Bedak dan Gincu - Fiksi - www.indonesiana.id
x

cover Cerpen Bedak dan Gincu

Eko Hartono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 November 2021

Kamis, 25 November 2021 16:24 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Bedak dan Gincu

    Kisah malang wanita desa yang tertipu oleh gemerlapnya kota hingga terpuruk di lembah hitam menjadi PSK.

    Dibaca : 163 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

                Warti terlihat menawan malam ini. Tubuhnya beraroma wangi mawar. Rambutnya yang panjang lurus dibiarkan tergerai. Gaun tipis membungkus tubuh sintalnya. Parasnya yang bulat tampak berias. Mata gemintangnya dibingkai warna ungu pucat. Maskara melentikkan bulu matanya. Bibir tebalnya berulas warna merah menyala. Ia sangat siap untuk tampil di depan umum. Oya, ini malam minggu. Sudah pasti ia tak akan menyiakan kesempatan mengeruk uang.

    Ia memberiku seulas senyum sebelum berangkat. Aku begitu terpana melihat garis bibirnya yang menukik ke atas menyerupai bulan sabit. Ingin kuberikan balasan senyum setulus hati, namun ia sudah keburu berlalu. Tak menungguku untuk menanggapi salam senyumnya. Dalam sekejap, Warti sudah berjalan keluar dari pagar rumah kontrakan menembus kegelapan malam.

    Dari jauh, kulihat ia berhenti sejenak. Memeriksa isi dalam tasnya, setelah yakin tak ada yang tertinggal ia pun kembali bergegas. Ia berjalan cepat setengah menunduk. Sesekali ia menyibakkan rambutnya dari kibasan angin. Ingin kupeluk dan kubentengi tubuhnya dari tiupan angin. Kubayangkan kepalanya berlindung di dadaku. Oh... betapa indahnya!

                Tapi bayangan indah itu hanya bisa kupelihara dalam angan. Warti yang kulihat sekarang bukan Warti yang pernah kukenal. Jangan harap dia akan menoleh jika dipanggil Warti, karena namanya sekarang adalah Nina. Nama yang ditahbiskan sebagai merk dagang PSK jalanan. Sudah limabelas tahun ia bermetamorfosa menjadi kupu-kupu malam.  

                Mungkin, ia sudah lupa padaku, laki-laki yang pernah mengisi ruang hatinya tigapuluh tahun silam. Cinta kami yang tak berwujud kata-kata hanya melalui isyarat dan bahasa tubuh. Karena saat itu dia masih kelas enam SD dan pemalu. Ungkapan cintaku padanya hanya berupa lirikan dan senyuman. Selembar surat cinta pernah kukirimkan padanya, tapi tak pernah terbalas. Tapi aku yakin dia menerimanya.

                Warti adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Orangtuanya buruh tani yang miskin. Mereka tinggal di gubuk reot. Ayah Warti meninggal dunia oleh tbc. Ibunya menyusul tiga tahun kemudian. Warti dan adik-adiknya lalu ditampung pamannya. Oleh pamannya dia dinikahkan dengan seorang laki-laki setengah baya yang cukup kaya. Padahal saat itu usia Warti masih 16 tahun. Mungkin harapannya kehidupan Warti dan adik-adiknya akan lebih terjamin.

                Tapi kenyataan kemudian perkawinan mereka tak bertahan sampai lima bulan. Warti tak tahan disiksa dan diperlakukan seperti budak oleh suaminya. Setelah bercerai dari suami pertama, Warti kemudian kawin lagi dengan laki-laki lain. Sayang, perkawinan keduanya pun kandas di tengah jalan. Dia lalu menikah lagi, dan hal sama kembali terulang. Begitulah, sudah empat kali dia kawin cerai. Hidupnya seakan sudah ditakdirkan untuk disakiti laki-laki.

                Di sudut warung remang-remang ia duduk sambil menghisap rokok filter. Kepulan asap menari di tengah udara malam yang dingin. Ada kegelisahan membayang di wajahnya. Entah, apakah dia gelisah menunggu pelanggan. Atau gelisah menghitung nasib yang kian hari jauh dari peruntungan. Ia ibarat kupu-kupu yang terjebak di tengah kegelapan malam. Tak tahu, ke mana bersarang.

                “Boleh aku duduk di sini,” kuberanikan diri mendekatinya.

                Sejenak ia menatapku curiga. Mungkin melihatku tak seperti laki-laki yang biasa mengencaninya. Tampangku memang tak mencerminkan sosok laki-laki hidung belang.

                “Kamu…?” ucapnya tak meneruskan kalimatnya. Sepertinya dia sudah mengenaliku.

                “Iya, aku…,” sahutku malu-malu.

                “Kamu yang tinggal di kontrakan sebelah itu?”

                “Iya…”

                “Kamu mengikuti aku?”

