Implementasi Merdeka Belajar dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Matematika di SMP Negeri 1 Lamongan - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Suasana Siswa di Kelas

Nur Azis

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 November 2021

Minggu, 5 Desember 2021 08:41 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Implementasi Merdeka Belajar dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Matematika di SMP Negeri 1 Lamongan

    Implementasi Merdeka Belajar dengan Synchronous Blended Learning mata pelajaran Matematika di SMP Negeri 1 Lamongan

    Dibaca : 5.269 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    IMPLEMENTASI MERDEKA BELAJAR DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MATA PELAJARAN MATEMATIKA DI SMP NEGERI 1 LAMONGAN

    Nur Azis

    SMP Negeri 1 Lamongan, Jl Kisarmidi Mangunsarkoro 18 Lamongan

    E-mail: nur.azis1357@gmail.com

    Pendahuluan

    Merdeka Belajar adalah kebijakan Kementrian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi  (Kemendikbudristek) yang berupaya mewujudkan Pendidikan yang berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia melalui Sumber Daya Manusia (SDM) unggul yang merupakan pelajar sepanjang hayat yang memiliki wawasan global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, Merdeka belajar berupaya mengembalikan hakikat belajar kepada fitrahnya, dan menekankan keperpihakan yang besar kepada peserta didik, sebagaimana yang disampaikan Ki Hajar Dewantara : “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat tersebut”.

    Kemendikbudristek juga mengadakan  berbagai pelatihan dan webinar mulai dari di program Guru belajar dan berbagi, Program sekolah penggerak, guru penggerak, tujuannya bagaimana pembelajaran berpusat pada peserta didik. Peserta didik merasa senang dalam menempuh Pendidikan, siswa diberikan kebebasan tentang sumber belajar, tidak hanya ruang kelas dan guru, tetapi sumber belajar bisa dari youtobe, perpustakaan online, media sosial, dan alam sekitar.

    Perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh perubahan global, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perubahan yang terus menerus ini menuntut perlunya perbaikan sistem pendidikan nasional termasuk penyempurnaan kurikulum untuk mewujudkan masyarakat yang mampu bersaing dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman (Trianto, 2010:11).

    Pada awal bulan Agustus 2021 SMP Negeri 1 Lamongan, menerapkan PTMT terbatas, dengan 10% tatap muka dan 85% pembelajaran online. Dalam mengimplementasikan konsep merdeka belajar, maka dibuatlah aplikasi pembelajaran yang di dalamnya terdapat banyak sumber belajar, mulai dari buku siswa, Bahan ajar, Kuis, perpustakaan online. Siswa bisa belajar kapan saja, dimana saja, sesuka hatinya, diharapkan dengan aplikasi ini siswa akan senang mencari referensi dalam belajarnya. Siswa juga bisa berdiskusi dengan teman atau guru melalui aplikasi tersebut.

     Aplikasi Hybrid-1 juga bisa dipakai untuk mengurangi miskonsepsi siswa dan guru dalam mengartikan merdeka belajar. Salah satu miskonsepsi tentang merdeka belajar adalah siswa akan faham dengan materi tertentu hanya dengan penjelasan dari guru, sehingga guru harus mendominasi perannya dalam sebuah kegiatan belajar. Kebebasan meninggalkan tugas pembelajaran dengan alasan karena adanya merdeka belajar termasuk miskonsepsi tentang merdeka belajar. Miskonsepsi yang lain tentang merdeka belajar diartikan sebagai bebas belajar, dengan meninggalkan tugas saat ada jadwal pelajaran, Aplikasi Hybrid-1 terbukti efektif untuk mengurangi miskonsepsi-miskonsepsi tentang merdeka belajar. Dengan adanya menu pada Hybrid-1 yaitu Aktivasi pembelajaran yang merekam kegiatan guru dan siswa secara realtime,  admin bisa memantau kegiatan belajar mengajar.

    Dalam merdeka belajar seorang guru harus mempunyai kreatifitas dalam mengajar, mulai merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajarannya. Guru harus berkreatif dalam membimbing siswa, sehingga kemandirian siswa bisa diwujudkan. Mentalitas guru dan siswa untuk berjuang dalam Pendidikan perlu ditingkatkan dalam mewujudkan merdeka belajar.

    Metode Penelitian

    Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Lamongan Tahun Pelajaran 2021-2022 dengan subyek penelitian kelas IX C berjumlah 32 siswa. Pengambilan data digunakan dengan cara Tes, angket dan pengamatan aktivitas pembelajaran dalam aplikasi Hybrid-1.

    Hasil dan pembahasan Penelitian

    Penelitian ini didasarkan pada 3 kriteria (1) skor tes akhir minimal 85% siswa yang mencapai KKM yang ditetapkan sekolah yaitu 82, (2) Persentase rata-rata hasil pengamatan aktivitas belajar siswa di Hybrid lebih dari 80%  (dalam kategori baik). (3) Dari hasil respon siswa terhadap 32 subyek  menyatakan  senang terhadap materi Perpangkatan dan Bentuk akar setelah mengikuti pembelajaran dengan Synchronous Blended Learning..

