Pengantin Corona 10 - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Hasil karya / Proyek Belajar Air Ilmu SMP Yayasan Pupuk Kaltim Bontang, Sepasang pengantin dari sampah Bohlam.

Kata Bu Retno

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 November 2021

Senin, 29 November 2021 10:30 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Pengantin Corona 10

    Sebuah cerpen tentang romansa kisah cinta seorang dokter di masa Corona. Baju APD tak mampu menghalanginya dari pusaran badai Corona justru di tanggal pernikahannya. Akhirnya janji suci pernikahan tak bisa dihalangi karena sebuah pernikahan yang sempurna di angka 10.

    Dibaca : 383 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

              Aku Embun, seorang dokter di RS swasta di Kota Taman ini.  Sebagai anak yang dilahirkan dan dibesarkan di tanah perantauan orang tuaku, pada akhirnya aku juga memilih kota ini sebagai tempat aku mengabdi setelah menyelesaikan profesi dokterku di Semarang. Satu hal yang tidak aku sangka adalah aku akan berada pada situasi fenomenal sepanjang sejarah manusia. Aku berada di tengah pusaran badai Pandemi Covid-19. Sebagai warga negara Indonesia, sebagai seorang dokter, aku bisa merasakan bagaimana sakitnya dunia ini sejak pertama kali berita tentang virus ini beredar dari Wuhan, Cina

               Virus ini akhirnya sampai juga di kota kecil kami yang tenang. Perlahan zona hijau menjadi kuning, oranye, hingga merah membara. Takut? Pasti ada karena aku manusia biasa, karena aku gadis yang masih lajang masih punya cita-cita menikah, karena masih banyak yang ingin aku lakukan dengan profesiku ini pada masyarakat. Berita kematian rekan-rekan seprofesi, nakes, dan masyarakat sangat menghkawatirkan.

                Baju APD yang selama ini hanya aku lihat di medsos akhirnya harus aku pakai. Bekerja dengan APD lengkap berlapis-lapis. Apalagi kami, para tenaga kesehatan harus bergerak cepat dan tepat. Jaga malam di IGD membuatku kelelahan karena banyak pasien datang dengan gejala covid yang butuh pertolongan medis.

                “Embun, sesibuk-sibuknya kamu, harus menyiapkan hari pentingmu,” kata Mama.

                “Iya, Mah. Tadi Mas Bara juga sudah menelpon. Jumlah undangan akan dikurangi. Hanya prosesi akad tanpa resepsi, tak perlu gedung, di rumah saja.  Menunggu Pandemi selesai juga entah kapan selesainya. Ada tanggal cantik juga tahun ini 10-10-2020,” kataku menjelaskan.

                “Iya, Bapak sama Mama setuju. Tinggal 3 bulan lagi kalau begitu. Yang penting acara akadnya hikmad dan lancar, soal resepsi bisa nanti saja semoga pandemi segera berlalu, aamiin,”kata Mama lagi.

                Sebelum mataku terpejam, aku masih membalas pesan WA Mas Bara yang sudah di ruang kerjanya. Mas Bara, lelaki yang hampir setahun aku kenal ini mantap menyatakan niat baiknya untuk melamar dan menikahiku. Lelaki yang tegas tanpa basa basi. Aku mantap menerima pinangannya karena dalam waktu singkat ia sudah menunjukkan kasih sayangnya dan keseriusannya. Mas Elbara Wanarimba datang tanpa sengaja. Aku kenal dari salah satu teman kerabatku di sebuah acara pernikahan kerabat. Jadilah akhirnya kami berkenalan lalu berlanjut hingga kini sudah merencanakan pernikahan.

                Tepat tanggal 9-9-2020, Mas Bara dan keluarga intinya datang. Satu bulan sebelum tanggal cantik yang bersejarah bagi kami. Acara lamaran sangat sederhana hanya keluarga inti dan kerabat dari ayah dan ibuku demikian juga keluarga Mas Bara. Hanya orang dewasa tanpa anak-anak.

                Setelah malam lamaran itu, aku belum memutuskan untuk cuti karena di tengah badai pandemi ini tenagaku juga masih dibutuhkan. Situasi belum membaik bahkan malah sebaliknya. Kota kami semakin membara di beberapa wilayah. Perusahaan tempat Bapak dan Mas El mengadakan PCR besar-besaran untuk deteksi lebih awal. Ayahku juga menunggu gilian. Sebuah penantian yang membuat kami berdebar.

