Syutingnya di Rumah Masing-masing, Hasilnya Video Pembelajaran yang Bikin Pangling

Selasa, 30 November 2021 23:20 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sebuah Refleksi Merdeka Belajar dalam Pembelajaran Daring

Merdeka belajar seperti dikutip dari sekolah.mu berarti belajar yang melibatkan murid dalam penentuan tujuan, memberi pilihan cara dan melakukan refleksi terhadap proses dan hasil belajar.

Artinya dalam penerapan konsep merdeka belajar, siswa harus dilibatkan dalam mencapai tujuan, maunya apa dalam mempelajari suatu materi. Lalu dalam pelaksanaannya, siswa diberikan pilihan cara untuk melaksanakan tugas dalam pembelajaran tersebut sehingga guru harus mampu merancang pembelajaran yang bisa mengakomodir kemampuan siswa yang beragam. Dan yang terakhir, siswa harus melakukan refleksi terhadap proses dan hasil belajar.

“Ada yang mengira kemerdekaan di sini berarti kebebasan untuk melakukan apa pun, bebas mau belajar atau tidak, bebas mau mengerjakan tugas atau tidak. Namun sebenarnya esensi Merdeka Belajar bukan itu,” kata Nadiem Makariem Menteri Kemendikbud RI dalam acara yang disiarkan melalui Youtube Kemendikbud RI.

"Perkenankan saya memberikan satu contoh. Misalnya di satu keluarga ada dua orang anak, satu anak tertarik dengan sastra dan seni, sedangkan saudaranya tertarik dengan teknologi dan komputer. Kita sebagai orangtua tentu tidak bisa memaksakan anak kita yang menyukai seni untuk belajar secara mendalam komputer dan sebaliknya. Menurut saya setiap anak pada dasarnya punya rasa ingin tahu, punya keinginan untuk belajar. Jadi tidak ada anak pemalas atau anak yang tidak bisa,” tambahnya.

“Kami mendorong guru-guru untuk merancang metode pembelajaran berbasis project untuk memacu kreativitas peserta didik,” ujar Nadiem.

Apa itu pembelajaran berbasis project dan mengapa mas Menteri mendorong pembelajaran semacam itu ?

Pembelajaran berbasis project atau Project Based Learning adalah pembelajaran yang menitikberatkan pada aktivitas peserta didik dalam sebuah proyek yang dirancang untuk dapat memahami suatu konsep atau prinsip dengan melakukan investigasi secara mendalam tentang suatu masalah untuk mencari solusi sehingga peserta didik mengalami proses pembelajaran bermakna dengan membangun pengetahuannya sendiri. Diharapkan dengan pembelajaran berbasis project ini empat kompetensi yang harus dimiliki siswa di abad 21 yang disebut 4C, yaitu Critical Thinking (berpikir kritis), Creativity (kreativitas), Communication (berkomunikasi), dan Collaboration (kemampuan untuk bekerja sama) dapat terpenuhi.

Untuk itu, Penulis sebagai seorang guru mencoba menerapkan model pembelajaran ini di kelas XII IPA pada materi listrik arus searah. Dalam pembelajaran daring, saya menggunakan aplikasi telegram untuk berkomunikasi. Pemilihan ini didasarkan pada penggunaan memori berbasis web yang ada pada aplikasi telegram ini, sehingga jika membagikan video atau dokumen-dokumen yang lain memori gawai tidak akan terbebani. Selain itu, pada aplikasi telegram terdapat fitur video call yang mampu menampung peserta hingga 1000 orang, lebih dari cukup untuk sekedar 1 kelas yang berkisar 30-35 orang.

Untuk menerapkan model Pembelajaran berbasis project ini, siswa dibagi menjadi 5 kelompok yang didasarkan pada heterogenitas gender dan kemampuan pemahaman konsep peserta didik. Project yang harus dilakukan oleh setiap kelompok adalah Praktikum secara virtual dengan materi yang berbeda sesuai dengan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) masing-masing kelompok. Untuk mendukung project ini, digunakan aplikasi berbasis web (web-based application) Phet Simulation yang ada pada tautan berikut https://phet.colorado.edu/in/simulation/circuit-construction-kit-dc-virtual-lab.

Aplikasi Phet Simulation

Untuk dapat menggunakan simulasi tersebut, penulis sebagai guru memberikan pendampingan berupa video tutorial yang dapat disimak di youtube pada tautan https://youtu.be/QnJx_VbHxJA. Setelah menonton tutorial, siswa mencoba sendiri membuat rangkaian arus listrik yang berbeda-beda dan menjawab permasalahan yang ada sesuai LKPD nya masing-masing.

Ternyata di pertemuan 1, ekspektasi sedikit meleset. Awalnya pembelajaran dirancang agar di sesi terakhir pembelajaran setidaknya ada 1 kelompok yang mau presentasi secara virtual di telegram. Ternyata tak ada satupun kelompok yang mau. Mereka berasalan ‘masih melaksanakan proyeknya’. Oleh karenanya, presentasi dilaksanakan di pertemuan berikutnya.

Di pertemuan kedua keadaan tidak begitu berbeda dengan pertemuan sebelumnya. Siswa berasalasan belum siap dengan materi dan slide presentasinya. Saya yakin guru manapun yang mengajar di masa pandemi memang harus banyak-banyak bersabar. Bagaimanapun, siswa ada di rumahnya masing-masing sedangkan guru mengajar dari kantor sehingga guru sama sekali tidak mempunyai power untuk dapat menyuruh mereka. Bujukan seperti ‘segimana siapnya’ ‘presentasinya kayak bercerita saja kok’ atau ‘tidak apa-apa presentasi tidak memakai slide’ tidak juga mempan ke siswa. Akhirnya saya membujuk siswa seperti ini : “Untuk pertemuan berikutnya, setiap kelompok harus membuat video yang berisi tangkapan layar (screenshoot) project Phet simulation yang telah dikerjakannya. Tapi bagi yang mau presentasi sekarang maka tidak perlu membuat video.”

Akhirnya rata-rata dalam setiap kelas ada 1 kelompok yang mau presentasi. Pertemuan kedua yang rencana awalnya diisi dengan presentasi semua kelompok harus molor ke pertemuan berikutnya. Oleh karena itu, sesudah presentasi dibuatlah kesepakatan dengan siswa bahwa untuk pertemuan berikutnya video presentasi harus sudah selesai dan siswa boleh nge-chat saya gurunya sebagai pendampingan jika menemui kesulitan. Di sesi pendampingan inilah penulis sebagai guru jadi banyak mengetahui kesulitan yang dialami oleh siswa dalam mengerjakan proyek ini. Ada yang mengadu temannya susah diajak kerjasama. Ada juga yang menyalahkan sinyal karena dia tidak sedang di tempat kos namun balik kampung tinggal bersama orangtuanya. Ada juga yang mengadukan teman sekelompoknya bahkan tidak tahu materi apa yang menjadi topik project kelompok mereka dan masih banyak lagi masalah yang mereka hadapi dalam menyelesaikan project ini.

Di luar dugaan, setelah ada kesepakatan dan pendampingan, di pertemuan 3 siswa telah siap dengan videonya. Bahkan videonya sendiri di luar ekspektasi saya sebagai guru. Siswa syuting di rumahnya masing-masing, namun dapat menghasilkan video pembelajaran yang bikin pangling. Salah satu contoh video yang telah dibuat siswa dapat dilihat pada tautan berikut https://youtu.be/hMF8a0SidVA.

Dalam video dapat terlihat bahwa empat kompetensi siswa di abad 21 dapat terlihat yaitu, berpikir kritis, kreatif, komunikatif dan mampu berkolaborasi. Dan terakhir, ada satu releksi yang ditulis siswa yang saya masih ingat sampai sekarang, “Dalam 1 kelompok yang terdiri atas hanya 6 orang saja saya susah mengaturnya, apalagi ibu yang mengajar 6 kelas. Terima kasih, Bu, sudah mengajar kami dengan sabar!”

Bagikan Artikel Ini
img-content
Amalia

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler