Menjadi Guru Merdeka Belajar (Bagian 3 dari 3 Tulisan ) - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Sebuah sekolah di Bekasi. Tempo/Hilman Fathurrahman

Anita Lie

Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unika Widya Mandala Surabaya
Bergabung Sejak: 9 November 2021

Kamis, 25 November 2021 08:35 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Menjadi Guru Merdeka Belajar (Bagian 3 dari 3 Tulisan )

    Apapun situasinya, guru pertama-tama tidak berpikir untuk dirinya sendiri melainkan untuk anak didiknya.  Dia dipanggil untuk melakukan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Yang membedakan guru sejati dengan tidak, adalah bagaimana mereka memaknai profesi keguruannya. Ada yang menjalaninya sebagai panggilan hidup, sedangkan lainnya melakukan pekerjaan untuk mencari nafkah. Di antara kedua model ini tentunya ada gradasi dan dinamika pertumbuhan atau kemerosotan.

    Dibaca : 2.130 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Anita Lie, Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Unika Widya Mandala Surabaya

    Rabindranath Tagore (1861-1941) mengatakan, “Seorang guru tidak pernah bisa mengajar jika dia sendiri tidak belajar. Lentera tidak bisa menerangi dan menyalakan lentera lain jika dia sendiri tidak bernyala.” Menjadi guru merdeka belajar adalah perjalanan pembebasan dan penemuan diri.

    Dalam perjalanan kehidupan, setiap manusia dipanggil bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhannya sendiri melainkan untuk melakukan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.  Sebagian manusia dipanggil untuk mendampingi manusia-manusia muda dalam perjalanan mereka dan membebaskan manusia-manusia muda ini dari ketidak-tahuan dan ketidak-sadaran.  Manusia-manusia ini kemudian memilih untuk menjalani profesi sebagai guru.

    Dalam perjalanan untuk mencapai tujuan ini, seorang guru mengalami suatu proses penemuan diri sendiri.  Find your passion and follow it.  Dalam refleksi Parker Palmer (1998), selama proses penemuan diri ini, seorang guru secara terus menerus mengaitkan tiga hal, yakni dirinya sendiri dengan anak didik dan bidang pengetahuan/ketrampilan yang diampunya.

    Proses penemuan diri seorang guru dalam perjalanan panggilannya adalah proses penemuan dan pengukuhan identias dan integritas (Palmer, 1993 dan 1998).  Kebanyakan orang pernah mempunyai tokoh guru idola selama masa bersekolahnya. Jika kita menanyakan kepada orang di sekitar kita siapa guru yang paling berpengaruh dalam kehidupan mereka dan kenapa guru tersebut bisa berpengaruh dan mengumpulkan profil guru idola, akan ada keberagaman profil guru idola yang sangat besar dalam hal usia, mata pelajaran yang diampu, tipe kepribadian, gaya mengajar para guru idola, dan bahkan metode dan teknik mengajar. 

    Dengan kata lain, tidak ada satu tipe guru tertentu yang menjadi idola. Namun ada kesamaan pada guru-guru yang sudah memberikan pengaruh kepada para peserta didik yang mengenang mereka jauh setelah peserta didik ini sudah lulus. Guru-guru berpengaruh hadir dalam proses pembelajaran bukan hanya secara fisik namun secara emosional, mental dan spiritual. Kehadiran utuh ini membuat para guru terkoneksi dengan para siswa selama proses.

    Salah satu topik atau sesi dalam banyak program pengembangan profesionalisme guru adalah penguasaan metode dan teknik mengajar.  Berdasarkan teori, penelitian, dan best practices yang sudah terdokumentasi memang beberapa metode dan teknik mengajar tertentu bisa menjadi kunci keberhasilan suatu proses pembelajaran. Namun, beberapa studi lain juga menunjukkan bahwa masing-masing guru seharusnya menggali dirinya sendiri, menemukan identitasnya sendiri, dan mengembangkan gaya serta metode dan teknik mengajar. Tentu pengembangan itu sesuai dengan dirinya sendiri untuk menyinarkan aura terbaiknya, yang bisa menerangi para peserta didiknya dan membekali dirinya untuk menyampaikan bidang pengetahuan/ketrampilan yang diampunya.  Penemuan dan kesadaran diri ini kemudian akan menjadi modal bagi guru untuk mempertahankan integritasnya dan menjadi dirinya sendiri secara utuh sesuai dengan harkat kemanusiaannya.

    Dua hal berikutnya yang terkait dalam perjalanan seorang guru adalah anak didik dan mata pelajaran yang diampu.  Jika seorang guru diminta untuk melengkapi kalimat Anda mengajar .…,   

    Jawaban langsung (tanpa refleksi) kebanyakan guru sekolah menengah dan perguruan tinggi adalah mengisi titik-titik dengan bidang studi yang diajarkan. Sedangkan guru sekolah dasar akan menjawab Saya mengajar kelas 2.  

