Implementasi Merdeka Belajar dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Matematika di SMP Negeri 1 Lamongan - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Suasana Siswa di Kelas

Nur Azis

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 November 2021

Minggu, 5 Desember 2021 08:41 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Implementasi Merdeka Belajar dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Matematika di SMP Negeri 1 Lamongan

    Implementasi Merdeka Belajar dengan Synchronous Blended Learning mata pelajaran Matematika di SMP Negeri 1 Lamongan

    Dibaca : 3.775 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    IMPLEMENTASI MERDEKA BELAJAR DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MATA PELAJARAN MATEMATIKA DI SMP NEGERI 1 LAMONGAN

    Nur Azis

    SMP Negeri 1 Lamongan, Jl Kisarmidi Mangunsarkoro 18 Lamongan

    E-mail: nur.azis1357@gmail.com

    Pendahuluan

    Merdeka Belajar adalah kebijakan Kementrian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi  (Kemendikbudristek) yang berupaya mewujudkan Pendidikan yang berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia melalui Sumber Daya Manusia (SDM) unggul yang merupakan pelajar sepanjang hayat yang memiliki wawasan global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, Merdeka belajar berupaya mengembalikan hakikat belajar kepada fitrahnya, dan menekankan keperpihakan yang besar kepada peserta didik, sebagaimana yang disampaikan Ki Hajar Dewantara : “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat tersebut”.

    Kemendikbudristek juga mengadakan  berbagai pelatihan dan webinar mulai dari di program Guru belajar dan berbagi, Program sekolah penggerak, guru penggerak, tujuannya bagaimana pembelajaran berpusat pada peserta didik. Peserta didik merasa senang dalam menempuh Pendidikan, siswa diberikan kebebasan tentang sumber belajar, tidak hanya ruang kelas dan guru, tetapi sumber belajar bisa dari youtobe, perpustakaan online, media sosial, dan alam sekitar.

    Perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh perubahan global, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perubahan yang terus menerus ini menuntut perlunya perbaikan sistem pendidikan nasional termasuk penyempurnaan kurikulum untuk mewujudkan masyarakat yang mampu bersaing dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman (Trianto, 2010:11).

    Pada awal bulan Agustus 2021 SMP Negeri 1 Lamongan, menerapkan PTMT terbatas, dengan 10% tatap muka dan 85% pembelajaran online. Dalam mengimplementasikan konsep merdeka belajar, maka dibuatlah aplikasi pembelajaran yang di dalamnya terdapat banyak sumber belajar, mulai dari buku siswa, Bahan ajar, Kuis, perpustakaan online. Siswa bisa belajar kapan saja, dimana saja, sesuka hatinya, diharapkan dengan aplikasi ini siswa akan senang mencari referensi dalam belajarnya. Siswa juga bisa berdiskusi dengan teman atau guru melalui aplikasi tersebut.

     Aplikasi Hybrid-1 juga bisa dipakai untuk mengurangi miskonsepsi siswa dan guru dalam mengartikan merdeka belajar. Salah satu miskonsepsi tentang merdeka belajar adalah siswa akan faham dengan materi tertentu hanya dengan penjelasan dari guru, sehingga guru harus mendominasi perannya dalam sebuah kegiatan belajar. Kebebasan meninggalkan tugas pembelajaran dengan alasan karena adanya merdeka belajar termasuk miskonsepsi tentang merdeka belajar. Miskonsepsi yang lain tentang merdeka belajar diartikan sebagai bebas belajar, dengan meninggalkan tugas saat ada jadwal pelajaran, Aplikasi Hybrid-1 terbukti efektif untuk mengurangi miskonsepsi-miskonsepsi tentang merdeka belajar. Dengan adanya menu pada Hybrid-1 yaitu Aktivasi pembelajaran yang merekam kegiatan guru dan siswa secara realtime,  admin bisa memantau kegiatan belajar mengajar.

    Dalam merdeka belajar seorang guru harus mempunyai kreatifitas dalam mengajar, mulai merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajarannya. Guru harus berkreatif dalam membimbing siswa, sehingga kemandirian siswa bisa diwujudkan. Mentalitas guru dan siswa untuk berjuang dalam Pendidikan perlu ditingkatkan dalam mewujudkan merdeka belajar.

    Metode Penelitian

    Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Lamongan Tahun Pelajaran 2021-2022 dengan subyek penelitian kelas IX C berjumlah 32 siswa. Pengambilan data digunakan dengan cara Tes, angket dan pengamatan aktivitas pembelajaran dalam aplikasi Hybrid-1.

    Hasil dan pembahasan Penelitian

    Penelitian ini didasarkan pada 3 kriteria (1) skor tes akhir minimal 85% siswa yang mencapai KKM yang ditetapkan sekolah yaitu 82, (2) Persentase rata-rata hasil pengamatan aktivitas belajar siswa di Hybrid lebih dari 80%  (dalam kategori baik). (3) Dari hasil respon siswa terhadap 32 subyek  menyatakan  senang terhadap materi Perpangkatan dan Bentuk akar setelah mengikuti pembelajaran dengan Synchronous Blended Learning..

    Data hasil tes akhir , sebanyak 27 siswa yang mendapatkan skor ≥ 82 dan 5 siswa yang mendapatkan skor  82 sehingga persentase ketuntasan siswa secara klasikal adalah 84,37%. Observasi terhadap  aktivitas siswa di Hybrid-1  menunjukkan bahwa persentase rata-rata adalah 84,3% mengikuti pembelajaran  Synchronous Blended Learning.

    Merdeka belajar bukan berarti membiarkan siswa belajar  tanpa ada kontrol dari pendidik, pendidik harus tetap sebagai pendamping dan penuntun dalam pembelajaran siswa. Mengenai sumber belajar siswa dibebaskan untuk mencari dan mengambil baik dari media elektronik maupun non elektronik. Seorang guru harus tetap merencanakan , melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran.

    Pada pelaksanaan PTMT, pada tanggal 13 September 2021  Pembelajaran di SMP Negeri 1 Lamongan menerapkan 50% peserta didik tatap muka (live)  dan 50 % peserta didik belajar dari rumah (virtual),  Pada pelaksanaannya penulis menggunakan istilah Synchronous Blended Learning, dimana pembelajaran siswa yang ada di kelas dengan yang ada di rumah berjalan secara bersamaan (sinkron). Untuk mendukung pembelajaran itu peneliti menggunakan aplikasi yang bernama Hybrid-1.

    Salah satu menu dalam Hybrid-1 adalah menu kelas virtual yang digunakan untuk proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Di dalam kelas virtual terdapat fitur yang dapat menunjang kegiatan  pembelajaran synchronous blended learning seperti whiteboard, Vicon, Media, buku, bahan ajar, kuis, dan tanya jawab. Fitur  di kelas virtual memungkinkan guru untuk melaksanakan synchronous blended learning dimana pembelajaran ditujukan untuk peserta didik yang berada di kelas (offline) dan peserta didik yang berada di rumah (online).

    Pelaksanaan  pembelajaran Synchronous Blended Learning di SMP Negeri 1 Lamongan terbagi menjadi 3 kegiatan, yaitu : Pendahuluan, Kegiatan inti, dan Penutup. Pada kegiatan pendahuluan dilakukan Guru dan Peserta didik yang di rumah masuk masuk ke aplikasi Hybrid-1, Guru masuk kelas Virtual, Guru meng klik Vicon, Peserta didik yang ada di kelas memperhatikan tayangan di LCD, Guru membuka dengan salam, menanyakan kabar peserta didik, berdoa dan mengecek kehadiran peserta didik di ruang Vicon dan peserta didik yang ada di kelas. Menjelaskan tujuan pembelajaran, Menjelaskan hal-hal yang akan dipelajari, kompetensi yang akan dicapai, penilaian yang akan digunakan serta metode belajar yang akan ditempuh, Menyampaikan motivasi tentang apa yang dapat diperoleh (tujuan & manfaat) dengan mempelajari materi yang dipelajari.

    Kegiatan inti dimulai dengan memberikan permasalahan dalam bentuk Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang dapat mengarahkan peserta didik untuk dapat memahami materi yang dipelajari.  LKPD ini berisi permasalahan-permasalahan yang dapat membawa/menuntun peserta didik memahami materi yang dipelajari. Penggunaan LKPD terbukti sangat membantu arah kerja peserta didik. Langkah-langkah yang ditentukan dalam LKPD merupakan suatu bentuk bantuan bagi peserta didik. Meskipun demikian, LKPD tidak menuntun peserta didik secara mutlak. Peserta didik diberikan kebebasan untuk mengungkapkan ide dan kreativitasnya. Dengan demikian, peserta didik membentuk pengetahuan mereka sendiri bersama dengan diskusi kelas secara aktif dengan bantuan LKPD.  Setelah LKPD diterima oleh masing-masing peserta didik, guru memberikan penjelasan untuk melengkapi keterangan yang ada dalam LKPD. Dari permasalahan itu peserta didik melakukan kegiatan yang ada di LKPD. Setelah masalah diterima dalam bentuk LKPD, maka langkah berikutnya pengumpulan data dengan menyelesaikan masalah-masalah yang ada dalam LKPD dengan melakukan diskusi bersama baik yang ada di rumah maupun peserta didik yang ada di kelas.

    Setelah diskusi bersama, kegiatan selanjutnya adalah pemrosesan data dilakukan dengan presentasi hasil diskusi bersama  baik peserta didik yang ada di rumah maupun peserta didik yang ada di kelas. Dalam diskusi ini, memungkinkan adanya pembetulan kesalahan yang dilakukan oleh peserta didik yang mempresentasikan. Jawaban-jawaban yang salah dikoreksi oleh peserta didik lain dengan cara bertanya atau sanggahan.  Koreksi yang diberikan peserta didik lain dan mengamati penyajian peserta didik lain saat sharing sangat berguna untuk memperbaiki kesalahan yang dilakukan.

    Kegiatan penutup dengan mengadakan evaluasi melalui kuis yang ada di Hybrid-1 untuk mengecek kembali pemahaman peserta didik. Peneliti perlu memastikan bahwa semua peserta didik dapat memahami materi yang baru dipelajari. Kegiatan akhir dalam pembelajaran ini adalah mengarahkan peserta didik menuliskan hasil diskusi kelas sebagai simpulan akhir pembelajaran dan mengerjakan tes. Membuat simpulan ini sesuai dengan pendapat Degeng (1997:28) bahwa membuat rangkuman atau kesimpulan dari apa yang telah dipelajari perlu dilakukan untuk mempertahankan retensi. 

    Pada waktu mempresentasikan hasil diskusi, tidak hanya didominasi oleh peserta didik yang berkemampuan tinggi saja, tetapi peserta didik yang berkemampuan rendah juga sudah mulai aktif ambil bagian. Diskusi kelas juga dapat melatih peserta didik untuk lebih kreatif dan menyebabkan pemahaman peserta didik semakin berkembang. Hal ini menunjukkan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan semakin optimalnya pembelajaran adalah peserta didik semakin berani dan mau mengeluarkan ide-idenya karena merasa termotivasi untuk bertanggung jawab terhadap hasil diskusi kelompoknya yang dipresentasikan di depan kelas.

    Kesimpulan

    Desain  pembelajaran Synchronous Blended Learning berbantuan aplikasi Hybrid-1 untuk meningkatkan hasil belajar  kelas IX C mata pelajaran matematika terdiri dari tiga kegiatan, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan penutup.

    1. Kegiatan awal, memuat beberapa aktivitas sebagai berikut:

    Guru dan Peserta didik yang di rumah masuk masuk ke aplikasi Hybrid-1, Guru masuk kelas Virtual, Guru mengklik Vicon, Peserta didik yang ada di kelas memperhatikan tayangan di LCD, menyampaikan tujuan pembelajaran, memotivasi peserta didik dengan melakukan tanya jawab untuk menggali pengetahuan awal/ materi prasyarat.

    1. Kegiatan inti, memuat aktivitas sebagai berikut:

    Guru memberikan permasalahan dalam bentuk Lembar Kerja Peserta didik (LKPD) yang dapat mengarahkan peserta didik untuk dapat memahami materi yang dipelajari. Peserta didik mengerjakan LKPD sampai pada membuat kesimpulan dan mempresentasikannya.

    1. Kegiatan penutup, memuat aktivitas sebagai berikut:

    Menyimpulkan hasil pembelajaran dan  mengadakan evaluasi melalui kuis untuk mengecek kembali pemahaman peserta didik.

    DAFTAR PUSTAKA

    Azis, Nur. 2012. Keefektifan pembelajaran penemuan terbimbing pada materi persamaan garis lurus di kelas VIII SMP Negeri 1 Lamongan, Surabaya: Tesis Pascasarjana UNESA.

    Degeng, I.N.1997. Strategi Pembelajaran Mengorganisasikan Isi dengan   Elaborasi. Malang: IKIP Malang

    Trianto. 2010. Model Pembelajaran Terpadu, Jakarta: Bumi Aksara

     

    #BergerakDenganHati

    #DemiKemajuan



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.