    Data hasil tes akhir , sebanyak 27 siswa yang mendapatkan skor ≥ 82 dan 5 siswa yang mendapatkan skor  82 sehingga persentase ketuntasan siswa secara klasikal adalah 84,37%. Observasi terhadap  aktivitas siswa di Hybrid-1  menunjukkan bahwa persentase rata-rata adalah 84,3% mengikuti pembelajaran  Synchronous Blended Learning.

    Merdeka belajar bukan berarti membiarkan siswa belajar  tanpa ada kontrol dari pendidik, pendidik harus tetap sebagai pendamping dan penuntun dalam pembelajaran siswa. Mengenai sumber belajar siswa dibebaskan untuk mencari dan mengambil baik dari media elektronik maupun non elektronik. Seorang guru harus tetap merencanakan , melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran.

    Pada pelaksanaan PTMT, pada tanggal 13 September 2021  Pembelajaran di SMP Negeri 1 Lamongan menerapkan 50% peserta didik tatap muka (live)  dan 50 % peserta didik belajar dari rumah (virtual),  Pada pelaksanaannya penulis menggunakan istilah Synchronous Blended Learning, dimana pembelajaran siswa yang ada di kelas dengan yang ada di rumah berjalan secara bersamaan (sinkron). Untuk mendukung pembelajaran itu peneliti menggunakan aplikasi yang bernama Hybrid-1.

    Salah satu menu dalam Hybrid-1 adalah menu kelas virtual yang digunakan untuk proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Di dalam kelas virtual terdapat fitur yang dapat menunjang kegiatan  pembelajaran synchronous blended learning seperti whiteboard, Vicon, Media, buku, bahan ajar, kuis, dan tanya jawab. Fitur  di kelas virtual memungkinkan guru untuk melaksanakan synchronous blended learning dimana pembelajaran ditujukan untuk peserta didik yang berada di kelas (offline) dan peserta didik yang berada di rumah (online).

    Pelaksanaan  pembelajaran Synchronous Blended Learning di SMP Negeri 1 Lamongan terbagi menjadi 3 kegiatan, yaitu : Pendahuluan, Kegiatan inti, dan Penutup. Pada kegiatan pendahuluan dilakukan Guru dan Peserta didik yang di rumah masuk masuk ke aplikasi Hybrid-1, Guru masuk kelas Virtual, Guru meng klik Vicon, Peserta didik yang ada di kelas memperhatikan tayangan di LCD, Guru membuka dengan salam, menanyakan kabar peserta didik, berdoa dan mengecek kehadiran peserta didik di ruang Vicon dan peserta didik yang ada di kelas. Menjelaskan tujuan pembelajaran, Menjelaskan hal-hal yang akan dipelajari, kompetensi yang akan dicapai, penilaian yang akan digunakan serta metode belajar yang akan ditempuh, Menyampaikan motivasi tentang apa yang dapat diperoleh (tujuan & manfaat) dengan mempelajari materi yang dipelajari.

    Kegiatan inti dimulai dengan memberikan permasalahan dalam bentuk Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang dapat mengarahkan peserta didik untuk dapat memahami materi yang dipelajari.  LKPD ini berisi permasalahan-permasalahan yang dapat membawa/menuntun peserta didik memahami materi yang dipelajari. Penggunaan LKPD terbukti sangat membantu arah kerja peserta didik. Langkah-langkah yang ditentukan dalam LKPD merupakan suatu bentuk bantuan bagi peserta didik. Meskipun demikian, LKPD tidak menuntun peserta didik secara mutlak. Peserta didik diberikan kebebasan untuk mengungkapkan ide dan kreativitasnya. Dengan demikian, peserta didik membentuk pengetahuan mereka sendiri bersama dengan diskusi kelas secara aktif dengan bantuan LKPD.  Setelah LKPD diterima oleh masing-masing peserta didik, guru memberikan penjelasan untuk melengkapi keterangan yang ada dalam LKPD. Dari permasalahan itu peserta didik melakukan kegiatan yang ada di LKPD. Setelah masalah diterima dalam bentuk LKPD, maka langkah berikutnya pengumpulan data dengan menyelesaikan masalah-masalah yang ada dalam LKPD dengan melakukan diskusi bersama baik yang ada di rumah maupun peserta didik yang ada di kelas.

    Setelah diskusi bersama, kegiatan selanjutnya adalah pemrosesan data dilakukan dengan presentasi hasil diskusi bersama  baik peserta didik yang ada di rumah maupun peserta didik yang ada di kelas. Dalam diskusi ini, memungkinkan adanya pembetulan kesalahan yang dilakukan oleh peserta didik yang mempresentasikan. Jawaban-jawaban yang salah dikoreksi oleh peserta didik lain dengan cara bertanya atau sanggahan.  Koreksi yang diberikan peserta didik lain dan mengamati penyajian peserta didik lain saat sharing sangat berguna untuk memperbaiki kesalahan yang dilakukan.

    Kegiatan penutup dengan mengadakan evaluasi melalui kuis yang ada di Hybrid-1 untuk mengecek kembali pemahaman peserta didik. Peneliti perlu memastikan bahwa semua peserta didik dapat memahami materi yang baru dipelajari. Kegiatan akhir dalam pembelajaran ini adalah mengarahkan peserta didik menuliskan hasil diskusi kelas sebagai simpulan akhir pembelajaran dan mengerjakan tes. Membuat simpulan ini sesuai dengan pendapat Degeng (1997:28) bahwa membuat rangkuman atau kesimpulan dari apa yang telah dipelajari perlu dilakukan untuk mempertahankan retensi. 

