Suara Keadilan Itu Mestinya Bergema di Nurani Hakim - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 29 November 2021 05:40 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Suara Keadilan Itu Mestinya Bergema di Nurani Hakim

    Pengingkaran hakim terhadap suara nuraninya sendiri memerlukan dukungan argumentasi agar putusannya dapat diterima oleh masyarakat. Sayangnya, ia sendiri mungkin merasa sukar meyakinkan dirinya sendiri untuk menerima putusan itu. Ia mungkin telah berusaha keras melakukan rasionalisasi atas putusannya, namun ia sendiri tidak merasa sepenuhnya yakin akan nilai kebenaran dan keadilannya.

    Dibaca : 2.356 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Apakah yang dipikirkan dan dirasakan para hakim ketika hendak memutuskan suatu perkara? Apakah ia hanya bertumpu pada fakta-fakta maupun argumen-argumen yang disodorkan di ruang sidang, lalu menarik kesimpulan bagi keputusannya? Tidakkah ia menggunakan hati nuraninya untuk menangkap detak kedustaan dan ketidakadilan yang disembunyikan di balik fakta dan argumen itu, hingga nurnainya menemukan ada yang tidak semestinya dan kemudian meluruskannya.

    Seseorang yang dipilih menjadi hakim semestinya menyadari bahwa bukan kepada penguasa ia menunaikan tugas, melainkan kepada para pencari keadilan dan kebenaran. Penguasa bisa saja memiliki otoritas untuk memilih hakim, tapi kesetiaan hakim bukanlah kepada penguasa, melainkan kepada kebenaran dan keadilan. Kesadaran-diri akan tugas menemukan kebenaran dan keadilan bagi warga seharusnya menjadi kekuatan dan motivator para hakim.

    Suara kebenaran dan keadilan itu semestinya bergema di hati nurani hakim. Nuraninya akan bergetar setiap kali dia mengadili perkara. Baginya, kepiawaian para pengacara maupun bukti-bukti yang disodorkan di ruang sidang bukanlah satu-satunya sumber untuk memutuskan yang benar secara adil. Ada kemungkinan fakta tak sepenuhnya ditemukan, tidak seutuhnya dibuka, dan argumen disusun sehebat mungkin untuk memanipulasi fakta. Hakim mestinya mampu menangkap suasana batin yang tersembunyi di ruang sidang dan tidak bertumpu melulu pada apa yang disodorkan sebagai fakta beserta argumennya.

    Kepekaan hakim terhadap ketidakadilan niscaya akan semakin tajam manakala ia selalu mengasahnya melalui perkara-perkara yang ia tangani, kecuali jika ia memang menutup mata terhadap apa yang ada di balik perdebatan di ruang sidang, kecuali jika ia berpura-pura tidak tahu mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Ketika ia berpura-pura, ketika itulah ia telah mengingkari suara nuraninya sendiri. Ia mungkin tak lagi memiliki kemerdekaan di hadapan penguasa, dan karena itu tak mampu melantangkan suara nuraninya keluar mulutnya.

    Pengingkaran hakim terhadap suara nuraninya sendiri pada akhirnya memerlukan dukungan argumentasi agar putusannya dapat diterima oleh masyarakat. Sayangnya, ia sendiri mungkin merasa sukar meyakinkan dirinya sendiri untuk menerima putusan itu. Ia mungkin telah berusaha keras melakukan rasionalisasi atas putusannya, namun ia sendiri tidak merasa sepenuhnya yakin akan nilai kebenaran dan keadilannya.

    Seorang hakim tidak akan menghadapi dilema apapun apabila ia lurus berpegang pada suara nuraninya yang menggemakan kebenaran dan keadilan. Dilema itu muncul karena ia terpaksa harus menyusun argumen untuk mengingkari nuraninya, dikarenakan ia tidak cukup tangguh menghadapi kekuasaan, atau barangkali ia rikuh dan bahkan mungkin tidak cukup berdaya dikarenakan satu dan lain hal.

    Menjadi hakim yang lurus sesungguhnya lebih mudah, sebab ia telah menyerahkan semua urusan di luar urusan menetapkan putusan atas suatu perkara kepada sumber kebenaran dan keadilan. Lebih sukar menjadi hakim dilematis, sebab ia harus menghitung segala konsekuensi dari putusan itu bagi dirinya sendiri di hadapan kekuasaan. Namun kesukaran itu bukan disebabkan orang lain, melainkan oleh dirinya sendiri yang mengingkari suara nuraninya. Maka, kembalilah kepada hati nurani, tuan-tuan hakim. >>

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.
















    Oleh: Akhmad Sekhu

    Rabu, 10 Agustus 2022 16:41 WIB

    Sajak Seribu Tahun

    Dibaca : 574 kali