menyesalnya dia pernah berada dalam dunia politik kekuasaan. Sebuah dunia yang sempat dia sebut dunia tanpa hati, dan untuk itu dia menyatakan bertaubat. Otak dan perasaannya kini seolah berada kembali di masa dia mendapatkan kejayaannya. dia melambung bersama pujian politisi muda itu dan godaannya. Dadanya dipenuhi semangat lama yang membuatnya bergetar.

    Matahari bergerak sejengkal, dan kilatan cahaya seperti bintang pecah di antara sela dahan dan ranting pohon hingga menembus kacamata sang politisi tua yang memaksanya untuk sedikit menggeser pantatnya yang tebal demi menghindari silaunya.. Pemuda itu kembali menghisap rokoknya, dan dengan nada suara yang sopan bertanya tentang bagaimana mendapatkan kepercayaan publik luas dalam demokrasi. Dalam sikap yang anggun, politisi tua itu menatap sejenak raut muka pemuda di hadapannya, seolah tengah membaca pikirannya. Lalu dia tertawa memperlihatkan giginya yang masih utuh dan berwarna kekuningan. dia suka dengan pertanyaan itu, dia bangga bisa menunjukkan pengetahuannya yang luas.

    Politik, katanya mulai menjelaskan, di setiap zaman selalu berbeda kondisinya, tetapi sifat manusdia tak berubah. Maka perlakuannya selalu sama. Demokrasi pada prinsipnya adalah suara-suara manusia yang berharap akan sesuatu yang bisa membuat mereka tenang. Tapi pada dasarnya mereka tak pernah bisa tahu apa yang terjadi dengan sunguh-sungguh dari sebuah kejadian yang mereka lihat. Maka, di sana, kata politisi tua itu dengan suara mantap berkata, “di sana, iblis bisa diciptakan bersama malaikat yang dijelmakan. Gunakan media massa.”

    “Menciptakan iblis dan malaikat…orang jahat versus pahlawan..gunakan media massa..” suara politisi muda itu terdengar berguman mengomentari. Bola matanya  tampak bergerak dan berkilat.

    Sesaat kemudian politisi muda itu tertawa, dan kemudian mengatakan bahwa dirinya memahami penjelasan itu. Lalu, setelah merapikan duduknya, dan dengan sikap takzim mengucapkan banyak terima kasih atas pertemuan dan pelajaran yang dia dapatkan. Setelah melihat jam tangannya, dan sebelum berpamitan, dengan sepenuh hati dia memohon agar politisi tua bisa kembali dalam dunia politik, atau setidaknya, seperti yang dia katakan, bersedia menjadi pendampingnya. 

    Tawaran itu membuat dahi politisi tua berkerut. Hatinya bimbang. Tapi kemudian, ada sesuatu dalam hatinya yang membuatnya terisi oleh semangat masa lalu; ambisi seorang politisi sejati. Matanya berbinar menatap jauh ke depan. Dia selalu bisa menikmati ketegangan seorang pemain catur dalam bentuk yang lebih hidup, dan menantang. Pemuda itu bisa menjadi bidaknya bila dia kembali ke politik, pikirnya. Mulutnya tersenyum membayangkan itu.

    Waktu pergi dalam langkah-langkah detik yang tetap, tapi terasa cepat dan terabaikan bersama hembusan angin di sekitar. Dadanya bergemuruh penuh semangat. Jantungnya berdetak keras, memompa darahnya mengalir cepat, dari kaki hingga naik ke kepala. Namun, ketika matanya tengah mengawasi punggung politisi muda yang membuatnya kembali bersemangat itu, tiba-tiba jantungnya seperti berdentum, memukul dadanya hingga rasa sakitnya menjalar ke seluruh tubuh. 

    Darahnya berdesir, dan tubuhnya terhuyung. Saat itu pula, dia melihat malaikat hitam besar berdiri tegak di hadapannya, merentangkan sayapnya hingga membuat matanya tak mampu melihat cahaya bersinar. Tubuhnya tersentak membungkuk, dan nafasnya tersekat. Dia duduk terkulai lemas dengan suara tercekik, tak berdaya dikurung angin yang berputar, bersama daun-daun kuning yang berguguran.[]



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.




    Oleh: Ranang Aji SP

    22 jam lalu

    Firman Hening

    Dibaca : 55 kali