    Pada waktu mempresentasikan hasil diskusi, tidak hanya didominasi oleh peserta didik yang berkemampuan tinggi saja, tetapi peserta didik yang berkemampuan rendah juga sudah mulai aktif ambil bagian. Diskusi kelas juga dapat melatih peserta didik untuk lebih kreatif dan menyebabkan pemahaman peserta didik semakin berkembang. Hal ini menunjukkan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan semakin optimalnya pembelajaran adalah peserta didik semakin berani dan mau mengeluarkan ide-idenya karena merasa termotivasi untuk bertanggung jawab terhadap hasil diskusi kelompoknya yang dipresentasikan di depan kelas.

    Kesimpulan

    Desain  pembelajaran Synchronous Blended Learning berbantuan aplikasi Hybrid-1 untuk meningkatkan hasil belajar  kelas IX C mata pelajaran matematika terdiri dari tiga kegiatan, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan penutup.

    1. Kegiatan awal, memuat beberapa aktivitas sebagai berikut:

    Guru dan Peserta didik yang di rumah masuk masuk ke aplikasi Hybrid-1, Guru masuk kelas Virtual, Guru mengklik Vicon, Peserta didik yang ada di kelas memperhatikan tayangan di LCD, menyampaikan tujuan pembelajaran, memotivasi peserta didik dengan melakukan tanya jawab untuk menggali pengetahuan awal/ materi prasyarat.

    1. Kegiatan inti, memuat aktivitas sebagai berikut:

    Guru memberikan permasalahan dalam bentuk Lembar Kerja Peserta didik (LKPD) yang dapat mengarahkan peserta didik untuk dapat memahami materi yang dipelajari. Peserta didik mengerjakan LKPD sampai pada membuat kesimpulan dan mempresentasikannya.

    1. Kegiatan penutup, memuat aktivitas sebagai berikut:

    Menyimpulkan hasil pembelajaran dan  mengadakan evaluasi melalui kuis untuk mengecek kembali pemahaman peserta didik.

    DAFTAR PUSTAKA

    Azis, Nur. 2012. Keefektifan pembelajaran penemuan terbimbing pada materi persamaan garis lurus di kelas VIII SMP Negeri 1 Lamongan, Surabaya: Tesis Pascasarjana UNESA.

    Degeng, I.N.1997. Strategi Pembelajaran Mengorganisasikan Isi dengan   Elaborasi. Malang: IKIP Malang

    Trianto. 2010. Model Pembelajaran Terpadu, Jakarta: Bumi Aksara

     

    #BergerakDenganHati

    #DemiKemajuan

    Ikuti tulisan menarik Nur Azis lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.








    Oleh: siti patonah

    Rabu, 23 November 2022 08:02 WIB

    Penggunaan LKPD Liveworksheet dalam Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning diI MTs At Taubah ,Cimanggu

