Sepotong Hati yang Baru - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Hati nurani

Osy Afriani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Selasa, 30 November 2021 22:37 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Sepotong Hati yang Baru


    Dibaca : 235 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Hiruk udara dingin pagi hari dikota metropolitan, mataku sayu memerah menatap birunya langit. Genggam tanganku hampir saja melukai diri, hati dan mulut seperti disandra oleh kawanan burung yang menari diatas kepala, bukan soal berani atau tidak untuk melawan, bukan juga soal burung yang teramat lihai menari. Hanya saja aku yang tidak tahu cara menikmatinya.

    Aku hanya seorang gadis SMA yang masih ingin berkecimbung didalam imainajinasiku. Tak jarang aku mendengar keributan antara ibu dan ayah. Yang hanya bisa aku lakukan mempercepat langkah kaki sembari membawa secangkir teh mengunci pintu kamar. Dulu, saat pertama kali aku mendengar sebuah kisah pilu dari buku dan novel tentang pahitnya menjadi seorang anak broken home tak begitu menyakitkan bagiku. Kini, hal itu sudah terjadi padaku.

    Seperti biasanya aku memulai pagi hari dengan impian yang aku tempel ditembok kamarku, ia yang selalu aku tatap dengan penuh harap dan tanda tanya, setiap kali aku memandangnya bukan senyum dan rasa bahagia yang hadir didalam diri melainkan sebuah tangisan sendu dengan segala macam keraguan yang berhenti dipikiranku.

    Di sekolah aku merasa sepi bukan karena jumlah siswanya yang sedikit, namun karena aku memang jarang bermain dengan teman-temanku, bahkan aku juga tidak pernah merasakan hangatnya peluk dari seorang sahabat. Hari itu ada sebuah acara ulang tahun teman sekelasku disebuah resto yang mewah, sayangnya aku diundang untuk meghadirinya. Jam itupun tiba, aku tidak tau harus mengenakan baju yang mana, ada satu baju yang dulu pernah ibu belikan untukku, tetapi teman aku bilang itu terlalu norak, hal itu membuat aku berfikir dua kali untuk mengenakan baju itu. Hingga akhirnya aku dipilihkan baju yang sebenarnya tidak aku sukai. Teman-teman yang hadir begitu terlihat cantik dan anggun, beberpa orang melihatku dari ujung kaki hingga rambut, itu sungguh membuat aku tidak nyaman. Untung saja acaranya tidak sampai larut malam sehingga pesta pun berakhir dan aku bisa cepat pulang.

    Hari-hari berjalan seperti biasanya, ibu dan ayah tak pernah cuti bertengkar dirumah. Malam itu kebetulan aku bisa duduk berdua dengan ibu. Sangat senang bisa mendapatkan moment seperti ini, ibu membawa sebuah majalah dan menujukan persyaratan audisi untuk menjadi sebuah model. Aku tau arti tatapan ibu itu, aku lihat ibu sangat berharap aku bisa mengikutinya. Awalnya aku menolak keinginan ibu karena itu bukan yang aku mau, sama sekali bukan.

    Aku melihat raut kekecewaan ibu, tentu juga bukan itu yang aku inginkan. 

    ”Baik bu, ayo kita coba” aku mejawab pertanyaan ibu dengan senyum dengan segla harapan semoga dengan ini hubungan ibu dan ayah bisa menjadi lebih baik, ibu bisa menjadi lebih sabar mengahadapi ayah. Tahap seleksi pun sudah aku lakukan dengan baik. Tetapi hasil masih berkata lain, aku belum lolos audisi. Itu membuat ibu kecewa dan tentu mebuat aku sedih, karena hubungan kami menjadi tidak sebaik sebelumnya.

    Aku lelah, aku kecewa, aku bingung kenapa semuanya menjadi seperti ini padahal aku sudah berusaha menajdi seperti orang orang inginkan. Sangat terpuruk, sangat sedih dan sangat marah, aku menyepi di sebuah taman sepi tak jauh dari rumah. Aku melihat seorang badut disana aku juga melihat seorang anak yang sedang dipeluk ibu dan ayahnya. Aku tak mau pikir panjang, aku mau segera pulang, dan hari itu bertepatan dengan ulang tahun ayahku, aku menyiapkan beberapa masakan dan kado berharap ayah pulang dengan senyumnya yang sudah jarang aku lihat. Pukul 20.00 WIB ayah pulang, segera aku bukakan pintu. Ayah terlihat begitu lelah, aku tidak mau mengganggu waktu istirahat ayah. Ayah juga terlihat tidak begitu bahagia ketika ayah tahu aku sudah menyiapkan sesuatu untuknya.

    Hari-hari berlalu, pagi itu aku terbangun sudah tanpa dengan harapan apapun, aku semakin menjadi bukan aku. Aku duduk terdiam kosong, aku ambil sebuauh buku yang menuliskan semua tentang mimpi mimpiku. Air mataku membasahi buku itu lalu aku simpan dalam tumpukan buku buku lama di kotak bawah meja.

    Hari-hari berlalu terasa sangat meyakitkan, hingga suatu hari sekolahku kedatangan dua murid baru. Yang satu terlihat biasa saja namun yang satu dengan wajah tampannya membuatku merasa seperti memiliki warna baru. Andri dan Andre adalah kakak beradik yang baru saja masuk kesekolahku. Namun sayang nya Andri yang memiliki wajah tampan adalah kakak kelasku dan Andre adiknya yang satu kelas denganku. Pada pelajaran matematika kebetulan aku satu kelomok dengan Andre, dan aku mengusulkan untuk mengerjakan tugas kelompok di rumah Andre tujuanku supaya aku bisa bertemu dengan kakaknya Andre yaitu Andri. Setelah pulang sekolah aku, Andre dan teman-teman sekelompok lainnya langsung bergegas kerumah Andre. Sesampaikan dirumahnya kami disambut oleh ibunya Andre, ibu Andre juga menyediakan makanan untuk cemilan saat belajar kelompok. Ketika sedang dalam pertengahan belajar kelompok kami terbenturt dengan satu soal yang membuat kami bingung sehingga Andre memanggil kakaknya untuk mengajari kami menyelesaikan tugas. 

    Jujur, sebenarnya aku sangat senang namun aku takut wajah gugupku akan terlhat oleh kak Andri. Kak Andri duduk disebelahku, kak Andri dengan jelas menjelaskan jalan dari jawaban soal yang kami tanyakan dan itu membuatku semakin mengagumi kak Andri.

    Setelah selesai kak Andri segera pamit ke ibu dan juga dengan kami untuk pergi olahraga.

    “Eh udah jam segini, kakak pergi dulu ya” ucap kak Andri dengan senyum tipisnya

    “Mau kemana kak? tanyaku dengan gugup

    “Mau latihan basket” jawab kak Andre sambari memakai sepatu basketnya.

    Sepertinya Andre menyadari sesuatu karena tingkah ku yang aneh didepan kak Andri. Tapi aku segera menepisnya dan berusaha menutupi. 

    Tapi dengan berjalannya waktu Andre mengetahui semuanya sehingga aku juga berterus terang dengannya untuk membantuku dekat dengan kak Andri. Awalnya Andre ragu untuk membantu, tapi aku tau Andre adalah teman yang baik. Aku juga belajar menyukai olahraga basket, padahal sebelumnya aku tidak suka dengan kegiatan olahraga seperti itu, namun untuk dekat dengan kak Andri ini adalah jalan salah satunya. Setiap ada jadwal latihan basket kak Andri, Andre selalu memberitahuku agar aku bisa datang untuk menemui kak Andri di tempat latihannya. Dan sejak itu aku menjadi lebih dekat dengan kak Andri karena kak Andri pikir aku memiliki hobi yang sama dengannya.

    Pagi itu aku datang ke sekolah dengan raut wajah tidak seperti biasanya, kebetulan didalam kelas hanya ada Andre, Andre menghampiriku dan bertanya dengan keadaanku. Tidak dapat tertahan aku menangis didepan Andre dengan tersedu-sedu. Sehingga aku menceritakan rasa kekecewaan kepada orang tuaku, kekecewaan pada diriku sendiri, belum bisa menjadi apa yang orang tua inginkan. Andre memberikan aku sebuah tisu tanpa berkata apapun kepadaku sampai aku selesai menangis hingga ada beberapa teman kelasku datang masuk ke kelas, Andre hanya menepuk bahuku dan kembali duduk di tempat duduknya semula. Itu cukup membuatku nyaman.

    Hingga akhirnya aku bisa sangat dekat dengan kak Andri, namun ternyata aku tidak bisa bahagia seperti yang aku pikirkan sebelumnya. Sore itu seperti biasanya aku datang ke tempat latihan kak Andri. Dan yang ku lihat kak Andri sedang bersama seorang wanita cantik disebelahnya, mereka terlihat sangat akrab, aku ragu untuk menanyakan siapa wanita itu. Namun kak Andre memperkenalkan bahwa disampingkan adalah pacar barunya. Hatiku sangat hancur, mataku berkaca kaca dan tanganku gemetar aku kira selama ini kedekatanku dengan kak Andri memiliki hubungan spesial ternyata tidak, dia hanya menganggapku sebagai seorang adik.

    Aku mempercepat langkah kakiku yang semakin sempoyongan hingga aku hampir saja tertabrak oleh sepeda motor di jalan, ditengah aku sibuk menepis air mataku aku tertabrak oleh seseorang didepanku. Belum sempat aku melihat siapa orang itu, aku pingsan dan ketika aku terbangun sudah berada di salah satu ruangan rumah sakit. Tak lama kemudian ibu dan ayahku datang menghampiriku. Mereka terenyum sambil mengelus kepalaku, aku hanya terdiam ketika merasakan tangan ibu dan ayah ada dikepalaku karena itu adalah moment yang sangat jarang, bahkan sangat jarang melihat mereka berdua tersenyum secara bersmaan didepanku. Ah, rasanya sangat senang. 

    “Maafkan ayah dan ibu ya” pinta ibuku dengan lembut

    “Andre udah cerita semuanya” sambung ayah dengan senyum mesranya

    “Andre?” tanyaku dengan bingung

    “Dia anak yang baik nak, kamu tidak perlu menjadi orang lain untuk membahagiakan ibu dan ayah ataupun orang lain. Ibu pikir selama ini kamu memang tidak memiliki keinginan atau impian khusus, tapi ternyata ibu salah, ibu tidak pernah menanyakan hal itu, ibu hanya menuntuut ini itu sama kamu, maafkan ibu ya nak”

    Setelah kejadian itu ibu dan ayah jadi lebih banyak meluangkan waktu denganku, dan ku ambil dan kubuka buku yang selama ini sudah tersimpan dan berdebu. Aku lebih banyak menulis sesuai dengan hobiku, kali ini aku menulis dengan hati, termasuk menulis harapan harapan baru di buku catatanku. Aku bersyukur menjadi diriku, selama ini aku hanya tidak menghargai diri sendiri dan tidak bersyukur dengan apa yang ada dihadapanku. 

    Dan setelah itu hubunganku dengan Andre sangat dekat, Andre sudah mengubah cara pandangku terhadap hidup dan orang lain. Setidaknya aku bisa menghargai dan mencintai diriku tanpa harus menjadi orang lain untuk mendapatkan cinta dari orang-orang yang kucintai. Walaupun akhirnya ayah dan ibuku memilih untuk berpisah namun masih menjalin silahturahmi dan komunikasi yang baik sehingga aku masih bisa mendapatkan cinta dari kedua orang tuaku

    Ikuti tulisan menarik Osy Afriani lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Itha Abimanyu

    4 hari lalu

    Rindu dan Cinta

    Dibaca : 133 kali