Covid-19 Bagi Murid - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Pembelajaran yang selama ini dilakukan didalam lingkungan sekolah, akhirnya dilakukan dari rumah akibat pandemi

Muh. Asfar H. Ali

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 24 November 2021

Minggu, 28 November 2021 14:44 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Covid-19 Bagi Murid

    Sejak pandemi Covid-19 melanda dunia ini, yang dampaknya ke seluruh dunia termasuk Indonesia, hampir keseluruhan sektor terdampak, tidak terlepas juga dari sektor pendidikan sehingga melahirkan hal-hal baru dalam dunia pendidikan, di mana proses belajar mengajar drastis berubah dalam cara penyajian, dari zona nyaman menjadi zona tidak nyaman, dari kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru, yakni tradisi-tradisi baru istilahnya lahir dampak jangka panjang, sehingga akan terjadi perubahan model-model maupun penyajian.

    Dibaca : 152 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pagi itu, sangat pagi, jam masih menunjukkan pukul 06.00 tepat tanggal 21 Juli 2021, sebelumnya tugas saya kirimkan sehari (malam) sebelum pelajaran dimulai esok pagi, melalui group tersebut saya menyampaikan pembelajaran jarak jauh saya, ini yang saya sampaikan saat saya meyajikan pembelajaran untuk esok hari

    1. “Assalamualaikum. Tidak terasa hari ini anak-anakku belajar PJOK kembali. Meski belajarnya masih dari rumah, Bapak harap anak-anakku tetap semangat sebagai bentuk kewajiban sebagai warga negara untuk mendapatkan pendidikan.
    2. Seperti biasa, lakukan hal-hal baru. Tepat pukul 06.00 siap-siap untuk membantu orang tua. Lakukan 1 kebaikan kepada orang tua kalian di pagi hari. Harap Bapak/Ibu orang tua/wali peserta didik bisa membimbing anak-anaknya. Saya tunggu foto sholat shubuhnya, sebagai penilain sikap spiritual dan sosialnya
    3. Setelah pukul 06.30. Silahkan sarapan dan mandi
    4. Setelah pukul 07.30 awali kegiatan pembelajaran dengan berdoa terlebih dahulu
    5. Silahkan pakai seragam olahraga (trening dan sepatu)
    6. tapi sebelum pemanasan silahkan lari-lari kecil Sejauh 400 meter
    7. Setelah itu, silahkan pemanasan dengan hitungan 2 x 8 setiap gerakan.
    8. kemudian kita masuk ke pembelajaran inti

    Itulah instruksi yang saya sampaikan saat menyajikan pembelajaran, di dalam instruksi pembelajaran yang saya sampaikan Wahyu salah satu peserta didik saya di kelas 4 yang bertumbuh berisi telah mengirim tugas yang saya infokan melalui media Group WhatsApp, memang saat masuk tahun pelajaran baru suasana telah berubah dengan pembelajaran jarak jauh, belajar dari rumah. melihat postingan Wahyu di group yang saya yakin bahwa orang tuanyalah yang mengoprasikan androidnya, karena ukuran anak seusia dia di sekolah saya belum terlalu bisa menggunakan aplikasi WhatsApp kecuali Android tersebut digunakan untuk bermain game, meski Wahyu masuk zaman milenia yang terlahir di era teknologi. Yang menjadi penasaran dalam benak saya, kenapa saat bersekolah secara normal Wahyu kadang terlambat mengikuti pembelajaran, itu hati kecil saya yang berbicara, tapi saya mengindahkan saja, yang terpenting peserta didik saya bisa paham mengenai pembelajaran yang akan saya sampaikan.

