Merdeka Belajar di Sekolah Miniatur Indonesia - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Merdeka belajar merupakan kebijakan dari Kemdikbud

Anri Rachman

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 24 November 2021

Selasa, 30 November 2021 22:56 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Merdeka Belajar di Sekolah Miniatur Indonesia

    Artikel ini mendeskripsikan kegiatan merdeka belajar di Sekolah Madania, Bogor.

    Dibaca : 389 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Setiap orang menjadi guru dan setiap rumah menjadi sekolah.

    Ki Hadjar Dewantara

    merdeka belajar

    Sebelum pandemi merintang pikiran selama kurang lebih satu setengah tahun ini, dari dulu, kini, hingga masa yang akan datang, dunia Pendidikan akan selalu dihadapkan pada tantangan demi tantangan. Hanya saja, apakah pendidikan di Indonesia siap menghadapi dan melewati rintangan dan tantangan yang membentang tersebut? Bagaimana kesiapan guru sebagai pendidik dalam menghadapinya?

     

    Tantangan yang dihadapi oleh pendidik juga dihadapi oleh guru-guru di Sekolah Madania, Bogor. Sebagai sekolah yang merepresentasikan Indonesia (miniatur Indonesia), Sekolah Madania di dalamnya diisi oleh beragam peserta didik, baik agama, suku, dan budaya. Dengan keragaman tersebut semakin menambah keunikan masing-masing peserta didik di Sekolah Madania.

     

    Keunikan dan kekhasan masing-masing peserta didik berdampak pada minat dalam proses pembelajaran semakin beragam. Atas dasar tersebut maka Sekolah Madania sangat mendukung kebijakan merdeka belajar sebagaimana pernah disampiakan oleh Menteri Kemendibud Ristek, Nadiem Makarim bahwa sekolah harus dapat memberikan keleluasaan bagi siswa untuk memilih pelajaran sesuai minat mereka. Maksud memilih pelajaran dalam merdeka belajar bukan berarti peserta didik bebas menentukan mata pelajarannya, namun mereka diberikan keleluasan dalam proses pembelajaran sesuai dengan minatnya.

     

    Sejak didirikan oleh Prof. Dr. Nurcholis Madjid, Prof. Drs. Achmad Fuadi, dan Prof. Dr. Komarudin Hidayat, Sekolah Madania sudah memulai menanamkan pondasi dasar merdeka belajar pada peserta didiknya. Hal tersebut dapat dilihat dari program-program proses pembelajaran peserta didik Sekolah Madania yang tidak terpaku pada pengembangan keterampilan akademik saja melainkan juga pada keterampilan dasar lainnya seperti seni, budaya, dan sosial. Pengembangan keterampilan dasar ini bertujuan memberikan bekal bagi peserta didik Sekolah Madania sesuai dengan minatnya sehingga kelak tumbuh kesadaran hidup bermasyarakat, sebagaimana mengutip ungkapan dari Najwa Shihab bahwa Pendidikan bukan hanya transfer pengetahuan tapi pendidikan harus menumbuhkan kesadaran.

     

    Pengembangan keterampilan dasar peserta didik Sekolah Madania diberikan melalui kegiatan kelas seni dan budaya yang sesuai minat mereka, seperti kelas melukis, musik modern (gitar, piano, biola, perkusi), vokal, teater (peran), dan musik tradisional yang dapat mereka pilih. Selain kelas seni dan budaya, peserta didik juga diberikan beragam pilihan ekstrakurikuler dan klub baik olah raga maupun kegiatan lainnya yang dapat menunjang minat mereka.

     

    Sedangkan keterampilan sosial ditingkatkan dengan kegiatan berupa community service di mana peserta didik memiliki kewajiban untuk melakukan kegiatan sosial baik di sekolah maupun di luar sekolah sesuai kemampuan dan minat mereka masing-masing. Selain kegiatan sosial, Sekolah Madania juga memberikan ruang ibadah bagi berbagai agama yang dianut oleh peserta didiknya. Dengan berbagai kegiatan tersebut diharapkan peserta didik di Sekolah Madania mendapatkan pengalaman proses pembelajaran yang menyenangkan baik secara lahir maupun batin.

     

    Sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan merdeka belajar di Sekolah Madania tentu saja adalah guru. Guru memiliki peran penting dalam proses pembelajaran yang merdeka dan membentuk kesadaran peserta didik di Sekolah Madania. Peran yang sangat penting tersebut dipangku guru-guru Sekolah Madania dengan ditopang berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas dan keterampilan guru. Berbagai pelatihan pengajaran diberikan bahkan ketika pandemi merintang, guru-guru diberikan kemerdekaan untuk meningkatkan kualitas dan keterampilannya untuk menunjang pengajaran di sekolah.

     

    Satu di antara bekal yang didapatkan guru Sekolah Madania untuk mengajar adalah materi strategi pembelajaran berdiferensiasi dan penggunaan beberapa aplikasi pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas. Kedua bekal tersebut sangat membantu guru-guru Sekolah Madania dalam menerapkan program merdeka belajar.

     

    Strategi pembelajaran berdiferensiasi membantu guru untuk menerapkan berbagai teknik pembelajaran selama di kelas. Guru dapat menyesuaikan dengan keragaman dan keunikan masing-masing peserta didik di kelas. Dengan strategi ini guru dapat menyesuaikan pembelajaran dengan membuat diferensiasi konten, proses, produk, asesmen, atau gaya belajar peserta didik. Dengan begitu peserta didik dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.

     

    Strategi pembelajaran berdiferensiasi sangat bermanfaat digunakan di Sekolah Madania karena peserta didiknya beragam. Peserta didik menjadi lebih mudah menerima pembelajaran karena kontennya dibuat lebih bervariasi disediakan dalam berbagai bentuk seperti video, modul, dan slide presentasi. Selain kontennya lebih bervariasi, proses pembelajaran juga disesuaikan dengan karakteristik dan kondisi peserta didik, seperti pembelajaran mandiri, teman sebaya, kelompok, maupun klasikal dengan berbagai kegiatan yang dapat menunjang pembelajaran.

     

    Pada bagian diferensiasi produk pembelajaran, peserta didik diberi kemerdekaan untuk membuat tugas produknya sesuai minat dan kemampuan masing-masing. Produk yang sudah mereka buat di antaranya seperti materi cerita fabel pada kelas bahasa Indonesia, peserta didik dapat memilih membuat produk berupa teks cerita fabel, komik, animasi, video bercerita, atau rekaman suara bercerita.

     

    Karena setiap anak memiliki minatnya yang berbeda pada setiap mata pelajaran, maka asesmen terhadapa merekapun dilakukan dengan strategi diferensiasi. Penerapan strategi diferensiasi asesmen dilakukan agar hasil dari proses pembelajaran dapat mencapai standar minimal. Dengan kata lain, minimal peserta didik dapat mencapai beberapa indikator pada setiap materi pembelajaran. Artinya peserta didik tidak terbebani untuk mencapai hasil di luar batas kemampuan mereka.

     

    Strategi diferensiasi selama ini telah membantu peserta didik untuk mengukur kemampuan masing-masing dalam mencapai hasil pembelajaran. Pencapaian peserta didik pada setiap mata pelajaran tidak menjadi tolak ukur mutlak dalam menentukan kualitas maupun kemampuan mereka. Yang terpenting dan diutamakan dalam proses pembelajaran di Sekolah Madania adalah mereka mendapatkan pengalaman pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai minatnya. Hal tersebut agar membiasakan peserta didik dapat mulai mengembangkan kemampuannya masing-masing dalam kecakapan hidupnya terutama pada kondisi pandemi.

     

    Selain dibekali berbagai pelatihan strategi dan metode-metode pembelajaran, guru-guru di Sekolah Madania juga dibekali berbagai keterampilan pemanfaatan teknologi-informasi serta aplikasi-aplikasi pembelajaran. Dengan memanfaatkan teknologi-informasi membantu guru untuk menunjang pembelajaran lebih menarik dan interaktif. Tentunya aplikasi-palikasi yang dimanfaatkan disesuaikan dengan kebutuhan, karakter, dan minat peserta didik sehingga semuanya terwadahi.

     

    Dengan bekal-bekal yang sebelumnya telah diberikan, guru-guru di Sekolah Madania dapat langsung mempraktikkannya dengan merdeka. Guru-guru dapat berkolaborasi antarmata pelajaran untuk mengurangi beban pembelajaran bagi peserta didik. Selain itu, dengan adanya kolaborasi antarmapel, peserta didik mendapatkan dua materi sekaligus dalam satu pertemuan serta mengintegrasikannya saat praktikum. Kolaborasi yang dilakuakan dapat berupa kolaborasi materi, tugas, produk proyek, ataupun kegiatan praktikum.

     

    Pada pelaksanaannya, peserta didik dapat belajar dari siapapun, kapanpun, dan dari manapun sesuai dengan kemampuan serta minatnya. Bahkan ketika pandemi merintang kegiatan belajar-mengajar masih dapat berlangsung karena pembiasaan yang sudah dilakukan baik oleh guru, peserta didik, maupun orang tua dalam kolaborasi serta kerja samanya membentuk kecakapan hidup peserta didik yang merdeka baik lahir maupun batin, seperti yang diungkapkan oleh Ki Hadjar Dewantara, “Pengaruh pengajaran itu umumnya memerdekakan manusia atas hidup lahirnya, sedang merdekanya hidup batinnya terdapat dari pendidikan.”



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.