Migitasi Learning Loss dan Kurikulum Prototipe - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Dalam rangka pemulihan pasca learning loss diperlukan model kurikulum yang sesuai, berguna dan tepat guna.

Iwan Kartiwa

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 November 2021

Rabu, 1 Desember 2021 21:32 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Migitasi Learning Loss dan Kurikulum Prototipe

    Model kurikulum inilah yang kemudian disebut kurikulum prototipe. Kurikulum prototipe sendiri diberikan sebagai opsi tambahan bagi satuan pendidikan untuk melakukan pemulihan pembelajaran selama 2022-2024. Kebijakan kurikulum nasional akan dikaji ulang pada 2024 berdasarkan evaluasi selama masa pemulihan pembelajaran dilakukan.

    Dibaca : 1.558 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Migitasi Leaning Loss dan Kurikulum Prototipe

     Berdasarkan sebuah hasil riset yang dilaksanakan Kemdikbudristek menunjukan bahwa pandemi Covid 19 telah menyebabkan kehilangan pembelajaran (learning loss) literasi dan numerasi secara signifikan. Riset dilakukan pada bulan Januari 2020 s/d April 2021, dengan sampel 3.391 siswa SD dari 7 kab/kota di 4 provinsi. Dalam riset tersebut diketahui sejumlah fakta terjadinya learning loss, yaitu  sebelum pandemi, kemajuan belajar selama satu tahun (kelas 1 SD) adalah sebesar 129 poin untuk literasi dan 78 poin untuk numerasi. Setelah pandemi, kemajuan belajar selama kelas 1 berkurang secara signifikan (learning loss). Untuk literasi, learning loss ini setara dengan 6 bulan belajar.  Sementara untuk numerasi, learning loss tersebut setara dengan 5 bulan belajar.

    Migitasi learning loss diartikan sebagai serangkaian upaya untuk mengurangi resiko akibat kehilangan pembelajaran akibat dampak pandemi Covid 19 yang berkepanjangan. Dalam rangka menghadapi kondisi tersebut, sekolah diberikan 3 (tiga) opsi/pilihan untuk menggunakan kurikulum yang disederhanakan agar dapat berfokus pada penguatan karakter dan kompetensi mendasar. Ketiga pilihan ini mengacu pada dasar hukum Kepmendikbud Nomor 719/P/2020. Hasilnya ada sebanyak 59,2% yang menggunakan Kurikulum 2013 secara penuh, 31,5% menggunakan “Kurikulum Darurat” (Kurikulum 2013 yang disederhanakan Kemendikbudristek), dan sisanya 8,9% yang memilih melakukan penyederhanaan kurikulum secara mandiri.

    Setelah melalui serangkaian evaluasi dapat disimpulkan pemilihan opsi penggunaan kurikulum darurat waktu itu menunjukan hasil yang lebih baik dari 2 opsi pilihan lainnya. Hal ini ditunjukan dari beberapa temuan yaitu 1). siswa pengguna Kurikulum Darurat mendapat capaian belajar yang lebih baik daripada pengguna Kurikulum 2013 secara penuh, terlepas dari latar belakang sosio-ekonominya, 2). Secara numerasi manfaat penggunaan Kurikulum Darurat lebih besar pada siswa dari kelompok rentan, dan 3). Secara lierasi manfaat penggunaan Kurikulum Darurat lebih besar pada siswa dari kelompok rentan (Slide Kebijakan Kurikulum Untuk Pemulihan Pembelajaran Setelah Pandemi, Kemdikbudristek, November 2021).

    Selain itu, kurikulum darurat ini juga dianggap cukup efektif dalam memitigasi learning loss. Mengapa demikian? karena kurikulum darurat ini mampu membantu guru untuk fokus pada materi esensial dan menerapkan pembelajaran yang lebih mendalam untuk mengembangkan karakter dan kompetensi dasar. Jadi kurikulum darurat yang telah diterapkan dapat dikatakan mampu memberi banyak manfaat baik kepada peserta didik maupun para pendidiknya.

    Saat ini dunia pendidikan Indonesia tengah berada pada masa pemulihan setelah masa kritis pembelajaran akibat pandemik Covid 19 berangsur mulai terlewati. Oleh sebab itu pada masa pemulihan inipun diperlukan satu model kurikulum yang mampu memitigasi learning loss secara lebih efektif dan efisien. Model kurikulum inilah yang kemudian disebut kurikulum prototipe. Kurikulum prototipe sendiri diberikan sebagai opsi tambahan bagi satuan pendidikan untuk melakukan pemulihan pembelajaran selama 2022-2024. Kebijakan kurikulum nasional akan dikaji ulang pada 2024 berdasarkan evaluasi selama masa pemulihan pembelajaran dilakukan.

    Salah satu keunggulan yang ada dalam kurikulum prototipe adalah mampu mendorong pembelajaran yang lebih sesuai dengan kemampuan siswa, serta memberi ruang yang lebih luas pada pengembangan karakter dan kompetensi dasar peserta didik. Selain soal keunggulan, kurikulum prototipe ini juga memiliki  beberapa karakteristik utama yang mendukung pemulihan pembelajaran, antara lain:  1) adanya pengembangan soft skills dan karakter (akhlak mulia, gotong royong, kebinekaan, kemandirian, nalar kritis, kreativitas) mendapat porsi khusus melalui pembelajaran berbasis projek. 2). Fokus pada materi esensial sehingga ada waktu cukup untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi, dan 3). Adanya fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan murid (teach at the right level) dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan local.

    Selanjutnya dapat dicatat bahwa entri poin penting kurikulum prototipe ini bermuara pada proses dan produk implementasi profil pelajar Pancasila. Oleh sebab itu hampir di setiap jenjang pendidikan maka arah, sasaran dan tujuan dari kurikulum prototipe ini mengarah dan mengacu pada pembentukan dan penguatan profil pelajar Pancasila. Contoh untuk jenjang SMA ada sejumlah karakteristik dari kurikulum prototipe tersebut yang pada akhirnya bermuara pada pembentukan dan penguatan profil pelajar Pancasila. Karakteristik kurikulum di jenjang SMA tersebut adalah 1). Lebih fleksibel untuk disesuaikan dengan minat siswa, karena pilihan pada level mata pelajaran (bukan program peminatan/ penjurusan), 2).  Di kelas 10 pelajar menyiapkan diri untuk menentukan pilihan mata pelajaran di kelas 11. Mata pelajaran yang dipelajari serupa dengan di SMP, 3). Di kelas 11 dan 12 pelajar mengikuti mata pelajaran dari Kelompok Mapel Wajib, dan memilih mata pelajaran dari kelompok MIPA, IPS, Bahasa, dan Keterampilan Vokasi sesuai minat, bakat, dan aspirasinya, dan 4). Pembelajaran berbasis projek untuk penguatan profil Pelajar Pancasila dilakukan minimal 3 kali dalam satu tahun ajaran, dan pelajar menulis esai ilmiah sebagai syarat kelulusan.

    Lalu bagaimana kurikulum prototipe ini dapat dilaksanakan pada masa pemulihan pasca learning loss? Dalam hal ini pemerintah melalui Kemdikbudristek sudah sangat detail merancang dan mempersiapkan strategi yang akan dilaksanakan. Terdapat 3 (tiga) strategi penerapan kurikulum prototipe meliputi: Pertama, penyediaan buku teks pelajaran dan perangkat ajar pendukung. Buku teks, modul dan perangkat ajar lain disediakan secara digital melalui platform digital untuk guru. Sekolah dapat melakukan pengadaan buku teks secara mandiri dengan BOS reguler, dukungan pemda, dan yayasan ● Buku cetak disediakan melalui SIPLah dengan dana BOS, atau cetak mandiri

    Kedua, Pelatihan dan pendampingan guru, KS, dan pemda. Pelatihan mandiri bagi guru dan KS melalui micro learning di platform digital, pendampingan guru/KS oleh sekolah penggerak angkatan pertama, dan pendampingan bagi pemda.

    Ketiga, kebijakan fleksibiltas jam mengajar dan jaminan keberlangsungan tunjangan profesi guru. Dalam hal ini perubahan struktur mata pelajaran tidak merugikan guru akibat berkurangnya jam mengajar misalnya. Selanjutnya semua guru yang berhak mendapatkan tunjangan profesi ketika menggunakan Kurikulum 2013 akan tetap mendapatkan hak tersebut sebagaimana biasanya.

     

    Iwan Kartiwa

    (CKS SMA Tahun 2021 KCD Pendidikan Wilayah VIII Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Guru SMAN Rancakalong Kab. Sumedang)

     

     

    Ikuti tulisan menarik Iwan Kartiwa lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.