Seperti Apa Sosok Guru yang Ideal di Era Digital? - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Kamis, 25 November 2021 11:21 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Seperti Apa Sosok Guru yang Ideal di Era Digital?

    Seperti apa sosok guru yang ideal di era digital? Sibuk mengurusi kepangkatan atau mengajar di kelas? Selamat Hari Guru

    Dibaca : 71 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Hari Guru Nasional selalu diperingati tiap tanggal 25 November. Merdeka Belajar sebagai kebijakan pendidikan pun dianggap sudah berubah jadi gerakan. Hastag #BergerakDengan Hati pun jadi spirit baru para guru. Pro-kontra dunia pendidikan pun terus bergulir. Ada yang mengkritisi, ada pula yang memuji. Sementara pandemi Covid-19 bak “badai” yang menyentak dunia pendidikan.  

     

    Survei saya (Juli 2020) menyebut 7 dari 10 siswa mengalami masalah saat pembelajaran jarak jauh (PJJ) di masa pendemi Covid-19. Kegiatan belajar-mengajar dinilai tidak efektif. Akibat guru hanya menjadikan PJJ sebagai pengganti tatap muka di kelas. Tanpa mau menyederhanakan kurikulum. Bahkan kompetensi digital guru pun minim, bila tidak mau dibilang rendah. Maka siapa pun menteri-nya, seperti apapun kurikulum-nya, guru dan dunia pendidikan akan selalu menarik untuk dicermati.

     

    Pertanyaannnya sederhana, bagaimana sosok guru yang idela di era merdeka belajar?

    Bila ideal itu didefinisikan sangat sesuai dengan yang dicita-citakan atau dikehendaki. Maka sosok guru yang ideal adalah guru yang mampu memenuhi harapan siswa dalam belajar, bukan keinginan pemerintah. Guru ideal, tentu tidak hanya sebatas menguasai materi pelajaran dan mampu mengelola kelas dengan optimal. Tapi guru ideal pun dituntut untuk mau belajar menemukan inovasi pembelajaran yang kreatif. Utamanya kemampuan pedagogi digital seiring dinamika era digital.

     

    Sayangnya hari ini, guru yang ideal bisa jadi masih “jauh panggang dari api”. Guru masih belum sesuai harapan. Karena guru masih berpihak kepada birokrasi dan pemenuhan kewajiban atas profesi. Guru belum berpihak kepada siswa. Belum berorientasi pada  pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Bahkan guru yang memiliki nilai-nilai karakter positif, kreatif, dan inovatif sehingga mampu jadi teladan siswa mungkin masih sebatas harapan. Guru yang ideal masih sebatas dambaan, belum jadi kenyataan.

     

    Diskursus tentang guru yang ideal, harusnya lebih dipertajam. Bukan hanya soal kepangkatan atau kesejahteraan guru itu sendiri. Apalagi di masa pandemic Covid-19, lagi-lagi kompetensi guru dan kreativitas pembelajaran digital guru menjadi penting ditingkatkan. Apalagi dari 4,1 juta guru di Indonesia saat ini, masih ada 25% guru yang belum memenuhi syarat kualifikasi akademik dan 52% guru yang belum memiliki sertifikat profesi keguruan.

     

    Maka sosok guru ideal, terletak dua kata kunci. Yaitu 1) kompetensi dan 2) sikap Kompetensi guru bertumpu pada kemampuan pedagodik yang mumpuni, khususnya pembelajaran digital. Lebih dari itu, guru pun dituntut memiliki kompetensi professional, kepribadian, dan sosial dalam menjalankan tugas pengajaran. Kompetensi guru, mau tidak mau, harus ditopang oleh kualifikasi akademik yang sesuai dengan bidang studi yang diajarkannya. Di samping guru yang selalu terlibat dalam program peningkatan kompetensi pembelajaran (PKP). Sementara sikap guru menjadi penting sebagai sosok teladan bagi siswa. Nilai-nilai karakter dan etos kerja yang positif harus melekat pada guru. Guru yang bertanggung jawab dalam kegiatan belajar-mengajar dan pengembangan intelektual siswa. Bukan guru yang sibuk mengurus sertifikasi dan kepangkatan semata. Guru harus bangga terhadap bidang ajarnya. Bukan guru yang di media sosial mengomentasi urusan-urusan tidak penting untuk dikomentari. Bila perlu, guru harus berani bersikap untuk tidak terlibat pada urusan administrasi pendidikan yang berlebihan. Maka kompetensi dan sikap guru harus jadi agenda utama pendidikan di Indonesia.

