Suanggi - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Tonny Tokan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 November 2021

Sabtu, 27 November 2021 09:58 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Suanggi

    Orang-orang kampung telah mengenal rambut uban putih nyaris seputih kapas dengan ciri khas berlutut sepanjang ibadah, sebagaimana dilakukan oleh orang-orangtua lanjut usia lain, juga baju kebaya ungu yang menyilaukan mata dari arah altar. Tentu itu bukan penampakan bunda Maria, melainkan si tua Somi sedang tenggelam dalam keheningan doa-doanya.

    Dibaca : 601 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Bagian Satu

    SUARA Mery memekakkan seisi kampung ketika orang-orang itu baru saja pulang ibadah hari minggu. Gadis berusia sembilan tahun itu tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun, selain menunjuk ke arah kali yang jarang dilalui air, apalagi jika musim kemarau telah menggerogoti kampung selama hampir delapan bulan terakhir.

    Orang-orang berlari ke arah Mery. Tidak seorangpun di antara semua mata yang dilemparkan pada pemandangan mengerikan itu, tak mengenal tubuh tanpa kepala di dalam kali tepi deker tempat anak-anak sering menghabiskan waktu minum tuak dan bernyanyi kesetanan, atau tempat anak muda sering menjalankan pesta singkat merayakan hasil curian mereka.

    Tentu saja mereka tahu siapa yang tergeletak di sana. Semua orang di kampung itu mengenalinya. Bukan perkara ia sering jalan tanpa kepala, melainkan karena satu-satunya cara mengenal mayat itu adalah dari jenis baju dan sarung tenun tua yang sering ia gunakan ketika menghadiri ibadah hari minggu.

     

    Bagian Dua

    Lonceng ke dua berbunyi dari gereja. Misa hari raya masa adven di minggu ke tiga menyongsong lahirnya juru selamat akan segera dimulai. Perempuan tua Somi dengan tongkat tua menghampiri pintu masuk gereja. Dibantu oleh cucu satu-satunya, ia mencelupkan tangan ke dalam air suci, memberikan tanda kemenangan Kristus, kemudian melangkah masuk ke dalam gereja.

    Orang-orang kampung tahu belaka Ina Somi dan Cucunya. Konon kisah tentang Mery adalah kisah yang tidak kalah melegenda. Sebagian besar warga kampung mengungkapkan Mery adalah anak dari pernikahan Lela dengan Nitun. Tetapi warga yang lain berpendapat justru Mery adalah hasil pernikahan Lela dengan seorang tentara yang di kemudian hari selingkuh dengan seseorang perempuan di kota yang entah siapa. Bagaimanapun, simpang siur cerita tentang dari mana datangnya Mery hanya diketahui Ina Somi.

    Perihal Lela, di kemudian hari setelah perselingkuhan itu, orang-orang menemukannya di tepi hutan kopi dalam keadaan tak bernyawa. Tak seorangpun ingin berkomentar mengapa Lela melakukan itu. Namun Ina Somi yang adalah ibunya merahasiakan segala sesuatunya. Orang kampung mafhum tentang apa yang dialami oleh perempuan muda itu.

    Tempat paling depan dekat altar adalah tempat favoritnya. Orang-orang kampung telah mengenal rambut uban putih nyaris seputih kapas dengan ciri khas berlutut sepanjang ibadah, sebagaimana dilakukan oleh orang-orangtua lanjut usia lain, juga baju kebaya ungu yang menyilaukan mata dari arah altar. Tentu itu bukan penampakan bunda Maria, melainkan si tua Somi sedang tenggelam dalam keheningan doa-doanya.

    Pernah sekali peristiwa, dituntun oleh rasa penasaran, Ama Petrus kepala stasi bertanya padanya, mengapa ia selalu suka duduk di depan nyaris mencium altar. Ia akan dengan mantap menjawab, “Kalau duduk di belakang, Tuhan tidak dengar doa-doa saya.”

    Jawaban semacam itu nyaris tidak pernah keluar dari mulut orang lain di kampung itu selain Ina Somi. Tak ada yang kenal dan tahu ia lahir tahun berapa. Ina Somi seperti sebuah misteri di kampung yang tak pernah terpecahkan. Semua orang di kampung selain tahu ia rajin beribadah di hari minggu dan nyaris selalu mencium patung Yesus ketika ibadah usai, ia juga adalah perempuan penggagas kelompok Santa Ana. Sekelompok manusia yang terdiri dari barisan perempuan-perempuan tua yang menghabiskan nyaris seluruh hidup mereka untuk berdoa.

