Dekat dan Jauh - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Selasa, 30 November 2021 13:59 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Dekat dan Jauh

    Anak laki-laki yang tidak tahu siapa yang dekat dengannya dan siapa yang jauh darinya. Kebingungan itu terjawab setelah sesuatu terjadi di dalam keluarganya. Apakah itu? Apakah dia menemukan jawabannya? Apakah jawabannya itu merupakan keputusan yang benar?

    Dibaca : 507 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

               “Selamat pagi semuanya! Terima kasih telah datang di videoku! Aku harap kalian bahagia pada hari ini! Mari kita mulai video hari ini!” Aku sudah lama menunggu stream hari ini. Aku tidak akan terganggu oleh apa pun. “Ali! Makan malam! Ayo! Ayah juga sudah pulang! Ayo makan bersama!” Berisik sekali. Apakah harus selalu makan malam bersama? Aku harus mencari alasan. “Maaf ma, aku ada tugas. Batas pengumpulannya setengah jam lagi. Makan saja duluan!” Langkah ibuku terdengar menjauh. Waktunya menonton idolaku!

                Aku akhirnya tidak jadi makan pada malam itu. Kentang tipis dan minuman bersoda adalah sahabatku saat menonton idolaku. Dia terlihat cantik dan imut di video itu. Baiklah, waktunya bersemangat! Cari uang untuk donasi ke idola! Itu adalah motto hidupku! “Aku pergi dulu bu. Aku sarapan di luar saja.”, ujarku. Sarapan juga harus makan bersama? Aku tidak suka konsep itu. Apakah karena kita keluarga harus selalu makan bersama? Tidak perlu. Aku lebih suka makan sendiri apalagi ditemani dengan streaming dari si idola. Sesi makan yang lengkap dan bahagia.

                Aku melihat notifikasi dari smartphone dan melihat judul video yang memancing rasa penasaran. Idolaku akan streaming malam ini dan akan mengatakan sesuatu yang penting. Aku mencium cerita hidupnya. “Aku harus menontonnya apa pun caranya!” Semua orang di sekitarku melihatku dengan aneh. “Maaf.”, ujarku sambil keluar dari kelasku. Aku tidak ada waktu untuk berada di tempat tidak berguna ini. Aku perlu berada di stream itu demi masa depan yang lebih cerah. Mengapa begitu? Idolaku adalah tujuan hidupku, membahagiakan dia adalah tujuan hidupku. Kebahagiaan dia adalah yang membuatku tetap bekerja keras di hidup ini.

                Aku pulang dengan keadaan yang kacau. Keluargaku terlihat panik. Aku juga melihat streaming idolaku yang sudah mulai. Aku harus bergegas. “Nico! Ibu!” Teriakan adikku tetap membuatku tidak peduli, aku akan terlambat untuk melihat pembukaan dari idolaku. Idolaku atau Shina-chan, aku akhirnya bisa memanggilnya dengan itu. Aku telah memberikan dia donasi sebanyak satu juta. Jika dipikirkan, dedikasiku memang hebat. Aku pasti akan membahagiakanmu. Shina-chan memulai videonya dengan lagu pembukaan barunya. Adrenalinku terasa dipompa. Aku sangat menyukai nyanyiannya. Dia bercerita tentang rumahnya yang pernah terbakar. Dia akhirnya bekerja paruh waktu demi membantu kedua orang tuanya yang juga masih duduk di bangku SMA. Dia akhirnya bertemu dengan temannya yang juga streamer di Youtube. Aku sangat sedih mendengarnya sehingga aku kembali memberikan donasi sebesar lima ratus ribu rupiah. Aku harap dengan ini hidupnya dapat terbantu.

                Aku yang kehausan, pergi keluar kamar. Adrenalinku yang masih tinggi menyebabkan aku bercerita tentang niat baikku untuk membantu streamer favoritku. Aku tiba-tiba diterjang oleh adikku dan memukul wajahku sekali. “Kau memang abang yang tidak berguna!” Semua keluargaku juga melihatku dengan mata yang kecewa. “Apa yang kulakukan? Mengapa kalian menatapku seperti itu?” Semuanya hanya terdiam. “Dengar, ibumu sedang berada di rumah sakit! Kami di sini sedang mencari uang sepeser pun untuk bisa membiayainya! Lalu, lihatlah kau! Membanggakan dirimu yang memberikan uang ke orang yang bahkan tidak kau kenali!” Aku yang mendengar perkataan itu emosi dan kembali memukul adikku. “Kau tidak tahu betapa dia membantu hidupku! Aku sangat berterima kasih kepadanya! Aku yakin dia terbantu dengan uangku itu! Dia sangat membutuhkannya!” Teriakanku membuat amarah adikku semakin besar. Ayahku menahan tangannya. “Apakah ibumu tidak membutuhkannya?” Pertanyaan ayahku itu langsung membuatku terdiam. “Ayah bahkan tidak tahu kalau kau selama ini mempunyai uang. Apakah kau sudah bekerja?” Aku menggelengkan kepalaku. “Aku bekerja jadi penulis dan pelukis ilustrator.”, ujarku. Aku hanya ingin membahagiakan idolaku. Mengapa menjadi seperti ini? Dia selalu ada saat aku sedang kesusahan di sekolah. Keluargaku bahkan tidak pernah berada bersamaku saat hal itu terjadi. “Ayah, uang lombaku sudah bisa cair hari ini. Aku akan mengambilnya ke mesin ATM.”, ujar adik perempuanku. “Ayah akan ikut.”, ujar ayahku. Semua keluargaku pada akhirnya pergi meninggalkanku, seolah itu merupakan keputusan yang benar pada saat itu. Aku yang kembali memikirkan perkataanku tadi membuatku ingin memukul diriku sendiri. “Aku pasti terdengar seperti seorang bajingan ya.”, ujarku. Aku memang abang yang buruk. Aku bergegas melihat saldoku. Syukurlah, aku tidak mendonasikan semua pendapatanku bulan ini. “Apakah dua juta cukup membantu?” Aku berlari keluar rumah dan meninggalkan keraguanku.

