Sajak Terakhir - Fiksi - www.indonesiana.id
x

kunci kesuksean

Sanata Areeba Zahra

Sanata Ariba Zahra
Bergabung Sejak: 24 November 2021

Rabu, 24 November 2021 21:12 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Sajak Terakhir

    Cerita Pendek

    Dibaca : 80 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    “Ya, Allah! Nak…,” teriak sang ibu panik. Kondisi Zarra memburuk dan dia tak mampu bernapas dengan baik. Semua yang ada di ruangan panik. Termasuk Zubair, sahabat Zarra. Mereka semua meneteskan bulir-bulir bening dari mata mereka.

    "Zarra, tolong bertahan… Tolong untuk tetap kuat, Zarra…,” ucap Zubair dengan suara bergetar. Tubuh Zubair lunglai melihat Zarra yang malang itu. Zarra yang terbaring lemas itu masih berusaha untuk bernapas. Sementara sang ibu sudah tak mampu menahan deras air mata.

    "Panggil dokter! Cepat, panggil dokter,” ucap Zubair.

    ***

         Dua tahun yang lalu, Zarra adalah gadis saliha yang mandiri dan pekerja keras. Orang tuanya hanyalah pedagang soto ayam di dekat salah satu pasar di Semarang. Zarra memiliki cita-cita yang sangat tinggi. Yaitu melanjutkan studi ke Pakistan.

         “Ah, aku mati. Oleh rindu yang bersarang di hati,” Zarra menorehkan tinta ke atas selembar kertas hitam. Zarra sangat menyukai sastra. Di atas meja belajarnya yang sederhana, dia telah menuliskan banyak puisi yang indah. Majas dan diksinya yang indah itu, mampu membius orang-orang yang membacanya.

         “Nak, tolong bantu ibu sebentar,” ucap sang ibu memanggil Zarra. Di malam hari Zarra harus membantu orang tuanya mempersiapkan segala sesuatu untuk berdagang esok hari. Terkadang Zarra harus kehilangan sebagian jam belajarnya untuk membantu orang tua. Namun Zarra tak pernah merasakan kesesalan. Sebab orang tuanya lah yang akan menjadi sumber keberhasilan dirinya. Iya, ridho Allah merupakan ridho orang tua. Mungkin itu yang menjadi dasar atas kehidupan Zarra selama ini.

         “Subhanallah, panas sekali hari ini. Lihat itu, Ariba. Betapa banyak asap yang keluar dari bokong-bokong truk itu,” ucap Zarra menunjuk kendaraan-kendaraan yang berkeliaran. Mereka berjalan menuju kampus mereka.

    Kalau aku mati nanti,

    Semut-semut dan para penghuni tanah itu akan menertawaiku.

    Memang sederhana, namun banyak makna yang terikat di dalam sajak yang dia tulis itu.

    ***

    "Zarra! Lihatlah!” Teriak Ariba yang berlari menghampiri Zarra. Zarra menaikkan satu alisnya dan tertawa sedikit melihat kelakuan aneh temannya itu. Ariba menyodorkan sebuah kertas yang bertuliskan info lomba menulis cerpen. Hadiahnya lumayan besar, juara pertama akan mendapat hadiah uang tujuh juta rupiah.

    Tanpa perlu berpikir panjang, Zarra langsung berkata, “Wah, alhamdulillah. Aku harus ikut. Kalau menang kan lumayan hadiahnya untuk ditabung.”

    “Iya. Kau benar, Zarra,” sahut Ariba.

    Zarra pun mengajak Ariba untuk mampir ke rumah sederhananya itu dan menemaninya berbincang mengenai cerpen yang akan dibuatnya.

         Dua hari kemudian, cerpen karangan Zarra telah selesai ditulis. Dia pun pergi ke rumah Ariba untuk menumpang internet.

    “Ariba, maaf ya. Kalau selama ini aku merepotkanmu. Apalagi aku sering menumpang internet di rumahmu,” ucap Zarra merasa bersalah.

    Bukan tak modal, tetapi memang begitulah keadaan ekonomi keluarga Zarra. Dia hanya mampu membeli kuota data yang murah, dan itu pun kecepatannya tidak stabil. Walaupun begitu, Ariba tak pernah segan membiarkan Zarra memakai internet rumahnya sesuka hati. Ariba bahkan yang menawarkan Zarra sebelumnya.

