Hilangnya Ruh Pembelajaran: Antara Ada dan Tiadanya PBM - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Hilangnya ruh pembelajaran

Basuki Poejangga

Belajar Menulis
Bergabung Sejak: 23 November 2021

Sabtu, 27 November 2021 09:52 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Hilangnya Ruh Pembelajaran: Antara Ada dan Tiadanya PBM


    Dibaca : 279 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Awal tahun 2019 dunia digemparkan dengan Coronavirus Disease 19, atau yang kita kenal dengan covid-19. Wabah ini menjadi bencana dunia, tak terkecuali negeri tercinta, Indonesia.
    Seiring dengan merebaknya covid-19 ini, banyak perubahan yang terjadi pada masyarakat dunia, mulai dari kebiasaan memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, hingga kembalinya madrasah itu pada kodrat semula.
    Tentunya tidak mudah menerima kebiasaan baru ini. Tetapi mau tidak mau kita harus melakukan penyesuaian agar kehidupan terus terlaksana seperti biasanya.
    Hal ini pun terjadi pada saya, sebagai seorang guru yang biasa berdiri secara langsung untuk mendidik generasi penerus, namun saat ini hanya mampu berada di balik layar laptop, smartphone dan aplikasi-aplikasi atau platform pembelajaran.
    Banyak kegelisahan yang dirasakan seiring dengan pembelajaran sistem daring (dalam jaringan).
    Saya tahu kegelisahan ini bukanlah hanya milik saya, tetapi juga milik orang tua, siswa dan semua orang yang terlibat secara langsung atau tidak langsung dengan dunia pendidikan.
    Kegelisahan-kegelisahan ini lah yang akhirnya menggerakkan banyak organisasi pendidikan yang melakukan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kemampuan guru baik dalam pelajaran maupun peningkatan kompetensi dalam bidang teknologi.
    Hal ini tentunya berdampak positif bagi para guru. Ada hikmah dari pandemi covid 19. Kemampuan guru dalam teknologi tentunya semakin meningkat.
    Namun, apakah ini cukup untuk menyikapi permasalahan daring?
    Apakah kompetensi ini signifikan dengan peningkatan kompetensi belajar siswa???
    Tidak, tidak ada jaminan untuk itu.
    Ternyata peningkatan kemampuan dalam bidang teknologi bukanlah tolok ukur pencapaian belajar, bukan harga mati untuk mewujudkan merdeka belajar dan belajar yang bermakna.
    Inilah yang sering terjadi dan semakin membuat kegelisahan semakin menjadi-jadi.
    Ada hal penting yang sering kita lupa. Bahwa peran kita sebagai guru bukan sekadar men-share tugas dan materi tanpa melakukan komunikasi dan diskusi bersama siswa.
    Guru perlu meningkatkan kompetensi dalam bidang teknologi, namun guru tidak boleh lupa bahwa peran kita tidak akan dapat tergantikan meskipun di zaman digitalisasi seperti saat ini. Artinya guru harus menyadari bahwa ujung tombak pembelajaran daring bukanlah pada aplikasi yang kita gunakan.
    Apa artinya aplikasi yang keren, jika kita hanya mampu menitipkan peserta didik kita pada aplikasi itu tanpa ada sentuhan dari kita sebagai guru.
    Bukan aplikasi yang diperlukan siswa, tapi bagaimana cara kita tetap hadir di tengah mereka sekalipun dengan platform pembelajaran yang sederhana.
    Memang benar saat ini paras nan rupawan tak lagi dapat dipandang oleh siswa, wangi parfum mahal itu pun tak dapat dirasakan aromanya, namun tidak berarti kehadiran kita pun tidak dapat dirasakan. Sebagai guru kita harus bijak menyikapi apa yang dibutuhkan oleh siswa. Tetap membuka diri, tanyakan apa yang mereka senangi dari pembelajaran kita, lalu apa pula kesulitan yang mereka rasakan, berikan solusi terhadap kesulitan-kesulitan itu, dengan demikian kita tidak akan pernah kehilangan ruh dalam kegiatan pembelajaran, sekalipun secara daring.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.