Merdeka Belajar Menjadikan Guru dan Siswa Pembelajar - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Foto ini milik Heri Heryana berisi dua siswa yang sedang berdiksusi di kelas di SMP Vijaya Kusuma Bandung. Foto ini diambil pada menit-menit awal jam istirahat. Foto ini diambil pada tanggal 10 Februari 2017. Foto ini diambil menggunakan hape Samsung Galaxy J2 Prime. Siswa di foto ini ialah Dimas dan Alvia kelas VIII.

Heri Heryana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 27 November 2021

Senin, 29 November 2021 10:33 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Merdeka Belajar Menjadikan Guru dan Siswa Pembelajar

    Artikel ini berisi tentang pengalamana penulis mengajar di saat pandemi dengan memberikan tugas yang berbeda dari sebelumnya dan respon siswa memberikan respon yang melebihi harapan guru.

    Dibaca : 231 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Konsep merdeka belajar yang dicetuskan oleh Mendikbud Nadiem Makarin tujuannya adalah ingin memajukan pendidikan Indonesia dengan menggunakan segala upaya yang dimiliki. Setiap warga pendidikan bisa berperan aktif dalam merdeka belajar ini. Pemerintah, baik itu pemerintah pusat dan pemerintah daerah bisa menjadi bagian itu, sekolah-sekolah, guru-guru, murid-murid bisa menjadi bagian dari merdeka belajar.

    Cara-cara yang digunakan untuk merdeka belajar ini tujuannya agar siswa bisa berpikir kritis, menghasilkan karya dan berkomunikasi. Guru sebagai ujung tombak pendidikan harus bisa menjadi solusi agar siswa bisa berpikir kritis, berkarya dan berkomunikasi. Dalam pembelajaran bahasa Inggris penulis bertekad mengembalikan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi dengan konten yang ditentukan pada kompetensi dasar. Dalam proses berbahasa kita mengenal reseptif dan produktif. Dimana reseptif ialah kompetensi memahami suatu text dari bahasa baik lisan maupun tulisan, sedangkan produktif ialah kompetensi siswa agar mampu memproduksi teks baik berupa bahasa lisan maupun bahasa tulisan.

    Penulis melihat selama ini pembelajaran bahasa hanya perfokus kepada kemampuan reseptif dengan memahami teks tulis panjang atau pendek. Padahal berbahasa tidak cukup dengan memahami tek tulis saja. Beberapa guru ‘alegri’ terhadap teks lisan pendek. Mereka seakan tidak percaya diri untuk mengajarkan dan menghindari materi persebut. Padahal materi tersebut penting karena tertera dalam kompetensi dasar. Selain itu hal yang menyebabkan mereka ‘alergi’ dengan teks lisan fungsional pendek ialah karena materi tersebut tidak terdapat dalam Ujian Nasianl. Mungkin karena materi tersebut tidak terdapat dalam Ujian Nasioanl sehingga mereka ‘mencampakan’ materi tersebut dalam tidak terlalu memperdalamnya.

    Konsekuensinya siswa-siswa menjadi tidak percaya diri dengan kemampuan bahasa lisan mereka. Karena tidak percaya diri tersebut kemampuan mereka untuk berbahasa lisan dalam bahasa Inggris menjadi tidak berkembang.

    Melihat masalah tersebut penulis bertekad untuk mengembalikan pengajaran bahasa yang menyeluruh. Tidak hanya kepada kemampuan reseptif tetapi juga kemampuan produktif mereka dalam berbahasa Inggris. Pengalaman penulis ini sudah penulis lakukan sekitar tahun 2018 lalu. Dimana penulis melakukan pembelajaran dengan memberikan contoh kepada siswa dengan ucapan penulis dan pengucapan dari media video pembelajaran. Kemudian penulis juga melakukan asesmen bagaimana siswa tersebut mengucapkan kata, prasa atau kalimat pada saat pembelajaran dan setelah pembelajaran. Setelah ulangan tulis perkompetensi dasar, penulis juga mewawancarai siswa dengan bahasa Inggris untuk mengetahui sejauh mana kemampuan pengucapan mereka dalam bahasa Inggris. Sehingga ada dua nilai utama yakni nilai pengetahuan dan nilai keterampialan.