         Setelah menunggu setidaknya dua minggu, datanglah hari pengumuman pemenang lomba. Zarra mendapatkan juara dua di kategori mahasiswa. Dia memenangkan sejumlah uang enam juta rupiah, plakat penghargaan, serta bingkisan menarik. “Sungguh nikmat Allah yang tiada tara,” ucapnya. Karena Ariba telah sering membantu Zarra, Zarra pun tak lupa membagi sebagian rezekinya itu kepada Ariba, “Ini untukmu.”

    Ariba menolak. Tapi Zarra tetap memaksa Ariba untuk menerima sedikit uang itu, hingga dia menerimanya. “Terima kasih,” ucap Ariba.

         Zarra kemudian mampir ke salah satu warung makan, dan memesan lima bugkus nasi beserta lauk. “Banyak sekali, untuk siapa?” tanya Ariba. Zarra hanya menaikkan kedua alisnya dan tersenyum seakan memberi teka-teki.

    Ternyata Zarra ingin memberikan nasi bungkus itu kepada beberapa pengemis tua dan pengamen trotoar. Ariba terpelanga. Dia pun tiba-tiba mengeluarkan sejumlah uang untuk diberikan juga. Zarra yang melihatnya tersenyum bahagia lalu mengatakan, “Banyak atau sedikit rezeki yang kita terima, ada hak untuk para fakir miskin di luar sana. Jangan sampai nafsu kita itu melahap habis hak-hak yang seharusnya kita berikan kepada para fakir miskin itu.”

    “Aku beruntung memiliki teman sepertimu, Zarra,” ucap Ariba tersenyum manis. Zarra menggenggam tangan Ariba dengan sedikit mengkerutkan kelopak matanya sembari tersenyum.

    ***

         Hari-hari terus berlalu, waktu mengalir begitu saja bagai air. Hanya orang-orang malas yang merugi. Karena waktu bukanlah benda yang dapat dibeli. Waktu adalah hal gratis dan bermanfaat yang Allah berikan tapi bagi siapa yang bijak.

         Dua semester terakhir telah Zarra lewati dengan penuh perjuangan. Kini dia telah lulus untuk gelar sarjananya. Keinginannya tetap kukuh untuk melanjutkan studi ke Pakistan. Dia telah mempersiapkan segala berkas yang dipersyaratkan.

    "Bismillah… Sekiranya ini memang takdirku, Allah pasti akan mempermudah segalanya,” ucapnya sebelum berangkat ke tempat ujian.

         Di perjalanan, Zarra menelepon ibunya di Semarang. Saat ini Zarra tinggal sementara di Jakarta untuk mempermudah aksesnya menuju lokasi ujian.

    "Assalamualaikum, Bu,” ucap Zarra. Dengan suara lirih, sang ibu menjawab salam anaknya itu, “Waalaikumsalam.”

    "Apa kabar? Doakan Zarra ya, Bu. Hari ini Zarra akan melakukan tes tertulis. Semoga Zarra lolos,” pinta Zarra. Sang ibu tentu saja akan selalu mendoakan anaknya untuk sesuatu yang baik tanpa diminta.

         Tes tertulis telah selesai. Tugas Zarra kali ini hanya berdoa dan terus berdoa berharap dia lolos ke tahap wawancara. Dia pun membuka Al-Quran merah muda miliknya. Dibacanya lembar demi lembar ayat-ayat suci tersebut. Mengulang kembali hafalannya supaya tak ada satu ayat pun yang lupa.

         Lima hari telah berlalu, Zarra tampak menatap layar mesin mini kotak miliknya. Melalui ponsel genggamnya itu, dia memantau hasil tes tertulis lima hari yang lalu.

    "Alhamdulillah…” Zarra sedikit menjerit. Dia sangat bahagia ketika melihat namanya berada di posisi lima besar. Dia sungguh tak menyangka bahwa Allah telah membuka lagi sedikit jalan untuk Zarra agar dia lolos.

         Dua hari setelah pengumuman tersebut, Zarra melakukan tes wawancara. Zarra tampak begitu semangat. Dia yakin kepada Allah bahwa dia bisa melakukan itu. Ini merupakan langkah terakhir supaya dia bisa diterima di Universitas Islamabad, Pakistan.

        Prinsipnya adalah niat, usaha, dan tawakal. Zarra telah matang dengan niatnya untuk melanjutkan studi di Pakistan. Dia juga sudah berusaha dengan belajar, sehingga kesiapannya sungguh empuk. Dan yang terakhir, Zarra hanya perlu menyerahkan semua keputusan kepada Allah. Allah lah yang Maha Pengatur. Meski sudah berusaha, tapi jika Allah tak berkehendak maka kita tak bisa membantah. Begitu pun yang dilakukan Zarra. Setelah ini, dia hanya perlu berdoa, memohon agar diberikan hasil yang terbaik atas usahanya.

         Lima hari setelah tes wawancara berlalu. Tampaknya Zarra lupa kalau hari ini adalah hari pengumuman calon mahasiswa baru yang diterima. Zarra kembali ke Semarang kemarin malam, karena rindunya kepada ayah dan ibu sudah tak dapat dibendung. Lagipula, dia juga harus membantu orang tuanya berdagang.

    Tampak dari jauh mata memandang, Ariba yang berlari tergesa-gesa. Kain bajunya yang berlebih itu dan angin hampir saja mendorongnya jatuh. Ariba berteriak memanggil Zarra, “Zarraaaaaa!”

    "Huh…” Ariba menghela napas.

    "Ada apa, Rib?” tanya Zarra kebingungan.

    Ariba heran, karena dia tak melihat adanya raut kebahagiaan yang tersirat di wajah Zarra. Tak biasa juga raut datar wajahnya itu terpampang. Benar-benar sesuatu yang aneh.

    "Kau lolos!” seru Ariba. Zarra terkejut, pupil matanya membesar. Kerut di kelopak matanya itu menunjukkan adanya rasa bahagia. Zarra benar-benar tak mendugakan hal seindah ini.

    ***

         Tiga bulan berlalu. Zarra akhirnya meninggalkan ibukota Jawa Tengah dan merapah ke negara seribu cahaya di Asia Selatan, untuk memulai perjalanan barunya menuntut ilmu. 

         Di kampus barunya itu, Zarra bertemu dengan Zubair Ahmad. Zubair Ahmad adalah mahasiswa baru yang berasal dari kota Karachi, Pakistan. Mereka berada di jurusan yang berbeda. Namun setidaknya, Zarra memiliki teman baru di sana.

         Berlarilah dan terbang

         Ikuti alurnya dan biarkan anila membawamu kembali

    Tiada hari tanpa tulisan bagi penyair muda seperti Zarra. Di bawah payoda indah dengan serayu yang membisik lembut, Zarra menuliskan sajak-sajak yang terbesit di dalam imajinasinya.

    “Kau menulis apa?” tanya Zubair dalam bahasa Inggris. Zarra menunjukkan buku sajaknya dan menjelaskan apa yang tertulis di dalam buku itu. Suara Zarra yang terdengar serak, memunculkan pertanyaan di benak Zubair. “Apa kau sakit?” ucapnya. Zarra hanya menggelengkan kepala dan tersenyum.

         Dua bulan sudah Zarra singgah di Islamabad dan Zarra mulai terbiasa dengan kehidupan barunya di negeri orang. Meski nestapa akan kerinduan terkadang menyelimutinya, dia tetap semangat. Karena dia telah berjuang menjaremba mimpinya untuk kuliah di luar negeri.

         Rinai jatuh mengguyur kepala dengan lemah lembut. Zarra berjalan menuju kampusnya. Payung dari ransel melindungi kepalanya. “Hai, Zarra!” sapa Zubair berlari ke arahnya. Zarra membalas dengan suara pelan dan tersenyum. “Tak biasanya suara Zarra pelan seperti ini,” gumam Zubair dengan luapan tanda tanya. Zubair bingung, sudah satu bulan Zarra terlihat tak baik-baik saja.

         Memandang biru nabastala yang luas, Zarra termangu di taman kecil hijau di halaman kampusnya. “Zarra!” ada suara memanggil namanya. Mata Zarra seketika berkeliling mencari siapa sosok yang memanggil dirinya itu.

    "Kau dipanggil ke kantor kepala universitas,” ucap seseorang yang tiba-tiba datang di belakangnya. Zarra tertegun, mungkin hatinya berkecamuk di dalam.

           Tibanya Zarra di kantor kepala universitas, Zarra melihat Zubair di dalam. Wajah Zarra mulai menggambarkan raut ketegangan dan kekhawatiran. Dengan suara berat, kepala universitas itu mengatakan bahwa kesehatan Zarra harus diperiksa. Zarra sempat mengelak. Namun Zubair berusaha untuk menenangkan Zarra.