    Dibaca : 331 kali

    Pembelajaran dalam abad 21 merupakan bagian dari pembelajaran yang secara khusus menggabungkan TIK dan teknologi berbasis internet. Pada saat pembelajaran, keaktifan siswa dalam belajar harus menjadi perhatian lebih bagi guru. Berdasarkan observasi pembelajaran yang dilakukan di MTs At Taubah bulan Agustus sampai September 2021 terdapat beberapa permasalahan dalam proses pembelajaran kelas 9A yang sedang berlangsung, yaitu (1) sebanyak 15 siswa pasif saat mencoba memecahkan masalah (2) siswa yang lain kurang tertarik saat mengerjakan LKPD (3) beberapa siswa malas mencari informasi untuk memecahkan masalah (4) siswa kurang rajin dalam mengerjakan tugas (5) dibutuhkan lembar kerja peserta didik yang tepat untuk meningkatkan keaktifaan siswa kelas 9A (6) penggunaan LKPD dengan aplikasi liveworksheets masih belum banyak digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan model PBL berbantuan LKPD liveworksheets dapat meningkatkan keaktifan siswa kelas 9A terutama pada mata pelajaran Bahasa Inggris di MTs At Taubah Cimanggu. Pembelajaran yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran diarahkan pada kegiatan menyimak penjelasan guru, mengerjakan LKPD yang dibagikan guru, kemudian siswa mengerjakan LKPD pada buku tugas, dan mengerjakan evaluasi. Siswa kurang diberi kesempatan untuk bertanya. berpikir tingkat , mencari tahu, dan memecahkan sendiri materi yang meraka kerjakan, namun hanya diberikan beberapa penungasan yang membosankan dan monoton atau konvensional, tidak ada feedback dari siswa sehingga menyebabkan rendahnya keterlibatan siswa di dalam pembelajaran terutama mata pelajaran Bahasa Inggris. Melihat dari masalah yang telah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran di kelas 9A MTs At Taubah Cimanggu belum berjalan secara efektif. Salah satu faktor penyebabnya adalah guru menyajikan pembelajaran yang kurang mengajak siswa untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah. Pembelajaran yang interaktif yang didapat oleh siswa akan berpengaruh pada keaktifan siswa dalam pembelajaran. Aktivitas siswa dalam kegiatan belajar tidak lain adalah mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Mereka secara aktif mengembangkan pemahaman mereka tentang masalah dan segala sesuatu yang mereka hadapi dalam proses belajar mereka. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, aktif berarti aktif (bekerja, berusaha). Aktivitas didefinisikan sebagai sesuatu atau keadaan di mana seorang siswa dapat bertindak. Rousseau (Sardiman, 1986) menyatakan bahwa setiap orang yang belajar harus menyendiri dan aktif, dan tanpa aktivitas proses belajar tidak dapat berlangsung. Oleh karena itu, guru perlu mengembangkan model dan teknik pembelajaran yang tepat untuk menghilangkan pembelajaran pasif. Pada titik ini, model pembelajaran yang tepat, khususnya untuk kurikulum 2013, adalah model pembelajaran berbasis masalah (PBL). Menurut Anugraheni (2018:11), model pembelajaran problem based learning (PBL) dalam model pembelajaran problem based learning melibatkan siswa dalam kegiatan belajar dan mengutamakan masalah dunia nyata baik di rumah, di sekolah, maupun di sekolah. model untuk dilampirkan. Di masyarakat sebagai dasar untuk memperoleh pengetahuan dan konsep melalui berpikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah. Model pembelajaran PBL meliputi (1) orientasi masalah, (2) organisasi pembelajaran siswa, (3) pelaksanaan penelitian individu dan kelompok, (4) pengembangan kerja dan presentasi, dan (5) pembelajaran yang terdiri dari lima langkah utama pembelajaran. Evaluasi dan analisis proses pemecahan masalah. Sanjaya (2009: 220-221) menyebutkan keunggulan model PBL adalah : 1) PBL dapat menantang kemampuan siswa dan memberikan kepuasan dalam menemukan pengetahuan baru. 2) PBL dapat meningkatkan kegiatan belajar. 3) Melalui PBL, siswa dapat diperlihatkan ide-ide dasar dan mata pelajaran (matematika, IPA, dll) yang perlu dipahami siswa, bukan hanya belajar dari guru dan buku. 4) PBL dianggap lebih menarik dan disukai siswa. 5) PBL dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis. 6) PBL dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menerapkan ilmu yang telah diperolehnya di dunia nyata. 7) PBL dapat terus meningkatkan minat belajar siswa setelah mereka lulus dari pendidikan formal. Agar pembelajaran lebih efektif, Anda dapat menggunakan alat bantu berupa lembar kerja siswa (LKPD) untuk lebih sistematis mengikuti langkah-langkah penyelesaian masalah. Pada Pedoman Umum Pengembangan Bahan Ajar yang disusun oleh Diknas, Prastowo (2012), menyusun pedoman umum pengembangan bahan ajar, di mana lembar kerja siswa merupakan lembar tugas yang harus diselesaikan oleh siswa. LKPD biasanya berisi petunjuk atau instruksi untuk menyelesaikan tugas tertentu. LKPD yang dibuat dapat dirancang dan dikembangkan sesuai dengan kondisi dan keadaan kegiatan pembelajaran yang akan dikuasai.Pada saat integrasi TIK saat ini, LKPD tersedia dalam bentuk tradisional maupun elektronik. Aplikasi Liveworksheets adalah aplikasi gratis yang disediakan oleh mesin pencari Google. Aplikasi ini memungkinkan guru untuk mengubah lembar kerja tradisional yang dapat dicetak (dokumen, PDF, JPG, atau PNG) menjadi latihan online interaktif yang dapat dikoreksi secara otomatis. Siswa dapat menyelesaikan lembar kerja secara online dan mengirimkan tanggapan mereka secara online kepada guru. Kelebihan dari aplikasi ini adalah interaktif dan memotivasi, sehingga baik untuk siswa. Untuk guru, aplikasi ini menghemat waktu dan kertas (Liveworksheets.com). Guru dapat menggunakan lembar kerja yang disediakan oleh aplikasi atau membuat lembar kerja sendiri sesuai kebutuhan. Jika Anda ingin menggunakan lembar kerja guru lain, cukup salin tautan dan bagikan tautan khusus Anda langsung ke siswa Anda. Aplikasi ini mencakup ribuan lembar kerja interaktif yang mencakup banyak bahasa dan mata pelajaran. Jika guru ingin membuat lembar kerja sendiri, guru harus mengunggah dokumen (doc, pdf, jpg, atau png) dan itu akan diubah menjadi gambar. kemudian guru hanya perlu menggambar kotak di lembar kerja dan memasukkan jawaban yang benar. Penggunaan lembar kerja bagi peserta didik pun cukup mudah. Peserta didik cukup membuka lembar kerja, melakukan latihan dan mengklik "Selesai". Kemudian mereka memilih "Kirim jawaban saya ke guru" dan masukkan email guru (atau kode kunci rahasia). Kemudian guru akan mendapatkan pemberitahuan melalui email, dan guru dapat memeriksa secara langsung. Hipotesis yang digunakan untuk memberikan arah pada tindakan ini adalah dengan menerapkan model PBL berbantuan LKPD Liveworksheets dapat meningkatkan keaktifan memecahkan soal masalah pada siswa kelas 9A di MTs At Taubah Cimanggu. 1. Pengertian Pembelajaran Berbasis Masalah Awal tahun 1970 Pembelajaran Berbasis masalah atau Problem Based Learning diperkenalkan sebagai suatu model pembelajaran berbasis masalah yang berupaya menemukan solusi penyelesaian problem (persoalan) dalam sebuah perkiraan yaitu dengan cara membuat pertanyaan – pertanyaan yang disesuaikan dengan kondisi yang terjadi. Duch (2014) mengemukakan bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah model pembelajaran yang ditandai dengan siswa berpikir kritis, memperoleh pengetahuan, dan menggunakan masalah nyata dalam pembelajaran mereka untuk memecahkan masalah. Mustaji dalam Nurdyansyah (2016) juga mengemukakan bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah kegiatan pembelajaran di mana masalah merupakan pusat konteks pembelajaran. Kata centered diartikan sebagai subjek dan unit (konten sebagai fokus utama untuk mempelajari) Di sisi lain, Iyah Maryati berpendapat bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah model pembelajaran dalam kegiatan pemecahan masalah, di mana siswa terlibat dalam mengambil langkah-langkah metode ilmiah sehingga mereka dapat memecahkan masalah dengan pengetahuan yang berbeda. pelajari berbagai keterampilan untuk memecahkan masalah. Dari berbagai pendapat di atas, dapat kita simpulkan bahwa pembelajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran yang berpusat pada masalah. Model ini melibatkan siswa dalam kegiatan pemecahan masalah untuk memperoleh pengetahuan. Margetson dari Nurdyansyah juga menyatakan bahwa pembelajaran berbasis masalah membantu siswa meningkatkan dan mengembangkan keterampilan belajar sepanjang hayat dalam pembelajaran berpikiran terbuka, kritis, aktif dan relatif. Kurikulum di bidang studi ini dapat mencakup kolaborasi kelompok, keterampilan memecahkan masalah dan komunikasi, dan keterampilan interpersonal. Pembelajaran berbasis masalah belajar tentang lingkungan di mana pertanyaan kontekstual digunakan untuk memandu pembelajaran, sehingga siswa diberikan pertanyaan sebelum memperoleh pengetahuan. Model pembelajaran ini membawa pengetahuan pertama siswa ke dalam dunia materi diskusi. Melalui pembelajaran ini, Anda dapat memperoleh pengetahuan dasar dan pengetahuan yang kompleks. Bagaimana membantu siswa memahami pengetahuan konseptual pada awal penelitian ini. Misalnya, siswa secara teoritis dapat mempelajari mata pelajaran dengan menghubungkan masalah di lingkungan ke setiap mata pelajaran dan menemukan solusi untuk masalah tersebut. 2. Karakteristik Pembelajaran Berbasis Masalah Barrow, Min Liu dalam Aris (2014) mengembangkan teori yang menjelaskan karakteristik pembelajaran berbasis masalah sebagai berikut: a. Pembelajaran berpusat pada siswa Proses pembelajaran berbasis masalah berfokus pada siswa daripada pelajar. Teori konstruktivis adalah teori yang mendukung pembelajaran berbasis masalah dan mendorong siswa untuk mengembangkan pengetahuannya. b. Masalah asli membentuk fokus organisasi pembelajaran Pembelajaran berbasis masalah menyajikan masalah nyata yang memungkinkan siswa dengan mudah memahami masalah dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. c. Informasi baru dapat diperoleh melalui pembelajaran mandiri Proses pemecahan masalah adalah siswa belum mampu memahami atau mengetahui semua pengetahuan yang dibutuhkan, sehingga ia berusaha mencari informasinya dari buku dan lain-lain. d. Pembelajaran berlangsung dalam kelompok-kelompok kecil Pembelajaran berbasis masalah dalam pelaksanaannya berlangsung dalam kelompok-kelompok kecil dengan tugas dan tujuan yang ditetapkan dengan jelas. Hal ini bertujuan untuk mewujudkan interaksi ilmiah, memungkinkan terbangunnya pengetahuan bersama melalui pertukaran ide. e. Dimoderatori oleh seorang guru Dalam pembelajaran, guru bertindak sebagai fasilitator, tetapi selalu relevan dengan perkembangan siswa dipantau oleh guru sepanjang aktivitas siswa. 3. Langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Masalah Langkah pembelajaran berbasis masalah dimulai dengan aktivitas siswa memecahkan masalah dunia nyata yang diberikan. Pemecahan masalah adalah proses yang mempengaruhi kemampuan siswa untuk memecahkan masalah, berpikir kritis, dan membentuk pengetahuan baru. Di bawah ini adalah langkah-langkah pembelajaran berbasis masalah. a. Kegiatan Guru-Siswa 1) Tahap 1 Memperkenalkan masalah kepada siswa Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan mengangkat masalah dari materi yang dipelajari Memotivasi. 2) Tahap 2 Organisasi Pembelajaran Siswa Guru mendefinisikan dan mengatur tugas pembelajaran untuk mendukung siswa dalam bentuk pertanyaan tentang materi yang diberikan. 3) Tahap 3 Melakukan Penelitian Individu atau Kelompok Guru meminta siswa untuk mengumpulkan informasi yang relevan dari berbagai sumber dan membimbing siswa untuk menemukan solusi untuk memecahkan masalah. 4) Tahap 4 Pengembangan dan Presentasi Kerja Guru membantu siswa berbagi tugas dan rencana kelompok dan mempresentasikan hasil pekerjaannya dalam bentuk video, laporan, atau model. 5) Tahap 5 Menilai Proses Pemecahan Masalah Guru melibatkan siswa dalam proses pemecahan masalah melalui refleksi atau penilaian. A. Deskripsi Lembar Kerja Peserta Didik 1. Pengertian Lembar Kerja Peserta Didik Interaktif Departemen Pendidikan Nasional (Darusman, 2008:17) menyatakan bahwa Lembar Kerja Siswa (LKPD) adalah lembar yang memberikan pedoman bagi siswa untuk melakukan kegiatan yang diprogramkan. Lembar ini berisi petunjuk, pertanyaan utama, dan pemahaman untuk membantu siswa memperluas dan memperdalam pemahaman mereka tentang materi yang dipelajari. LKPD interaktif adalah jenis LKPD yang dibuat, dikembangkan, dan dijalankan dengan bantuan sistem komputer dan dukungan internet. Fitur LKPD Interaktif memiliki beberapa fitur dibandingkan dengan LKS tradisional. Sebaliknya, ini adalah pertanyaan langsung yang dirancang untuk mendorong siswa membangun pemahaman mereka sendiri. 2. Disajikan dalam format interaktif pada sistem operasi tertentu. Siswa dapat memasukkan jawaban mereka dengan mengklik opsi jawaban atau dengan mengetikkan jawaban mereka di kolom yang disediakan. 3. Memungkinkan untuk umpan balik instan. Biasanya dalam LKPD interaktif semacam ini, sistem yang digunakan sudah menentukan skor untuk setiap jawaban dan bisa langsung ditampilkan di website. Ini akan menjadi umpan balik bagi siswa dan guru. 4. Isi LKPD Berfokus pada konsep materi yang disampaikan, bukan pada jumlah pertanyaan. 5. Anda dapat menyisipkan video, audio dan animasi sehingga terlihat lebih baik. B. Fungsi Lembar Kerja Peserta Didik Berikut 4 fungsi Lembar Kerja Peserta Didik sebagai berikut: 1. Lembar Kerja Peserta Didik sebagai bahan ajar yang bisa meminimalkan peran pendidik namun lebih mengaktifkan siswa. 2. Lembar Kerja Peserta Didik dapat digunakan sebagain bahan ajar ynag menarik dan mempermudah siswa memahami materi yang disampaikan. 3. Lembar Kerja Peserta Didik sebagai bahan ajar yang ringkas dan kaya tugas untuk berlatih 4. Lembar Kerja Peserta Didik memudahkan pelaksanaan pengajaran kepada siswa. C. Tujuan Lembar Kerja Peserta Didik Menurut Durri Andriani mengungkapkan tujuan penyusunan Lembar Kerja Peserta Didik sebagai berikut: 1. Menyajikan salah satu bahan ajar yang memudahkan siswa untuk berinteraksi dengan materi yang diberikan; 2. Menyajikan tugas-tugas yang dapat meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi yang diberikan; 3. Melatih kemandirian belajar siswa; 4. Membuat guru lebih mudah dalam memberikan tugas. D. Jenis-Jenis Lembar Kerja Peserta Didik Menurut Prastowo ada lima jenis Lembar Kerja Peserta Didik yang umum digunakan oleh peserta didik, sebagai berikut: 1. Lembar Kerja Peserta Didik penemuan yang membantu peserta didik menemukan suatu konsep. 2. Lembar Kerja Peserta Didik aplikatif- integratif yang membantu peserta didik menerapkan dan mengintegrasikan berbagai konsep yang telah ditemukan. 3. Lembar Kerja Peserta Didik penuntun sebagai penuntun belajar. 4. Lembar Kerja Peserta Didik penguatan 5. Lembar Kerja Peserta Didik praktikum E. Langkah-Langkah Menyusun Lembar Kerja Peserta Didik Berikut langkah-langkah penyusunan Lembar Kerja Peserta Didik sebagai berikut: 1. Analisis kurikulum tematik. Analisis kurikulum tematik merupakan langkah pertama dalam penyusunan Lembar Kerja Peserta Didik. Langkah ini dimaksudkan untuk menentukan materi pokok dan pengalaman belajar mana yang membutuhkan bahan ajar Lembar Kerja Peserta Didik. Pada umumnya, dalam menentukan materi langkah analisisnya dilakukan dengan cara melihat materi pokok dan pengalaman belajar serta pokok bahasan yang akan diajarkan. 