    Hal yang serupa di hari Selasa, 28 Juli 2021, kali ini pukul 06.04 WhatsApp saya kembali berdering, saya buka, ternyata untuk kedua kalinya Wahyu mengirim lebih awal tugas yang saya telah sampaikan dari semalam, muncul kembali dalam hati saya, “Wahyu, kok bisa ya”. saya sebagai pendidik dan pengajar harus punya pemikiran yang baik yang dilakukan oleh Wahyu, meski pasti orang tuanya yang mengirimkan tugasnya melalui WhatsApp Group dan ini terulang sampai beberapa minggu kedepan dan terus menerus meski jamnya berubah-ubah, minimal dari kesepakatan yang saya bangun bersama orang tua siswa itu pukul 07.30 tapi Wahyu mengirim tugas sebelum jam-jam tersebut, mentok di pukul 07.00. Disini saya mendapatkan suatu masukan bahwa terjadinya transformasi kebiasaan Wahyu di masa pandemi, yang mengalami perubahan secara signifikan, yakni menjadi lebih rajin dan disiplin.

    Mata kita hanya bisa melihat kedepan tapi tidak bisa melihat diri sendiri, jangan pernah menilai seseorang itu tidak bisa berubah biarkan saja yang baik-baiknya yang dilakukan, semua berawal dari belajar, anak kecil saja tidak langung berjalan tapi membutuhkan proses yang panjang untuk bisa berjalan dengan bertaruh dengan waktu, begitupun dengan realita yang terjadi sekarang.

    Berbeda dengan Alif peserta didik kelas 6, dengan proses pembelajaran jarak jauh yang di jalani, selama pandemi menampakkan perubahan yang sangat drastis dimana tidak ada tugas yang terkewatkan sedikitpun, ini terlihat dari absen dan pengumpulan tugas dari sejak pertama pembelajaran jarak jauh sampai hari ini, tidak ada yang terlewatkan, apabila dibandingkan dengan saat pembelajaran normal sebelumnya, Alif terbilang anak yang sabar, tidak banyak bicara dan cenderung pendiam, hanya menjawab saat ditanya, pandemi ini mengajarkan kepada Alif untuk mengelsplore kemampuan dirinya yang di  nilai selama ini tidak aktif. “Alif” (Sapaan saya saat tidak sengaja ketemu di sekolah saat  datang kesekolah untuk menukar modul pembelajaran dari wali kelasnya), “Bagaimana kabar nak?” Jawab Alif “Baik pak”, Bapak salut sama Alif selama pandemi ini, semua tugas diselesaikan dengan baik dan kehadiran sampai hari ini, tidak pernah tidak hadir”, Alif (Tersenyum gembira), itu mungkin menandakan bagaimana apresiasi bagi dirinya, dan merasa dia diperhatikan, dan memang selayaknya kita sebagai guru (pendidik) selain mengajar harus juga menjadi orang tua kedua setelah orang tuanya di rumah, kita diwajibkan untuk menganggap anak didik kita seperti anak sendiri sehingga, saat kita mengajar, akan mengalir rasa tanggung jawab dan kasih sayang kepada mereka, sehingga mereka dapat merasakan ketulusan kita dalam mengajar dan mendidik mereka. “Alif bagaimana keadaan orang tua”? Tanyaku berlanjut, saya semakin penasaran dengan hal yang dilakukan orang tuanya dirumah sehingga bisa seperti sekarang. Salah seorang guru memberikan jawaban secara tiba-tiba “Pak. Asfar orang tua Alif sekarang ada di Papua” Pinta Bu. Lia. dengan wajah keheraman saya menjawab “Iyakah?? Jadi selama ini Alif tinggal bersama siapa?” (saya semakin penasaran) dalam hati saya bertanya, selama ini yang memotivasi Alif untuk seperti ini siapa ya? “Sama Neneknya” Lanjut pinta Bu. Lia. Saya semakin penasaran dan betul Alif tinggal bersama neneknya disini karena orang tuanya mencari nafkah di Papua, sangat fantastik.

    Saya termenung dan melamun, mengenang masa kecil saya, bahwa apa yang dialami Alif sekarang ternyata hampir sama dengan kehidupan saya di masa kecil kala itu di Bulukumba, dimana saya hidup bersama nenek dari sejak kecil sampai mengenyam pendidikan di perguruan tinggi di Makassar, Ternyata, orang-orang baik disekitaran kita, bisa menjadikan kita sebagai orang yang baik pula, mereka bisa menjadi salah seorang agen perubahan terhadap hidup kita, menjadi pendukung dalam menyonsong masa depan kita.

    Malam hari karena saya lupa menongaktifkan pesan yang hanya bisa admin yang mengirim, dalam kali ini, Amel Aryanti yang biasa di sapa Amel, masuk chatnya di Group WhatsApp tepat pukul 19.30 saat itu hari Rabu malam, Assalamualaikum “Pak kapan sekolah?” Tanya Amel, serentak group ribut dengan goyongan anak-anak yang lain, saya berpikir, anak kelas 5 sudah bisa menggunakan WhatsApp, benar-benar anak milenial, mereka lahir dijaman teknologi, wajar kalau mereka sudah melek teknologi karena di masa mereka memang saat ini, kehidupan manusia dengan teknologi. seraya saya menjawab secara tiba-tiba “Banyak berdoa anak-anakku sekalian, semoga dalam dekat-dekat ini, wabah yang sedang melanda, bisa segera hilang, kita berharap bersama semoga awal semester genap yang akan datang, bisa masuk belajar tatap muka dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, yakni pakai masker, jaga jarak dan tetap jaga imun, dan rajin cuci tangan tentunya, ini sekarang sudah menunjukkan penurunan yang tertular sekarang-sekarang ini”. Airah “Iye pak, mau sekalimaki sekolah, beda rasanya belajar dengan ada guru di dekat kita dengan belajar lewat HP seperti ini”, “Sabar nak, tetap harus semangat di masa pandemi ini, kalian dilatih untuk sabar, dan lebih banyak bersama Ayah dan Ibu di rumah, kalian lebih punya banyak waktu bersama mereka, jadi syukuri ya, yang penting anak-anakku sekalian sehat”. Anak-anakku sekalian “Sekarang masih suasana pandemi, sudah hampir 1,5 tahun kita belajar dari rumah, meski telah ada beberapa langkah yang dilakukan untuk membuat anak didik tidak jenuh di rumah dengan melakukan pembelajaran luring yakni pembelajaran tatap muka yang di bagi menjadi beberapa kelompok kecil yang dilakukan baik di tempat terbuka seperti di bawah pohon atau mengunjungi salah rumah anak didik yang di sepakati, ini menjadi salah satu penawar dari kebosanan anak didik tersebut, mereka melakukan proses belajar meski dalam kondisi model lain tapi minimal ini bisa membuat suasana belajar menjadi pembeda.”

    Saat proses pembelajaran luring, saat itu hari kamis, 24 September 2021, di salah satu rumah anak didik, ini menjawab kebosanan mereka yang lebih banyak belajar di rumah, saat materi saya sudah sampaikan di hadapan mereka, saat itu berjumlah 10 orang, terbayang dipikiran saya untuk menyampaikan beberapa informasi mengenai Covid-19, (sebagai guru saya merasa bertanggung jawab untuk menyampaikan informasi-informasi kekinian yang saya tahu, ini semata-mata juga ikut andil dalam membantu pemerintah dalam memutus rantai penularan Covid-19). “Pandemi ini mengajarkan banyak hal kepada kita, terutama dari segi kebersihan dan perlunya menjaga kesehatan agar tubuh kita tetap memiliki performa terbaiknya, ada tradisi-tradisi baru yang harus dilakukan dan terkesan wajib karena ini salah satu faktor pendukung sekaligus membantu pemerintah dalam memutus rantai penyebaran virus corona atau lebih di kenal dengan sebutan Covid-19, dimana virus ini lebih awal berasal dari Wu-han salah satu propinsi yang ada di Negara Cina”, tiba-tiba, salah seorang siswa berteriak, “Pak, saya tidak takut lagi sama Covid-19” ujarnya, kemudian pandanganku kuarahkan ke muka anak tersebut, ternyata itu Airah, sembari menanggapi pintanya “kenapa Airah tidak takut?” dengan senyum khas anak kecil, “karena kita kan telah mengetahui cara memutus rantai penyebarannya pak, kan Bapak sudah sampaikan tadi”. Sembari tersenyum simpul kukatakan (untuk menguatkan pendapat Airah) “Anak-anakku sekalian Airah betul, bahwa kita tidak perlu khawatir lagi dengan adanya virus korona, kita harus belajar hidup berdampingan dengan virus korona, asalkan kita mematuhi aturan yang dibuat oleh pemerintah, maka Bapak yakin kalian akan selalu terhindar dari penularannya” Sembari saya mengeluarkan Handsanitizer dari dalam kantong dan langsung menyemprotkannya ke tangan saya, “Pak apa itu? Ujar Hilman, Eka tiba-tiba menjawab (salah satu anak dikelasnya yang punya badan besar) “itu adalah salah satu cairan yang bisa membantu membunuh virus corona”, dengan tersenyum saya menambahkan “benar yang dikatakan Eka anak-anakku sekalian bahwa Hangsanitizer itu adalah salah satu cairan yang bisa membunuh virus dan dianjurkan untuk selalu membawa kemanapun kita pergi, agar supaya setelah kita memegang benda, kita langsung menyemprotkan hangsanitizer tersebut ke tangan.”