                “Ee, tidak…!” Aku jadi gugup.

                “Jangan bohong! Kamu pasti mengikuti aku! Kamu memata-matai aku. Dari kemarin kulihat kamu selalu memperhatikan aku dari jauh!”

                “Tidak! Aku tidak…” Aku tambah gugup.

                “Sudah, jangan bohong! Siapa yang menyuruh kamu? Apakah kamu disuruh Mas Badri? Atau kamu disuruh Pak Ratno?” Dua orang yang disebut itu adalah para mantan suaminya. Aku menggeleng keras.

                “Lalu, mau apa kamu mengikuti aku?” ujarnya galak.

                “Apakah aku tidak boleh datang ke sini? Apakah aku tidak boleh mengencanimu? Apa kamu pikir aku tak sanggup membayar?” Aku lalu mengeluarkan dompet dari saku celana. Kuperlihatkan beberapa lembar uang kertas pecahan seratus ribu rupiah.

                Kulihat ia meneguk ludah. Ekspresinya berubah. Tapi sejurus kemudian ia menata sikapnya, pura-pura tak silau oleh uang yang kutunjukkan. Dia kembali menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya ke wajahku. Karena tak biasa merokok aku jadi terbatuk-batuk saat mencium bau asap yang menyesakkan paru-paru. Ia menatapku heran.

                “Sepertinya kamu tak biasa datang ke tempat seperti ini?” cetusnya kembali curiga.

                “Oh, tidak. Aku sedang salesma…” tukasku pura-pura.

                “Kalau sakit, kenapa datang ke tempat ini?”

                “Apakah tak boleh? Lagian cuma flu ringan. Aku mau cari hiburan. Kamu mau kan temani aku?”

                Sejenak dia terdiam, memandangku ragu. Dengan nada angkuh ia lalu berkata, “Maaf, aku sudah ada kencan dengan pelanggan lain!”

                “Mana? Dari tadi kulihat kamu sendirian saja di sini! Sudahlah, kamu tak perlu pura-pura. Aku akan bayar kamu, berapa saja yang kamu minta,” kataku berlagak kaya. Tapi dia seperti tak tergiur. Dia melengoskan wajahnya.

                “Bagaimana?”

                Dia tetap bergeming. Tiba-tiba dia beranjak dari tempatnya.

                “Kamu mau ke mana?” seruku kaget. Aku menyusulnya. Tapi dia berbalik dan menahanku.

                “Jangan ikuti aku!” tegasnya.

                “Kenapa? Aku akan membayarmu!”

                “Aku tak butuh uangmu!”

                “Tapi…?”

                “Sudah kubilang aku tak butuh uangmu! Cepat, menyingkir dari hadapanku!” Setelah mengucapkan kalimat itu dia bergegas pergi.

                Aku hanya diam termangu, tak berniat mengejarnya.

    ***

                Aneh! Aku tak mengerti, kenapa dia tak mau melayaniku. Padahal aku sudah tunjukkan bahwa aku punya uang. Jangan-jangan, dia sudah mengenaliku. Dia tahu, kalau aku adalah seseorang yang pernah mengisi hatinya. Aku bagian dari masa lalunya. Tapi dari mana dia tahu? Tigapuluh tahun, bukan waktu pendek. Wajah dan fisik sudah banyak berubah!

                Aku mencoba mengulangi keinginanku membookingnya, tapi dia tetap menolak. Dia jual mahal, tak mau menerima uangku. Padahal aku tahu, dia sedang sepi pelanggan. Dia sedang butuh uang. Beberapa hari aku perhatikan dia diliputi kegelisahan. Tak ada laki-laki hidung belang berkenan memakainya. Mungkin karena dia sudah mulai tua, keriput, tak menarik lagi. Banyak pelacur muda berdatangan dan lebih fresh from oven!

                Tapi biar pun sudah berumur, bagiku dia tetap masih cantik. Masih menarik. Di mataku dia masih Warti yang pernah kukenal dulu. Warti yang baik, ceria, dan ramah. Jika dia sekarang terlihat dingin dan angkuh, itu karena kerasnya hidup yang dijalani. Jiwanya ikut dibentuk oleh perilaku manusia kota besar yang mengagungkan materi dan prestise. Hidup berlumur kepalsuan dan kemunafikan.

                Lihatlah, bagaimana ia harus menutupi wajah lugunya dengan bedak dan gincu. Berpura-pura terlihat ceria dan bahagia, padahal sebenarnya hatinya sedang menangis. Ia harus bersandiwara atas nasibnya yang sesungguhnya pedih, pahit, dan sengsara. Ia hidup dalam kepalsuan yang justru memenjarakannya. Omong kosong bila ia bahagia dengan kehidupan yang dijalaninya.

