Benarkah Guru Makan Gaji Buta? - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

MAMA IDHA

IDHA KARYATI,S.Pd
Bergabung Sejak: 25 November 2021

Selasa, 30 November 2021 22:21 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Benarkah Guru Makan Gaji Buta?


    Dibaca : 510 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Tidak seorangpun yang tahu kapan berakhirnya pandemi Covid-19 ini. Namun yang kita harus yakin, bahwa apapun yang terjadi, visi misi sebagai seorang guru harus tetap berjalan  demi mencerdaskan anak bangsa.  Saya mengabdi sebagai ASN sudah 25 tahun 9 bulan. Masa pengabdian yang cukup lama dalam menempa jabatan dan karir. Bagi guru yang berusia 50 tahun biasanya sudah banyak yang enggan untuk mengikuti diklat, workshop, lomba, maupun kegiatan yang menunjang dalam pangajuan penetapan angka kredit. Namun saya makin “gila” dan  bersemangat mengikuti kegiatan yang diadakan oleh Dinas Pendidkan Jatim, bahkan event yang diselenggarakan oleh Kemendiksus juga saya ikuti. Berhasilkah...? Belum membawa hasil kemenangan.  Bagi orang lain mungkin sudah putus asa melihat kegagalan yang bertubi-tubi. Tapi jusru kegagalan tersebut memacu saya untuk berbenah diri memperbaiki segala bentuk kekurangan . Lomba yang saya ikuti  adalah lomba vedio kreatif  yang diselenggarakan Kemendiksus  dalam memperingati hari guru nasional 202. Namun sayang , unsur bedjo belum berpihak pada saya. Banyak event lomba  menulis artikel yang baru saja diselenggarakan  di Dinas Pendidikan Jatim . Selain itu juga ada lomba GCC (GTK Creative Camp) GTK Jatim. Semua kegiatan lomba belum mendapat kesempatan menang juga. Banyak orang membicarakan dibelakang saya tentang banyaknya kegiatan lomba yang saya ikuti. Saya tetap tenang. Yang penting saya tidak merugikan mereka dan siswa saya. Saya masih mengajar sesuai jadwal ,  rutin  kontrol PBM melalui google clasroom. Semua data materi baik e Modul, comik digital, tugas, daftar hadir  ada di google drive, sehingga saya tinggal melihat seberapa banyak siswa sudah mengerjakan tuas saya
      Jika ada waktu dan  kesempatan masuk secara terbatas, maka pertemuan digunakan untuk membahas kesulitan materi selama daring dan sekali waktu digunakan untuk praktik karena saya sebagai guru produktif Tata boga di SMKN 2 Tuban-Jatim. Jika waktu tidak memungkinkan, maka, siswapun praktik sesuai KD dirumah masing-masing. Hasilnya divideokan dan unggah ke youtube siswa, sehingga siswa kirim link vidio ke google classroom. Secara kasat mata, masyakarat tidak pernah tahu kesibukan guru dalam mengembangkan potensi diri. Bahkan ada banyak orang yang men judgement, bahwa guru itu enak. Tidak usah mengajar, tapi mendapat gaji penuh plus tunjangan profesi. Tidak pernah mereka tahu kesibukan guru yang semakin berat dan  tertantang untuk menciptakan media dan metode pembelajaran yang menyenangkan siswa dimasa pandemi. 
     Tujuan penulisan  ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bahwa sebagai guru dalam situasi sulitpun  harus tetap berkarya tanpa melihat usia. Dalam kondisi seperti ini peran merdeka belajar sangat besar manfaatnya. Siswa lebih kreatif dalam mendalami IT dan tidak menutup mata dengan dunia medsos karena materi, tugas banyak dibantu melalui internet.
              Ada banyak masalah yang timbul selama menerapkan merdeka belajar terutama anggapan  masyarakat yang mengatakan bahwa guru makan gaji buta, upaya guru dalam mempersiapkan materi magang menjelang bulan Ramadhan,  cara membina hubungan sosial antara guru dengan siswa serta menghadapi  kendala yang timbul saat melakukan merdeka belajar selama pandemi.
        Faktor ketidaktahuan masyarakat dan faktor kecemburuan sosial terhadap profesi guru dapat menimbulkan fitnah bahwa guru makan gaji buta. Sudah dapat gaji, tambahan tunjangan profesi (sertifikasi) tetapi selama ini tidak mengajar di sekolah. Mereka tidak tahu kalau dirumahpun guru masih mengajar. Memberi materi dan metode mengajar yang menarik, mengoreksi tugas siswa, menerima konsultasi dan pertanyaan siswa hampir 24 jam guru melayani. Tanpa klarifikasi dari guru akhirnya masyarakatpun tahu bahwa mengajar itu bukanlah sesuatu  yang mudah. Dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Banyak kita  lihat di youtube yang menceritakan