     

    Sejatinya, guru ideal memposisikan proses belajar sebagai cara agar siswa mampu menemukan potensi dan jati dirinya. Karena belajar bukan proses untuk mencetak siswa sebagai “ahli” bidang tertnetu. Belajar bukan hanya pengetahuan namun memperkaya pengalaman siswa. Maka guru yang ideal tidak lagi dominan di dalam kelas. Bukan hanya memenuhi kewajiban kurikulum semata. Tapi guru yang mampu mengubah siswa yang kompeten sesuai dengan potensi dirinya. Guru yang mampu jadi fasilitator dalam membentuk kepribadian siswa yang kokoh, baik secara intelektual maupun moral.

     

    Sudah bukan zamannya. Belajar hari ini hanya untuk menghasilkan siswa yang cerdas. Tapi gagal menciptakan generasi yang berkarakter, kreatif lagi kritis. Sudah cukup, guru yang ideal mampu membuat kelas belajar jadi lebih bergairah, lebih ber-energi. Dan akhirnya, guru pun mampu “melawan” kurikulum yang mengungkung kreativitas guru dalam mengajar. Lalu mampu memerdekakan siswa untuk lebih realistis dalam hidup sambil mencari solusi atas semua persoalan hidupnya sendiri. Itulah proses pendidikan yang presisi, guru yang literat.

     

    Untuk menjadi sosok yang ideal, guru harus berani berbenah dan berubah. Guru di era merdeka belajar, pendidik di era digital harus punya 5 (lima) orientasi pembelajaran yang bertumpu pada: 1) pembelajaran yang bersifat praktis, bukan teoretik, 2) akomodasi proses belajar sebagai sarana siswa memperoleh pengalaman, bukan pengetahuan, 3) belajar untuk meningkatkan kompetensi dan sikap siswa, 4) penyederhaan kurikulum dan unit pelajaran yang substansial, dan 5) memiliki metode pembelajaran yang menarik dan menyenangkan.

     

    Jadi siapa guru yang ideal? Itulah guru yang mampu menjadikan belajar dan pendidikan untuk melahirkan harapan; bukan pesimisme dan hujatan terhadap realitas tanpa memberi solusi. Guru yang bergelimang kompetensi dan sikap yang positif. Agar ke depan, sosok guru ideal bukan lagi sebatas dambaan. Tapi segera direalisasikan. Selamat Hari Guru!



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Surya Ningsi

    5 hari lalu

    Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik

    Dibaca : 14.080 kali

    Pembelajaran di masa pandemi covid-19 menuntut guru untuk selalu kreatif dan inovatif dalam membelajarkan peserta didik. Selain guru harus menyiapkan rancangan pembelajaran, melakukan kegiatan pembelajaran, evaluasi dan penilaian, guru juga dituntut untuk terampil menggunakan teknologi agar mampu menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk menjawab tantangan tersebut adalah melakukan pembelajaran yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik. Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom mendukung program pemerintah untuk mewujudkan merdeka belajar. Setiap peserta didik diberikan kebebasan untuk mempelajari materi melalui literasi, didukung oleh bahan ajar yang beragam bentuknya disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik dan diekspresikan dalam wujud produk sebagai bentuk kolaborasi, kreativitas dan inovasi peserta didik yang dapat menginspirasi banyak orang. Guru hanya memfasilitasi kebutuhan peserta didik yang beragam dengan melihat keunikan dan potensi dalam diri masing-masing peserta didik. Tidak adanya paksaan, sanksi dan reward dalam pembelajaran ini mendorong peningkatan motivasi belajar peserta didik yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.