Kisah yang Belum Usai

Jumat, 26 November 2021 21:21 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ini adalah sebuah Novel Romance karya salah satu anak bangsa yang sedang mencoba menuangkan cerita ke dalam sebuah tulisan. Novel ini dibuat berdasarkan kisah pengalaman dari penulis. Semoga pembaca dapat memahami setiap kata yang dituangkan oleh penulis. Selamat membaca. Terima kasih.

“Maaf Ki, aku benar-benar minta maaf sama kamu. Aku bukan mau menghilang dari kamu, sejujurnya perasaanku saat ini masih sama seperti dulu saat kita pertama bertemu. Aku ingin menahan rindu ini dalam diam, mungkin diamku ini akan bersuara ketika aku sudah sampai di Yogyakarta. Sekarang jalani saja dulu hari-hari kamu tanpa aku.” Kalimat yang tampak menyedihkan untuk dibaca saat itu tapi tidak untuk hari ini.

Kita dipertemukan bukan dengan sengaja, kita dipersatukan bukan karena keterpaksaan, tapi kita dipisahkan dengan kalimat tanya yang tidak pernah ada jawabnya. 21 Desember 2019, awal pertemuan yang memberikan sejuta kata, sejuta kisah yang penuh resah. Pertemuan itu, tatapan itu, senyuman itu yang selalu membekas di kepala.

Namanya Awan Setiawan, Ketua Lembaga Legislatif Periode 2019 – 2020 di salah satu kampus Yogyakarta. Dia laki-laki asal Sulawesi dengan badan yang tidak terlalu tinggi, kulit sawo matang, alis tebal, dan rambut yang tidak pernah tertata rapi. Namaku Saskia Reyhana, Ketua Himpunan Jurusan Periode 2019 – 2020 di kampus yang sama dengan Awan Setiawan. Asal dari Klaten. Awal pertemuan kita terbilang unik dan memberikan kesan lucu. Kita dipertemukan karena tugas yang sama-sama kita emban sebagai seorang ketua organisasi. Sampai kamu memberikan pernyataan menjaga aku menjadi salah satu tugas kamu saat itu. Malam itu tanggal 18 Januari 2019, Saskia Reyhana dan Awan Setiawan resmi menjadi sepasang kekasih dan Kopinggir Jalan adalah tempat yang menjadi saksi hubungan kita dimulai.

“Ki, aku mau ngomong sama kamu”

“Iya”

“Aku suka sama kamu. Kamu mau gak jadi pacarku?”

“Jangan bercanda Awan”

“Aku gak pernah bercanda sama kamu, aku serius. Atau perlu aku sekarang berdiri dan ngomong di depan semua orang yang ada disini?”

“Jangan, jangan Awan.”

“Yaudah terus gimana. Kamu mau gak jadi pacar aku?”

Aku terdiam agak lama dan terus memandangi Awan yang menunggu suara keluar dari mulut ini.

“Yaudah iya.”

“Iya apa?”

“Iya itu tadi. Mau.”

“Ki, kiiiii. Kamu itu bilang mau jadi pacar aku aja malu-malu begitu”

Layaknya anak muda yang sedang merajut cinta, hari demi hari kita lalui dengan penuh cerita. Hampir setiap hari kita bertemu, lebih tepatnya kamu yang memintaku untuk menemuimu. Kamu bilang aku candu, sehari saja tidak bertemu itu sudah membuat rindu. Bertemu untuk sekedar ngobrol, bertemu untuk makan bareng, nemenin kamu di kampus pusat, nemenin kamu berkegiatan sebagai ketua lembaga legislatif, nemenin kamu cari buku bacaan sampai nungguin kamu selesai rapat, itu yang aku lakukan awal menyandang status sebagai pacarmu. Hingga hari itu datang dan mengharuskan kita untuk melakukan hubungan jarak jauh atau LDR.

Covid-19 yang membuat seluruh Perguruan Tinggi mengambil kebijakan untuk melakukan proses pembelajaran secara daring. Dan akhirnya kamu memutuskan untuk pulang kampung ke Sulawesi karena tidak ada hal yang bisa kamu kerjakan disini. Seluruh organisasi di kampus dinonaktifkan sementara hingga keadaan dirasa kembali normal, yang kita lakukan setiap harinya hanya kuliah dengan menatap layar laptop atau Hp saja. Waktu itu sebenenarnya aku gak setuju kamu pulang ke Sulawesi, bukan aku gak mengizinkan hanya dulu kita masih awal menjalin kasih dan aku belum bisa jauh darimu saat itu juga. Tapi kamu bilang kalo kamu jarang pulang ke Sulawesi, terakhir kamu pulang 2 tahun yang lalu dan itu pun cuma satu minggu. Niatku untuk menahanmu langsung aku urungkan, karena aku tau pasti kamu rindu rumah dan orangtuamu disana juga merindukan anaknya.

Singkat cerita setelah kamu memutuskan untuk pulang ke Sulawesi, aku juga pergi ke tempat orangtuaku di Depok. Waktu itu orangtuaku tinggal di Depok karena mereka mencari rezeki disana dan aku di Klaten tentu sendiri dan kamu tau itu semua. Ini awal perpisahan kita, aku ingat betul sebelum kita berpisah kamu bahkan menyempatkan waktu untuk mengantarku ke Stasiun. Aku ke Depok naik kereta lebih dulu meninggalkan kamu di Yogyakarta, dan seminggu setelah itu kamu terbang ke Sulawesi.

Satu bulan, dua bulan, tiga bulan LDR kita masih baik-baik saja, sampai saat di mana kamu menghilang seharian tanpa mengabari aku. Chatku selalu berakhir dengan pending, telfonku selalu berakhir dengan suara operator yang mengatakan nomor tidak bisa dihubungi, DM Instagram dan Inbox Facebook gak ada satu pun yang kamu balas. Di pagi harinya ada chat masuk di Hpku dari nomor yang gak dikenal, dan itu ternyata kamu. Kamu bilang kamu pinjam Hp adikmu untuk ngabarin aku, kamu bilang Hp km jatuh kemarin dan sekarang masih di servis dan belum selesai. Mulai dari itu kita jadi semakin jauh, jarang komunikasi, jarang ngobrol, bahkan untuk sekedar memastikan kamu sedang apa pun aku gak bisa. Tidak selesai di Hp yang rusak dan perlu di servis tapi kamu seolah terus mencari alasan untuk menjauh dari aku. Mulai dari kamu bilang ikut bantu acara di rumah, kamu ada kegiatan dengan teman-teman lamamu disana, kamu bantu adikmu untuk cari tempat kuliah disana, sampai kamu bilang bahwa Hp kamu udah selesai servis tapi kamu tidak ada pulsa buat ngabarin aku.

Memasuki bulan Agustus aku memutuskan untuk kembali ke Klaten, karena bulan September aku berencana untuk mengambil SKS Magang jadi aku harus menyelesaikan administrasi beserta dengan kelengkapan data yang diperlukan. Kamu bilang di bulan itu belum bisa kembali ke Yogyakarta, entah apa yang menjadi alasan kamu kala itu, tapi satu yang pasti aku sedikit kecewa karena jarak yang memisahkan kita. Sampai pada percakapan terakhir kita lewat telepon dan itu hanya berlangsung sebentar saja. Waktu itu aku ada kegiatan himpunan di kampus, sebelum acara dimulai aku menyempatkan menelponmu karena saat itu kita sudah satu bulan tidak berkomunikasi. Panggilan pertama tidak kamu angkat tapi kali ini panggilanku masuk ke nomormu, aku terkejut panggilan kedua kamu mengangkatnya

“Hallo”

“Sayang, kamu kemana aja kok ngilang?” pertanyaanku dengan mencerca

“Iya sayang, aku ada kog. Hp aku rusak lagi jadi masih di tukang servis. Aku lagi kumpul ini sama teman-teman. Kamu lagi apa ini?”

“Aku lagi ada acara di kampus sama anak himpunan. Sayang bentar ya aku dipanggil ini mau mulai acaranya dulu, tapi sayang jangan kemana-mana habis ini aku telepon lagi yaa.”

