Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) di Era Merdeka Belajar - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Soli Chudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 24 November 2021

Rabu, 24 November 2021 21:09 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) di Era Merdeka Belajar

    Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) di SMKN 4 Semarang sebagai salah satu Implementasi dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Budaya Kerja (P5BK) di Era Merdeka Belajar

    Dibaca : 754 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    GERAKAN SEKOLAH MENYENANGKAN (GSM) DI ERA MERDEKA BELAJAR

    Beberapa dekade ini, Menteri Pendidikan Indonesia telah merancang tentang konsep merdeka belajar. Merdeka belajar adalah salah satu inovasi dari Menteri Pendidikan Indonesia saat ini (Nadiem Anwar Makarim) yang memberikan kebebasan pada suatu lembaga pendidikan serta otonominya, dan merdeka dari birokratisasi, dimana pengajar dapat kebebasan dari birokrasi yang rumit serta peserta didik yang diberikan kebebasan untuk dapat memilih bidang yang mereka sukai

    Lahirnya program merdeka belajar ini karena adanya banyak keluhan di sistem Pendidikan, dimana salah satu keluhanya adalah soal banyaknya peserta didik yang ditarget dengan nilai-nilai tertentu. Diharapakan dengan adanya program merdeka belajar ini peserta didik dan guru dapat bebas dan berinovasi dalam belajar. Merdeka belajar merupakan kemerdekaan dalam berfikir, sehingga kemerdekaan berfikir ini wajib ada di guru terlebih dahulu. Peserta didik tidak akan merdeka kecuali gurunya sudah merdeka terlebih dahulu.

    Statement bahwa guru merupakan kunci keberhasilan suatu bangsa, itu berarti mengalihkan tanggung jawab dan menjebak guru untuk gagal. Memang guru itu sangat berperan penting dalam dunia Pendidikan, namun tuntutan akan peran besarnya itu tidak akan terpenuhi saat guru tidak memiliki sesuatu yang asasi, yaitu berupa kemerdekaan. Adanya kemerdekaan untuk guru dalam jangka panjang akan berperan sentral yang berfungsi menumbuhkan kemerdekaan belajar murid dan mensukseskan cita-cita demokrasi negeri ini.

    Mengacu pada regulasi yang berlaku, guru adalah sosok yang memiliki tugas dan fungsi untuk dapat merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan tupoksi yang cukup banyak tersebut, guru harus care dengan berbagai perubahan dan perkembangan dalam wilayah pendidikan, sehingga kegiatan yang dilaksanakannya memiliki kesejalanan dengan ritme yang diharapkan oleh pemegang otoritas pendidikan. Selain itu, guru merupakan sosok futuristik yang harus mampu memperkirakan kebutuhan masa depan dari setiap siswa yang dihadapinya saat ini.

    Seiring dengan penerapan berbagai kebijakan pendidikan, tugas guru selalu mengalami dinamisasi dari waktu ke waktu, sehingga setiap guru benar-benar dituntut untuk selalu dapat beraptasi dengan kebijakan yang diberlakukan oleh Kemendikbud sebagai pemegang otoritas kebijakan pendidikan. Hal itu sangat dituntut karena guru harus menjadi sosok yang dapat menyiapkan siswa agar dapat survive dalam kehidupan masa depannya. Terkait dengan hal itu, secara jelas bisa dilihat dari penerapan kebijakan merdeka belajar yang dikeluarkan oleh Kemendikbud. Kebijakan tersebut menuntut kepiawaian guru agar dapat berkiprah dalam turut serta menyiapkan generasi masa depan yang handal.

    Dalam konsep merdeka belajar, guru diberi kebebasan untuk berpikir dalam menentukan langkah yang tepat dan strategis sehingga bisa menjawab semua tantangan dan permasalahan pendidikan yang dihadapi dalam wilayah pendidikan. Dalam konsep ini, guru harus bisa menentukan treatment yang tepat tanpa intervensi terlalu jauh dari pihak luar. Penerapan treatment tersebut tentunya harus memiliki dasar kuat dan bisa dipertanggung jawabkan.

    Untuk sampai pada keberhasilan penerapan konsep merdeka belajar tersebut, guru dituntut agar dapat menerjemahkan konsep sehingga mampu merealisasikan dalam penerapan pembelajaran yang dilaksanakannya. Untuk sampai pada kenyataan tersebut bukanlah hal yang mudah. Guru harus memiliki keluasan wawasan dan kedalaman pengalaman sebagai modalnya

    Mengutip dari Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara bahwa “Pelajar Indonesia merupakan pelajar sepanjang hayat yang kompeten, berkarakter dan berperilaku sesuai dengan nilai Pancasila”. Hal ini sesuai visi pendidikan Indonesia guna mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian melalui terciptanya Profil Pelajar Pancasila (PPP).