    Jawaban Ina Somi membuat Ama Petrus lantas tidak lanjut mengajukan pertanyaan berikut. Bukan karena ia takut tidak akan digubris oleh perempuan tua itu, melainkan karena ia membawa serta lelaki muda di sebelahnya, yang diketahui dengan mata kepala seluruh orang kampung sebagai contoh buruk anak ketua stasi.

    Adalah Simon manusia yang paling tak ambil pusing. Ia memang tukang mabuk dan seorang pencuri yang handal. Tidak jarang kemudian ayahnya selalu mendapatkan protes dari warga yang hewan-hewannya dicuri oleh Simon. Ama Petrus akan meminta maaf sebelum akhirnya menutup rasa malu keluarganya dengan denda berupa uang dalam jumlah tertentu.

    Meski demikian, satu hal penting yang tidak pernah dilakukan Simon adalah, ia tak pernah sekalipun main perempuan meski usianya telah menginjak tujuh belas tahun, dan tentu saja tak pernah berbohong pada siapapun jika ia mencuri hewan atau hasil panen warga kampung.  Itulah mengapa, ia bahkan tak pernah keberatan jika banyak orang-orangtua di kampung itu selalu menggunakannya sebagai contoh yang tak patut ditiru oleh anak-anak mereka.

     

    Bagian Tiga

    Anak Ama Petrus yang pertama adalah seorang Polisi. Ia bertugas di kota. Setiap natal ia akan kembali ke kampung. Sudah tentu tak usah ditanya betapa bangganya orang kampung dengan seorang polisi. Para gadis kampung akan sesekali datang hanya sekadar curi-curi pandang, atau melempar senyum dengan gigi nyengir berharap dicintai seorang polisi. Tidak jarang juga orangtua, entah berusia kepala tiga atau kepala empat, akan datang berkunjung dengan jenis ramah-tamah aneh, sebelum akhirnya pulang dengan satu titipan basa-basi tentang putri mereka yang telah tumbuh menjelma seorang putri cantik.

    Dalam beberapa kesempatan, pak polisi Rius sering dijadikan contoh bagi anak-anak yang sedang bersekolah di kampung, sebagai contoh anak sukses dari kampung mereka. Ama Petrus yang adalah ayahnya sudah tentu akan bangga dalam sekali dua kesempatan, baik sengaja maupun tak sengaja, mendengar percakapan ibu-ibu yang sedang menasehati anaknya ketika sedang cari kutu, atau mendengar pidato tertentu dari kepala desa yang berisi nama anaknya sebagai contoh baik, pada acara-acara penting yang sempat diadakan di kampung itu. Di lain sisi, ia pula akan mudah naik darah apabila Simon selalu dijadikan sebagai gambaran dari perangai buruk yang tak boleh diikuti oleh anak-anak di kampung itu.

    Jika pak polisi Rius pulang kampung, Simon adalah satu-satunya mahkluk hidup di kampung yang paling tak suka melihatnya. Bukan karena kakaknya seorang polisi, melainkan karena ia akan selalu dapat satu dua tinjuan di bagian manapun di badannya sebagai bentuk kejengkelan atas ketidakpatuhannya pada perintah orangtua.

    Simon memang pencuri kecil yang tak berguna. Ia bahkan lebih suka menghajar anak-anak kampung justru ketika pak polisi itu sedang berlibur. Tingkahnya yang lain juga adalah, ia akan lebih sering mencuri ayam, tidak peduli ayam kepala desa, tokoh adat, atau bahkan ayam paroki. Semua dicuri tanpa sedikitpun penyesalan. Ia akan pesta dengan teman-temannya di deker, mengundang sebanyak mungkin anak muda, baik yang pernah ia pukul maupun yang tak pernah ia pukul, agar ikut beramai-ramai makan hasil curian.

