Implementasi Merdeka Belajar Melalui Pembelajaran Daring Berdiferensiasi Pada Masa Pandemi Covid-19 - Analisis - www.indonesiana.id
x

Tri Harjanto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 November 2021

Minggu, 28 November 2021 16:46 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Implementasi Merdeka Belajar Melalui Pembelajaran Daring Berdiferensiasi Pada Masa Pandemi Covid-19

    Guru dituntut untuk semakin kreatif dan inovatif dalam upaya untuk mewujudkan merdeka belajar terlebih pembelajaran melalui daring karena masih dalam suasana pandemi Covid-19. Upaya mengimplementasikan merdeka belajar pada mata pelajaran Biologi SMA Kelas X, diterapkan melalui strategi pembelajaran daring berdiferensiasi pada pokok bahasan tentang virus. Pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Untuk menentukan kebutuhan murid, guru harus memetakan kebutuhan belajar murid melalui kesiapan belajar (readiness) murid, minat murid dan profil belajar murid. Strategi pembelajaran berdiferensiasi terdiri dari diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk. Pada masa pandemi Covi-19 pembelajaran yang menarik, menantang, kolaboratif, komunikatif harus tetap berjalan. Upaya mewujudkan hal tersebut digunakan google meet sebagai media pembelajaran. Pada pembelajaran ini murid mendengarkan penjelasan seolah-olah bertemu di kelas, masih ada interaksi, umpan balik, diskusi dan unjuk karya produk hasil pembelajaran. Pembelajaran juga didasarkan pada minat yang dipetakan oleh guru sebelumnya, sehingga guru sudah mengetahui minat murid terhadap apa yang akan dipelajari saat itu. Pembelajaran dilaksanakan berdasarkan RPP pembelajaran berdiferensiasi yang telah dibuat sebelumnya oleh guru. Pokok bahasan pembelajaran adalah Virus, dengan kompetensi dasar 4.4 melakukan kampanye tentang bahaya virus dalam kehidupan terutama bahaya AIDS berdasarkan tingkat virulensinya melalui berbagai media informasi. Strategi pada tahap diferensiasi konten, murid bebas memilih virus yang menjadi target materi. Diferensiasi proses, murid yang tersebar dalam kelompok yang belum memahami materi, guru akan memberikan pembimbingan individual atau meminta teman satu kelompoknya yang sudah paham untuk membantu menjadi tutor sebaya atau mencari sumber belajar lain. Tahap selanjutnya adalah diferensiasi produk, dalam menyajikan proyek setiap kelompok bisa membuat dalam bentuk PPT, poster atau video sebagai media presentasi kampanye yang diunggah ke you tube. Pada pembelajaran daring berdiferensiasi ini, muird-murid terlihat merdeka belajarnya, hal ini dapat dilihat dari antusias, ketepatan menggunggah tugas, kemampuan diskusi, variasi produk dan sumber belajar yang dipakai. Pembelajaran berdiferensiasi mampu membantu murid mencapai hasil belajar optimal, karena produk yang mereka hasilkan sesuai minatnya.

    Dibaca : 190 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pendahuluan

    Sistem pengajaran yang sering terjadi dan saat ini juga masih dirasakan adalah sistem pembelajaran dengan guru yang berceramah di depan kelas, sehingga sering menimbulkan kejenuhan. Selain itu, guru dalam pembelajaran di kelas masih banyak yang menerapkan teacher center, guru yang memegang kendali pembelajaran tanpa memperhatikan minat dan potensi serta gaya belajar di kelas.  Hal ini selain menimbulkan kejenuhan juga dapat menimbulkan jarak antara murid yang pandai dengan yang biasa saja, murid yang aktif dengan yang pasif.

    Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim meluncurkan gerakan “Merdeka Belajar”, yaitu kemerdekaan dalam berpikir. Tujuan merdeka belajar ialah agar para guru murid serta orang tua bisa mendapatkan suasana yang menyenangkan (Media Indonesia, 2019). Diharapkan dari merdeka belajar, guru dan murid dapat merdeka dalam berpikir sehingga hal ini dapat diimplementasikan dalam inovasi guru dalam menyampaikan materi kepada murid, tidak hanya itu murid juga dimudahkan dalam merdeka belajar karena murid dimudahkan dalam berinovasi dan kreativitas dalam belajar. Lebih lanjut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam pidatonya memperingati Hari Guru Nasional (Direktorat Jenderal Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, 2019) menjelaskan konsep “Merdeka Belajar”, yang merupakan kebebasan berpikir dan kebebasan berinovasi. Esensi utama kemerdekaan berpikir, yaitu berada pada pendidik. Tanpa terjadi pada pendidik, maka tidak mungkin terjadi pada murid. Selama ini, murid belajar di dalam kelas, di tahun-tahun mendatang murid dapat belajar di luar kelas atau outing class sehingga murid dapat berdiskusi dengan guru tidak hanya mendengarkan ceramah dari guru, namun mendorong murid menjadi lebih berani tampil di depan umum, cerdik dalam bergaul, kreatif, dan inovatif. Merdeka belajar memfokuskan pada kebebasan untuk belajar dengan mandiri dan kreatif. Guru juga diharapkan menjadi penggerak untuk mengambil tindakan yang muaranya memberikan hal yang terbaik untuk peserta didik, serta guru diharapkan mengutamakan murid di atas kepentingan karirnya.  (Ainia, 2020). 

    Konsep merdeka belajar tersebut juga sejalan dengan Ki Hadjar Dewantara yaitu "Maksud pendidikan yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat." Adanya konsep gerakan merdeka belajar ini akan mendorong sistem pendidikan di Indonesia menjadi lebih menyenangkan. Harapan dengan diterapkannya merdeka belajar dapat membentuk pelajar yang berbudi luhur, kompeten, dan siap untuk terjun di masyarakat sesuai dengan bidangnya.  Merdeka Belajar menjadi salah satu program untuk menciptakan suasana belajar di sekolah yang bahagia suasana yang happy, bahagia bagi peserta didik maupun para guru.

    Para guru dituntut untuk semakin kreatif dan inovatif dalam upaya untuk mewujudkan merdeka belajar sesuai dengan kemampuan dan mata pelajaran yang diampunya terlebih pembelajaran melalui daring karena masih dalam suasana pandemi Covid-19.   Kemampuan guru dalam berproses di dalam kelas inilah yang sangat menentukan merdeka belajar murid di sekolah.  Oleh karena itu dalam upaya mengimplementasikan merdeka belajar pada mata pelajaran Biologi SMA Kelas X, saya menerapkan strategi pembelajaran daring berdiferensiasi pada pokok bahasan tentang virus.

    Pembelajaran Berdiferensiasi

    Menurut Tomlinson (2000), pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid.  Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah berarti bahwa guru harus mengajar dengan 32 cara yang berbeda untuk mengajar 32 orang murid. Bukan pula berarti bahwa guru harus memperbanyak jumlah soal untuk murid yang lebih cepat bekerja dibandingkan yang lain. Pembelajaran berdiferensiasi juga bukan berarti guru harus mengelompokkan yang pintar dengan yang pintar dan yang kurang dengan yang kurang. Bukan pula memberikan tugas yang berbeda untuk setiap anak. Pembelajaran berdiferensiasi  merupakan proses siklus mencari tahu tentang murid dan merespons belajarnya berdasarkan perbedaan. Ketika guru terus belajar tentang keberagaman muridnya, maka pembelajaran yang profesional, efesien, dan efektif akan terwujud.  Pembelajaran berdiferensiasi merupakan penyesuaian terhadap minat, preferensi belajar, kesiapan murid agar tercapai peningkatan hasil belajar. Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah pembelajaran yang diindividualkan. Namun, lebih cenderung kepada pembelajaran yang mengakomodir kekuatan dan kebutuhan belajar murid dengan strategi pembelajaran yang independen. (Marlina, 2019).  Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah sebuah proses pembelajaran yang semrawut (chaotic). Tomlinson (2001) lebih lanjut menjelaskan bahwa dalam menentukan kebutuhan murid, guru harus memetakan kebutuhan belajar murid melalui kesiapan belajar (readiness) murid, minat murid dan profil belajar murid. 

    Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi baru. Sebuah tugas yang mempertimbangkan tingkat kesiapan murid akan membawa murid keluar dari zona nyaman mereka, namun dengan lingkungan belajar yang tepat dan dukungan yang memadai, mereka tetap dapat menguasai materi baru tersebut. Kesiapan belajar murid bukanlah tentang tingkat intelektualitas (IQ). Hal ini lebih kepada informasi tentang apakah pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki murid saat ini, sesuai dengan keterampilan atau pengetahuan baru yang akan diajarkan.  Minat adalah salah satu motivator penting bagi murid untuk dapat ‘terlibat aktif’ dalam proses pembelajaran.  Pembelajaran dilakukan sesuai dengan minat murid akan membuat pembelajaran semakin bermakna dan merdeka dalam belajar.  Tomlinson (2001) menambahkan bahwa mempertimbangkan minat murid dalam merancang pembelajaran memiliki tujuan antara lain menggunakan keterampilan atau ide yang familiar bagi murid sebagai jembatan untuk mempelajari ide atau keterampilan yang kurang familiar atau baru bagi mereka, dan meningkatkan motivasi murid untuk belajar.  Pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil belajar adalah untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara natural dan efisien.  Guru sebaiknya memiliki kesadaran tentang profil belajar agar dapat memvariasikan metode dan pendekatan. 

    Strategi pembelajaran berdiferensiasi ada tiga yaitu: diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk.  1) diferensiasi konten. Berhubungan dengan apa yang diajarkan pada murid dengan mempertimbangkan pemetaan kebutuhan belajar murid baik itu dalam aspek kesiapan belajar, aspek minat murid dan aspek profil belajar murid atau kombinasi dari ketiganya. 2) diferensiasi proses. Guru perlu memahami apakah murid akan belajar secara berkelompok atau mandiri. Guru menetapkan jumlah bantuan yang akan diberikan pada murid-murid. Siapa sajakah murid yang membutuhkan bantuan dan siapa sajakah murid yang membutuhkan pertanyaan pemandu yang selanjutnya dapat belajar secara mandiri. Semua hal tersebut harus dipertimbangkan dalam skenario pembelajaran yang akan dirancang, 3) diferensiasi produk.  Produk adalah hasil unjuk kerja yang harus ditunjukan pada guru yang ada wujudnya bisa berbentuk karangan, tulisan, hasil tes, pertunjukan, presentasi, pidato, rekaman, diagram, dan sebagainya. Produk ini harus mencerminkan pemahaman murid yang berhubungan dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan.

    Merdeka Belajar Dalam Pembelajaran Daring Berdiferensiasi pada Mata Pelajaran Biologi

    Pada masa pandemi Covid-19 pembelajaran yang menarik, menantang, kolaboratif, komunikatif  harus tetap berjalan.  Upaya mewujudkan hal tersebut saya menggunakan google meet https://meet.google.com/rxm-apqh-hes?pli=1&authuser=1 sebagai media ruang pembelajaran.  Pada skenario pembelajaran ini murid tidak hanya mendengarkan atau menyimak penjelasan dari guru, bukan pembelajaran satu arah.  Kami dalam pembelajaran ini seolah-olah bertemu di kelas, masih ada interaksi, umpan balik, diskusi dan unjuk karya produk hasil pembelajaran. Tidak hanya itu, pembelajaran juga didasarkan pada minat dengan pemetaan minat dilakukan oleh guru sebelum pembelajaran daring dilakukan, sehingga saat pembelajaran sinkron, guru sudah mengetahui minat murid terhadap apa yang akan dipelajari saat itu.  Pembahasan lebih lanjut tentang skenario pembelajaran daring berdiferensiasi disajikan berikut ini.

    Pembelajaran daring berdiferensiasi dilaksanakan berdasarkan  RPP pembelajaran berdiferensiasi yang telah dibuat sebelumnya oleh guru.  Pokok bahasan pembelajaran adalah Virus, dengan kompetensi dasar 3.4 menganalisis struktur dan replikasi, serta peran virus dalam aspek kesehatan masyarakat dan 4.4 melakukan kampanye  tentang bahaya virus dalam kehidupan terutama bahaya AIDS berdasarkan tingkat virulensinya melalui berbagai media informasi.  Pada H-1 guru mengirimkan link pemetaan minat murid melalui google form https://forms.gle/8BBfBKKxsHWKs7F2A yang dikirim di WA grup kelas, saat itu juga guru memastikan semua murid sudah mengisi form sebelum pembelajaran dilakukan.  Pada saat pembelajaran sinkron guru sudah mengetahui hasil pemetaan minat semua murid.

    Pembelajaran daring diawali dengan mengucapkan salam dan doa serta mengecek kehadiran murid.  Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilakukan kemudian sebagai langkah memetakan kebutuhan murid dalam yaitu kesiapan belajar (readiness) belajar,  guru menanyakan materi pembelajaran pada pertemuan sebelumnya tentang ciri-ciri, bentuk dan struktur virus.  Jika murid banyak yang menjawab umpan balik dengan benar, ini menandakan bahwa murid telah siap untuk belajar.  Tahap selanjutmya guru mengumumkan hasil pemetaan belajar yang sudah dikirimkan sebelum pembelajaran.  Pada kegiatan yang akan dilakukan yaitu KD 4.4, media yang diminati oleh murid untuk menyampaikan kampanye pencegahan penyakit akibat virus yaitu PPT 17 murid, Video 9 murid dan Poster 9 murid.  Guru kemudian membagi masing-masing kelompok peminatan menjadi sub kelompok lagi, hal ini dimaksudkan untuk lebih memaksimalkan kinerja individu dalam kelompoknya. Akhirnya diperoleh kelompok poster dan video masing-masing ada 2 sub kelompok dan kelompok PPT ada 3 sub kelompok.