    Motivasi berasal dari bahasa Latin "movere", yang berarti menggerakkan. Menurut Weiner (1990) motivasi didefenisikan sebagai kondisi internal yang membangkitkan kita untuk bertindak, mendorong kita mencapai tujuan tertentu, dan membuat kita tetap tertarik dalam kegiatan tertentu. Menurut Uno (2007), motivasi dapat diartikan sebagai dorongan internal dan eksternal dalam diri seseorang yang diindikasikan dengan adanya hasrat dan minat, dorongan dan kebutuhan, harapan dan cita-cita, penghargaan, dan penghormatan. Sedangkan Imron (1966) menjelaskan bahwa motivasi berasal dari bahasa Inggris "motivation" yang berarti dorongan atau pengalasan untuk melakukan suatu aktivitas hingga mencapai tujuan. Dari serangkain pengertian para ahli di atas, maka dapat saya simpulkan bahwa motivasi adalah sesuatu alasan yang mendorong seseorang untuk melakukan; menyelesaikan; menghentikan; dan sebagainya yang dimana suatu aktivitas guna mencapai tujuan tertentu yang diinginkan dari motivasi tersebut.

    1. Motivasi Intrinsik

    Motivasi Intrisnsik adalah motivasi dari dalam, dimana keinginan besar itu didorong dari dalam, keikhlasan hati, kesabaran akan menjadi modal utama dalam menumbuhkan motivasi tersebut, mengenang dimasa lalu, saat merasa terpuruk di suatu masa, itu akan menjadi pendorong untuk tidak mengulangi masa keterpurukan di masa lalu, dan akan menjadi lebih baik kedepannya. Tahukah bahwa suatu kesuksesan itu adalah hasil karya yang kita lakukan, saat suatu percobaan yang kesekian kalinya tidak berhasil dan kita melakukan terus menerus akhirnya berhasil, maka itu juga kesuksesan, meski ada yang mengatakan kegagalan itu adalah kesuksesan yang tertunda, bagi saya kesuksesan itu adalah setiap apa yang kita lakukan meski tidak mencapai target tujuan dan itu telah berproses maka itu adalah kesuksesan.

    1. Motivasi Ekstrinsik

    Tahukah bahwa Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita sekarang adalah seorang pengusaha “Gojek” Mas Nadiem Makarim sukses dan menjadi Menteri. dari beberapa situs yang saya baca, bahwa kiat-kiat suksenyanya adalah karena beberapa hal yang dilakukan beliau yakni: 1. Peka pada Lingkungan Sekitar, 2. Sabar saat merangkap dari nol, 3. Senam belajar, 4. Mengfokuskan diri pada solusi bukan janji.

    Ikuti tulisan menarik Muh. Asfar H. Ali lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.