Bulan di Hatiku - Fiksi - www.indonesiana.id
x

orang sedang menulis

ahmad safa

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 November 2021

Kamis, 25 November 2021 08:58 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Bulan di Hatiku


    Dibaca : 71 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    BULAN DI HATIKU

                              Namaku Hafi Aku anak yang selalu semangat untuk melakukan segala kegiatan, aku suka mengarang lagu dan ku nyanyikan sendiri, guruku di sekolah mengatakan,” bahwa aku mempunyai suara emas” rasa hatiku bertambah percaya diri.

                               Di sekolah ada ekstrakulikuler jurnalis, tentu aku salah satu anggotanya. Anggota dalam jurnalis ternyata banyak perempuannya hanya empat anak saja yang laki-laki, padahal anggotanya ada tiga puluh lima. Menulis sebagai hobiku, setelah mengikuti jurnalis sejak kelas tujuh bakatku mulai terpupuk sedikit demi sedikit, siapa tahu menjadi bukit itulah doaku. Hari ini, sepulang sekolah aku mengikuti  pelatihan jurnalis untuk persiapan lomba menulis cerpen. Walaupun tidak ada lomba aku tetap melatih diriku untuk menulis.

                              Ding dong ding…..Bunyi bel pulang sekolah berdering semua anak keluar dari kelas untuk pulang ke rumah masing-masing, hanya beberapa anak yang ikut kegiatan  di laboratorium komputer untuk latihan  persiapan lomba menulis di berbagai media. Pak Maghfur guru jurnalis yang membimbingku,  dia terkenal dengan pembimbing yang sangat perhatian,sabar, dan tulus ihlas.  Aku merasa nyaman dengan ke hadiran pak Maghfur seperti mendapat angin segar yang mengarahkan menulis untuk mengikuti berbagai lomba. Tahun ini saja ada lima lomba yang telah aku ikuti, pak Maghfur yang melatihku untuk bisa menulis mulai dari menulis puisi, menulis artikel, essay, cerpen, dan menulis berita. Satu persatu lomba ku ikuti di bulan Oktober dan bulan November.  Lomba puisi yang berjudul “ Kesetiaan Negeriku,” mendapat juara pada urutan ke satu hatiku terasa bahagia sekali apa lagi ibuku yang selalu tersenyum untukku dan setia mendampinginya dengan keikhlasan hati. Aku berdialog dengan Riza mengenai lomba yang aku ikuti,

                            “Aku bertanya pada Riza tentang persiapan lomba mengarang cerpen yang akan diikuti lusa mendatang,

                           “ Riza kamu sudah siap untuk latihan menulis cerpen untuk persiapan buat lusa kah?” tanya ku pada Riza.

                           “ Jangan khawatir Hafi semua sudah ku persiapkan dengan baik, semua cerpenku banyak yang sudah jadi, makanya aku santai saja sambil mengingat- ngingat cerita cerpen yang aku buat. “ Aku bisa sampai  mahir dalam menulis cerpen, novel, dan artikel dll,

                            Kata orang aku pandai menulis di berbagai media, aku selalu patuh kepada kedua orang tua yang telah merawatku sejak kecil, agar ibuku selalu mendoakanku dan cita-citaku dapat tercapai. Temanku mengingatkanku untuk latihan jurnalis

                             “ Kalau begitu, ayo kita semua latihan untuk persiapan lomba menulis cerpen, agar dalam lomba kita semua dapat berhasil dengan baik. Angan-angan menjadi juara memang ada, kini aku telah banting tulang sekuat tenaga untuk mengikuti lomba agar aku mendapat juara, itulah hobyku sejak aku duduk di kelas lima SD setiap hari dibimbing oleh ibuku yang selalu sabar menemaniku dalam setiap langkahku. Ibu selalu mencari bakat semua anak-anaknya akulah yang selalu menurut apa yang dikatakan ibu, karena aku selalu patuh pada ibuku.

                             Ibuku sebagai guru bahasa Indonesia yang dapat membimbingku menulis, membaca, dan berhitung, sebenarnya aku tetap suka dengan peajaran IPA, karena nilai IPA ku selalu bagus. Cita-citaku ingin menjadi dokter. Ibuku hanya tersenyum bila mendengar kata-kataku yang ingin menjadi seorang dokter, tetapi ibuku tak peduli aku ingin jadi dokter atau jadi apa saja yang penting setiap hari aku latihan menulis bersama ibuku, ia selalu membimbingku menjadi seorang penulis, aku mengikuti ibuku ternyata menulis itu menjadi makananku setiap hari, hingga kini menjadi hobyku tetapi cita-citaku tetap ingin menjadi seorang dokter.