    Kegiatan inti dapat dilakukan antara lain, guru untuk mengemukakan bahaya virus bagi kehidupan  dan prosedur proyek yang akan dilaksanakan.  Setiap kelompok diminta untuk bebas merancang cara pencegahan, himbauan dan atau penanggulangan penyakit karena virus melalui diskusi asinkron di WA chat, google meet maupun media lain.  Kegiatan diskusi setiap kelompok ini dibuktikan dengan tangkapan layar dan dikirimkan ke WA guru untuk memantau jalannya diskusi kelompok.  Gurupun juga mengirimkan balasan umpan balik di WA chat.  Strategi pembelajaran berdiferensiasi pada tahap diferensiasi konten, murid bebas memilih virus yang menjadi target materi kampanye pencegahan penyakit akibat virus, sedangkan pada diferensiasi proses, murid yang tersebar dalam kelompok yang belum memahami pencegahan, himbauan dan atau penanggulangan penyakit karena virus, guru akan memberikan pembimbingan individual atau meminta teman satu kelompoknya yang sudah paham untuk membantu menjadi tutor sebaya atau mencari sumber belajar lain melalui jurnal, pustaka dan you tube. Tahap selanjutnya adalah diferensiasi produk, dalam menyajikan proyek setiap kelompok bisa membuat dalam bentuk PPT, poster atau video sebagai media presentasi pencegahan, himbauan dan atau penanggulangan penyakit karena virus dan diunggah ke you tube.  Pembelajaran daring ditutup guru bersama dengan murid membuat kesimpulan, melakukan refleksi pembelajaran dengan mendengarkan umpan balik murid.  Beberapa refleksi dari murid mengemukakan bahwa mereka lebih mengenal virus, adanya penugasan ini membuatnya memiliki jiwa informatif dan mengasah kreatifitas dalam menyusun media kampanye pencegahan penyakit akibat virus serta melatih kerja sama antar inidividu.  Guru selanjutmya menyampaikan materi pembelajaran pada pertemuan selanjutnya.  Pembelajaran daring ditutup dengan doa dan salam. 

    Penilaian pada proses pembelajaran yang dilakukan meliputi penilaian sikap spiritual dan sosial, penilaian pengetahuan dan penilaian keterampilan.  Sikap spiritual yang dinilai antara lain  “Saya merasa yakin akan keagungan Tuhan setelah mempelajari virus, Saya berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan belajar virus dan Saya mengucapkan rasa syukur atas limpahan kehidupan di bumi yang diberikan Tuhan”.  Skor untuk masing-masing dengan skala 1-4 dengan kriteria penilaian 10-12 (sangat baik), 7-9 (baik), 4-6 (cukup) dan 1-3 (kurang).  Sikap sosial yang dinilai meliputi kerja sama, tanggung jawab, bernalar kritis dan disiplin.  Skor untuk masing-masing dengan skala 1-4 dengan kriteria penilaian 13-16 (sangat baik), 9-12 (baik), 5-8 (cukup) dan 1-4 (kurang).  Aspek pengetahuan yang dinilai meliputi kemampuan menjelaskan faktor penyebab penyakit akibat virus, menunjukkan solusi pencegahan penyakit akibat virus dan menjelaskan dampak penyakit virus bagi masyarakat.  Skor untuk masing-masing dengan skala 1-4 dengan kriteria penilaian 10-12 (sangat baik), 7-9 (baik), 4-6 (cukup) dan 1-3 (kurang).  Penilaian keterampilan meliputi mampu melakukan presentasi pencegahan, himbauan dan atau penanggulangan penyakit karena virus, sistematika presentasi dan kreatifitas penyajian.  Skor untuk masing-masing dengan skala 1-4 dengan kriteria penilaian 10-12 (sangat baik), 7-9 (baik), 4-6 (cukup) dan 1-3 (kurang).  Masyarakat juga bisa menilai dan memberikan umpan balik di kolom komentar pada you tube sesuai hasil masing-masing kelompok.  Berikut hasil pembelajaran daring berdiferensiasi melalui merdeka belajar tentang virus.