    Tidak terpikirkan bagi guru untuk menjawab Saya mengajar 28 anak. 

    Jika ditanya lebih lanjut, Apakah Anda mengajar anak atau mengajar IPS/IPA/bahasa/matematika/kesenian?

    Barulah jawaban selanjutnya adalah Saya mengajar kedua-duanya. 

    Jawaban ini tampak sederhana dan memang benar.  Namun refleksi lebih dalam terhadap praksis pengajaran menunjukkan bahwa mengajar kedua-duanya tidak selalu (bisa) dilakukan.  Dalam tingkat kebijakan dan praksis pendidikan formal, bahkan ada konsensus bahwa semakin tinggi jenjang pendidikannya, kian besar kecenderungan mengajar bidang disiplin daripada peserta didik. 

    Guru taman kanak-kanak dan sekolah dasar dianggap lebih generalis dan lebih memahami psikologi anak dibanding guru-guru sekolah menengah dan perguruan tinggi yang lebih spesialis.  Dalam praksis pendidikan formal, seringkali guru pada jenjang yang lebih tinggi mendapatkan penghargaan (baik materi maupun prestise) yang lebih tinggi daripada guru TK dan SD. 

    Banyak pengelola sekolah memberi gaji yang lebih besar kepada guru SMP dan SMA daripada kepada guru TK dan SD.  Atau kualifikasi yang disyaratkan untuk guru SMP dan SMA dibuat lebih tinggi daripada untuk guru TK dan SD.  Sikap ini dilandasi suatu asumsi bahwa apa yang diajarkan jauh lebih penting daripada siapa yang diajar.

    Pemilihan mata pelajaran yang diampu (bisa dilakukan sebelum atau dalam masa jabatan) seharusnya dilakukan dalam kesadaran dan keterkaitan dengan identitas dan integritas setiap guru.  Dalam menjalankan profesinya, ada proses penyatuan diri dengan bidang yang diampu.  The messenger is the message.   Salah satu indikator proses penyatuan diri dengan bidang ini adalah kecintaan terhadap apa yang diajarkan (termasuk berbagai kaidah dalam disiplin ilmunya) dan keyakinan bahwa apa yang diajarkan akan membawa suatu perubahan dan kebaikan dalam kehidupan peserta didik.  Sebagaimana pengetahuan, ketrampilan, dan nilai yang terkandung dalam bidang yang diampu itu sudah membawa kebaikan bagi kehidupan sang guru sendiri.

    Selanjutnya, untuk mengajar kedua-duanya (mata pelajaran dan peserta didik), seorang guru tidak berhenti hanya pada peran sebagai the messenger who delivers the message.  Identitas dan integritas seorang guru memungkinkannya untuk menyapa setiap pribadi peserta didik, menyentuh hatinya, dan membebaskannya untuk menemukan guru dari dalam dirinya sendiri. 

    Parker Palmer menyebut the teacher within.  Implikasi dari pemahaman ini adalah seorang guru sejati dipanggil untuk membebaskan peserta didiknya bukan hanya dari ketidak-tahuan melainkan juga membebaskan peserta didiknya dari ketergantungan kepada sang guru.    Seorang guru dipanggil untuk membebaskan peserta didik dari ketidak-sadaran bahwa sebenarnya si peserta didik mempunyai gurunya sendiri, yakni yang ada di dalam dirinya sendiri, yang akan terus membimbing dan memimpinnya sepanjang hayat.

    Guru seharusnya menggunakan perangkat pembelajaran sebagai bekal dan jembatan untuk menyapa dan membuka hati setiap peserta didiknya.  Komitmen guru untuk menggapai hati peserta didik merupakan bagian dari rekonstruksi fabrikasi sosial, seperti kata Parker Palmer (1998): “One of the blessings of teaching is the chance it gives us for continuing encounters with the young, but whatever eventually blesses us may at first feel like a curse!  We are more likely to survive the curse and arrive at the blessings if we understand that we may be as afraid of our students as they are of us—and then learn to decode our own fears, as well as theirs, for the sake of creativity in the service of the young.”

    Pengalaman menguraikan ketakutan merupakan bagian dari perjalanan spiritual seorang guru.  Ketakutan adalah patologis dan fundamental dalam kemanusiaan sehingga banyak tradisi spiritual berupaya mengatasi dampak ketakutan dalam kehidupan.  Dengan kata-kata dan konteks yang berbeda, seruan “Jangan takut!” ada dalam berbagai agama.  Ajaran dari berbagai agama mengajak kita untuk mengatasi ketakutan dengan satu harapan: kita bisa terlepas dari kehancuran karena ketakutan dan mendapatkan berkat ketika perjumpaan dengan manusia lain tidak mengancam kita melainkan memperkaya pekerjaan dan kehidupan kita.