                         Setiap kali ada lomba menulis aku selalu merindukan bulan untuk hadir, semoga bulan selalu hadir dalam hidupku, setiap malam aku merindukan bulan, setiap detik aku selalu merindukan bulan. Malam ini aku tidak mengharapkan bintang tapi aku tetap merindukan bulan untuk hadir setiap langkahku.

                       Guru jurnalisku adalah pak Magfur selalu memberiku informasi mengenai lomba yang ku ikuti lusa. Aku selalu diberi motivasi agar  aku tetap mengikuti lomba menulis, latihanku selalu ekstra keras agar aku selalu jadi nomor satu itulah doa ibuku.

                        Pak Maghfur selalu memberi arahan setiap kali di sekolah ada acara seperti pemilihan OSIS dan PKKM, aku selalu disuruh ngeliput di berbagai acara. Malamnya aku membuat berita sesuai dengan liputanku diberbagai acara, ku sunting dan ku edit sendiri setelah itu langsung aku kirim ke guru jurnalisku yaitu pak Maghfur. Semula aku tak berani menulis, kata pak Maghfur,

                          “ Hafi coba tulis berita tentang acara di sekolah.” Hatiku merasa sedih karena menulis itu sulit, akhirnya aku menulis dengan cara apa yang ada dalam kata hatiku, aku tulis semua aku tak memikirkan benar atau salah yang penting aku menulis, setelah itu aku baca setiap hari baik atau tidak tulisan yang aku buat.

                           “ iya pak siap,”Aku selalu menurut dengan guru jurnalis ku selalu melakukan apa yang dikatakan guruku yang selalu memperhatikan aku dengan setulus hati.

                           Guru yang terbaik adalah pak Maghfur yang selalu ku katakan guruku nomor satu juga guru kebanggaanku. Aku menulis sebuah buku yang berjudul “ Ukiran Sebuah Nama Yang Hilang.” Aku berhasil menulisnya awalnya aku sulit untuk menulis, karena dorongan dari ibuku dan pak Maghfur aku mencoba untuk membuat judul akhirnya aku menulis apa saja yang sesuai dengan tema. Sebenarnya aku juga kesulitan dalam menulis jalan ceritanya, aku selalu bertanya pada ibuku tentang kesulitan yang ku hadapi.

                          Setiap hari pak Maghfur memperhatikan aku di sekolah maupun di rumah kalau di rumah lewat HP kalau di sekolah tentunya selepas pulang sekolah, aku selalu disuruh bertanya tentang permasalahan dalam kepenulisanku. Bukuku itu judulnya sederhana tapi ceritanya lumayan bagus, karena terispirasi dari kisah nyata dan aku padu dengan daya khayalku.

                           Aku menulis setiap hari untuk melatih imajinasiku terkadang aku tak bisa fokus untuk menulis karena kakakku yang kuliah di Teknik selalu mengagguku kata kakak,

                          “ Hafi kutu buku setiap hari menulis. Fi kenapa kamu Cuma bisa mengarang, mengarang itu pelajaran paling enak.” Setelah aku suruh menulis kakakku tidak mau, mungkin kakakku tidak bisa untuk menulis, bisa juga dia hanya ingin menjatuhkan mentalku. Tapi aku tak pernah akan jatuh, karena dorongan ibu atau semangat ibu terlalu kuat untukku, ibu selalu memotivasiku agar aku selalu yang terdepan. Aku juga mnjawab,

                            “ Kakakku ganteng, biar ku jalani hobiku  menulis, aku rela untuk berkarya lewat lagu dan tulisan. Aku berkarya lewat lagu dari panggung ke panggung untuk menyayikan lagu yang diinginkan penonton, jadi aku harus hafal semua lagu-lagu dangdut dan pop, aku pun menerima uang sedikit demi sedikit untuk membiayai sekolahku agar orang tuaku tak mengeluarkan uang untukku, karena kedua kakakku kuliah di teknik dengan biaya sendiri, aku sebagai anak yang paling kecil rasanya tak tega aku harus minta uang untuk daftar ulang atau uang untuk jajan.

                           Hobi menulisku baru muncul aku duduk dibangku MTs kelas tujuh semula aku hanya bermain HP yang tidak ada gunanya, lambat laun aku kasihan sama ibuku yang selalu mengingatkanku untuk belajar yang rajin, terkadang aku langsung pergi mengambil buku, terkadang aku juga tidak mau. Entah kenapa aku terkadang tidak mau? Padahal itu tidak baik, seharusnya aku dapat melegakan hati ibuku tercinta, aku berusaha menjadi apa yang ibu harapkan.