orang tua capek dan merasa tak mampu untuk mendidik dan mengajar anaknya. Setelah adanya selogan ‘Merdeka Belajar”,siswa belajar dirumah bersama orang tua, baru mereka sadar bahwa pekerjaan guru tidak mudah, dibutuhkan keikhasan dan kesabaran, dan itu hanya ada pada jiwa dan naluri seorang guru. Bagi guru , kegiatan  merdeka belajar sangat besar manfaatnya karena kita dapat memotivasi diri agar jangan pernah berhenti berkarya. Semua kritikan yang ditujukan bagi guru  harus di terima dengan lapang dada. Bukan berarti kita harus marah, atau diam tidak mau bicara.tetapi bagamana cara kita meyakinkan bahwa apa yang kita lakukan dengan mengikuti banyak kegiatan menulis dan aneka lomba adalah untuk meningkatkan mutu SDM dan mengembangkan mutu pendidikan.  Jangan terpengaruh  pada ucapan yang tidak bertanggungjawab, tetap fokus pada visi misi seorang guru. Mereka tidak membuat karya tapi hobby membuat cerita.  Andai mereka ada kemauan dan kemampuan menulis, pasti cerita tersebut dapat dibukukan sebagai buku fiksi/non fiksi dan  di ISBN kan, sebagai penunjang kenaikan pangkat. Rata -rata  guru yang berusia diatas 50 tahun  sudah enggan menulis dan cukup bangga dengan pangkat dan golongan pembina TK1/IV B. Bagi saya, setelah SK IV C turun saya harus menabung membuat karya tulis, walau karya  belum dapat kesempatan menang, tapi setidaknya dapat digunakan untuk maju ke IV/D. Banyak guru saat kenaikan pangkat bingung membuat karya, dan akhirnya membeli (baca : menjahitkan)  karya. Namun sayang , namanya keterbatasan manusia kadang ada point penting yang belum diedit, masih tertulis nama sekolah dan mapel dari copypaste, sehingga saat penilaian terjadi apelan atau perbaikan .
    Guru menyiapkan media pembelajaran yang menarik secara digital dalam menyikapi kondisi pembelajaran siswa kelas XII Tata Boga di SMKN 2 yang belum dapat kesempatan magang di IDUKA karena pandemi, dan akhirnya  magang di bengkel Tata Boga SMKN 2 Tuban. Siswa diberi materi tentang cara membuat   Cake dan Cookies  untuk persiapan menghadapi bulan Ramadhan dan hari Raya Idul  Fitri  1442 H  . Siswa lebih senang dengan dengan bervariasinya metode belajar melalui  e Modul dengan link
    https://docs.google.com/document/d/16Sb2xKuEMhehDZLNFRwjCBIgwXckTg47/edit
    Materi dengan Comik digital dengan link  https://drive.google.com/drive/my-drivel, sehingga siswa dapat belajar dimana saja tanpa membawa  buku paket atau LKS.  Dalam kondisi merdeka belajar sangat memberikan manfaat bagi guru untuk berkreasi dalam menentukan media dan metode belajar, sehingga siswa tidak jenuh. Bahkan saat siswa tidak berada dirumahpun , mereka masih bisa belajar dengan happy.  Hubungan sosial antara guru dan siswa tetap terjaga. Walau hanya lewat google meet dengan linkhttps://m.facebook.com/photo.php?fbid=2895064707239895&id=100002091811644&set=a.473107369435653&source=48  Selain google meet juga menggunakan aplikasi whatsapp. sehingga hubungan sosial tetap terjaga. Bahkan jika ada siswa yang tidak masuk karena sakit, sebagai wali kelas juga masih dapat menjalankan tugas home visit, setelah selesai PBM daring. Dapat dilihat  di facebook dengan link https://m.facebook.com/photo.php?fbid=3302628963150132&id=100002091811644&set=a.473107369435653&source=48. 
    Selama kegiatan merdeka belajar  ada  kendala  yaitu faktor  jaringan internet mengingat  domisili siswa kelas XII TG 2 ada didaerah yang sulit sambung  dengan sinyal . Selain itu  paket kuota data juga menjadi kendala sebagian siswa. Padahal pemerintah sudah memberikan subsidi paket data, namun siswa kurang pandai memanfaatkan fasilitas gratis yang ada. 
    Oleh sebab itu teruslah berkarya jangan terhalang oleh  usia. Buatlah materi dengan memanfaatkan IT baik E modul maupun Comik untuk menyiapkan siswa merdeka belajar selama magang. Menjalin komunikasi sosial melalui zoom meeting  maupun home visit, dan memanfaatkan kuota gratis dari kemdikbud.
             Dari seluruh paparan artikel ini, kita sebagai insan pendidik tetap percaya diri dan penuh dedikasi dalam mengabdi di tengah pandemi. Karena itu semua nerupakan bagian dari skillet profesional seorang pendidik yang tidak pernah makan gaji buta***

     

    Ikuti tulisan menarik MAMA IDHA lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.