Merdeka Belajar atau Belajar Merdeka - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Proses belajar di kelas

Echa Felia

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 27 November 2021

Jumat, 3 Desember 2021 05:08 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Merdeka Belajar atau Belajar Merdeka

    Kisah Guru Terapkan Merdeka Belajar

    Dibaca : 947 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Merdeka Belajar adalah program yang digagas oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Bapak Nadiem Anwar Makarim pada beberapa waktu lalu. Program Merdeka Belajar bertujuan untuk mendukung peserta didik agar senang dalam belajar, bebas berinovasi dan berpendapat, serta tidak tertekan dalam memperoleh pembelajaran di sekolah. SMA Negeri 38 Maluku Tengah adalah salah satu sekolah di Provinsi Maluku yang sudah menerapkan Merdeka Belajar. Semasa pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), sekolah kami berusaha mengimplementasikan program Bapak Menteri tersebut.

    SMA Negeri 38 Maluku Tengah merupakan salah satu sekolah di Indonesia Timur yang belum memiliki fasilitas lengkap seperti sekolah-sekolah lainnya. Jangankan fasilitas untuk sekolahnya, listrik, air, dan sinyal pun sulit di daerah tempat sekolah berada.

    Saya merupakan salah satu guru baru di SMA Negeri 38 Maluku Tengah. Saya lolos Calon Aparatur Sipil Negara (CASN) pada tahun 2019 dan mulai mengabdi di SMA Negeri 38 Maluku Tengah pada bulan September 2019. Pertama kali saya datang ke tempat tugas saya yang berada di Jalan Saluta, Dusun Wailapia, Kecamatan Leihitu Barat, Kabupaten Maluku Tengah tersebut, saya kaget dengan keadaan disana. Padahal jika dilihat letak daerahnya, ternyata tidak jauh dari Pulau Ambon, tetapi listrik tidak menyala setiap hari, hanya di malam hari, itupun tidak setiap malam, tidak ada sinyal internet, sinyal telepon pun GSM (Geser Sedikit Mati), dan jika ingin mencari sinyal yang baik, kita harus pergi ke pantai. Di sekolah pun demikian, susah untuk mendapatkan sinyal, tidak ada listrik di sekolah, ruang kelas hanya ada empat sewaktu saya tiba pertama kali disana, ditambah satu perpustakaan yang berisi sedikit saja bukunya, serta satu ruang guru yang dibangun oleh masyarakat, berdinding papan, dan kayunya dari batang pohon kelapa. Aparatur Sipil Negara (ASN) saat saya tiba di sekolah tersebut hanya kepala sekolah, sisanya dua puluh tiga (23) pendidik yang berstatus honorer.

    Sejak COVID-19 melanda, sekolah terpaksa melakukan pembelajaran jarak jauh. Sewaktu pemerintah menganjurkan untuk belajar online, kami pendidik di SMA Negeri 38 Maluku Tengah bingung harus bagaimana agar peserta didik tetap mendapatkan pendidikan ditengah pandemi ini. Dengan hanya mengandalkan ringkasan materi untuk dibagikan ke peserta didik, maka kami melaksanakan pembelajaran jarak jauh secara luring (luar jaringan) dengan membagikan bahan ajar atau modul kepada peserta didik, setelah itu seminggu sekali peserta didik mengumpulkan tugasnya di sekolah dan mendapat materi belajar yang baru untuk setiap mata pelajarannya.

    Setelah itu, terdengarlah program merdeka belajar oleh pendidik di SMA Negeri 38 Maluku Tengah. Walaupun berada di daerah yang susah sinyal, tetapi kami berusaha untuk selalu mencari informasi terbaru mengenai kemajuan pendidikan. Kami selalu mencari sinyal di pantai untuk membaca informasi-informasi terbaru seputar dunia pendidikan. Dengan demikian, kami mencoba menerapkan merdeka belajar di sekolah.

    Setelah daerah kami digolongkan ke dalam zona hijau dan boleh mengadakan tatap muka terbatas, kami sangat bersemangat membuka sekolah dan mengadakan tatap muka, dikarenakan pembelajaran luring yang kami lakukan tidak seefektif tatap muka.

    Awal menerapkan merdeka belajar, kami menggunakan kurikulum kondisi khusus di masa pandemi. Sayangnya, sekolah kami tidak semaju sekolah-sekolah di luar sana. Kami harus berusaha membuat inovasi, membuat bahan ajar yang menarik perhatian peserta didik. Media pembelajaran interaktif dalam bentuk video maupun dalam bentuk powerpoint saja tidak dapat kami tampilkan ke peserta didik dikarenakan tidak adanya proyektor untuk digunakan. Komputer di sekolah hanya ada lima saja. Buku cetak untuk dibaca peserta didik hanya ada beberapa, media untuk peserta didik menuangkan ide-idenya terbatas. Belum lagi, peserta didik yang malu datang ke sekolah karena tunggakkan uang komite yang dari kelas sepuluh sampai kelas sebelas, bahkan ada yang sampai kelas dua belas yang belum lunas di bayar.

    Dengan kondisi seperti ini, apakah ini yang namanya Merdeka Belajar? atau sekolah kami yang baru Belajar Merdeka? Saat peserta didik di sekolah lain sudah cakap teknologi, mengikuti Asesmen Nasional (AN) dengan lincahnya, peserta didik dari sekolah kami masih belajar mengarahkan kursor komputer, masih perlu dibimbing dan dibantu untuk login, jangankan demikian, kami masih harus menyeberang dari tempat kami ke pulau sebelah hanya untuk mengikuti Asesmen Nasional. Saat sekolah lain sudah menggunakan berbagai kecanggihan teknologi untuk belajar dan ujian, kami masih seperti yang dulu, menulis, membaca, menghafal. Bagaimana kami warga sekolah mau maju dan menerapkan merdeka belajar dengan listrik dan sinyal yang tidak ada. Pendidik berusaha menerapkan merdeka belajar, pendidik berusaha membimbing peserta didik agar berinovasi, tetapi kekurangan dari peserta didik membuat mereka susah bergerak. Peserta didik yang harus pergi ke sekolah dengan berjalan kaki lumayan jauh, sepulangnya dari sekolah harus membantu orang tua mencari ikan di laut dan berkebun, waktu belajar malam sulit karena listrik yang padam, informasi terlambat karena tidak memiliki sumber informasi terkini, sungguh kami baru belajar merdeka.

    Kami tidak memaksakan peserta didik untuk harus selalu belajar, mendapat nilai yang baik, dan lain sebagainya. Kami pendidik, berusaha meyakinkan peserta didik agar belajar dengan giat, jujur, dan berusaha karena masa depan dan kesuksesan bukan ditentukan dengan bagusnya nilai di sekolah, melainkan doa dan kerja keras. Walaupun merdeka belajar di sekolah yang mereka duduki ini tidak seperti sekolah-sekolah lainnya, walaupun banyak beranggapan peserta didik di sekolah kami adalah anak-anak yang kampungan, tetapi semangat mereka belajar merdeka perlu diapresiasi. Dengan segala keterbatasan, mereka dapat membuat beberapa kerajinan tangan seperti bunga hias, mereka pandai memasak, pandai berenang dan memancing, pandai bermain voli walaupun dengan fasilitas olahraga sederhana, pandai membuat bet tenis meja dan memanfaatkan bola deodoran sebagai bola tenis meja, serta menyusun meja belajar sebagai meja tenis, mampu membuat kolam lompat jauh, mampu membuat alat peraga matematika hanya dari karton bekas, dan lain sebagainya. 

    Pendidik juga selalu melakukan inovasi terhadap setiap materi ajarnya, kadang berupa modul, kadang berupa bahan ajar terstruktur, kadang pendidik dengan menggunakan telepon genggam merekam video pembelajaran dan dikirimkan melalui bluetooth untuk dipelajari peserta didik agar tidak bosan belajar, serta membuat media-media pembelajaran baru dengan melibatkan peserta didik. Pendidik juga selalu membuat lomba-lomba kecil selama belajar agar menghilangkan kebosanan di kelas, tak lupa pendidik memotivasi peserta didik untuk tetap belajar dan menggapai cita-cita, demi membanggakan orang tua.

    Dengan demikian, kami pendidik dalam menerapkan merdeka belajar, walaupun dengan alat sederhana dan belum dapat menggunakan teknologi kepada peserta didik seperti sekolah lainnya, tetapi kami sangat antusias dan bersemangat. Kami tidak takut bersaing. Buktinya dengan segala keterbatasan, kami berhasil meraih juara tiga (III) lomba drama monolog yang diselenggarakan oleh salah satu universitas di Denpasar secara online pada bulan November 2021 lalu.

    Walaupun kami baru belajar merdeka dalam merdeka belajar, tetapi kami pastikan peserta didik di sekolah kami harus merdeka dari kemiskinan ilmu dan ketertinggalan.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.