Salah Pilih Teman Hidup - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Stevy umar

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 November 2021

Jumat, 26 November 2021 21:17 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Salah Pilih Teman Hidup

    Menikah tapi tak pernah merasakan hubungan sebuah pernikahan.

    Dibaca : 239 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     "Menikah itu enak, ya..! ada yang menemani dalam suka dan duka, susah senang dirasakan berdua, pokoknya enaakk...tenang. "iya sih, benar juga, tapi....Aku berbeda aku sama sekali nggak pernah rasakan itu semua." maaf ya bukannya nggak bersyukur tapi memang aku wanita yang menikahi pria yang secara fisik sehat tapi psikisnya yang sakit.

    ini fakta, asli aku alami sendiri, nggak ngarang cerita kok. Selepas Aku menyelesaikan pendidikan di bangku kuliah, Aku dijodohkan sama adik sahabatku sendiri. "mantaap, bukan!." pastilah senang sahabat milihin pasangan hidup pastilah sudah dipertimbangkan bibit, bobot dan bebetnya, apalagi adiknya sendiri pastilah sudah dipikirkan matang-matang sebelum mengambil keputusan ini. dalam hati aku sangat bahagia. "ya Allah, terima kasih akhirnya engkau mengabulkan doaku untuk segera menyempurnakan ibadahku". tapi sayang seribu sayang impian akan bahagia ternyata malah petaka yang kuhadapi.

    Aku mengenal pria yang akan dijodohkan itu, dia tampan, postur tubuhnya ideal, akhlaknya baik, pintar, dan bla...bla... dia usianya 5 tahun lebih muda dariku, Aku mengenalnya karena aku sering berkunjung kerumahnya bahkan disaat libur kuliah, aku ikut bekerja ditempatnya karena dia punya penginapan dari situlah aku mendapatkan uang untuk membiayai kuliahku. itu kondisinya sebelum dia sakit. Aku jarang bertemu dengannya karena dia kuliah diluar daerah. sekedar kenal saja.

    Sahabatku pernah bercerita peristiwa yang dialami adiknya itu, adiknya mengalami stres berat ketika di duduk dibangku kuliah semester akhir, saat-saat mendekati skripsi, disitulah dia kena penyakit itu, akhirnya keluarganya menjemput dan dia dipulangkan, tapi penyebabnya nggak pernah terungkap karena orangnya sendiri susah diajak bicara. Dia jadi pribadi yang tertutup. Jarang bicara dan susah diajak komunikasi. dia lebih banyak diam, bicara sendiri, tertawa sendiri, gampang marah, pokoknya stres beratlah. lebih tepatnya dia mengalami gangguan mental.

    Dengar cerita sahabatku sih, aku merasa terharu juga, apalagi dia mulai membujuk aku untuk mau menerima perjodohan itu dengan alasan " PERSAHABATAN". berat sih, aku bisa kuliah karena campur tangannya dia, (baca, Manusia tanpa Cita-cita). Awalnya aku ragu, keluargakupun awalnya tak ada yang setuju. tapi Aku tetap bersikeras menyakinkan mereka.  Salah satu alasannya karena dia ingin aku menjadi bagian dari keluarganya dan dia juga ngomong " kalau mau balas budi padaku, inilah saatnya". Aku ngeblank...jelas aku nggak enak sama kata-kata sahabatku itu. tapi dia terlalu baik padaku bahkan memperlakukan aku lebih dari saudara kandungnya sendiri. 

    Aku kuliah dibantunya sampai  aku lulus, apa Aku nggak berat dengan semuanya itu?. Wajar sih kalau Aku mengabulkan permintaannya itu, karena Dia, jalan hidupku berubah, diriku yang kuanggap bakal jadi Manusia yang tak punya cita-cita, eehh... bisa berubah menjadi manusia yang sukses memperoleh gelar sarjana. Rasanya serba salah.

    Kenapa harus Aku yang dipilih?.

    Dia mengenal diriku dengan baik. Dia tahu aku orang yang tepat untuk pilihannya itu. saat kutanyakan alasan dia memilih Aku, Dia hanya berkata "mungkin adikku bisa sembuh kalau dia menikah denganmu". Akhirnya dengan segala pertimbangan yang matang dan doa disetiap penghujung shalat tahajjudku. Aku meminta "Yaa...Allah bila orang ini yang engkau pilihkan untukku, maka dekatkanlah dia padaku, Aku tidak meminta apa-apa ya...Allah. Aku hanya niat untuk beribadah kepadaMu. Aku yakin bahwa inilah yang terbaik walaupun mungkin di mata orang, ini adalah keputusan yang paling bodoh. tapi Aku selalu berpikir baik dengan segala sesuatu yang datang dariMu, Bismillah...." 

    Terjadilah pernikahan itu, sederhana dan hanya dihadiri kerabat terdekat, seharusnya Aku senang dan bahagia seperti orang lain yang menikah. tapi Aku juga tidak bisa membohongi diriku sendiri dengan keadaan ini. Aku memang terlalu bodoh tidak pernah berpikir panjang akan kelangsungan pernikahan ini. Kenapa Aku lupa memikirkan gimana nanti setelah menikah, mampu tidak Aku menjalaninya?.

