Mewujudkan Merdeka Belajar melalui Pembelajaran yang Berpihak pada Murid Terintegrasi Pemanfaatan Portal Rumah Belajar - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Surya Ningsi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 2 Desember 2021

Sabtu, 4 Desember 2021 06:15 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Mewujudkan Merdeka Belajar melalui Pembelajaran yang Berpihak pada Murid Terintegrasi Pemanfaatan Portal Rumah Belajar

    Pembelajaran yang berpihak pada murid dapat dilakukan oleh guru dengan cara melakukan kesepakatan kelas yang dapat dilakukan pada awal semester berjalan atau pada akhir semester, melakukan pembelajaran berdiferensiasi untuk memenuhi kebutuhan belajar murid yang berbeda terintegrasi dengan pemanfaatan Portal Rumah Belajar sebagai bentuk inovasi platform pembelajaran berbasis teknologi. Selain itu, pada beberapa murid yang masih memiliki masalah, guru melakukan proses coaching dan menfasilitasi murid menemukan sendiri solusi atas masalah yang dihadapi dengan menggunakan model TIRTA. Pembelajaran yang berpihak pada murid akan memotivasi guru dan murid untuk senantiasa belajar, bergerak, berkarya dan berbagi serta berkolaborasi dengan seluruh pihak mewujudkan merdeka belajar.

    Dibaca : 3.460 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kemerdekaan menjadi isu kritis dalam pendidikan Ki Hajar Dewantara. Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah sifatnya hakiki dan seiring dengan perkembangan zaman yang selalu berubah, sehingga setiap manusia dituntut agar memiliki kemerdekaan lahir dan batin untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya serta tidak bergantung kepada orang lain melainkan bersandar pada potensi atau kekuatan sendiri. Untuk itu, pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara harus memperhatikan unsur-unsur kodrat alam, kemerdekaan, kemanusiaan, kebudayaan dan kebangsaan. Pemikiran Ki Hajar Dewantara ini sangat sesuai dengan sistem pendidikan di Indonesia yang menerapkan sistem merdeka belajar. Dalam hal ini, guru dan murid diberikan kebebasan dalam belajar, kebebasan menuntut ilmu di mana saja, kapan saja dan dengan siapa saja.

    Guru yang merdeka belajar akan memiliki komitmen dalam tujuan, mandiri dalam bekerja dan senantiasa melakukan refleksi. Guru yang merdeka belajar akan mendorong murid menjadi pribadi yang memiliki kompetensi global dan mencerminkan profil pelajar Pancasila, yaitu beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, kreatif, gotong royong dan kebhinekaan global. Dengan demikian, guru dan murid akan menjadi pembelajar sepanjang hayat. Untuk mewujudkan hal tersebut, guru harus menanamkan sikap menuntun dan melakukan pembelajaran yang berpihak pada murid. Menuntun murid ke jalan yang lurus dilakukan dengan memberikan contoh atau teladan yang baik, dengan memberikan ide atau prakarsa dan memberikan motivasi. Sikap menuntun ini dikenal dengan semboyan “ing ngarso sun tulodo, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”. Demikian pula, untuk melakukan pembelajaran yang berpihak pada murid, guru akan mendesain pembelajaran agar dapat sukses membelajarkan muridnya baik di kelas maupun di luar kelas.

    Beberapa hal yang dapat membantu guru untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan melalui pertanyaan pemantik sebelum melakukan kegiatan pembelajaran. Misalnya, “Bagaimana cara guru mengelola pembelajaran secara efektif sehingga dapat memenuhi kebutuhan belajar murid yang berbeda?, Apa yang guru minta kepada murid untuk dipelajari di rumah atau di sekolah?, Bagaimana cara murid dalam belajar?, Bantuan atau fasilitas seperti apa yang dibutuhkan dalam pembelajarannya dan cara berinteraksi murid dengan yang lain?, Bagaimana murid mendemonstrasikan dan mengekspresikan apa yang telah dipelajari?, Produk seperti apa yang murid akan hasilkan? Bagaimana guru melakukan penilaian secara adil kepada murid dengan karakter yang berbeda?”

    Jawaban terhadap pertanyaan pemantik ini memiliki dampak yang besar dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan budaya positif di sekolah khususnya di dalam kelas. Namun, fakta yang umum ditemukan di lapangan adalah masih adanya murid yang sering melamun di kelas ketika guru sedang mengajar atau sengaja mematikan kamera mulai dari awal hingga akhir pembelajaran dengan berbagai alasan yang tidak diketahui kebenarannya secara pasti. Kondisi lain adalah masih adanya murid yang bermain petak umpet dengan guru ketika menggunakan HP di dalam kelas. Bahkan, ditemukannya murid yang selalu mengantuk bahkan tertidur atau asyik bercerita dan berdiskusi dengan teman sebayanya. Hal ini kemudian menjadi perbincangan guru di dalam rapat atau diskusi antar rekan sejawat. Namun, hasil diskusi yang ditemukan adalah murid selalu berada pada kondisi yang bersalah. Murid adalah korban dalam setiap situasi yang dihadapi oleh guru dalam proses pembelajaran. Berkaitan dengan hal tersebut, perlunya kerja sama antar guru, murid, orang tua murid dan seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan perubahan. Dukungan dari keluarga, sekolah dan masyarakat akan membantu mendorong kreativitas dan inovasi dalam mempersiapkan murid sebagai generasi unggul yang siap menghadapi tuntutan revolusi industri 4.0 yaitu memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, mampu berkomunikasi secara efektif dan senang berkolaborasi yang pada akhirnya akan memberikan pengalaman belajar yang bermakna kepada murid.

    Pengalaman belajar yang bermakna dapat dimulai dari dalam kelas dengan membuat kesepakatan kelas bersama murid. Guru memfasilitasi murid untuk menemukan apa yang menjadi kebutuhan murid selama belajar. Misalnya, perlunya sikap saling menghornati antar murid di dalam kelas, dibolehkannya penggunaan HP saat belajar, pemberian ice breaking atau games untuk menghilangkan kebosanan atau kejenuhan dalam belajar dan tidak menutup kemungkinan pengurangan tugas dan ulangan harian diberlakukan bila hal tersebut disepakati di dalam kelas, dan dialihkan ke bentuk lain seperti pembuatan produk tertentu atau pameran karya sesuai dengan materi yang telah dipelajari. Dalam kesepakatan kelas, tidak ada paksaan ataupun sanksi yang diberlakukan. Namun lebih kepada bentuk evaluasi dan refleksi bila ada yang tidak berjalan sesuai dengan awal kesepakatan. Kesepakatan kelas dapat dilakukan pada awal semester berjalan atau pada akhir semester. Tujuannya agar semua murid merdeka belajar.

    Selain kesepakatan kelas, guru juga dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna kepada murid melalui pembelajaran berdiferensiasi. Menurut Tomlinson (2000), Pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar setiap murid. Jadi, dalam pembelajaran berdiferensiasi, guru melakukan serangkaian kegiatan secara sistematis dengan memfasilitasi murid untuk memproses ide atau informasi dan mengembangkan suatu produk sesuai dengan kemampuan murid masing-masing meliputi diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk dengan mengacu pada aspek pemetaan kebutuhan belajar murid. Pada awal pembelajaran, guru melakukan tes diagnostik untuk mengetahui kebutuhan belajar murid berdasarkan kesiapan belajar murid, minat belajar murid dan profil belajar murid.

    Dalam pengimplementasiannya, tidak akan ada murid yang merasa diistimewakan atau sebaliknya. Bahkan, guru sebagai fasilitator mendorong agar murid selalu berani bertanya, percaya diri dalam mengungkapkan ide atau pendapat, mandiri dalam bekerja, aktif berdiskusi dan senang berkolaborasi. Pembelajaran dengan strategi ini menciptakan kondisi merdeka belajar. Setiap murid bebas mengerjakan tugas dan menghasilkan produk baik berupa teks atau tulisan seperti artikel, narasi, karangan atau bentuk produk lain yang sesuai minat belajarnya seperti audio, video, poster, mind mapping dan lainnya baik secara individu maupun secara berkelompok selama produk tersebut merujuk pada indikator atau standarisasi minimum penilaian. Selan itu, guru juga akan mengetahui apa yang disukai dan yang tidak disukai oleh murid dalam pembelajaran sehingga guru dapat menyediakan bahan atau media ajar yang disesuaikan dengan profil belajar murid, seperti menyediakan gambar-gambar, grafik, tampilan slide power point, atau materi yang diiringi dengan musik. Dalam hal ini, guru memanfaatkan Portal Rumah Belajar untuk memenuhi kebutuhan murid yang berbeda.

    Portal Rumah Belajar adalah platform pembelajaran yang berbasis teknologi sebagai bentuk inovasi platform pembelajaran yang mendukung merdeka belajar. Setiap murid dapat mengakses seluruh konten (web) secara gratis. Bahkan, fitur-fitur yang ada di dalam Portal Rumah Belajar telah dilengkapi dengan konten baik berupa audio, video, media pembelajaran interaktif (web), bank soal, dan banyak fitur pendukung lainnya seperti TV-edukasi, suara edukasi, wahana jelajah angkasa, peta budaya dan sebagainya, sehingga sangat sesuai dengan kebutuhan belajar murid. Dengan memanfaatkan Portal Rumah Belajar, guru dan murid juga dapat melakukan komunikasi secara efektif pada fitur utama yaitu kelas maya. Bahkan dengan kondisi pembelajaran tatap muka terbatas sekalipun guru dan murid dapat melakukan praktikum secara virtual pada fitur laboratorium maya.

    Pada beberapa kasus, ditemukan murid yang masih perlu mempelajari materi dasar dibandingkan dengan beberapa murid lainnya yang sudah mencapai tingkat penalaran dan mampu mengaitkan konsep materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari. Untuk itu, guru memberikan bantuan kepada murid melalui proses coaching. Dalam proses ini, guru hanya bertindak sebagai fasilitator yang membantu murid menemukan sendiri solusi atas masalah yang dihadapinya dengan melihat Tujuan yang ingin dicapai, Identifikasi sumber daya (potensi murid), Rencana aksi seperti apa yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan dan TAnggung jawab terhadap keputusan yang diambil atau lebih dikenal dengan model TIRTA. Menerapkan pembelajaran yang berpihak pada murid terintegrasi pemanfaatan Portal Rumah Belajar dapat berjalan efektif dan efisien melalui dukungan, komunikasi asertif dan refleksi bersama untuk perbaikan pembelajaran selanjutnya. Pembelajaran yang berpihak pada murid akan memotivasi guru dan murid untuk senantiasa belajar, bergerak, berkarya dan berbagi serta berkolaborasi dengan seluruh pihak mewujudkan merdeka belajar.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.