         Setelah dibawa ke laboratorium untuk pemeriksaan dahak, Zarra divonis menderita pneumonia ringan. Zarra terkejut, dia tak pernah menduga hal ini akan terjadi. Meski begitu, Zarra masih dapat tinggal di Islamabad karena penyakitnya masih tergolong ringan.

         Tiga bulan berlalu, namun batuk yang diderita Zarra tak kunjung usai. Justru bertambah parah. Zubair yang melihat dari kejauhan merasa risau dengan keadaan Zarra. Zubair tak tahu harus berbuat apa.

    "Bahtera berlayar membawa harapan. Di balik karang dalam gelap gulita ruangan. Wajah menengadah penuh ratapan berambisi. Hingga permata jatuh dari gudang yang suci,” Zarra menorehkan kembali tinta pulpennya ke atas kertas. “Zarra, ikut aku,” ucap Zubair yang menarik tangan Zarra. Dibawanya Zarra ke kantor kepala universitas.

    "Maaf, Zarra. Ada yang ingin kami bicarakan,” ucap salah satu orang di kantor kepala universitas yang membuat suasana kian tegang. “Kami terpaksa akan mengembalikanmu ke Indonesia. Karena kondisi kesehatanmu yang tidak baik,” jelas orang itu lagi. Ruangan itu hening seketika. Tatapan kosong Zarra jelas menjadi pusat perhatian Zubair. Tak dapat dipungkiri bahwa Zarra merasa sangat sedih dan kecewa.

    "Ini pasti karenamu, Zubair!” Zarra membuka mulutnya.

    "Kau menghancurkan impianku!” emosi Zarra pecah, karena dia tahu bahwa Zubair adalah anak dari kepala universitas tersebut. Dia mengira bahwa Zubair ingin menghancurkan impian Zarra dengan terus melaporkan kondisi Zarra yang tak baik itu.

    ***

         “Aku tak mampu berkata apa-apa. Dia pingsan. Lalu kami membawanya ke rumah sakit terdekat di kota Islamabad. Setelah siuman, Zarra kemudian diterbangkan kembali ke Indonesia. Aku diam-diam ikut ke Indonesia,” jelas Zubair kepadaku.

    "Di Indonesia, dia dirawat kembali di rumah sakit besar. Setelah satu bulan kondisinya memang berangsur baik, alhamdulillah,” tambah Zubair. Kemampuan berbahasa Indonesianya sungguh lancar. Padahal dia masyarakat lokal Pakistan. Hal itu membuatku bertanya-tanya. Dari mana dia belajar bahasa Indonesia.

    "Zarra pernah mengajarkanku bahasa Indonesia. Tak banyak, hanya dasar-dasar percakapan saja. Namun, aku merasa sangat tertarik dengan bahasa Indonesia, setelah aku membaca puisi-puisi Zarra yang indah. Jadi, aku mengikuti kursus-kursus online, sehingga aku dapat berbicara lancar seperti saat ini. Dan aku bersyukur telah memiliki sahabat seperti Zarra,” jelas Zubair.

    "Bukan hanya kau yang beruntung. Aku pun beruntung memiliki teman seperti Zarra. Banyak sekali pelajaran yang kudapat darinya. Dia sungguh luar biasa, mandiri, dan pekerja keras. Aku sangat merindukannya,” sambung Ariba dengan mata berkaca-kaca.

         Zarra meninggal karena pneumonia yang dideritanya. Mendengar ceritanya saja aku tercengang. Andai aku bisa berteman dengan Zarra saat dia masih hidup, mungkin aku akan seberuntung Ariba dan Zubair yang mendapat banyak pelajaran hidup dari sosok Zarra.

    "Aku melihat sajak terakhir di buku Zarra. Dan itu sungguh memicu deras air mataku untuk mengalir,” ucap Zubair.

    "Apa itu?” tanyaku penasaran.

    Zubair menyodorkan buku milik Zarra yang berisi kumpulan sajak yang dia tulis semasa hidupnya.

    Aku tak pernah meminta keabadian dalam hidup ini

    Sesungguhnya kematianku sudah termaktub di dalam rahasiaMu

    Jika Kau ingin memanggilku detik ini, maka panggil saja.

    Namun, jangan buat jasadku ini ditertawakan oleh semut-semut dan penghuni tanah yang gelap itu.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.




    Oleh: Intan Heryani

    35 menit lalu

    Mentari dari Desa

    Dibaca : 31 kali