    Tabel Hasil Produk Pembelajaran Berdiferensiasi

    Kelompok

    Nama Virus

    Penyakit

    Produk

    PPT 1

    HSV

    Herpes

    https://youtu.be/VYzM6ducvOc

    PPT 2

    HIV

    AIDS

    https://www.youtube.com/watch?v=kz_fr2oYNPk

    PPT 3

    Corona

    Covid-19

    https://youtu.be/vwRB5qpQA3k

    Poster 1

    Zika

    Demam Zika

    https://youtu.be/dWQHNtZbarQ

    Poster 2

    Influenza

    Flu

    https://youtu.be/f7jBPtY192o

    Video 1

    HSV

    Herpes

    https://youtu.be/D-dAagJd2S8

    Video 2

    Rhabdovirus

    Rabies

    https://youtu.be/LP_5l6kKOcI

     

    Pada pembelajaran daring berdiferensiasi ini, muird-murid terlihat merdeka belajarnya, hal ini dapat dilihat dari antusias, ketepatan menggunggah tugas, kemampuan diskusi, variasi produk dan sumber belajar yang dipakai.  Berdasarkan pengamatan hasil unggahan masing-masing kelompok di you tube, pada umumnya mereka berproses dengan caranya sendiri, mereka bisa presentasi seperti reporter, menjelaskan materi kampanye seperti halnya seorang nara sumber, hasil unggahan juga variatif tanpa mengurangi isi materi.  Murid yang selama ini terlihat pasif, dalam kegiatan pembelajaran ini sudah tidak terlihat pasif lagi, ikut bicara saat paparan kampanye.  Ini membuktikan bahwa pembelajaran diferensisasi ini dapat menggerakkan semua lini yang dibutuhkan guru. 

    Pembelajaran berdiferensiasi ini akan mampu membantu murid mencapai hasil belajar optimal, karena produk yang mereka hasilkan sesuai minatnya.  Prinsip belajar yang relevan adalah belajar bagaimana belajar (learning how to learn), dikelas target pembelajaran bukan sekadar penguasaan materi, melainkan murid harus belajar juga bagaimana belajar (secara mandiri) untuk hal-hal lain. Ini bisa terjadi apabila dalam kegiatan pembelajaran murid telah dibiasakan untuk berpikir mandiri, berani berpendapat, dan berani bereksperimen, sehingga murid tidak merasa terkekang dan potensi kreativitasnya dapat tumbuh dengan sempurna.  Tugas guru adalah membimbing eksplorasi tersebut, guru akan berperan sebagai fasilitator, bukan diktator dan guru akan selalu menuntun bukan menuntut.

     

    Daftar Referensi

    Ainia, D.K.  2020.   Merdeka Belajar dalam Pandangan Ki Hadjar Dewantara dan Relevansinya bagi Pengembangan Pendidikan Karakter. Jurnal Filsafat Indonesia, Vol 3 No 3 Tahun 2020

    Direktorat Jenderal Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, 2019.  Pidato Mendikbud pada Upacara Bendera Peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2019. https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2019/11/pidato-mendikbud-pada-upacara-bendera-peringatan-hari-guru-nasional-tahun-2019. Diakses pada tanggal 25 November 2021

    Marlina.  2019.  Panduan Pelaksanaan Model Pembelajaran Berdiferensiasi Di Sekolah Inklusif. 

    Media Indonesia.  2019.  Merdeka Belajar Menuju Pendidikan Ideal.  Rabu, 18 Desember 2018.  https://mediaindonesia.com/humaniora/278427/merdeka-belajar-menuju-pendidikan-ideal.  Diakses pada tanggal 25 November 2021

    Nurbaini  dkk.  2020.  Buku Saku Merdeka Belajar.  Prinsip dan Implementasi Pada Jenjang Pendidikan SMA.  Kemdikbud RI.

    Rekaman proses merdeka belajar pembelajaran daring berdiferensiasi tentang virus:  https://drive.google.com/file/d/1YV3ncfQDYTzyze58NqwhpfhU0wnLODh5/view?usp=sharing

    Tomlinson, C. A. (2000). Differentiation of Instruction in the Elementary Grades. ERIC Digest. ERIC Clearinghouse on Elementary and Early Childhood Education.

    Tomlinson, C. A. (2001). How to Differentiated instruction in mixed-ability classrooms 2nd Ed). Alexandria, VA: ASCD.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.