    Upaya Mengangkat Derajat Guru

    Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menafikan hak atas kesejahteraan bagi para guru atas nama panggilan hati.  Undang Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen diluncurkan dengan suatu itikad baik, di antaranya mengatur profesionalisme guru dan memberikan jaminan terhadap perlindungan dan kesejahteraan guru. 

    Merujuk kepada refleksi Parker Palmer (1998) bahwa seorang guru secara terus menerus mengaitkan tiga hal, yakni dirinya sendiri dengan anak didik dan bidang pengetahuan/ketrampilan yang diampunya, berbagai kemampuan yang diharapkan dimiliki dan/atau dikembangkan seorang guru seyogyanya menjadi bagian tak terpisahkan dari sosok utuh kompetensi profesional seorang pendidik   Berikut ini peta penemuan dan pengembangan seorang pendidik:

    Bagan Kompetensi

    Ketika seorang guru terpanggil untuk membebaskan peserta didiknya bukan hanya dari ketidaktahuan, melainkan juga membebaskan peserta didiknya dari ketergantungan kepada sang guru. Dia perlu berangkat dari suatu motivasi dan dedikasi yang dilandasi falsafah dan nilai pendidikan untuk mengabdikan dan mengembangkan dirinya.  Dalam perjalanannya, seorang guru memilih bidang studi dengan suatu kecintaan dan keyakinan bahwa apa yang diajarkan akan membawa suatu perubahan dan kebaikan dalam kehidupan peserta didik.   Proses penyatuan diri dengan bidang studi ini mencakup kemampuan penguasaan dan pengembangan materi serta perancangan pembelajaran dan evaluasi hasil belajar. 

    Selanjutnya, perjumpaan guru dengan peserta didik terjadi sebagai interaksi antarmanusia. Sedangkan perjalanan seorang guru untuk membebaskan peserta didiknya secara profesional didukung oleh pemahaman guru terhadap peserta didik, proses belajar serta dampak perbedaan individual dan latar belakang ekonomi sosial budaya terhadap proses belajar.

     Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen memposisikan guru sebagai pekerja yang harus mendapatkan perlindungan hukum atas hak-hak personal dan profesionalnya.  Memang selama ini, guru seringkali diperlakukan secara semena-mena oleh pemerintah maupun sebagian pengelola sekolah swasta.  Sebagai pekerja, guru berhak mendapatkan kebebasan akademis dan berserikat, rasa aman dan jaminan keselamatan, cuti, tunjangan kesehatan, dan gaji yang layak seperti diatur dalam Pasal 14 sampai dengan Pasal 19 Undang-Undang tentang Guru dan Dosen.

    Guru juga berhak mendapatkan prosedur pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian yang layak sebagaimana diatur dalam Pasal 24 sampai dengan Pasal 31  serta Pembinaan dan Pengembangan seperti dijelaskan dalam Pasal 32 sampai dengan Pasal 34 Undang-Undang tentang Guru dan Dosen. Namun pada sisi yang lain, guru bukan buruh.  Menjadi guru (sejati) merupakan panggilan hati.  Bagi seorang guru sejati, tugas utamanya adalah membantu anak didik berkembang menjadi manusia yang lebih utuh (Driyarkara, 1980). 

    Apapun situasinya, guru pertama-tama tidak berpikir untuk dirinya sendiri melainkan untuk anak didiknya.  Dia dipanggil untuk melakukan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.  Bagi seorang guru yang digerakkan oleh panggilan hati, layanan konseling bagi anak didik yang sedang depresi dan mau bunuh diri di hari libur resmi pemerintah akan tetap dilakukan walaupun dia tahu sekolah tidak membayarnya uang lembur.  Betapapun pergumulan untuk memperjuangkan tingkat kesejahteraan yang layak bagi guru sebagai pekerja, yang membedakan guru yang sejati dengan yang tidak adalah bagaimana mereka masing-masing memaknai profesi keguruannya. Yang satu menjalaninya sebagai suatu panggilan hidup sedangkan yang lainnya melakukan pekerjaan untuk mencari nafkah.  Di antara kedua model ini tentunya ada gradasi dan dinamika pertumbuhan atau kemerosotan.

    Bagi seorang guru sejati, pekerjaan menulis silabus dan rencana pembelajaran, menyiapkan media pengajaran, menyampaikan materi kepada siswa, memberi tes, mengoreksi tes siswa, menilai siswa, melakukan tindakan pendisiplinan siswa, memberi konseling kepada siswa, berpartisipasi dalam rapat atau pelatihan guru, dan menulis laporan kepada kepala sekolah merupakan bagian dari suatu perjalanan mencapai suatu tujuan, yaitu membebaskan peserta didik dari kegelapan dan mengarahkan peserta didik untuk menemukan guru sejati yang berada dalam dirinya sendiri. 

    Selamat Hari Guru. Guru Cahaya Bangsa. Guru Membebaskan Siswa.

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.