“Yaudah iya”

Selesai dari acara itu aku langsung ambil Hp dengan maksud untuk menghubungi Awan lagi. Tapi aku dibuat terkejut kembali dengan suara operator yang keluar nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Belum ada 30 menit dari aku menutup telepon dan kamu mengatakan iya akan menunggu aku untuk telepon lagi, tapi semua perkataanmu seperti penenang sesaat kemudian menjadi bom yang meledak.

Setelah percakapan terakhir kita banyak keraguan yang mengganggu pikiranku. Aku terus mengkhawatirkan Awan walaupun sebenarnya dia disana dalam keadaan sehat. Rasanya aku ingin mendatanginya ke Sulawesi dan membawa kembali ke Yogyakarta dengan segera. Tapi itu semua hanya sebatas keinginan yang tidak pernah terlaksanakan.

Aku selalu menenangkan diri, meyakinkan diri dengan berkata bahwa Awan menjadi seperti ini hanya karena kita sedang menjalani hubungan LDR saja dan aku memiliki keyakinan jika Awan kembali ke Yogyakarta kita juga akan kembali seperti sepasang kekasih pada umumnya. Hal itu aku lakukan selama hampir 3 bulan semenjak percakapan terakhirku dengan Awan. Hingga suatu hari aku tau kalo Awan sudah kembali ke Yogyakarta.

Aku yakin Awan pasti akan kembali, walaupun kala itu alasannya kembali bukan aku. Banyak anak organisasi yang menanyakan Awan ke aku, mereka memastikan apakah Awan benar sudah kembali ke Yogyakarta karena Awan harus menyelesaikan tugas besarnya sebagai Ketua Lembaga Legislatif di Kampus. Aku sebenarnya risih mendapat pertanyaan seperti itu, karena Awan kembali ke Yogyakarta saja tidak memberikan kabar ke aku, dan sampai pada akhirnya kabar hubunganku dengan Awan menyebar dan menjadi bahan konsumsi anak-anak organisasi kampus. Hal ini sebenarnya sudah aku prediksi akan terjadi hanya saja aku tidak menduga kebanyakan orang mengetahui hubunganku dengan Awan ketika hubungan ini sedang tidak baik-baik saja.

Setelah mengetahui Awan sudah di Yogyakarta aku tidak memiliki keberanian untuk menghubunginya terlebih dulu, aku berniat menunggunya menghubungiku dulu untuk menjelaskan dan menyelesaikan permasalahan ini. Aku memiliki keyakinan bahwa Awan lah yang memulai permasalahan dalam hubungan ini jadi dia orang yang harus berinisiatif terlebih dulu untuk menyelesaikan dan membicarakannya denganku. Aku menunggu dan terus menunggu tapi Awan tidak kunjung menghubungiku, dia pernah menghubungiku sekali melalui DM Instagram dan itupun menanyakan program kerja himpunanku yang baru saja aku realisasikan, dan Awan tidak pernah bertanya sedikitpun tentang aku. Setiap kali aku alihkan pembicaraan untuk membahas hubungan ini dia malah menghilang dan tidak membalas pesanku lagi, sampai pada pesan yang Awan kirimkan dan itu benar-benar membuatku menangis sejadi-jadinya

“Maaf. Maaf Ki. Aku gak bisa ngambil keputusan”

Aku tidak tau kenapa sikap Awan berbeda jauh dari yang aku kenal di awal pertemuan, dia seperti berubah menjadi oranglain setelah kembali dari Sulawesi. Aku gak kenal Awan yang sekarang dan Awan yang dulu aku kenal bukan seperti ini. Satu bulan semenjak Awan kembali ke Yogyakarta hari ke hari berlalu begitu saja dan tidak pernah ada pertemuan yang terjadi antara aku dan Awan. Sebenarnya aku sangat ingin menemui Awan saat itu, banyak kalimat dan tanya yang ingin aku utarakan tapi aku benar-benar tidak memiliki keberanian dan aku tidak ingin mengganggunya.