2. Menyusun peta kebutuhan Lembar Kerja Peserta Didik Peta ini sangat diperlukan untuk mengetahui materi mana apa saja yang harus ditulis dalam Lembar Kerja Peserta Didik. Peta ini juga bisa untuk melihat urutan materi dalam Lembar Kerja Peserta Didik. Sekuens Lembar Kerja Peserta Didik ini dibutuhkan dalam menentukan prioritas penulisan materi. 3. Menentukan judul Lembar Kerja Peserta Didik Penentuan judul Lembar Kerja Peserta Didik berdasarkan tema sentral dan pokok bahasan yang diperoleh dari hasil pemetaan kompetensi dasar, materi pokok. Satu kompetensi dasar dapat dibuat dalam satu judul Lembar Kerja Peserta Didik. 4. Penulisan Lembar Kerja Peserta Didik diperlukan langkah- langkah yang perlu dilaksanakan sebagai berikut: a. Menentukan kompetensi dasar. b. Menentukan alat penilaian. c. Menyusun materi. d. Memerhatikan struktur Lembar Kerja Peserta Didik. F. Manfaat Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Interaktif Menurut Amri, Lembar Kerja Peserta Didik memiliki manfaat bagi pembelajaran, yaitu mengaktifkan peserta didik, membantu peserta didik menemukan dan mengembangkan konsep, melatih peserta didik menemukan konsep, dan menjadi alternatif cara penyajian materi pelajaran yang menekankan keaktifan peserta didik serta dapat memotivasi peserta didik. LKPD Interaktif sangat bermanfaat jika digunakan dalam penilaian pembelajaran. Berikut ini adalah manfaat penggunaan LKS interaktif, yaitu: 1. Bagi Guru: LKPD interaktif bermanfaat dalam meningkatkan kreativitas guru, terutama untuk menyajikan model penilaian yang menarik bagi siswa. Selain itu, memudahkan guru untuk melibatkan siswa dalam pembelajaran, khususnya jika digunakan sebagai instrumen dalam pretest. Manfaat lainnya, LKPD interaktif juga mengurangi beban guru untuk mengoreksi / memberikan umpan balik pada siswa dengan adanya sistem pemberian umpan balik langsung. 2. Bagi Siswa : LKPD interaktif bermanfaat dalam meningkatkan kemampuan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) siswa, menumbuhkan sikap mandiri, rasa ingin tahu, dan disiplin, selain itu, LKPD interaktif juga bermanfaat untuk meningkatkan minat siswa dalam belajar karena tampilannya yang menarik dan interaktif. 3. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) ini berfungsi menjembatani kegiatan belajar mengajar sehingga akan terbentuk interaksi yang efektif antara peserta didik dengan pendidik, hal ini dapat meningkatkan aktivitas peserta didik dalam peningkatan prestasi belajar. Lembar kerja yang disajikan melalui liveworksheets pun sangat mudah dibuat, guru dapat membuat soal sendiri atau mengambil soal yang sudah ada dari penjuru dunia. Kunci jawaban bisa langsung dimasukkan pada aplikasi, sehingga ketika siswa selesai mengerjakan nilai dapat langsung muncul tanpa harus mengoreksi satu persatu. G. Liveworksheet Salah satu aplikasi yang dapat digunakan dalam menunjang pembelajaran jarak jauh (PJJ) adalah liveworksheets. Aplikasi ini menarik dan menantang terutama bila digunakan di kelas rendah. Pada aplikasi liveworksheet kita dapat menampilkan materi berupa video, gambar, serta simbol-simbol menarik lainnya yang tentunya dapat menambah daya tarik dan semangat. Selain dapat digunakan untuk penyampaian materi pembelajaran, guru juga dapat membuat LKPD secara aktif pada liveworksheets tersebut. 1. Cara Mudah Membuat LKPD dengan Liveworksheets Setelah kita mengetahui pengertian LKPD interaktif, karakteristiknya, dan manfaat LKPD interaktif, pasti kita juga mencoba membuat LKS interaktif ini. Cara untuk membuat LKPD interaktif salah satunya adalah menggunakan liveworksheets yang dapat diakses di alamat https://www.liveworksheets.com/ 2. Langkah-langkah membuat LKPD di Liveworksheets: a. Ketik https://www.liveworksheets.co m/ di browser Anda. b. Klik Teacher Access di bagian kanan atas lalu klik register / daftar c. Lengkapi isian formulir registernya sesuai data Anda. Kemudian klik register Gambar 2. 1 Langkah-Langkah Membuat LKPD d. Masuk ke email yang Anda daftarkan tadi dan buka email masuk dari Liveworksheets Klik link aktivasinya. Gambar 2. 2 Register e. Masuk ke alamat https://www.liveworksheet s.com/ lagi dan klik teacher access lalu masukkan alamat email / username dan passwordnya. Kemudian klik tulisan "enter". f. Ubah setting pilihan bahasa menjadi Bahasa Indonesia di bagian kanan atas g. Klik make interactive worksheet pada bagian menu lalu klik get started h. Upload LKS yang kita buat seperti biasa di Microsoft word. Tapi sebelum upload harus ubah menjadi pdf atau jpg. Ukuran file maks. 5 MB. 3. Modifikasi LKS a. Modifikasi LKS yang kita upload dengan format interaktif. Anda dapat melihat video tutorial yang disediakan di website Liveworksheets. Namun, untuk contoh, saya akan bagikan modifikasi LKS sesuai LKS interaktif yang saya buat, yaitu: bentuk soal pilihan ganda dan menjodohkan. Untuk soal pilihan ganda, pakai rumus "select: yes" diletakkan pada kotak pilihan yang benar dan "select:no" pada pilihan yang salah. Gambar 2. 