                Seminggu menjelang pernikahan baru aku cuti. Semua persiapan nyaris sempurna. Dua hari sebelum tanggal 10-10-2020, rumahku mulai di dekorasi beberapa bagian. Sengaja 2 hari sebelum hari H sudah mulai dihias karena terbatasnya tenaga yang mengerjakan semata-mata memenuhi protokol Covid.

                “Embun!” suara teriakkan Mama mengangetkan aku, adikku, dan sepupuku yang ada di dalam kamar calon pengantin. Aku yang sedang mencoba kebaya pengantin putihku segera berlari ke luar kamar.

                “Kenapa, Ma?” tanyaku sambil mendekati.

                “Kita semua harus PCR juga, karena Bapakmu positif,” jawab Ibu.

                “Ya Allah, astagfirullah,” suara kami yang mendengarkan hampir bersamaan. Semuanya panik, kecuali aku yang hanya terdiam di kursi sofa. Seluruh persendianku seakan tak bertulang. Seakan-akan mau pingsan, bagaimana jika aku…

    Aku masih duduk melonggo tak percaya. Mama mengguncang-guncangkan tubuhku pelan, “Bun, Embun…kamu kuat ya, Nak,” suara Mamapelan sambil memegang kedua pipiku dan tatap mataku. Aku mengangguk pelan menahan tangisku.

    Akhirnya Aku, adikku, Ibu, Om, dan Tanteku melakukan PCR malam itu juga, dengan tak henti-hentinya berdoa. Mas Bara ternyata sudah mendapatkan informasi dari RS untuk melakukan PCR juga. Sesuai hasil tracing terhadap Bapak. Apa yang aku khawatirkan benar-benar terjadi. Satu hari menjelang pernikahan Bapak ,Ibu, aku, Tante dan Omku dinyatakan positif terpapar virus ini. Ya Allah, kami hanya berencana Engkaulah yang menentukan atas jalan hidup kami. Panik, takut, sedih bercampur menjadi satu.  Akhirnya aku menempati kamar RS sebagai pasien Covid-19. Aku dokter yang biasanya menangani pasien kita aku jadi pasien. Sementara Bapak dan Ibu menempati rumah isolasi yang disediakan perusahaan. Kondisiku drop. Badanku seperti kehilangan tenaga. Aku menangis di kamar perawatan ini. Besok harusnya aku menikah.

                Telepon Mas Bara yang membangkitkan semangatku.

                “Embun sayang, kuat, ya. Kamu harus kuat. Besok kita tetap menikah. Ahamdulillah aku negatif, adikmu juga. Aku sudah bicarakan dengan keluarga. Acara akad nikah besok tetap dilangsungkan. Ada adik Neo yang bisa menggantikan Bapak. Semua berjalan sesuai rencana, sayang,” suara Mas Bara sangat melegakan aku.

    “Tetaplah menjadi Embun yang bisa menyejukkan kita semua. Besok kita akan menikah. Embuh yang selalu menyejukkan Bara,” kembali suara diseberang telepon genggamku menguatkanku.

                Tanggal 10 bulan 10 tahun 2020 jam 10 pagi, di kamar 10 ruang perwatan Bogenvile, aku Putri Embun menjadi pengantin seorang diri di atas kasur rumah sakit. Bukan kebaya putih yang aku pakai, tanpa riasan, tanpa orang tua di sampingku. Hanya baju pasien berwarna hijau sebagai gaun pengantinku. Masih dengan tangan terinfus aku menyaksikan Mas Elbara dengan jas hitam, Bapak Penghulu, adikku Neo dan kerabat dekatku dan orang tua Mas Bara hadir di rumah yang sudah disiapkan dengan dekorasi putih. Tidak ada hiruk pikuk keramaian, suasana hikmad, sangat hikmad. Prosesi perikahan yang bukan seperti apa yang aku bayangkan ternyata harus aku jalani. Aku meyaksikan prosesi ijab qabul melalui layar laptop yang disiapkan perawat. Seorang perawat dengan APD lengkap menemaniku di kamar perawatan memberikan dukungan. Situasi yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Ada kebahagiaan, sedih, haru, dan sakit…Tetapi semua rasa itu tenggelam dalam rasa syukur dan bahagia yang jauh lebih besar. 

                Tepat jam 10 pagi itu, ditanggal yang sempurna, aku menyaksikan tahap demi tahap prosesi pernikahanku melalui layar kaca. Adikku Borneo Alamsyah , yang biasanya berpenamilan cuek dan selalu penuh canda, mendadak menjadi sangat dewasa dalam balutan stelan jas dan kopiah hitam. Dengan mantap ia menggenggam tangan Mas Elbara untuk menikahkan kami.