Aku terus bertanya-tanya kenapa Awan tidak pernah ada niatan untuk menghubungiku, kenapa dia hanya mengirimkan pesan melalui DM Instagram, kenapa dia tidak pernah ada keinginan untuk bertemu denganku padahal dulu dia selalu berucap rindu, kenapa dia tega mengatakan bahwa dia tidak bisa mengambil keputusan. Dan pesan Instagram terakhir yang Awan kirimkan ke aku hanya sekedar menanyakan kehadiranku dalam kongres untuk melihatmu melepas jabatan sebagai Ketua Lembaga Legislatif kala itu.

Kongres? Untuk apa aku hadir dalam acara itu, aku tidak memiliki kepentingan lagi untuk hadir dalam kongres, karena aku sudah menyelesaikan kepengurusanku di Himpunan sewaktu kamu belum kembali ke Yogyakarta dan sudah ada pengganti Ketua Himpunan yang baru yang akan menghadiri kongres itu. Yang aku butuhkan hanya kamu dan kita bertemu lalu berbicara tanpa berseteru.

Banyak pertimbangan yang aku pikirkan waktu itu tentang hubungan kita, akankan seperti ini atau berakhir sampai disini. Keduanya sama-sama memiliki resiko yang menyakitkan, jika dibiarkan seperti ini kita tidak tau sampai kapan akan berakhir dan aku akan terus menerus merasakan sakit sendiri, jika diputuskan berakhir sampai disini pasti aku akan merasakan sakit yang menjadi-jadi tapi bedanya itu hanya akan terasa satu kali sampai aku bisa menyembuhkan rasa sakit itu. Sulit memang untuk memilih, tapi aku harus mengambil keputusan dan memilih diantara keduanya. Dan akhirnya keputusanku ada pada mengakhiri hubungan kita.

“Ya sudah, kita sama-sama tau kalau kita udah gak sejalan lagi”

Kamu memberikan jawaban itu atas permintaanku untuk mengakhiri hubungan kita. Lucu bukan kamu bahkan tidak ada keinginan untuk menyangkal dan mengatakan ingin bersamaku kembali. Kamu melepaskan diri dari aku begitu saja, tidak ada penyangkalan sedikitpun, tidak ada perdebatan sedikitpun, bahkan tidak ada pertemuan lagi semenjak kamu kembali ke Yogyakarta. Jadi selama ini penantianku memang tidak pernah ada artinya sama sekali, bahkan ketika kamu di Sulawesi dan tidak pernah memberikan kabar, aku selalu menenangkan diri dan berusaha menjadi kekasih yang ingin mengerti kamu.

Hari hari kemudian berlalu, minggu ke minggu, bahkan sampai bulan ke bulan, aku berusaha membiasakan diri, aku berusaha menenangkan diri dan terus menjalani hari hari.

“Awa kamu tau semenjak dari kejadian itu bagaimana denganku?”

Aku yang sekarang dengan semua postingan Instagram yang hilang. Aku yang sekarang dengan rambut pendek berwarna pirang di bagian depan. Aku yang sekarang dengan bekas jerawat hitam di pipi kanan kiri. Aku sekarang yang mendengar telepon berbunyi dan membiarkannya begitu saja. Aku sekarang yang setiap malam harus mencari cara agar tetap tidur.

Semoga saat ini kamu menjalani hari harimu dengan penuh kebahagiaan, satu hal yang ingin aku sampaikan bahwa aku berterimakasih berkat perlakuanmu dulu ke aku, itu justru membantuku menemukan diriku kembali. Aku berjanji akan kembali setelah menempuh waktu panjang untuk menemukan diri ini lagi. Dan disaat aku kembali, aku akan menjadi diriku seutuhnya seperti dulu sebelum bertemu denganmu.

Terimakasih Awan Setiawan untuk cerita yang belum usai yang pernah kamu berikan padaku. Aku akan melanjutkan cerita ini sendiri dengan versi terbaikku.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Saskia Yuliana

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Kisah yang Belum Usai

Jumat, 26 November 2021 21:21 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua