Mathemagics - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Literasi menulis

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 1 Desember 2021

Jumat, 3 Desember 2021 05:02 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Mathemagics

    Tak ada kata berat dalam belajar, selama kita menikmati selalu ada jalan dan akan terasa nikmat

    Dibaca : 77 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Mathemagics

     

    Semua berawal ketika saya mencoba untuk lari dari keterpurukan ekonomi. Saat itu tidak ada keluarga yang mendukung untuk menempuh pendidikan lebih tinggi. Tapi keyakinan dan tekat kuat yang menuntun sehingga saya berhasil menempuh pendidikan hingga Strata 1. Bahkan saya mencoba berdamai dengan diri untuk menempuh pendidikan hingga jenjang Magister. Sejak saat itu saya mencoba untuk berdamai dengan Pendidikan, karena saya tau bahwa saat ini dengan bermodalkan tekat dan keinginan kuat tiap mereka mampu menempuh pendidikan tanpa terkendala biaya apapun.

    Hal itulah yang mengantarkan saya untuk mengabdikan diri kepada tanah air ini tepatnya tempat saya mengabdi sekarang di Sekolah Menengah Pertama di kampung halaman, saya ingin membagi pengalaman dalam menempuh pendidikan, suka duka dan bahkan saat-saat ketika harus mencari pundi-pundi rupiah demi menyelesaikan pendidikan seorang diri. Selalu terbesit dan bahkan dorongan dari sekitar dan keluarga selalu menyudutkan saya untuk menggali pekerjaan yang lebih dari sekedar mengajar. Namun rasa pengabdian itu  tak tergoyahkan untuk pekerjaan yang lain.

    Selain mengajar di Instansi tersebut, saya juga memiliki usaha sampingan yakni mengajar siswa diluar jam kerja Sekolah. Mungkin sapaan akrabnya Privat atau Bimbingan Belajar khusus Matematika dan Bahasa Inggris bahkan saya juga mencoba tantangan baru yang ditawarkan yakni mengajar anak-anak Pra-SD.

    Kesibukan itulah yang mengantarkan saya untuk tetap konsisten pada pekerjaan saya yakni menjadi seorang pengajar. Bertemu dengan berbagai macam karakter sifat, pengetahuan bahkan motivasi. Beberapa tahun hingga sekarang terjun ke dunia pengajar menjadikan saya bertemu dengan berbagai macam masalah yang di hadapi siswa saat ini. Tantangan gadget seakan menjadi musuh bagi kita semua, karena di tengah pandemi saat ini bahkan sebelum pandemi, anak-anak lebih suka bermain gadget ketimbang harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk belajar. Hingaa terkadang saya mencoba untuk melakukan kunjungan tanpa sengaja ke beberapa sekolah hanya untuk melihat bagaimana sikap dan antusias siswa belajar dalam kelas. Penemuan itu memberikan pemahaman bahwa ternyata memang bukan hanya di tempat saya mengabdi hal tersebut terjadi, namun di beberapa tempat kunjungan, saya menemukan hal-hal yang memang sudah seharusnya menjadi perhatian kita semua.

    Fasiltas dan teknologi yang kurang mumpuni serta bagaimana memberikan pengajaran yang baik masih menjadi permasalahan utama. Kebiasaan siswa merasa bosan dan tidak termotivasi saat belajar sudah menjadi perisai bagi mereka. Hal itu juga tidak jauh berbeda dari tempat pengabdian saya. Kesibukan selama mengajar memberi tahu bagaimana seharusnya saya sebagai pengajar memberikan rasa kenyamanan kepada siswa agar mereka bisa menikmati belajar tanpa merasakan waktu yang lama.

    Kejadian tersebut, pasti mengundang beberapa siswa yang memang aktif di dalamnya. Mereka merasa bahwa pembelajaran yang kurang menyenangkan di dapatkan sehingga siswa yang awalnya rajin dan mengejar prestasi terbawa jadi kurang semangat karena  pembelajaran yang di berikan begitu membosankan dan tak ada ketertarikan tertentu pada mata pelajaran yang di berikan.

    Saya sebagai pengajar matematika tentu merasakan hal tersebut. Melihat judgement kebanyakan siswa terhadap pelajaran matematika. Kebiasaan menganggap Matematika ilmu yang sulit itu sudah tertanam dari awal menempuh pendidikan. Matematika bagaikan monster mereka dalam belajar dan seringkali menjadi tameng untuk menghindari pelajaran tersebut. Hal tersebut tentunya berakibat pada kemampuan berfikir kritis dan rasional siswa  yang semakin menurun. Sehingga tidak dipungkiri generasi-generasi ilmuwan untuk saat ini sulit di dapatkan.

    Kejadian tersebut, menjadi pukulan  tertentu buat saya dan tentunya buat para guru pendidik khususnya mata pelajaran matematika. Matematika seakan dianggap tidak penting dalam kehidupan, karena mereka sudah takut dari awal untuk mendekatinya.

    Setiap kali bertemu dengan siswa, terlebih dahulu saya mencoba untuk mengambil perasaan mereka dan mencoba berdialog singkat dengan mereka. Saya selalu memberikan pertanyaan mendasar tentang mengapa mereka mencoba menghindari Pelajaran matematika. Banyak jawaban yang saya dapatkan, diantaranya

    “Pelajaran Matematika susah, rumusnya terlalu banyak dan penuh hafalan, bahkan ada yang menjawab jenuh dan marah ketika mereka mencoba mencari jawaban namun hanya karena permasalahan 1 angka saja mereka salah menemukan jawaban yang tepat”

    Beberapa jawaban itu selalu terekam dalam diri pribadi sebaga pengajar. Hingga tiba suatu jawaban yang membuat saya berfikir lama mencoba memahami, apa sebenarnya maksud dari si anak ini.

    “Bu, kenapa sih. Kalau kita belajar matematika itu pasti terkadang kita melakukan pemisalan/pengambilan angka untuk menemukan jawaban tersebut. Padahal kalau kita lihat Matematika kan itu ilmu pasti kenapa kita harus mengambil angka yang tidak pasti/angka yang dimisalkan untuk menemukan jawaban itu?Dan kenapa kita harus mencoba mencari nilai x yang tak tahu dari mana dayangnya x itu!

    Dari beberaapa pertanyaan tersebut, saya mencoba merangkum. Bahwa alasan mereka tidak menyukai matematika karena memang kita terlalu banyak menurunkan namun akhirnya masih menemukan pilihan apakah akan membahagiakan atau menyedihkan. Jawaban tersebut menjadi tameng saya untuk menerapkan pendekatan feeling dulu kepada siswa baru memulai pembelajaran. Memberikan alasan kenapa sebenarnya mereka harus belajar matematika utamanya dalam kehidupan ini. Bagaimana pentingnya mempelajari matematika itu. Ibaratkan kita tak tahu matematika, maka  tidak ada gunanya kita berjalan di sekeliling kita untuk mencoba menyampaikan opini kita namun kita tidak bisa menerapkan ilmu kritikal dan rasional yang semuanya itu akan muncul ketika kita belajar Matematika. Selepas memberikan pemahaman kepada siswa terhadap pentingnya matematika dalam kehidupan. Saya melanjutkan dengan memutarkan cuplikan video singkat terkait mudahnya kita melakukan segala aktivitas dengan belajar dan mencintai matematika. Jika terkadang saya sulit menemukan video terkait materi yang akan saya ajarkan dengan relevansinya terhadap kehidupan. Saya mencoba terjun langsung sebagai aktor dalam video tersebut. Sehingga kadangkala siswa tanpa sengaja tertawa lepas bila menemukan slide yang mengandung candaan. Penyelipan adegan candaan saya lakukan untuk memberikan pengantar bahwa matematika tak perlu pemikiran serius untuk memepelajarinya. Cukup ketelitian, kerja keras dan mau belajar kunci keberhasilan dalam belajar.

    Suasana dalam kelas pun berubah menjadi kebahagian tanpa rasa beban. Lima  menit setelah pemutaran video saya gunakan untuk memberikan kebebasan siswa untuk merenung dan mengeskpresikannya melalui peta pemikiran mereka tentang apa dampak positif yang bisa di petik dari video tersebut.

    Proses pembelajaran pun di mulai, proses belajar-mengajar terjadinya kondusif dan chemistry antara siswa-guru terjalin dengan baik sehingga siswa dengan bijak dan bahagia mendengarkan. Karena mereka sudah paham dan tahu apa yang akan diperoleh dengan belajar materi tersebut. Di tengah perjalanan pembelajaran terkadang bila ada media yang mendukung di sekitar lingkungan, saya berupaya melibatkan agar rasa kepercayaan siswa terhadap matematika itu erat dengan kehidupan tergambar dalam pikiran mereka. Hingga terkadang game selalu saya selipkan untuk memberi semangat lebih serta menguji konsentrasi mereka.

    Butuh persiapan dan perjuangan mental untuk melakukan hal tersebut, namun hati ini percaya bahwa proses yang panjang dan keras itu akan berbuah emas. Tak ada prestasi, ilmuwan, pengusaha, jutawan dan profesi lainnya yang terbentuk tanpa perjuangan yang berdarah. Terkadang saya kehabisan ide, namun  seiring mencoba melakukan hal-hal tersebut dan banyak sharing serta membaca tak akan pernah kita kehabisan rasa tahu. Dan salah satu kunci ide tersebut ada, yakni kesabaran ingin terus belajar dan berusaha untuk memberikan yang terbaik kepada generasi yang layak menjadi pembeharu.

    Hingga akhirnya, hasil dari usaha itu terkadang siswa meminta tugas untuk dikerjakan di rumah sebagai latihan mereka terhadap apa yang di berikan. Dan bahkan saya terkadang terharu ketika beberapa gerombolan siswa datang menghampiri tangan saya dan memberi sebuah tanda terima kasih. Hal tersebutlah yang menjadi penyemangat saya dalam berbagi. Karena saya tahu berbagi itu hal yang sangat mahal bagi sebagian orang utamanya dalam materi berupa uang. Namun berbagi ilmu itu hal yang sangat berharga dibandingkan dengan uang. Karena dengan Ilmu orang akan menghasilkan uang.

    Hari demi hari, kelas terjalin dengan baik tanpa kendala apapun. Ketika salah satu teman mereka mencoba membuat kegaduhan beberapa gerombolan bersuara bahwa “Kalau kalian tidak belajar matematika, bagaimana kalian bisa menguasai Dunia, bagaimana bisa kalian menghasilkan uang, bagaimana bisa kalian berbagi”. Sontak teman yang ditegur pun terdiam merenung. Pelajaran pun berjalan dengan baik dan kondusif.

     

    Kita perlu pendekatan perasaan dan lingkungan sekitar untuk memahami berbagai macam karakter yang dimiliki siswa kita. Seperti halnya dalam belajar utamanya belajar matematika, kita perlu mengenal apa itu Matematika dan mengapa kita harus belajar matematika dan apa hasil yang bisa saya dapatkan dari mempelajari materi tersebut. Dengan begitu motivasi siswa dalam belajar akan meningkat, karena merasa bahwa apa yang di ajarkan itu berkaitan dengan kehidupan nyata yang sering di alami. Dan dengan belajar materi tersebut, memudahkan menemukan hal-hal yang menjadi masalah dan mampu terselesaikan dengan baik. Kita perlu kerja keras, usaha serta kreativitas untuk mencetak generasi-genersi pantang menyerah, kreatif dan pemikir. Kita tak perlu berteriak, marah-marah atau bahkan memaksa siswa kita dalam belajar, namun pendekatan perasaan, pemahaman serta pengenalan sekitarlah yang mampu mencetak generasi peduli terhadap sesama dan mampu menciptakan produk-produk buatan sendiri.

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.