                          Demi masa depanku akhirnya ku geluti ilmu yang ku dapat dari guruku jurnalis yaitu pak Maghfur. Aku ikuti alur hidup ini yang penting aku merasakan kebahagiaan dari berbagai lomba dan menulis buku. Menulis cerita memang asyik dapat  menghilangkan kepenatan dalam hatiku. Apapun ide yang muncul selalu aku tulis lewat laptopku yang sederhana ini, keadaannya lumayan menghawatirkan aku berharap dapat kontrak menulis disalah satu penerbitan yang aku tanyakan kemarin, agar aku dapat membeli laptop yang baru untuk menulis. Dalam menulis selalu memakai laptop semoga aku dapat memenangkan lomba ku di bulan Desember ini, semoga kemenangan memihakku, agar aku bisa menulis dengan memakai laptop baru.

                         Aku dilahirkan dari keluarga yang sederhana yang berjuang untuk hidup bersama ibuku tercinta, karena telah lama ayah meninggalkan aku, ibu, sejak aku dibangku SD kelas dua. Ibulah yang memacu aku untuk belajar yang rajin hanya ibu yang ku punya, kalau aku ingat semua cobaan hidupku aku menulis sambil meneteskan air mata dan ku hapus sendiri, agar ibuku tak mengetahui bila aku menengis merindukan kebahagiaan dalam tulisanku

                          Aku selalu mempunyai mimpi-mimpi yang indah aku ingin menjadi seorang dokter, hampir setiap hari aku belajar IPA dan matematika untuk persiapan masuk SMA ku nanti, agar aku di terima di jurusan IPA. ibu mengatakan, “Hafi harus belajar yang rajin agar bisa menjadi  seorang dokter dan pandai untuk menulis sebuah buku tentang kedokteran. Setelah mendengar suara ibu aku meneteskan air mataku, padahal aku seorang anak laki-laki seharusnya tak pantas aku menangis. Aku ingin impian ibuku dapat terwujud bukan hanya mimpi, setiap hari aku selalu meminta doa ibu agar semua dapat tercapai.

                             Di bulan Desember ini aku mengikuti lomba menulis seluruh Indonesia, hatiku merasa was-was atau takut kalau tidak memperoleh kemenangan, ternyata doa ibuku selalu terkabulkan. Lomba demi lomba ku ikuti dengan niat tulus ikhlas mengirimkan berbagai karangan dengan berbagai cerita. Aku sudah memenangkan lomba  hatiku merasakan kebahagian yang luar biasa. Aku  lari kegirangan mencari ibuku lalu ku cium tangan ibu yang halus itu, kemudian ku katakana pada ibuku,

                            “ Terima kasih ibu atas doa dan segalanya hingga aku dapat memenangkan lomba yang pesertanya seluruh Indonesia, hal itu tidak mudah, karena persaingnya banyak sekali mungkin bisa ribuan mungkin juga bisa juta sudah tak bisa ku hitung dengan jariku ini.” Aku berkata sambil meneteskan air mata kebahagiaan, ibuku juga meneteskan air mata bahagia. Ibu pernah mengatakan padaku,” bahwa aku anak satu-satunya yang bisa mengikuti hobi ibu, makanya ibu sangat sayang padaku. Aku duduk berdua dibangku panjang dekat sawah yang membentang luas ibu selalu mengajariku dan mengingatkan aku dikala aku lupa belajar.

                             Ibuku selalu mengigatkanku terus akan belajar karena Pendidikan adalah jalan untuk kita menjadi seorang yang sukses dan berguna bagi nusa dan bangsa. Hampir setiap bulan ada   lomba menulis aku selalu ikut karena aku ingin menjadi seorang yang sukses dan bisa membanggakan kedua orang tuaku, juga sudah pernah menang lomba dua kali aku juga pernah ikut lomba menulis dan mendapatkan juara satu dan juara dua aku sangat senang karena berkat doa ibuku. kalau aku mendapatkan judul atau ide baru pasti aku menulis dibuku tulis atau di kertas setelah itu ku kembangan menjadi sebuah cerita yang dapat dibaca oleh semua orang di seluruh Indonesia, itu harapan ibuku ternyata harapan ibu tidak sia-sia sekarang dapat terwujud dan memetik hasilnya.