                Mungkin karena sudah tak ada pilihan dan kepepet butuh uang, akhirnya dia mau juga menerimaku. Dia mau kupakai. Dia memberi pilihan; short time atau longtime. Di losmen atau hotel. Pakai alat atau tidak. Tak ubahnya mesin mekanik yang sudah diseting jadi. Pembeli tinggal memakainya tanpa reserve sama sekali. Enak tidak enak mesti ditelan. Semua dilakukan dengan serba cepat dan instant!

                Tapi tidak! Aku tidak cuma butuh tubuh Warti, tak cuma memburu ejakulasi, setelah itu selesai. Aku menginginkan Warti lebih dari sekadar menikmati kesenangan bercinta. Aku ingin sesuatu yang lain dari dirinya. Aku tak hendak membawa Warti ke hotel atau losmen. Aku juga tak mau buru-buru membuka baju, menyalurkan libido. Aku akan membawanya ke sebuah tempat yang tak pernah dibayangkannya.

                Mulanya Warti tak mau, dia curiga aku hendak macam-macam. Tapi aku berhasil meyakinkannya. Dia menurut saja mengikuti aku. Dengan mobil sewaan aku membawa Warti menuju ke sebuah tempat yang jauh dari kesan mesum. Sebuah bangunan gedung tua yang tampak kusam dan kelabu. Di pagarnya terpampang papan nama yang sudah tak jelas tulisannya: PANTI ASUHAN.

                “Mau apa kamu bawa aku ke sini?” tanyanya heran.

                “Nanti kamu akan tahu sendiri…,” jawabku menyimpan teka-teki.

                Kami berjalan memasuki sebuah ruangan menyerupai aula. Kami disongsong oleh beberapa anak kecil, laki-laki dan perempuan. Salah seorang anak perempuan berambut keriting, usia sekira sembilan tahun, menghampiri kami. Dia menatapku dan Warti bergantian.

                “Pak Tono,” ucap anak itu memanggilku.

                Warti menoleh kepadaku. Tampaknya dia baru sadar bahwa namaku Tono. Entah, ia masih ingat atau tidak dengan namaku.

                “Apa kabar, Dini. Kamu tahu siapa wanita yang ada di sampingku ini?” tanyaku kepadanya.

                Gadi kecil itu menggeleng.  

                Warti tercekat. Dia menatapku dan Dini bergantian. “Apa-apaan ini?” serunya gusar.

                “Kamu jangan marah dulu, Warti…”

                “Kamu tahu nama kecilku?” tukasnya tambah gusar.

                “Ya! Sejak pertama aku sudah mengenalmu. Kamu adalah Warti anak Dikromo dan Mbok Parijem, asalmu dari dusun Wonorejo. Kamu pernah menikah sebanyak lima kali dan semuanya kandas di tengah jalan. Kamu lalu pergi ke Jakarta. Kamu bilang pada keluargamu kalau kamu mau jadi TKW di luar negeri, tapi ternyata tak jadi. Kamu ditipu oleh seorang calo, bahkan kamu kemudian dijual ke pulau Batam untuk jadi wanita penghibur. Kamu diperlakukan dengan buruk. Kamu berhasil kabur dan kembali ke Jakarta, tapi kamu tak mau kembali ke kampung halamanmu karena merasa malu. Akhirnya, demi menyambung hidup kamu terpaksa menjadi PSK dan mengganti jati dirimu dengan nama Nina…”

                “Bagaimana kamu bisa tahu semua itu? Siapa kamu sebenarnya?” Bibirnya berucap dengan gemetar seraya menatapku tajam.

                “Aku Tono, teman sepermainanmu waktu masih di kampung. Aku sering menulis surat buat kamu saat SD kelas enam. Masih ingat?”

                Dia terdiam, mencoba mengingat-ingat. Mungkin karena terlalu banyak kenangan buram dan pahit memenuhi benaknya, sehingga dia agak kesulitan menemukan sosokku di deretan album kenangan hidupnya. Aku tak mau berlama-lama membuatnya bingung. Aku kemudian melanjutkan penuturanku.

                “Aku sengaja mengajakmu ke sini agar kamu ingat bahwa kamu masih punya harta berharga. Dini adalah bayi yang pernah kamu tinggalkan di rumah nenekmu di kampung sembilan tahun silam. Nenekmu belum lama ini meninggal dunia. Sebelum meninggal dia berpesan kepadaku agar mencarimu. Kasihan Dini, sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Dia memaksa mengikuti aku, karena ingin sekali bertemu ibunya. Khawatir keselamatannya aku lalu menitipkan di sini…”

                Warti menatap Dini seksama. Air mata berhamburan di pipi. Tanpa banyak kata ia langsung memeluk gadis kecil itu. Rona bahagia memancar di wajahnya. Bedak dan gincu tebal yang menempel di wajahnya luruh, melepaskan segala kepura-puraan dan kemunafikan yang menghiasi hidupnya!

    Wonogiri, 25 November 2021

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.