    Di masa pembelajaran saat pandemi sekarang ini, penulis tidak bisa melakukan pembelajaran dengan siswa sebagaimana kegiatan pembelajaran normal seperti biasa. Karena waktu pembelajaran yang dikurangi dan tentunya tidak bisa melakukan pembelajaran tatap muka. Akan tetapi penulis menyiasatinya dengan tidak memberikan ulangan harian/penilaian harian kepada siswa. Penulis mengambil nilai dari hasil tugas pembelajaran daring. Alasannya terkadang siswa hadir atau mengerjakan tugas pada saat pembelajaran daring namun tidak hadir saat ulangan harian/penilaian harian. Alasannya bisa karena sakit atau masalah jaringan atau perangkat. Sehingga penulis mengambil nilai dari tugas-tugas mereka. Tugas-tugas yang diberikan pun bersifat reseptif dan produktif. Misalkan pada materi ‘A’ di pertemuan kesatu, penulis memberikan materi pembelajaran dan memberikan tugas pengetahuan. Di pertemuan kedua, penulis memberikan materi pembelajaran dan memberikan tugas keterampian.

    Media pembelajaran daring yang penulis gunakan ialah Google Classroom. Materi pembelajaran biasanya penulis berikan menggunakan Google Site, Google Slide/Power Point, Google Doc/Word, PDF atau juga media pembelajaran video YouTube yang materinya penulis buat sendiri. Untuk tugas pengetahuan penulis biasa menggunakan Google Form dengan bentuk soal pilihan ganda atau essay pendek. Sedangkan untuk tugas keterampilan penulis biasanya meminta siswa untuk mengupload data di Google Form berupa foto, rekaman suara atau video.

    Penulis merasa sangat terkesan dengan siswa ketika di awal tahun ajaran baru ini penulis memberikan tugas untuk merekam percakapan mereka dalam bahasa Inggris menggunakan ekspresi tertentu, mereka bisa melakukannya melebihi harapan. Tidak hanya merekam suara percakapan bahasa Inggris, bahkan mereka bisa mempraktikan dan merekam video percakapan bahasa Inggris mereka dengan teman dan keluarganya. Bahkan beberapa siswa dengan semangat mempraktikan percakapan tersebut dengan ibunya. Beberapa siswa lagi mempraktikan percakapan meraka dengan mengunakan aplikasi video kreatif, sehingga tampak tampilan video yang menarik dan ikuti dengan tulisan yang hidup pada saat mereka berbicara. Penulis bahkan tidak tahu mereka menggunakan apliaksi apa.

    Penulis bertanya kepada beberapa siswa tersebut. Apa aplikasi yang mereka gunakan? Bagaimana cara mereka melakukannya? Serta berapa lama mereka membuat video percakapan bahasa Inggris tersebut? Ternyata mereka menggunakan aplikasi editing video yang ada di hape mereka. Mereka melakukan shooting, editing dan mareka memerlukan waktu untuk membuat video tersebut. Penulis pun setuju pasti membuat video kreatif itu memerlukan waktu yang cukup lama. Akan tetapi hasil kerja keras mereka membuat video pembelajaran tersebut membuahkan nilai yang sangat memuaskan.

    Dari para siswa tersebut penulis merasa harus juga ikut belajar kembali bagaimana bisa membuat dan meningkatkan kemampuan dalam membuat video pembelajaran yang bermanfaat bagi siswa. Merdeka belajar menjadikan guru dan siswa menjadi pembelajar.

    #BergerakDenganHati #DemiKemajuan



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.