3 Modifikasi LKPD Sedangkan pada soal menjodohkan pakai rumus "join:1", "join:2", "join:3", dst. Sesuai dengan jumlah soal. b. Jika sudah selesai, kita bisa meninjau LKS interaktif kita dengan klik preview yang ada di bagian atas. Kemudian menyimpan LKS ini. Akan ada 2 pilihan untuk menyimpannya yaitu menyimpan dan membagikan LKS ini untuk umum, atau hanya untuk disimpan dan digunakan oleh siswa kita. Jika kita ingin menyimpan dan membagikannya untuk umum, kita diminta melengkapi data terkait mata pelajaran, topik materi, kelas, perkiraan usia, dan jenis LKS. c. Jika kita ingin menyematkan LKS interaktif ini di blog kita, maka kita dapat menyalin kode html yang disediakan oleh liveworksheets. Kemudian menempelkannya / paste di area menulis pada blog kita 4. Kelebihan Lembar Kerja Peserta Didik Interaktif (Digital) Berikut kelebihan Lembar Kerja Peserta Didik Digital (LKPD-D) sebagai berikut: a. Menghemat biaya dalam pencetakan. b. Mudahnya diakses melalui perangkat seperti handphone, laptop, dan lain-lain. c. Disajikan dalam bentuk atau format yang lebih interaktif sehingga siswa menjadi lebih tertarik dalam mengerjakannya. 5. Kelemahan Lembar Kerja Peserta Didik Interaktif (Digital) Berikut kelemahan Lembar Kerja Peserta Didik Digital (LKPD-D) sebagai berikut: a. Proses pembuatan Lembar Kerja Peserta Didik Digital (LKPD-D) memanfaatkan media internet sehingga dapat memungkinkan data yang didalamnya hilang karena b. kesalahan sistem. c. Untuk dapat mengakses Lembar Kerja Peserta Didik Interaktif (Digital) harus disertai dengan internet yang memadai. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK mengacu pada lokasi, konteks dan setting proses pembelajaran di kelas.. Kusumah (2010: 9) menyebutkan bahwa PTK merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan cara merencanakan,melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan memperbaiki kinerja guru sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat. Pada penelitian tindakan kelas yang menjadi subjek penelitian ini adalah siswa kelas 9A MTs At Taubah Cimanggu tahun pelajaran 2021/2022, yang berjumlah 28 peserta didik yang terdiri dari 8 peserta didik putera dan 20 peserta didik puteri. Objek penelitian terdiri dari penelitian ini adalah penerapan LKPD liveworksheets untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran. Indikator yang digunakan untuk mengukur aktivitas siswa adalah keterlibatan siswa dalam pembelajaran, khususnya dalam inkuiri, diskusi, dan pemecahan masalah.. Dengan indikator kinerja tersebut peneliti berharap minimal 80% dari 28 peserta didik terlibat secara aktif. Dalam penelitian ini terdapat dua teknik pengumpulan data yaitu observasi dan penugasan atau pemberian tugas. Ada 2 teknik pengumpulan informasi yg dipakai yaitu observasi dan angket. Pada lembar observasi masih ada 9 poin, yaitu (1) melakukan pengamatan atau penyelidikan (2) mendengarkan menggunakan aktif (menerangkan respon, misal tersenyum atau tertawa ketika mendengar hal-hal lucu yang disampaikan, terkagum-kagum apabila mendengar sesuatu yang menakjubkan, dsb) (3) berlatih (contohnya mencobakan sendiri konsep-konsep misal berlatih menggunakan soal-soal) (4) berpikir kritis (contohnya bisa menemukan kejanggalan, kelemahan atau kesalahan yang dilakukan orang lain pada merampungkan soal atau tugas) (5) mengemukakan pendapat (6) berdiskusi (7) mempresentasi laporan (8) memperbaiki kesalahan atau kekurangan pada proses pembelajaran dan (9) menyimpulkan materi pembelajaran menggunakan kata atau ucapannya sendiri. Untuk lembar observasi yang ke 2 mengenai keterlaksanaan pembelajaran, yang memuat indikator yaitu (1) RPP dan bahan ajar (3) media (4) LKPD (5) aktivitas awal/pengkondisian (6) apersepsi dan motivasi (7) orientasi permasalahan (8) pengorganisasian peserta didik (9) penyelidikan individu atau kelompok (10) pengembangan dan penyajian output karya (11) evaluasi (12) kesimpulan (13) refleksi (14) salam dan doa Untuk angket terdiri menurut 10 pertanyaan yang masing-masing pertanyaan berbobot 1-4 poin menjadi berikut. (1) Saya bahagia mengikuti pelajaran Bahasa Inggris, (2) Saya termotivasi untuk memecahkan masalah ketika belajar (3) Saya bahagia berdiskusi beserta pengajar (4) Saya belajar berani mengemukakan pendapat dan saling berkomunikasi pada saat melakukan diskusi (5) Saya bahagia mengakses informasi secara mandiri melalui website yang telah diberikan pengajar (6) Saya tekun mnegerjakan LKPD yang diberikan oleh pengajar (7) Saya bisa menggunakan website yang dibagikan pengajar secara individu (8) Dengan melihat video, mengerjakan liveworksheets, bereksplorasi mencari informasi dan bertanya pada pengajar saya lebih tahu tentang materi (9) Saya bahagia berpartisipasi aktif pada proses pembelajaran (10) Saya bahagia mengerjakan soal melalui liveworksheets. Penelitian ini dikatakan berhasil apabila memenuhi kriteria 75% dari seluruh indikator dengan elaborasi sebagai berikut. tingkat keberhasilan sangat tinggi apabila mencapai persentase 86 - 100 %, tinggi apabila persentase 71 – 85 %, sedang apabila persentase 56 – 70 %, rendah apabila persentasenya 41 – 55 %, dan sangat rendah apabila