DETIK LATRI: STRATEGI MERDEKA BELAJAR MATEMATIKA BERBASIS KEARIFAN LOKAL UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS SISWA - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

membuat desain batik menggunakan pola geometri

Retmaniar Karima

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Desember 2021

Sabtu, 4 Desember 2021 06:08 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • DETIK LATRI: STRATEGI MERDEKA BELAJAR MATEMATIKA BERBASIS KEARIFAN LOKAL UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS SISWA

    Kisah inspiratif guru dalam menerapkan merdeka belajar di sekolah dasar. Bergerak dengan hati demi kemajuan pendidikan di Indonesia

    Dibaca : 403 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Berbagai permasalahan yang muncul dalam Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) mendorong Kementrian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikbud Ristek) melakukan evaluasi bersama pihak-pihak terkait. Salah satu hasilnya yaitu dikeluarkannya kebijakan baru terkait dengan Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Semester Genap dan Tahun Ajaran Baru 2021/2022 di Masa Pandemi Covid-19. Menurut Mendikbud Nadiem Makarim, pembelajaran dapat kembali dilakukan secara tatap muka tetapi berdasarkan persetujuan dari pemerintah daerah, sekolah, serta para orang tua. Pelaksanaan pembelajaran tatap muka dilakukan secara terbatas (PTMT) dimana satuan pendidikan dapat mengatur satu kelas hanya diisi 25-50% siswa, durasi kegiatan pembelajaran hanya dua jam, dan satu minggu hanya dua kali pertemuan. Selain itu, semua warga sekolah diwajibkan untuk menerapkan protokol kesehatan secara ketat seperti mengecek suhu tubuh, mencuci tangan, dan memakai masker.

    Diketahui bahwa sekitar 30% satuan pendidikan telah melakukan PTMT sesuai dengan situasi dan kondisinya masing-masing. Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong pelaksanaan PTMT untuk semua satuan pendidikan yang berada pada zona hijau agar dapat meminimalisir permasalahan dalam PJJ. Demikian juga pada SD Negeri Sawahjoho 01 yang sejak bulan September telah melakukan PTMT dengan protokol kesehatan yang ketat. Penerapan PTMT tentunya telah mendapat persetujuan dari dinas pendidikan, satgas Covid-19 setempat, serta seluruh orang tua wali murid. Penerapan PTMT di masa pandemi ini mendorong guru untuk melakukan inovasi strategi dan model pembelajaran yang dinilai efektif bagi siswa saat kembali belajar di sekolah.  

    Salah satu inovasi strategi pembelajaran yang telah diimplementasikan oleh penulis dalam PTMT adalah Detik Latri. Detik Latri merupakan akronim dari Desain Batik Pola Geometri. Strategi tersebut merupakan praktik baik penerapan merdeka belajar dalam mata pelajaran matematika di sekolah dasar yang berbasis pada kearifan lokal untuk meningkatkan kreativitas siswa.

    Pada hakikatnya pembelajaran Detik Latri adalah pembelajaran yang menerapkan pendekatan Etnomatematika. Menurut Prof.Dr. Budi Nurani Ruchjana (2021) Etnomatematika dapat digunakan oleh guru dan orang tua untuk membantu pemahaman konsep matematika dengan lebih mudah karena termasuk pembelajaran matematika realistik. Etnomatematika mengkaji berbagai lambang, konsep, prinsip, dan keterampilan matematika yang ada pada suatu budaya, tempat, kelompok bangsa, suku, atau masyarakat di sekitar lingkungan siswa. Selain belajar tentang matematika, Etnomatematika juga dinilai mampu mendukung pelestarian budaya daerah sehingga siswa tidak melupakan kekhasan dan kekayaan budaya yang ada di daerahnya.

    Batik dipilih sebagai media pembelajaran karena SD kami yaitu SDN Sawahjoho 01 terletak pada Kabupaten Batang syang memang memiliki kain batik tradisional. Ciri khas batik Batang berbeda dengan batik Solo atau Jogja. Batik Batang termasuk dalam batik pesisir dengan motif kawung, tumbuhan atau hewan. Salah satu batik khas Kabupaten Batang adalah Batik Rifaiyah. Batik Rifaiyah merupakan batik kebanggaan Batang yang sudah dipasarkan hingga ke Eropa. Batik Rifaiyah menerapkan seni yang mengadopsi ajaran Kiai Ahmad Rifai. Motifnya unik karena apabila pembatik ingin menggambar fauna, maka hanya boleh mengambil bagian tubuh tertentu, sedangkan bagian lainnya diganti dengan ornament tumbuhan. Selain motifnya yang unik, pembuatan batik rifaiyah juga dianggap sacral karena pembatik harus berada dalam keadaan hati yang bersih. Sebelum mulai membatik, pembatik harus menjalankan salat duha terlebih dahulu. Tidak cukup hanya itu, pembatik juga harus melantunkan syair-syair islam berisi nasihat saat menorehkan malam keselambar kain.

    Dalam pembelajaran Detik Latri ini, guru mengadopsi beberapa ciri khas batik Rifaiyah yaitu siswa didengarkan asmaul husna sehingga tanpa sadar mereka juga akan melafalkan asmaul huna saat membuat batik. Hal ini dilakukan agar dapat membentuk Profil Pelajar Pancasila dimana salah satu aspeknya yaitu Beriman dan Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Namun, untuk polanya kami mengadopsi dan mengembangkan pola batik kawung yang juga merupakan salah satu motif khas batik Batang. Motif batik kawung dipilih karena relatif lebih mudah bagi siswa dan sekaligus menerapkan pola-pola geometri seperti lingkaran, persegi, dan belah ketupat.    

    Penerapan strategi Detik Latri diawali dengan asesmen diagnostik untuk menggali kebutuhan, karakteristik, gaya belajar, dan harapan siswa terhadap proses pembelajaran matematika yang akan dilakukan. Hasil asesmen diagnostik kemudian dianalisis oleh guru dan digunakan sebagai dasar untuk merancang proses pembelajaran matematika sehingga hasil belajar siswa lebih optimal. Setelah itu guru membuat RPP dan menyiapkan materi, lembar kerja, serta media pembelajaran yang akan digunakan.

    Kegiatan pembelajaran diawali dengan meminta siswa untuk mengamati bangun datar yang ada di dalam kelas dan menyebutkan namanya. Kemudian guru memberikan permasalahan tentang penerapan pola geometri yang berbentuk bangun datar dalam kehidupan sehari-hari dengan memperlihatkan salah satu desain batik. Siswa antusias dalam menjawab permasalahan tersebut dengan menyebutkan berbagai bentuk bangun datar yang digunakan dalam pola batik tersebut.

    Dalam kegiatan inti, siswa diajak untuk membuat bangun datar dengan berbagai bentuk dan ukuran seperti lingkaran, persegi, belah ketupat, segitiga, segilima, atau segienam. Kardus bekas dipilih sebagai media gambar bangun datar sehingga siswa dapat memanfaatkan kembali barang-barang bekas yang ada di lingkungan sekitar. Setelah digambar, bangun datar tersebut kemudian digunting dan dijadikan sebagai pola desain batik. Langkah selanjutnya yaitu siswa mulai membuat desain batik pada kain yang berukuran 30x30cm. Di tahap ini siswa bebas berkreasi dalam membuat desain batik dengan memanfaatkan pola-pola geometri yang telah dibuatnya. Setelah desain selesai dibuat, siswa mewarnainya dengan pewarna kain sehingga tampilan batik lebih menarik. Untuk mempertahankan warna batik, kain kemudian direndam pada air panas dan dijemur hingga kering.

    Kegiatan pembelajaran ditutup dengan mereview hasil kreatifitas siswa dalam membuat desain batik pola geometri. Siswa juga mempresentasikan hasil karyanya di depan kelas untuk saling memberikan saran dan tanggapan. Siswa merasa pembelajaran matematika dengan strategi Detik Latri ini sangat menyenangkan dan bermakna.     

    Sebagai salah satu strategi merdeka belajar, Detik Latri memiliki beberapa keunggulan yaitu pembelajaran matematika menjadi aktif, kreatif, menyenangkan, dan bermakna. Para siswa yang semula belajar geometri hanya sebatas mencari luas dan kelilingnya dengan menggunakan rumus, maka dengan strategi Detik Latri ini siswa dapat mengaplikasikan langsung konsep gemoteri seperti pengukuran panjang, lebar, keliling hingga luas dalam konteks yang lebih nyata yaitu untuk membuat pola batik. Apalagi siswa sekolah dasar (SD) masih berada pada tahap operasional konkrit sehingga penggunaan benda-benda konkrit akan sangat membantu mereka dalam memahami materi.

    Strategi pembelajaran Detik Latri juga akan meningkatkan kreativitas siswa karena mereka dapat membuat berbagai macam pola batik dari gabungan beberapa bangun datar dengan cara yang berbeda-beda. Kreativitas ini sangat penting dikembangkan karena merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa pada abad 21 yang disebut 4C, yaitu Critical Thinking and Problem Solving (berpikir kritis dan dapat menyelesaikan masalah), Creativity (kreativitas), Communication Skills (kemampuan berkomunikasi), dan Collaboration (kerja sama).   

    Selain memberikan manfaat bagi siswa, strategi Detik Latri juga bermanfaat bagi guru diantaranya yaitu: 1) meningkatkan kompetensi professional guru agar terus menciptakan inovasi pembelajaran, 2) mengakomodasi gaya belajar siswa yang bervariasi, dan 3) memberikan inspirasi bagi guru lain tentang merdeka belajar. Diharapkan dengan semakin banyaknya strategi, model, atau media pembelajaran yang inovatif dapat memberikan kontribusi positif bagi pendidikan di Indonesia.

    Ikuti tulisan menarik Retmaniar Karima lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.