                Aku melihat keluargaku yang berdebat dengan pihak rumah sakit. Mereka tetap tidak bisa langsung melaksanakan pengobatannya. Aku semakin membenci diriku sendiri. Ayahku yang kesusahan dengan keuangan, adikku yang menang perlombaan, dan kondisi kesehatan ibuku. Aku tidak tahu semua hal itu. Aku bahkan tidak tahu dengan adik laki-lakiku. “Maaf bu suster, apakah saya bisa membayar biayanya?!” Semua keluargaku heran. “Apa yang kau lakukan di sini, abang tidak berguna?!” Aku mengeluarkan dompetku dan memberikan dua juta itu kepada suster itu. “Apakah ini cukup?” Ayah dan adik-adikku terkejut melihatnya. Suster itu bergegas ke dalam. Pihak rumah sakit juga akhirnya melanjutkan pengobatan ibuku. Semua keluargaku bergegas masuk ke kamar ibu dirawat. Aku hanya melihat mereka dari belakang. “Lebih baik seperti ini. Aku tidak berhak ikut bersama mereka.”, ujarku sambil meninggalkan rumah sakit.

                Aku berjalan di pinggir jalan, seraya meratapi semua perbuatanku. Aku tetap menyalahkan keluargaku yang tidak membantuku saat masa kelam di SMA. Aku akhirnya tahu alasannya. Kesadaran akan hal itu membuatku semakin membenci diriku sendiri. Kesepian itu membuatku tidak dapat membedakan mereka yang dekat dan mereka yang jauh. Mereka yang jauh justru membantuku saat aku sedang terpuruk dan mereka yang dekat sibuk untuk memenuhi kebutuhan keluarga ini. Aku tidak tahu harus memilih yang mana, oleh karena itu aku memilih yang membuatku tidak kesepian waktu itu. Aku terlambat menyadari semua ini. Aku juga sudah terlambat untuk berada di sisi mereka lagi. “Aku malam ini tidur di mana ya?” Aku bahkan tidak memiliki teman dan kerabat keluarga yang dekat. Aku ternyata tidak memiliki orang yang dekat ya. “Sisa dua ratus ribu.”, ujarku sambil melihat saldoku. “Cukup untuk seminggu. Aku harus mencari pekerjaan baru.”, ujarku. “Untuk apa?” Aku melihat adikku yang berlari mengejarku. “Bang, kau mau pergi kemana?!” Aku salut melihatmu yang masih ingin mengajakku ke sana. Aku benci kepada diriku yang masih senang ingin pergi ke sana. “Abang mau nonton idola abang lagi. Pokoknya ibu sudah bisa berobat. Tugas abang sudah selesai.”, ujarku. Dia kembali menerjangku dan memegang erat kerah bajuku. “Tugas?! Tugasmu bukanlah itu! Tugasmu adalah duduk di samping keluargamu! Hanya itu saja! Mengapa kau tidak menyadari itu selama ini?!” Aku melepaskan genggamannya dengan paksa. “Apakah kau bodoh?! Aku tidak pernah memerhatikan kalian selama ini! Aku bahkan tidak peduli! Apakah aku masih bisa duduk di samping kalian setelah apa yang aku perbuat?! Tentu saja tidak! Sekarang, lepaskan aku!” Dia tetap berusaha untuk mengeraskan genggamannya. “Kau memang keras kepala! Aku memang belum memaafkanmu! Tetapi, berkat kaulah ibu dapat terobati. Sampai kapan kau berani untuk melihat kami!” Aku tidak menyangka kalau dinasehati seperti ini rasanya menyebalkan. Aku juga tidak menyangka dinasehati seperti ini rasanya tidak buruk juga. “Baiklah.”, ujarku. Kami akhirnya pergi bersama ke rumah sakit tanpa berbicara sedikit pun.

                Ibuku akhirnya selesai dioperasi. Dia kembali sadar dan disambut oleh keluarganya. Dia bahkan masih bisa menangis melihatku yang berdiri di pintu kamarnya. Kasih sayang ibu memang sepanjang masa ya. Kami akhirnya pulang bersama. Keesokan harinya, aku membulatkan keputusanku. Aku meninggalkan pesan di kamarku. Aku harap kalian membacanya denga pikiran yang jernih dan rasa kebencian kepadaku. “Percakapan kita di kamar rumah sakit itu membuatku terasa hangat. Aku merasa sangat senang waktu itu. Aku juga merasakan sebuah penyesalan. Aku merasa masih tidak berhak duduk bersama dengan kalian seperti ini. Aku selama ini menjadi anak yang buruk. Jika aku bisa, aku ingin menebusnya. Aku tidak tahu bagaimana, tetapi dengan tidak adanya kehadiranku di rumah kita mungkin akan membuat kalian lebih menjadi sebuah keluarga. Tenang saja, aku akan mengirimkan uang. Anggaplah itu sebagai tebusan kecil kesalahan dariku. Selamat tinggal!” Apakah aku akan dapat menebus semua kesalahanku? Aku harap aku segera mendapatkan jawabannya. “Apakah aku bisa bekerja sebagai editor Shina-chan? Wah, jika itu terjadi bakalan hebat sekali!” Aku melanjutkan perjalananku di pinggiran jalan yang diwarnai dengan matahari senja.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.