Perubahan Dinamika Pendidikan - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Dr. Asep Totoh,SE.,MM

Guru SMK Bakti Nusantara 666 Cileunyi Kab.Bandung
Bergabung Sejak: 23 November 2021

Kamis, 25 November 2021 08:56 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Perubahan Dinamika Pendidikan

    Dunia ini terus berubah, dan setiap perubahan selalu melahirkan tantangan yang berbeda. Esensi pendidikan itu sendiri adalah Memanusiakan Manusia, perubahan era atau zaman apapun pasti akan berimplikasi pada dinamika dan fenomena pendidikan itu sendiri.

    Dibaca : 64 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    SAMPAI AKHIR TAHUN 2021 pendidikan kita diuji pandemi. Pandemi COVID-19 senyatanya saat ini adalah bukan menjadi kendala pembelajaran namun bisa menjadikan lebih semangat dalam pembelajaran.

    Pandemi ini juga justru merupakan titik lompatan terlaksananya merdeka belajar yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Merdeka belajar diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti Pembelajaran Daring (Dalam Jaringan/ online), blended learning, tugas mandiri, dan kegiatan peduli sosial.

    Banyak hal yang bisa diambil selama pandemi, seperti adanya adaptasi yang sangat cepat dalam pembelajaran, work from home tidak kalah produktifnya dengan work at the office, energi kreatif dan positif luar biasa, semangat gotong-royong terlihat sangat baik selama pandemi, dan kebaikan-kebaikan selama pandemi harus tetap dijaga.

    Dengan pendidikan jarak jauh (PJJ) dalam pembelajaran daring dapat membuka cakrawala baru, dan para guru menjadi co-pilot penjelajahan pendidikan dan pengembangan learning outcome siswa.

    Pendidikan pun masih dijunjung tinggi sebagai pondasi kokoh bagi setiap manusia. Perubahan wujud pengaplikasian proses pendidikan dari tatap muka ke daring (dalam jaringan) tidak menghancurkan semangat para pendidik untuk tetap memberikan yang terbaik bagi para peserta didiknya.

    Pendidikan menemukan era paradigma baru yang membangun potensi masyarakat yang terdidik, pola pemikiran masyarakat berintelektual, mau atau tidak harus ada perubahan paradigma dan sistem pendidikan dengan model baru.

    Harus diakui jika pandemi COVID-19 telah berhasil mempercepat terjadinya perubahan pada sikap dan perilaku pengelola pendidikan, termasuk guru dan siswa dalam proses pembelajaran pada semua jenjang dan jenis pendidikan. Saat ini terbangun kultur pola pikir pendidikan digital, sehingga mendorong sekolah, guru, serta peserta didik lebih kreatif.

    Pendidikan di masa pandemi harus memiliki keunggulan strategis, dan siap semua perubahan dengan pelbagai metode dan cara. Artinya ketika berhadapan dengan wabah seperti virus covid-19 ini, institusi pendidikan harus mampu berjuang dengan penuh kewaspadaan, kreativitas, dan inovasi.
    Selama ini sekolah telah terkonsep sebagai proses pembelajaran tatap muka secara langsung, Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) menjadi salah satu solusi potensi learning Loss dan mengobati kerinduan untuk kembali ke arena belajar mengajar di kelas dengan kewaspadaan akan bahaya penularan virus covid-19. 

    Pembelajaran tatap muka muka masih menjadi bagian penting pendidikan era pandemi, senyatanya konteks pendidikan tak hanya bicara soal membagi ilmu tapi ada hal yang lebih penting yakni pendidikan keterampilan hidup (living skils), dan juga aspek keterampilan sosial.

    Saat ini pendidikan di sekolah harus merubah paradigma lama, penguatan blended learning sebagai kombinasi antara online dan offline bisa menjadi pilihan dengan orientasinya dalam memecahkan masalah (problem solving). Saat ini, revolusi pendidikannya adalah anak harus diajarkan abstract thinking sehingga bisa menganalisa permasalahan dengan baik.

    Sebagai konsep belajar masa depan, belajar secara daring juga perlu tetap dihadirkan meski hanya bersifat komplementer, agar guru dan siswa terlatih menjalankan metode belajar daring sesuai kapasitas dan ketersediaan teknologi yang dimiliki.

