Merdeka Belajar ala Covid-19 - Analisis - www.indonesiana.id
x

Basuki Poejangga

Belajar Menulis
Bergabung Sejak: 23 November 2021

Minggu, 28 November 2021 15:08 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Merdeka Belajar ala Covid-19


    Dibaca : 427 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kalimat “Merdeka Belajar” sontak menjadi ramai di kalangan pemerhati Pendidikan Ketika kalimat tersebut hadir dari seorang Menteri Pendidikan Kabinet Indonesia Maju (KIM) Bapak Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A.

    Berbagai opini muncul menyingkapi kalimat “Meredeka Belajar”, bermacam argumen hadir mengupas tentang kalimat “Merdeka Belajar”. Pro Kontra mengiringi perjalanan gagasan Mas Menteri (Sapaan Akrab Pak Menteri Pendidikan) bahkan ada yang ragu akan kredibilitas seoarang Nadiem Makarim, Ya, mungkin karena latar belakang Nadiem Makarim yang sebagai “Bos” Gojek sebuah perusahaan transportasi dan penyedia jasa berbasis Daring yang notabenenya jauh dari kata “Pendidikan”.

    Menarik jika kita fahami dan kaji lebih dalam maksud dari kalimat “Merdeka Belajar” ini. Bukan tanpa alasan Mas Menteri menorehkan prasasti kalimat “Merdeka Belajar”, banyak pertimbangan yang menjadi dasar terciptanya kalimat “Merdeka Belajar”. Banyaknya tagihan yang harus di penuhi oleh pendidik (guru) yang berbanding terbalik dengan peningkatan Pendidikan itu sendiri sehingga tercipta asumsi dalam memenuhi tagihan yang harus di kerjakan guru lebih menyita waktu daripada memberi pembelajaran kepada siswa di kelas, sehingga kelas banyak yang di tinggalkan oleh guru dengan dalil memenuhi kewajiban ke administrasian proses pembelajaran.

    Kemudian, Mas Menteri juga menyoroti para siswa yang masih di bebani secara mental dengan angka-angka nilai minimal dari hasil proses akhir pembelajaran,mau tidak mau siswa di tuntut untuk mencapai atau bahkan melewati angka minimal yang telah di tentukan oleh satuan Pendidikan maupun yang telah di tentukan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Tidak sedikit siswa yang frustasi dengan keadaan ini, bahkan banyak beredar di media televisi, media massa siswa yang bunuh diri hanya di karenakan tidak lulus akibat tidak mampu mencapai angka minimal yang telah di tentukan.

    Paling tidak kedua hal itulah yang membuat Mas Menteri mencetuskan kalimat “Merdeka Belajar”,dengan harapan dalam Pendidikan Indonesia ini dapat berjalan dengan guru happy tanpa tekanan wajib mempersiapkan bertumpuk-tumpuk administrasi pembelajaran dan siswa juga happy tanpa di tuntut batas minimal angka dari akhir proses pembelajaran.

    Namun sayang “belum kering” kalimat “Merdeka Belajar” itu di ucapkan, cobaan besar melanda Negeri kita bahkan Dunia. Coronavirus disease 2019 atau lebih akrab di sebut Covid 19. Sungguh luar biasa Covid 19 ini mampu melumpuhkan tatanan kehidupan di seantero dunia tidak terkecuali negara tercinta Indonesia. Serangan covid 19 mempora porandakan system kenegaraan kita, segala bidang lumpuh total,hingga harus ada perombakan kebijakan yang harus di lakukan.

    Tanpa terkecuali, dunia Pendidikan kita. Yang pada awalnya sudah tersusun rapi, sudah tergambar kemudahan-kemudahan dalam aplikasinya, sudah disambut dengan senyum yang sumringah oleh kalangan pendidik dan peserta didik dan tinggal tunggu “BOOM”nya, semua seolah sirna, semua program harus berubah mengikuti seleksi alam yang sedang terjadi.

    Ya,Covid 19 telah merubah secara signifikan tujuan dari kalimat “Mereka Belajar”. Walau Mas Menteri seolah “banting stir” merubah kebijakan namun di lapangan terjadi “tragedi” permaalahn secara majemuk, dari system pembelajarannya, dari kesiapan pengajarnya sampai pada peserta didik dan orangtuanya

    Kalimat sakti “Merdeka Belajar” yang diharapkan oleh pelaku dunia Pendidikan seolah tidak mampu memberi setetes embun kegersangan mereka selama ini, justru dengan adanya covid 19 Kalimat “Merdeka Belajar” menajdi belengggu tersendiri bagi guru dan peserta didik bahkan orangtua siswa.

    Guru yang belum siap bermanuver dalam proses pembelajaran, beban psikisnya lebih berat dari sebelumnya. Ya, factor Usia yang menjadi alasan ter”sakti” untuk menghindari proses pembelajaran yang di sarankan pemerintah. Dengan usia yang sudah tidak muda lagi menjadikan mereka sulit untuk mempelajari dunia IT yang memang saat ini sangat di butuhkan dalam proses pembelajaran era Covid 19.

    Tidak hanya pada guru sebagai pengajar, peserta didik juga mengalami depresi yang cukup menjadi perhatian bersama, di tingkat menengah mereka yang belajar secara daring harus mencari titik signal yang tepat untuk mengikuti proses pembelajaran secara daring. Bagi mereka yang melakukan pembelajaran secara system luring, terutama di tingkat dasar, siswa dan orang tua terbebani dengan banyaknya tugas yang di berikan oleh guru, karena tugas yang bebankan sudah mencakup seluruh matapelajaran sesuai tema untuk 1 minggu.

    Persoalan-persoalan di atas timbul karena system Pendidikan kita sedang “sakit” terkena dampak Covid 19.

    Walau kalimat “Merdeka Belajar” untuk saat ini belum dapat dirasakan, namun pemerintah melalui Mas Meteri sedang atau bahkan sedang mengembangkan kurikulum darurat yang akan di jadikan jembatan yang menghubungkan pengajar dan peserta didik agar lebih maksimal dan mengurangi persoalan-persoalan yang timbul di dalam proses pemebajaran di era covid 19 ini. 

    Ikuti tulisan menarik Basuki Poejangga lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.