                          Aku berharap semoga setiap dalam lomba menulis cerpen,puisi, dan artikel aku dapat anugrah bulan dari yang maha kuasa, Langkahku yang masih belia ini semoga bulan selalu menerangiku disetiap langkahku. aku selalu berdoa agar jalanku menuju jalan terang dan dapat berkarya menuju Indonesia emas. Ibu bercerita padaku,

                           “ Ibu sejak kecil ingin menjadi seorang penulis terkenal, tapi malang nasib ibu waktu itu belum ada jalan terang menuju ke penulisan.” Aku dengarkan ternyata ibu sangat sedih sambil duduk di ruang tamu berukuran empat kali tiga meter ini bersamaku. Lalu aku ingin mencoba menghibur ibu dengan cara aku berbicara pelan-pelan lalu aku mendekat pada ibuku,

                            “ Ibuku janganlah bersedih itu kan masa lalu, sudahlah bu tidak usah diingat lagi.” Ibu tersenyum bahagia sambil melihatku berdiri disamping ibu, lalu ibu berkata,

                            “ Iya, anakku harapanku ada dalam dirimu, semoga mimpi ibu mendapatkan bulan dihati ibu dapat menjadi kenyataan.” Ibu meneteskan air mata bahagia sambil memandangku yang duduk disebelahnya dan memegang tanganku.

                             “ Iya ibu, doakan saja setiap hari semoga mimpi kita berdua dapat menjadi nyata.” Aku hanya tersenyum lalu aku meneteskan air mata untuk mengatur setrategi, agar aku dapat belajar yang rajin untuk menempuh cita-citaku menjadi seorang dokter dan penulis dapat terwujud.

                              Ibu bercerita sangat sedih makanya dalam hatiku akulah yang bisa mewujudkan impian ibu untuk memperoleh bulan dihatiku dan dihati ibuku lewat aku menulis setiap hari. Aku berusaha sekuat tenaga, agar ibuku tersayang tidak bersedih apalagi aku tak tega kalau ibuku meneteskan air mata pilu.

                             Disetiap langkahku dan anganku aku selalu berdoa  agar selamat dan mendapatkan rizki yang banyak lewat tulisanku ini yang dibimbing oleh guruku yaitu pak Maghfur yang selalu menuntunku agar aku rajin untuk menulis menjadi lebih baik dan lebih baik dalam menulis. Semoga aku bisa mewujudkan impian ibuku untuk meraih bulan di setiap langkahku ibuku selalu mengharapkan bulan untuk datang disetiap aku menulis diberbagai kepenulisan.

                            Aku selalu mengharapkan bulan selalu bisa memenuhi ruang dihatiku, untuk menuntunku menuju kebahagiaan atau kesuksesan. Kata-kata sukses inilah yang selalu memberi isyarat yang baik. Angan yang baik agar aku dan keluarga dapat mengukir indahnya bulan pada setiap kesempatan. Aku selalu ingin bulan memihakku agar aku damai, bila bulan memihakku dalam ruang hatiku pasti aku akan bahagia dunia akhirat atau dalam dunia keabadian. Ternyata mimpi menjadi kenyataan bahwa bulan selalu ada dihatiku atau aku menjadi orang sukses yang selalu menang dalam setiap acara.

                                          Profil penulis

    Ahlika Ilman Al Hafizhu biasa di pangil Hafi. Lahir di Kediri 19 Mei 2009. Saat ini berumur 12 tahun. Cita - citanya ingin menjadi seorang dokter. Cerpen yang berjudul Bulan Di Hati Ku.

    Ayah Hafi adalah Ahmad Murtadho dan ibunya bernama Maria Ulfah. Ayah berprofesi sebagai PNS POLRI, ibunya berprofesi sebagai guru. Hafi mempunyai dua orang kakak bernama A, Safa Dhiata dan M. Ardli Aqdama. Saat ini masih kuliah di Politeknik Negeri Malang.

               Pendidikan SD dilaksanakan di SDN Mlancu 3 Desa Mlancu  Kecamatan Kandangan kabupaten Kediri, lulus tahun 2021 setamat Pendidikan dasar melanjutkan ke MTs N 7 Kediri, sekarang duduk di kelas 7.  Hobi menulis, mengambar, bermain sepak bola, dan jalan-jalan.

               Semoga kalian menikmati karya penulis, insyaalloh setelah cerpen, masih ada karya lainnya yang ingin ditulis, kritik dan saran yang membangun dapat kalian kirim melalui Whatshap: 0822 57278570

       

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.




    Oleh: Intan Heryani

    13 menit lalu

    Mentari dari Desa

    Dibaca : 15 kali