    Kondisi saat ini menjadi bagian mitigasi bagi guru dan siswa agar tidak lagi gagap beradaptasi bila pada masa depan, pembelajaran kombinasi (luring dan daring) menjadi kebiasaan baru dalam belajar. Sekolah pun harus menjadi tempat merdeka berpikir dan belajar atau tempat di mana seseorang berproses untuk memaknai kehidupan. 

    Sekolah sebagai entitas pedidikan kedua setelah keluarga harus berperan aktif mempersiapkan mentalitas siswa agar mereka dapat selamat mengarungi gelombang samudera kehidupan yang semakin lama tampaknya akan menjadi semakin rumit dan kompleks.

    Tidak dinampikkan jika penguasaan IPTEK dengan berbagai keterampilan pendukungnya memang sangat diperlukan. Akan tetapi, kesiapan mental, kekuatan karakter sebagai manusia unggul dan tangguh, menjadi lebih penting. Tanpa mentalitas tangguh, siswa pintar dan terampil pun hanya terdiam dan kebingungan memaknai dinamika kehidupan yang penuh tantangan.

    Pandemi menyadarkan pentingnya interaksi, diskusi, dan komunikasi dengan tim untuk mencapai tujuan. Terdapat keterampilan yang diperlukan untuk sukses pekerjaan di era milenial, yaitu critical thinking, collaboration, problem solving, learnability, leadership, verbal and written communication.

    Apakah cara belajar yang dilakukan sudah cukup mewariskan keterampilan itu pada murid-murid kita? 6 skill tersebut harus dimiliki oleh murid saat ini. Harus kita ajarkan, hal itu disebut soft skill. Beberapa metode pembelajaran seperti STEAM dan PROJECT BASED LEARNING, memungkinkan 6 keterampilan tersebut bertumbuh. Ketika perusahaan atau industri berubah, maka sekolah pun juga harus berubah.
    Dunia ini terus berubah, dan setiap perubahan selalu melahirkan tantangan yang berbeda. Esensi pendidikan itu sendiri adalah Memanusiakan Manusia, perubahan era atau zaman apapun pasti akan berimplikasi pada dinamika dan fenomena pendidikan itu sendiri.

    Mengutif seorang psikolog yang berhasil mempublikasikan bukunya pada tahun 1969 berjudul "Freedom to learn" Pada pengantar buku tersebut, ketika lima puluh tahun lalu ia mengatakan “Sekolah kita umumnya sangat tradisional, konservatif, birokratis, dan resisten terhadap perubahan. Satu cara yang harus dilakukan untuk menyelamatkan generasi muda ini adalah melalui kemerdekaan belajar”.

    Ketika menyoal kemerdekaan belajar, sejatinya sejak lahir manusia sudah memiliki empat hal fitrah dalam belajar yakni; memiliki rasa ingin tahu yang tinggi (intellectual curiosity). Memiliki daya imajinasi kreativitas yang tinggi (Creative imagination). Memiliki kemampuan berpikir untuk menemukan suatu pengetahuan (art of discovery and invention). Memiliki akhlak mulia (noble attitude) terhadap proses penemuan ilmu.

    Senyatanya jika Merdeka Belajar harus menjadi komitmen bersama sebagai langkah yang tepat untuk mencapai pendidikan yang ideal yang sesuai dengan kondisi saat ini dengan tujuan untuk mempersiapkan generasi yang tangguh, cerdas, kreatif, dan memiliki karakter sesuai dengan nilai-nilai bangsa Indonesia.

    Antitesis, pola lama pendidikan kita tidak sedikit sekolah yang menghasilkan lulusan “tahu sedikit tentang banyak hal, tapi tidak tahu banyak tentang satu hal”. Niscaya jika saat ini peserta didik harus didorong bisa menemukan sendiri pengetahuan, menganalisa dan mengolah menjadi value untuk dirinya. Pembelajaran pun harus berdasarkan personalized learning mengacu kodrat anak didik kita yakni keingintahuan, berimajinasi, berkolobrasi dan kemerdekaan. Alhasil, pendidikan saat pandemi, anak tidak saja terbangun secara intelektual namun juga spiritual dan memiliki kesehatan mental.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.