    Suatu malam, setelah memastikan keadaan di dalam kendali Simon, ia ajak dua temannya yang juga adalah sepasang geng kurus kerempeng pembuat onar, agar melancarkan aksi mencuri ayam di rumah Om Tobias. Menurut hasil menguping percakapan antara Ama Petrus dan pak polisi Rius, mereka bisa dengan mudah mendapatkan ayam pada natal tahun ini karena Om Tobias baru saja memulai usaha ayam dua minggu terakhir, sehingga mereka tak perlu susah payah mencari hewan untuk makan pesta natal atau saat menyambut tamu yang kadang bisa datang tak kenal waktu.

    Seperti setiap detail yang disebutkan, secara saksama dan dengan indra pendengaran yang tak kalah tajam dari pisau iris tuak, Simon mengungkapkan pada dua geng kurus kerempeng bahwa Om Tobias memelihara 50 ekor ayam pedaging yang ia datangkan dari kota. Maka sesuai dengan rencana yang telah ia susun sehari sebelumnya, Simon dan sepasang lelaki kurus kerempeng, Boli dan Mias, melancarkan serangan mereka pada malam yang telah ditentukan. Mereka sudah sepakat tak akan mencuri satu kandang. Mereka akan mencuri tiga ekor sebagai permulaan, dan akan terus mencuri jika memang tidak ada komplain dari Om Tobias ketika misa hari minggu tiba.

    Berbekal senter, bawang putih dan sabut kelapa sebagai perkakas pencurian, mereka mengendap-ngendap di antara pohon mangga dan hutan pisang yang tumbuh lebat di samping rumah Om Tobias. Satu, dua, tiga, empat langkah, tiba-tiba mereka berhenti karena di dalam kegelapan, sebuah kepala keluar dengan silauan parang yang sedang diasah, dipantulkan oleh cahaya lampu remang-remang dari sudut kandang ayam.

     

    Bagian Empat

    Om Tobias baru saja kembali dari Malaysia karena sebuah alasan yang menyiksa batinnya. Ia kembali ke kampung karena sebuah insiden menimpah putri satu-satunya dari hasil pernikahan ia dan Kewa. Sebuah insiden yang bahkan tidak terlintas dalam bayangannya, bahwa putri kecil berusia enam tahun itu harus berakhir ke liang kubur setelah melewati masa sakit berkepanjangan selama enam bulan.

    Pagi, siang, malam, berganti selama tujuh hari berturut-turut lelaki itu berkabung. Ia mulai jarang minum kopi sebagaimana biasa, ia mulai jarang memeluk istrinya sebagaimana cintanya yang meluap-luap awal pernikahan, ia mulai lebih sering murung ketimbang bahagia.

    Pernikahan yang baru berjalan tiga tahun setelah upacara denda adat karena lelaki itu menghamili Kewa sewaktu ia duduk di bangku SMA, membuat restu yang semulanya tak mereka dapati, kini telah mereka peroleh setelah usia gadis yang telah masuk kuburan itu menginjak empat tahun. Begitulah kemudian mereka menikah dan tak punya anak lagi setelah berhasil melewati masa sulit tak direstui. Sepasang kekasih itu menghabiskan waktu saling mencintai, sekaligus mencintai buah hati hasil kerja keras mereka.

    Dituntut oleh keterbatasan ekonomi karena semua anak diharuskan bersekolah sesuai anjuran Negara dan tekanan lingkungan sosial, Om Tobias kemudian memutuskan berangkat ke Malaysia. Rencana semula ingin berangkat guna mengumpulkan pundi-pundi rejeki agar putrinya dapat bersekolah, kini berakhir menyedihkan karena ia harus kembali ke kampung menyaksikan putrinya yang dapat membuat ia menikahi kekasih tercinta, telah masuk ke dalam kubur.

    Sebagaimana kabar yang belakangan mengisi penuh keheninganya, sebuah kabar angin yang bahkan tak jelas dimulai oleh siapa, kini semakin membuat Om Tobias tak tanggung-tanggung memikirkan bahkan menculik kehidupan sosialnya. Gadis kecil Yeni memang mati tanpa kejelasan diagnosis dokter atau tanpa jenis alasan paling masuk akal. Satu-satunya yang dapat dipertimbangkan dengan logis bagi orang seperti Om Tobias adalah dua hal. Pertama, nyawa anaknya dimakan oleh suanggi, atau yang kedua, nyawa anaknya telah dijual ke Nitun penghuni pohon-pohon besar.

    Tetapi siapa yang telah melakukannya?” Batinnya penuh keragu-raguan.

    Dalam suatu kecurigaan yang aneh, Om Tobias mulai menelusuri seluruh pertikaian dalam keluarga. Tujuh hari tujuh malam ia bergelut dengan keheningannya, namun tak seorang pun berhasil ia curigai selain bahwa anaknya mati karena memang telah waktunya mati. Ia sempat meminta istrinya menceritakan banyak hal sebelum kematian putri mereka. Namun tetap saja ia dihantui oleh kebingungan yang tak terkira.

    Kepastian yang tak jelas semacam itu membuat ia akhirnya dipertemukan suatu malam dengan tiga pemuda pencuri ayam, ketika ia sedang mengasah pasang di belakang rumah dalam suatu maksud mengisi waktu luang di tengah keheningan tak terhingga itu.

    “Bikin apa kalian malam-malam begini?” Tanya Om Tobias.

    “Ka..mi..” Jawab Simon dengan kalimat patah-patah. Tangannya mulai dihantui kedinginan. Dua kurus kerempeng di sampingnya berdiri mematung bagai mayat hidup.

    “Tidak usah takut. Jawab saja. Tak ada yang akan memakan kalian malam-malam begini.”

    Hening menyelimuti Simon dan kawan-kawannya. Mereka saling sikut berharap seseorang dapat memberikan alasan paling masuk akal guna menyelamatkan mereka.  

    Karena tak kunjung jelas pengakuan mereka pada satu dua kegugupan yang menyedihkan, Om Tobias akhirnya meminta Simon dan dua kurus kerempeng mengeluarkan ayam dua ekor agar mereka bakar. Tidak lupa juga mereka diminta mencari tuak. Sebagaimana penyakit kesetanan tiga orang anak muda itu, mereka dengan semangat tak terkira mengeluarkan ayam dari kandang, mematahkan batang lehernya kemudian dibakar. Seseorang dari dua kurus kerempeng itu mengambil inisiatif pergi mencari tuak.

    Kebahagiaan meluap-luap itu berakhir pada cerita-cerita tentang kampung setelah Om Tobias pergi merantau. Mabuk tuak yang mencuri kewarasan mereka jam tiga dini hari telah membuat seluruh pengakuan pencurian ayam siapa saja di kampung itu terbuka bagai mata air menyirami ladang kering di hati Om Tobias.

    Di lain sisi, di dalam rumah, sebuah keributan memaksa Kewa bangun dari tidurnya. Ia mengintip dari balik pintu dapur, melihat suaminya sedang duduk bersama tiga berandalan kampung. Pada kesempatan lain, ia mendengar suaminya mengajukan pertanyaan yang membuat bulu kuduk tiga lelaki berandalan itu berdiri.

    “Apa pendapat kalian tentang Ina Somi?”

     

    Bagian Lima

    Baru saja perempuan tua itu melewati deker, satu tebasan parang memisahkan kepala dari badan. Tubuhnya jatuh ke kali dan kepalanya dimasukan ke karung dan dibawa pergi. Jalan yang kebetulan nyaris sangat sepi untuk diketahui banyak orang itu menjadi tempat sempurna mengakhiri hidup Ina Somi.

    Tak seorang pun menyangka perempuan suci itu dapat mati dengan cara kepala dipisahkan dari badan. Orang-orang kampung tak terkecuali kepala desa, tokoh masyarakat, tokoh gereja dan seluruh masyarakat kampung memang pernah mendengar desas-desus perihal Ina Somi, namun tak seorangpun menganggap desas-desus itu akan merenggut nyawanya dengan cara sekejam ini.

    Mereka mengangkat tubuh itu dari dalam kali kering. Darah bercampur tanah melekat di sekujur baju yang nyaris tak bisa dibedakan mana warna ungu dan mana warna merah. Gadis kecil Mery telah pingsan. Sedangkan di sisi lain jalan, di kejauhan, seorang perempuan sedang memegang kepala Ina Somi.

     

    Yogyakarta, 2021

    Ikuti tulisan menarik Tonny Tokan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.





    Oleh: Arif Munandar Prayitno

    12 jam lalu

    Senja

    Dibaca : 86 kali


    Oleh: Farhanaang__

    12 jam lalu

    Cikepuh

    Dibaca : 135 kali