Murid Bukan Pabrik - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Jose LL

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 1 Desember 2021

Jumat, 3 Desember 2021 05:12 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Murid Bukan Pabrik

    Artikel dengan judul: Murid Bukan Pabrik merupakan ulasan dari praktik baik pembelajaran. Penulisan artikel tersebut dalam rangka mengikuti lomba.

    Dibaca : 172 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Ketika mendengar kata pabrik, saya terkesima dengan hasil produksi barang dengan label yang sama. Hasil produksi barang diproses menggunakan alat yang sama sehingga hasilnya pun sama. Bila ditilik dari artinya, pabrik adalah bangunan dengan perlengkapan mesin tempat membuat atau memproduksi barang tertentu dalam jumlah besar untuk diperdagangkan (https://kbbi.web.id/pabrik, 01/11/2021). Istilah ini terceletup ketika saya mengamati murid yang memiliki semangat belajar menurun. Tentu saja mereka bosan dengan pembelajaran online, jenuh mengerjakan tugas terus-menerus.  Mereka terlihat diam dan akan berkata sesuatu apabila ditanya oleh guru. Mereka pun menjawab seadanya, tanpa semangat.

     Terhenyak, ketika melihat murid demikian. Apa yang harus saya lakukan untuk mereka demi memotivasi mereka semangat belajar? Mencari cara adalah usaha yang saya pikirkan pada saat itu. Saya mencoba bertanya kepada mereka dengan penuh canda tawa: rek (sebutan anak-anak dalam bahasa Suroboyoan) penah belajar tentang media canva dan padlet ta? Pertanyaan ini saya ajukan ke murid.  Dalam mengajukan pertanyaan, saya menggunakan bahasa keseharian mereka. Saya merasa ketika menggunakan bahasa keseharian mereka, saya diterima oleh mereka. Mereka kelihatan lebih aktif menjawab pertanyaan saya.

    Salah seorang murid menjawab, belum pernah pak. Serentak mereka menjawab, kami mau pak jika belajar media tersebut. Saya pun meras bahagia. Saya sempat berpikir sejenak, ternyata ketika saya menggunakan bahasa tidak formal, bahasanya mereka justru memberikan daya yang luar biasa. Mereka semakin welcome, merasa menikamti serta termotivasi untuk belajar.

    Bahasanya murid sangat berdampak positif ketika saya melakukan komunikasi sebelum mendesain sebuah proses pembelajaran. Komunikasi yang baik, saya temukan adalah komunikasi terpusat pada dunianya murid. Guru perlu mengetahui dan bahkan menggunakan bahasa “gaul-nya” sebagai alat komunikasi investigasi belajar. Pengunaan bahasa dapat disinkronkan dengan kebutuhan murid di daerah masing-masing.

    Pandailah berbahasa sebagai alat ampuh menarik murid kedalam proses belajar. Dari bahasa yang digunakan menumbuhkan usaha inovatif belajar. Belajar terpusat dari murid. Kebutuhan murid harus diolah oleh guru sebelum mendesain pembelajaran. Cara yang sederhana justru memberikan manfaat keberlanjutan. Guru dapat mempersiapakan proses belajar yang sesuai dengan kebutuhan murid. Ini adalah salah satu cara merdeka belajar. Apakah ini sudah cukup?

    Saya ingin mereka berubah, mereka harus memiliki semangat ketika mengikuti pemelajaran saya. Demi mengatasi masalah tersebut, saya lakukan adalah mendesain pembelajaran sesuai denga apa yang mereka inginkan. Saya mencoba menerapkan diferensiasi belajar. Diferensiasi belajar merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh guru untuk memanfaatkan potensi dan human skill murid dalam belajar. Diferensiasi sangat memperhatikan kemampuan yang dimiliki oleh murid masing-masing. Walaupun dalam proses pembelajaran menerapkan diferensiasi belajar, namun tujuan akhir pembelajaran adalah peningkatan kompetensi murid. Saya menerapkan komptensi pada pelajaran agama adalah murid mampu menggunakan media digital sebagai sarana pewartaan iman dengan cara  membuat infografis atau poster dengan media canva. Dan mereka menggunakan mendesain informasi tertulis bermuatan gambar pada media padalet. Media padlet sangat menarik karena saya saya dapat menerapkan cara berliterasi menyampaikan  gagasan, menulis, membaca.

    Sebelum menerapkan cara tesebut, saya pertama-tama melakukan assessment diagnosis. Beberapa pertanyaan yang saya ajukan kepada murid melalui goole form adalah pertama, apakah anak-anak pernah mengenal media canva untuk mendesain poster dan padlet untuk membuat tulisan dengan muatan gambar? Apakah anak-anak pernah mendesain poster? Apakah anak pernah membuat tulisan dengan ganbar secara digital?

    Usaha yang saya lakukan ini adalah cara untuk mengetahui kemampuan dan kebutuhan murid. Ketika saya mengetahui hal tersebut maka dalam prosesnya tentu memerdekakan murid. Murid dapat melakukan secara lebih leluasa terutama menggunakan media canva dan padlet. Dalam proses ini, murid dapat menentukan cara belajar nyaman, melakukan sesuatu yang ia inginkan namun masih berpedoman pada etika dan pengembangan kompetensi diri.

    Cara merdeka belajar merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh guru untuk memahami kebutuhan murid dan ia merasa terlibat didalamnya. Secara psikologis murid merasa nyaman berada bersama gurunya sehingga ia mampu mengatur self-regulated belajrnya. Self-regulated merupakan sebuah istilah penting dalam konsep merdeka belajar. Konsep ini diungkapakn oleh Ki Hajar Dewantara.

    Menerapkan proses pembelajaran berpusat pada murid (self-regulated) dapat membentuk komitmen pendidikan dan pengajaran yang mengedepankan pemberdayaan murid belajar secara mandiri. Cara tersebut, saya lakukan ketika proses pembelajaran yang didesain dengan konsep Literasi Teknologi Eduteimen (LTE).

    Dalam melaksanakan proses pembelajaran (LTE) saya mencoba melakukan demonstrasi penggunaan media belajar canva dan padlet demi membangkitkan semangat eksplorasi murid. Investigasi awal telah dilakukan, proses pengarahan telah di berikan kepada murid. Langkah selanjutnya adalah murid melakukan literasi digital, membaca dan menulis pada media padlet dan canva murid diminta untuk membuat poster dan majalah online.

    Dalam melaksanakan praktik pembelajaran ini, saya tidak hanya mengajarkan murid untuk menggunakan media tersebut, namun lebih dari itu, saya melatih murid untuk mengolah cara berpikir tingkat tinggi (HOTS) serta kemampuan berbicara, dan membaca.  Inovasi pembelajaran sederhana berdampak pada kebutuhan murid memberikan dampak terhadap keberlangsungan belajar tanpa henti. Saya melihat begitu murid melakukan aktivitas mendesain poster dan majalah, mereka mencoba menyampaikan kebermanfaatan, aplikasinya menyenangkan! Kata menyenangkan mewakili segala usaha dan proses belajar yang dialami oleh murid.

    Dari perasaan menyenangkan yang dialami murid merupakan langkah sederhana yang saya lakukan untuk mebangkitkan semangat belajar, menghilangkan rasa bosan belajar selama pembelajaran daring di masa pandemi covid-19. Berdaya itu membutuhkan proses kepekaan yang mendalam dari guru. Saya bisa melakukan hal ini, bermula dari rasa empati saya terhadap keadaan yang dialami oleh murid. Rasa empati membuat saya membangun kedekatan dengan murid (bounding).  Membangun relasi secara dekat adalah upaya untuk mewujudkan proses belajar yang menginspirasi.

    Proses belajar menginspirasi adalah suatu usaha belajar yang memiliki makna serta daya baru untuk mewujukan proses belajar yang lebih mendalam. Dari proses belajar mengisnpirasi dapat memotivasi guru untuk terus meningkatkan karirnya dan terus belajar sehingga ia mampu memenuhi kebutuhan belajar murid generasi Z, Alfa.

    Usaha guru dalam memenuhi kebutuhan murid selama masa pandemi sangat komplek. Oleh karena itu, langkah awal yang harus dilakukan oleh guru adalah bangunlah kemitraan antara guru dan murid. Sebagai mitra, jadilah guru yang dipercayai murid. Murid dapat berbagi cerita, canda tawa serta saling berkomunikasi secara terbuka.

    Masa pandemi dan proses belajar daring dan luring dalam kurun waktu terbatas membutuhkan berbagai macam cara untuk mengenal murid. Mengenal murid bukan sekadar tau nama lengkap, tempat tinggal, kelas. Namun, mengenal murid sebaiknya melebur dalam setiap pengalaman yang murid sahringkan dan jadikan hal tersebut sebagai usaha personalizing learning.  Personalizing learning, membantu guru untuk membentuk dirinya dalam melayani murid secara sigap.

    Dari segala proses yang dilakukan, baik proses belajar maupun proses membangun relasi dengan murid merupakan usaha saya dalam memahami keberadaan murid bahwa mereka bukanlah pribadi yang sama seperti pabrik. Mereka berada di satu kelas namun, dicetak dengan cara yang sama. Bukan demikian yang saya harapkan. Beragam cara harus guru lakukan untuk memenuhi kebutuhan murid. Murid adalah seseorang yang memiliki pribadi unik. Keunikan yang dimiliki murid membentuk guru berani berubah cara mengajar, cara belajar, cara pendekatan terhadap murid serta cara membentuk inovasi belajar yang berpihak pada kebutuhan murid.

    Ada beberapa hal penting yang menjadi refleksi dari proses pembelajaran yang saya lakukan, pertama, saya ingin menciptakan budaya baru dalam belajar: guru memahami murid, mengerti kondisi murid serta kebutuhan murid. Kedua, saya dapat mendesain proses belajar searah sesuai apa yang dinginkan oleh murid. Usaha ini dapat dilakukan berdasarkan informasi assessment diagnosis yang saya lakukan sebelumnya. Ketiga, saya ingin memerdekakan murid dalam belajar. Murid mampu mengatur diri, waktu serta proses pencapaian belajarnya secara mandiri. Keempat, saya ingin mengembangkan potensi serta kreativitas murid berdasarkan human skill yang dimiliki. Kelima, saya ingin mengembangkan peluang belajar murid dengan membangun bounding. Keenam. Alhasil dari proses belajar yang dilakukan adalah murid dapat menciptakan sebuah karya atau produk. Ketujuh, hasil karya murid merupakan cara dalam mengembangkan kompetensi keberlanjutan. Murid tidak hanya belajar untuk menghasilkan sebuah karya, namun ada nilai kebermafaatan yang disemaikan demi kelangsungan hidup kelaknya. Kedelapan, dari proses belajar ini, saya mendapatkan kepercayaan dari murid. Ini adalah usaha saya dari waktu ke waktu untuk menciptakan ekosistem belajar yang memerdekakan murid.

    Dari refleksi di atas saya mecoba merangkum pengalaman belajar murid. Diakhir sesi pembelajaran, saya memberikan kesempatan kepada murid untuk menyampaikan pengalaman belajar: apa yang ia dapatkan, dan bagaimana pengalamannya. Hampir semua murid menjawab penerepan proses belajar ini sangat berdampak terhadap perkembangan literasi digital saat ini. Dari pengalaman ini, saya mencoba mengajak rekan sejawat untuk menerapkan proses belajar berpusat pada kebutuhan murid.

    Wahai para guru, lakukan segala sesuatu yang dapat engkau lakukan kepada murid. Kenikamatan akan datang, dimana engkau tidak dapat memastikan waktunya. Engaku merasakan kenimatan saat ini ketika engkau melihat muridmu mereka tersenyum dihadapanmu. Mereka tersenyum karena engkau telah membangun jembatan kehidupan: membangun kedekatan dengan murid, menikmati ketika berada bersama murid, canda tawa bersama murid, serta saling belajar tak pernah putus.

    Dengan demikian cita rasa guru dan murid sebagai mitra dapat menciptakan proses pembelajaran bermakna, berdaya pada peningkatan karir serta kompetensi keduanya. Teruslah belajar, jangan berhenti untuk mencari cara. Hanya orang yang malas sulit mencari cara. Tetapi, guru dan murid adalah mahkluk pembelajar tak kenal batas akhir. Kompetensi diri perlu ditingkatkan, luangkan waktu untuk bersemi bersama kebutuhan akan belajar. Belajar itu indah dan berdampak pada kedewasaan pribadi, bijak, kritis, beradab, tangguh, mandiri merupakan implikasi nilia dari jiwa pembelajar. Ciptakan ekosistem belajar berbeda di setiap cela kejenuhan murid dalam belajar selama pandemi.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.