    Salah satu lembaga pendidikan yang langsung mengimplementasikan konsep merdeka belajar adalah SMKN 4 Semarang dengan semboyannya “Ukir Prestasi Tiada Henti” melakukan gerak cepat dengan mensosialisasilan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Budaya Kerja (P5BK) pada tanggal 5 Oktober 2021 bertempat di Aula SMKN 4 Semarang. Dengan menerapkan 6 Dimensi Profil Pelajar Pancasila diantaranya Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berkebinekaan Global, Bergotongroyong, Mandiri, Bernalar Kritis dan Kreatif. Dimensi 1 dari PPP yaitu Beriman, Bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia,  terdiri dari 5 komponen yaitu Akhlak Beragama, Akhlak Pribadi,  Akhlak kepada Manusia, Akhlak kepada Alam, dan Akhlak Bernegara. Dimensi 2 antara lain, Berkebinekaan Global terdiri dari 3 komponen yaitu Mengenal dan menghargai budaya, Kemampuan Komunikasi Intercultural dalam berinteraksi dengan sesama, Refleksi dan tanggungjawab terhadap pengalaman kebhinekaan, Dimensi 3 yaitu Gotong Royong, terdiri dari 3 komponen antara lain Kolaborasi, Kepedulian, dan Berbagi. Dimensi 4 adalah Mandiri, terdiri dari 2 komponen yaitu Kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi serta Regulasi Diri. Dimensi 5 yaitu Bernalar Kritis terdiri dari 4 komponen antara lain Memperoleh dan Memproses informasi dan Gagasan, Menganalisis dan mengevaluasi penalaran, Merefleksikan pemikiran dan proses berpikir, dan Mengambil Keputusan. Dimensi ke 6 dari PPP adalah Kreatif, terdiri dari 2 komponen yaitu Menghasilkan Gagasan yang Orisinal dan Menghasilkan Karya serta Tindakan yang Orisinal pula.

    Penanaman dimensi-dimensi Profil Pelajar Pancasila akan dilakukan melalui projek yang mengacu pada tema-tema isu prioritas pada peta jalan Pendidikan Nasional 2020-2035 dan kebutuhan dunia kerja. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila adalah pembelajaran lintas disiplin ilmu untuk mengamati dan memikirkan solusi terhadap permasalahan dilingkungan sekitar melalui projek.

    Prinsip pengembangan P5BK yang dilakukan SMKN 4 Semarang antara lain; berpusat pada peserta didik, holistic, kontekstual,dan eksploratif, dengan menerapkan tujuan P5BK selain menanamkan karakter Profil Pelajar Pancasila juga memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar dalam situasi tidak normal, struktur belajar yang fleksibel, kegiatan belajar yang lebih interaktif, dan juga terlibat langsung dengan lingkungan sekitar untuk menguatkan berbagai kompetensi.

    Adapun tema sosialisasi P5BK pada acara tersebut antara lain: Gaya Hidup Berkelanjutan, Kearifan Lokal, Bhinneka Tunggal Ika, Bangunlah Jiwa dan Raganya, Suara Demokrasi, Berekayasa dan Berteknologi untuk membangun NKRI, Kewirausahaan, Kebekerjaan dan Budaya Kerja.

    Dalam Sosialisasi P5BK tersebut, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum Koman Wasito Edi Wibowo, S.Pd, M.Si dan Koordinator P5BK Sunarko,  S.Pd serta Ketua Tim GSM Abdul Kholik, S.Pd menjelaskan tentang assesment individual peserta didik yaitu assesment berupa catatan deskriptif, catatan proses cukup satu paragraph singkat, menggambarkan proses yang saling berkembang dan proses yang masih mendapatkan perhatian. Hal lain yang dijelaskan oleh Tim P5BK adalah rubrik penilaian membangun mimpi, vision dan passion peserta didik SMK yang mencakup dimensi Mandiri dan bernalar kritis dengan kriteria belum berkembang (<30%), Mulai berkembang (30->60%), Berkembang sesuai harapan (60%-<90%) dan Sangat Berkembang (>90%), serta Dimensi Kreatif dengan kriteria yang Belum berkembang (satu ide), Mulai Berkembang (beberapa ide), Berkembang sesuai harapan (banyak ide dan bisa mengembangkan satu ide), Sangat Berkembang (ide yang berbeda), juga Lembar Refleksi membangun mimpi, vision dan passion peserta didik. Adapun contoh projek budaya kerja yang sudah dijalankan SMKN 4 Semarang adalah Penerapan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin).

    Sosialisasi P5BK di SMKN 4 Semarang yang diketuai oleh Abdul Kholik, S.Pd menghasilkan kesepakatan untuk mengembangkan Dimensi ke 6 dari penerapan Profil Pelajar Pancasila yaitu Dimensi Kreatif melalui pembelajaran ekstrakurikuler dengan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) lewat pengembangan minat dan bakat siswa yang diharapkan saat lulus nantinya siswa sukses dimasa depan dengan tujuan siswa tidak salah dalam memilih jurusan saat melanjutkan dibangku kuliah dan siswa tidak salah dalam meniti karier.

    Penulis: Solichudin, S.Pd (Guru Produktif SMKN 4 Semarang)

     

     

     

     

     

     

     

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.