                “Saya terima nikahnya Putri Embun binti Ahmad Sudirjo dengan mas kawin sebentuk cincin Emas 10 gram dibayar tunai,” suara Mas Elbara tegas dalam satu kali napas.

                “Sah!” jawab saksi dengan tegas juga.

                Alhamdulillah, hanya kata-kata itu yang dapat aku ucapkan untuk semua peristiwa yang aku saksikan dari atas tempat tidur kamar pasien nomor 10. Angka yang sempurna bagiku karena Mas Bara kini telah menjadi suamiku. Aku belum dapat mencium tangan suamiku untuk pertama kalinya. Air mata bahagia deras sekali mengalir setelah ijab qabul itu. Mbak perawat dengan APD lengkap memelukku. Ditambah dengan sebuah lembar kertas besar yang berisi ucapan, “Selamat menempuh Hidup Baru, Bu Dokter,”

                Hari selanjutnya aku  menerima berbagai ucapan selamat dan dukungan melalui Hp ku. Yang paling pertama dan tidak pernah berhenti setiap menitnya adalah suamiku Mas Elbara. Semangat untuk sembuh semakin membara juga. Alhamdulillah 5 hari berikutnya kondisiku sudah stabil, tanpa infusan lagi. Aku diizinkan pindah ke rumah isolasi.

    Pagi-pagi setelah Subuh aku sudah berdandan rapi karena suamiku pasti akan datang menyapa sebelum ke kantor. Mas Bara datang membawakan setangkai bunga mawar merah segar dan sarapan pagi untukku. Yang menjadi romantis, aku hanya menerima Mas El di depan pintu, Mas El berdiri di teras halaman rumah. Kami seperti sepasang remaja yang jatuh cinta. Dengan malu-malu hanya menyapa dari kejauhan padahal di dadanya sudah membuncah kerinduan yang sudah hahal dapat diluapkan tetapi terhalang tembok virus ini. Kami masih harus bermasker dan berjarak. Rasanya aku ingin berlari memeluknye erat-erat, tetapi tidak bisa. 

                Akhirnya tes PCR yang ketiga aku dinyatakan negatif. Aku sujud syukur mendapatkan kabar itu. Momen yang sudah kami tunggu akhirnya tiba. Suami dan keluarga menjemputku pulang. Aku berdiri di dekat sofa menghadap ke jendela. Kakiku tak berani melangkah ke pintu.  Hatiku berdebar kencang. Ketika suara salam menyeruak masuk aku masih berdiri dengan tersenyum dengan perasaan tak terkira berusaha mengangkat kepalaku dengan kedua mataku yang menggenang air mata. Aku menjawab salam sudah dengan suara bergetar. Mas Bara gagah sekali di hadapanku tanpa masker berjalan menghampiriku, berdiri di hadapanku dengan buket bunga merah besar, dan kami langsung berpelukan. Erat, erat sekali….menumpahkan semua kerinduan yang lama terpendam. Sebuah pelukan pertama yang halal bagi kami. Nikmat sekali rasanya kebahagiaan ini  setelah sakit bertubi-tubi yang kami alami.

    Sebuah pernikahan dan kebahagiaan yang sempurna buatku Pengantin Corona 10. Sebuah angka sempurna, jam 10,tanggal 10, bulan 10, tahun 2020, 10 gram emas, dan di kamar RS nomor 10. Terima kasih Allah untuk sebuah pernikahanku yang sempurna. (Bontang, 232021- 21 thn Retno-Gamar).

     

                                                    Bio Data Penulis

    *Retno Utami,S.Pd. Guru Bahasa Indonesia SMP Yayasan Pupuk Kaltim. Seorang guru yang telah berkarya sebagai guru berprestasi nasional dan juga guru berjasa membimbing siswa lomba hingga nasional. Telah menulis beberapa judul artikel, puisi, dan buku. Publikasi karyanya dapat juga dilihat di akun youtube #kataburetno dan IG@makeno.

    Prestasi terakhir mendapatkan penghargaan dari PGRI Kota Botang dalam rangka HUT PGRI ke-75 dan HGN 2020 dan sebagai Guru Berprestasi di Yayasan Pupuk Kaltim tahun 2021. Dengan prestasi terakhir sebagai Juara ke-3 se-Kaltim dan Kaltara, Lomba Menulis Esai dalam Rangka Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh Kantor Bahasa Kaltim Tahun 2020.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.