    Pasangan lain habis nikah pastilah bulan madu, tapi Aku tak pernah merasakan indahnya bulan madu, benar-benar pernikahan yang aneh menurutku. Coba bayangkan sendiri, orang menikah untuk bisa dapat teman hidup bahkan teman tidur tapi..., Aku harus tidur sendiri nggak ada bedanya waktu aku masih sendiri. Awalnya sih aku bersikap normal aja seperti wanita lainnya, mungkin baru pertama jadi seperti ini! Mungkin karena dia sakit jadi seperti ini! muncullah pertanyaan-pertanyaan yang Aku coba jawab sendiri untuk menyenangkan hati. Dua hari, tiga hari bahkan sudah sebulan, situasi ini tetap sama.

    Tak pernah ada hubungan lazimnya suami-istri, Apa yang salah? mungkin karena sakitnya itu membuat dia seperti itu, nggak perlu Aku jelaskan lagi tentang kejadian-kejadian lainnya, nggak perlu kuceritakan detailnya karena ini menyangkut privasiku dan Aku menghargai serta  menghormati sahabatku dan keluarganya. Banyak hal yang terjadi yang sebenarnya dari awal sudah pasti akan terjadi. Keluarganya sepertinya biasa saja dengan kondisi ini, mereka juga tertutup. Tiap hari bertemu tapi seperti orang asing. 

    Pernikahan ini hanya mengubah statusku saja. Dia nyata tapi seperti menikah dengan patung. Tak ada pelukan, tak ada interaksi sepertinya semua mati rasa. Dan akhirnya aku jenuh, capek dan menyerah. Tiga bulan setelah pernikahan Aku mendaftarkan diri menjadi CPNS dan Aku lolos. Aku jahat ya? Kalau aku bilang ini kesempatan Aku untuk meninggalkan semua masalah yang kuhadapi ini. Akupun harus pindah ketempat tugasku didaerah lain. Dan Akupun tak tinggal lagi dengannya. 

    10 Tahun telah berlalu, aku jalani hidup sendiri, untungnya Aku  menjadi PNS itupun berkat bantuan dari keluarga sahabatku itu. Aku menetap ditempatku ditugaskan didaerah yang berjauhan dengan suamiku tinggal. Lucu rasanya kalau Aku menyebutnya suami karena aku tidak pernah mendapatkan perlakuan sebagai seorang istri, hehehe.....

     Sampai saat ini aku masih sendiri karena aku belum mensyahkan perpisahanku dengannya, bukannya Aku susah move on darinya tapi hatiku belum tergerak untuk melakukan hal itu. sampai saat ini dengar-dengar kondisinya masih sama, bahkan berbagai pengobatan dan terapi dijalani tidak membawa kesembuhan untuknya. Akupun telah mendiskusikan masalah ini dengan keluarganya dan mereka memberiku kebebasan untuk menentukan jalan hidupku sendiri, sudah 10 tahun berlalu kondisinya masih tetap sama. tapi kami tidak lagi bersama.

    Aku pasti dicap wanita tak punya perasaan. tapi...Aku juga tidak bisa mempertahankan hubungan ini yang kuanggap tidak lazim untuk sebuah hubungan. Untuk tetap bertahan tidaklah mungkin. Siapa wanita yang bisa bersabar dengan situasi seperti ini. Mereka pasti sudah memutuskan untuk pisah karena tak ada yang bisa diharap baik nafkah lahir maupun batin. Jika kalian diposisiku, apakah Aku harus bertahan atau lepaskan?.

    Aku terlalu dimanja dengan kesendirian. bisa menafkahi diriku sendiri membuat Aku seakan tidak butuh orang lain. Beberapa kali teman memperkenalkan Aku dengan pria lain tapi tak tahu mengapa hatiku masih susah untuk menerima orang lain. bukannya susah melupakan mantan tapi aku juga bingung dengan diriku sendiri. Atau ada ketakutan Aku akan gagal lagi?. kunikmati sendiriku ini dengan menyibukkan diri dengan aktivitas disekolah. Kadang muncul rasa sepi dan iri ketika melihat rekan-rekan sejawatku berkumpul dengan keluarga mereka. tapi apa dayaku aku tak kuasa melawan takdir yang sudah terjadi padaku. kalaupun aku ingin merubahnya pastilah Allah memberikan isyarat kepadaku untuk itu. kita tunggu saja, mungkin sebulan, setahun, atau... bahkan tidak sama sekali. 

    Cerita ini kubagikan tak ada maksud untuk menyalahkan siapapun atau membuka aibku sendiri tapi cerita ini kubagikan untuk berbagai pengalaman hidup dengan kalian, yang mungkin lebih beruntung dariku. tapi penyesalan tidak pernah sekalipun terbersit dari hatiku. "ini adalah pilihan hidupku walaupun pada akhirnya Aku salah memilih teman hidup."

    Ikuti tulisan menarik Stevy umar lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.