Pembelajaran Sosial Emosional - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Pembelajaran Merdeka Belajar

Maria Elisa Dahlia

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 24 November 2021

Rabu, 24 November 2021 21:14 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Pembelajaran Sosial Emosional

    Artikel ini dibuat sebagai hasil refleksi penulis dalam pembelajaran modul 2.2 Calon Guru Penggerak Angkatan 3

    Dibaca : 679 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Masih tentang CGP dari desa

    Selalu ada kejutan di setiap modulnya.

    Di bulan yang keempat ini saya sangat tertarik dengan modul yang dipelajari. Pada modul 2.2 ini saya bersama teman – teman belajar tentang pembelajaran sosial dan emosional. Ada banyak hal baru, menarik, dan istimewa yang saya pelajari yaitu tentang pengertian pembelajaran sosial emosional, keterampilan sosial emosional, tujuan, ruang lingkup dan tekhnik yang bisa dilakukan.

    Pembelajaran Sosial Emosional itu sendiri merupakan sebuah proses pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah yang memungkinkan anak atau orang dewasa memperoleh dan menerapkan pengetahuan, sikap dan keterampilan mengenai aspek sosial dan emosional. Ruang lingkup pembelajaran sosial emosional yaitu, rutin (ditentukan di luar waktu belajar akademik), terintegrasi dalam mata pelajaran (melakukan refleksi setelah menyelesaikan sebuah topik pembelajaran, membuat diskusi kasus atau kerja kelompok untuk memecahkan masalah), protokol (Menjadi budaya atau aturan sekolah yang sudah menjadi kesepakatan bersama dan diterapkan secara mandiri oleh murid atau sebagai kebijakan sekolah untuk merespon situasi atau kejadian tertentu).

    Sedangkan keterampilan sosial emosional yaitu Kesadaran diri – pengenalan emosi, Pengelolaan diri – pengelolaan diri dan fokus, Kesadaran sosial – empati, Keterampilan sosial –resiliensi dan Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

    Hal yang paling menarik bagi saya adalah ketika pembelajaran sosial emosional diintegrasikan dalam pembelajaran dan saya sudah menerapkannya dengan melakukan tekhnik bermain peran, membuat diskusi sederhana di kelas, memberikan penghargaan atas kerja kelompok lain dengan tepuk salut dan terima kasih. Selain itu bersama Wahana Visi Indonesia,  saya melaukan kegiatan rutin bersama anak di sore hari, yaitu penempelan poster CTPS, pendampingan kelompok anak dan taman baca masyarakat, dan kegiatan pengembangan diri lainnya, dan diakhir kegiatan mereka biasanya membuat jurnal perasaan.

    Semuanya terasa menarik, membuat anak bersemangat dan termotivasi, menumbuhkan sikap empati dalam diri mereka dan membuat mereka terus mengembangkan dirinya. Saya sendiri juga ikut menikmatinya dan ikut bahagia menjadi bagian dari setiap proses yang mereka lewati. Saya akhirnya paham betapa pentingnya mengintegrasikan kompetensi ini dalam pembelajaran melalui teknik kegiatan yang bisa membuat anak terus bersemangat dan melalui kegiatan rutin di luar jam pelajaran.

    Oh iya, kedepannya saya akan coba menerapkan tekhnik STOP dan latihan kesadaran penuh. Saya yakin semua siswa akan menyukainya dan semakin bersemangat dan siap mengikuti pembelajaran. 

     

    Ikuti tulisan menarik Maria Elisa Dahlia lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.