Merdeka Belajar: Belajar dan Mengajar Jadi Menyenangkan - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Selamat Hari Guru Nasional, dengan Merdeka Belajar guru dan siswa harus mandiri. Guru harus bebas mengemas pendidikan, menetapkan visi-misi pembelajarannya, dan siswa harus memiliki hak untuk belajar sesuai dengan sifat dan karakter zamannya.

D.A. Akhyar

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 24 November 2021

Kamis, 25 November 2021 08:55 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Merdeka Belajar: Belajar dan Mengajar Jadi Menyenangkan

    Menjadi jelas mengapa kita harus belajar meskipun telah mengajar, mengapa kita harus belajar meskipun sudah jadi pengajar, dan betapa pentingnya pendidikan bagi kehidupan manusia. Betapa uletnya orang dalam menuntut ilmu untuk meraih kebahagiaan yang hakiki.

    Dibaca : 293 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Mengapa masih terus belajar? Mengapa orang yang mengajar masih terus belajar? Seberapa pentingkah pendidikan bagi kehidupan? Berangkat dari pertanyaan-pertanyaan inilah yang menghantui saya sebagai seorang guru. Saya merenung dan merenungkan kembali, meresapi makna belajar, dan menggali ingatan saya selama saya menjadi seorang murid, dan kini saya menjadi guru di depan murid-murid; sekalipun itu, saya tetaplah murid dihadapan guru-guruku.

    Dulu ketika saya di sekolah menengah pertama, saya ingin menjadi seorang insinyur. Saya seorang pelajar yang serius ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama di mata pelajaran muatan lokal (khususnya Bahasa Daerah) , jadi nilai ujian saya selalu memuaskan. Mimpi itu hilang ketika saya sudah duduk dibangku sekolah menengah Atas. Mata pelajaran ini sudah tak ada lagi, karena saya harus pindah domisili mengikuti keluarga.

    Guru mengingatkan saya bahwa tujuan mengajar bukanlah ini ataupun itu, tetapi menunaikan kewajiban belajar. Sejak saat itu, niat saya untuk  belajar berubah. Tidak ada lagi mengejar angka, tidak lagi mengejar peringkat kelas. Seperti yang kebanyakan murid mungkin mengejar nilai dan peringkat, saat itu saya tahu esensi belajar, bahwa kita harus belajar untuk bahagia di dunia ini dan di masa depan. Saya hanya ingin mempelajari dua hal sampai saya lulus kuliah. Itu karena dedikasinya dan mengejar kebahagiaan.

    Sewaktu saya semester lima, saya dipekerjakan sebagai seorang guru. Begitu bahagianya, saya mengemban tugas menjadi seorang guru meskipun status saya seorang mahasiswa dan menjadi seorang guru swasta di tahun 2014. Keutuhan tanpa batas ucap saya dalam hati. Saya mencurahkan semangat saya untuk mengajar siswa. Saya pikir ada yang salah dengan sistem pendidikan sekolah untuk beberapa alasan. Saya punya beberapa pemikiran. Guru yang mungkin sering meremehkan siswanya dan menyebutnya dengan sebutan “idiot”, beberapa siswa yang terlalu malas untuk belajar tiba-tiba menghampiri saya meminta saya untuk menemani belajar di jam selepas jam belajar sekolah. Seakan dari tatapan dan raut wajahnya ingin berebut angka tertinggi dan peringkat pertama.

    Guru juga dibingungkan dengan berbagai macam masalah seperti administrasi, dan  ada beberapa orang yang berkata, “Mengajar setiap hari tidak ada gunanya,  jika  tidak ada administrasi untuk mengajar, rasanya seperti tidak mengajar.” Berangkat dari kalimat inilah yang menjadi tujuan untuk mengajar dan tetap melekat. Tidak mengherankan jika banyak guru  datang ke kelas, memberikan pekerjaan rumah kepada siswanya, dan kemudian pergi bekerja.

    Kekhawatiran hampir meledak-ledak. Suatu ketika saya melihat rekan pendidik di kantin sekolah, salah seorang rekan mengajak ngobrol ringan. Diskusi tentang pendidikan pun berlangsung hangat. Hampir setiap minggu, terjadi perdebatan antara dua guru yang  sama-sama mengalami keresahan dalam dunia pendidikan terutama dalam mengajar, keduanya merasa cemas. Dari sini, coba mari kita lihat kembali pesan nenek moyang kita di negeri ini. Pemikiran Ki Hajar Dewantara dianalisis, ajaran Islam tentang pendidikan dibahas, kutipan orang-orang hebat digelorakan untuk menguatkan jiwa-jiwa yang rapuh akan dunia pendidikan.

    Dalam diskusi kecil ini saya menemukan jawabannya dan sampai pada kesimpulan bahwa menjadi jelas mengapa kita harus belajar meskipun telah mengajar, mengapa kita harus belajar meskipun sudah jadi pengajar, dan betapa pentingnya pendidikan bagi kehidupan manusia. Betapa uletnya orang dalam menuntut ilmu, betapa kuatnya ia dalam meraih status, betapa kuatnya ia dalam mengumpulkan materi, semua itu hanya untuk mengejar kebahagiaan. Dunia bahagia, akhirat Surga.

    Oleh karena itu, belajar dan mengajar harus menyenangkan. Tidak mungkin mengejar kebahagiaan melalui tekanan, kemarahan, ketakutan, diskriminasi, dan nilai-nilai negatif lainnya. Ya, orang yang serakah memiliki hati yang menghina orang lain karena statusnya, hati yang membuat orang lain tidak bahagia dengan kebahagiaannya, dan hati yang membuat orang lain menangis dan bersedih apa pun yang diinginkannya. Orang  seperti itu akan dikuasai oleh nafsu duniawi selama sisa hidupnya.

    Oleh karena itu, mereka harus dibebaskan dari ‘penjajahan’ sebagaimana diatur dalam undang-undang. Dalam semua proses pendidikan, guru dan siswa harus mandiri. Guru harus bebas mengemas pendidikan, menetapkan visi-misi pembelajarannya, dan siswa harus memiliki hak untuk belajar sesuai dengan sifat dan karakter zamannya. Siswa harus mampu belajar sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya. Oleh sebab itu, belajar akan menyenangkan dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari dan akan memungkinkan kita untuk bertahan dari peristiwa kehidupan dan mencapai tujuan hidup dan meraih kebahagiaan.

     

    *****

     

    #MerdekBelajar #Indonesiana.id #BergerakDenganHati #DemiKemajuan #HariGuruNasional #HGN2021 #GuruBerdedikasi #GuruPembelajar #GuruMenulis

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.