Seribu Langkah dari Belakang - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Molly Hana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 November 2021

Minggu, 5 Desember 2021 08:42 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Seribu Langkah dari Belakang

    Apakah aku bisa punya teman di sekolah? Kenapa semuanya menjauhiku? Aku mau melakukan apa saja supaya aku berada di depan, menjadi yang terbaik, tapi tidak... Aku menyerah, aku akan pindah sekolah, mungkin sebaiknya berhenti sekolah.

    Dibaca : 160 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Siang yang cerah waktu itu dimulai dengan kesedihan. Ini hari pertama di tahun terakhirku di SMA, aku duduk di depan lapangan bola sendirian melihat anak-anak lainnya sedang berkumpul dan tertawa bersama. Aku tidak memiliki teman yang akrab di sini, mereka semua menjauhiku, aku tidak berbicara dengan mereka dan aku orang yang anti-sosial. Di tahun sebelumnya aku sering dimarahi dari guru dan dijauhi dari beberapa teman, aku bahkan menangis di rumah dan meminta pada ibuku untuk pindah sekolah. 
    Kulewati hari ini hanya dengan bermenung dan menulis betapa sedihnya diriku di sebuah diari kecil, aku memang selalu menulis setiap hari untuk mengisi kekosonganku.
    Tampak seorang guru yang berbadan kurus tinggi dan berambut keriting datang menghampiriku, beliau adalah kepala sekolah baru di SMA ini, namanya Pak Yanto, aku tidak mengetahui jelas kenapa beliau pindah ke sini. Beliau mulai berbicara dengan nada lembut sembari memberikan senyumnya padaku “Apa yang kamu tulis?”. Dimulai dari pertanyaan itu, aku mulai tau beberapa hal mengenai beliau. Beliau orang yang ramah dan sangat terbuka pada setiap murid. Kebanyakan guru di sini hanya berbicara sesama guru, namun Pak Yanto ini kelihatannya lebih leluasa berbicara padaku dan murid lainnya.


    Beberapa hari kulewati di sekolah tanpa penuh arti yang mendalam, banyak orang yang bilang momen ketika SMA adalah momen terbaik, tidak bagiku. Aku hanya merasa ingin secepatnya selesai dari SMA. Tidak ada sesuatu yang berarti bagiku di sini, bahkan banyak guru yang sepertinya mengganggapku tidak ada di sekolah ini. 
    Sampai suatu ketika Pak Yanto memilihku untuk mewakili SMA dalam lomba menulis, hal tersebut sontak membuatku dan para guru lainnya kaget. Banyak guru yang berpendapat aku tidak bisa melakukan apa-apa, banyak guru yang lebih memilih murid-murid favorit saja yang ikut dalam mewakili SMA. Melihat respon dari para guru membuatku semakin tidak percaya diri dan tidak menyukai mereka, bagiku mereka hanya berpikiran semaunya saja tanpa melihat murid-murid lainnya. Pak Yanto meyakinkanku dan bilang percaya padaku, saat itu adalah pertama kali aku merasa yakin bisa melakukan sesuatu yang baik di SMA.
    Banyak hal yang kulakukan untuk persiapan lomba seperti membaca dan mulai latihan menulis, itu adalah momen pertamaku, aku ingin memberikan hasil yang terbaik, begitu juga Pak Yanto Setiap harinya beliau memberikan dukungan dan masukkan padaku sembari guru lainnya memberikan tatapan sinis terhadapku. Pada saat itu aku hanya berpikir untuk tidak peduli dan lebih memilih untuk fokus mendengar arahan dari Pak Yanto. 
    Di situ juga aku melihat sosok Pak Yanto yang lebih dekat, dimana beliau memiliki rasa kepercayaaan yang tinggi terhadap semua orang, beliau juga banyak berbicara pada murid-murid lainnya dibanding guru lain. Pak Yanto merupakan seseorang yang memberikan kepercayaan dan beliau seperti menyatukan para murid-murid dengan guru untuk saling bekerja bersama. Sebuah hal yang jarang kulihat semasa sekolah, seorang guru yang benar-benar berjuang dalam melakukan segala hal.


    Hari demi hari kulalui untuk belajar menulis. Pak Yanto juga mengenalkanku pada temannya yang juga berprofesi sebagai guru di SMA swasta, aku banyak belajar menulis dari guru tersebut. Selain itu dukungan yang diberikan oleh Pak Yanto kian terbentuk, dimana para guru yang awalnya tidak percaya padaku kini mulai membantuku, tidak hanya aku, banyak murid bodoh lainnya yang juga akan mewakili SMA dalam ajang lomba diberikan kepercayaan dan dukungan penuh oleh para guru berkat Pak Yanto. 
    Pak Yanto pernah berkata “Kita tidak membutuhkan anak-anak yang sangat pintar untuk membangun sekolah ini, tapi yang kita butuhkan adalah semua anak-anak pintar dan bodoh untuk bekerja bersama dalam membangun sekolah ini”.
    Banyak guru terharu mendengar apa yang diucapkan oleh Pak Yanto, termasuk diriku yang juga sudah mulai tersadar akan pentingnya sebuah pengorbanan. 
    Kini hari-hari yang kulalui serasa berbeda, ada sebuah target dan pencapaian yang ingin aku dapat, aku yakin murid lainnya dan para guru juga mulai berpikiran sama sepertiku.
    Beberapa minggu latihan dan membuat sebuah tulisan, akhirnya karya tulisku siap dikirim, kini tidak hanya aku, Pak Yanto dan guru lainnya yakin aku bisa. Sebuah kepercayaan penuh yang sangat berarti bagiku.


    Beberapa minggu menunggu hasil. Aku tidak tau apakah aku berhasil juara atau tidak, tapi Pak Yanto selalu bilang “Kamu harus yakin dan apapun hasilnya adalah yang terbaik untuk SMA ini”. 
    Sampai suatu ketika Pak Yanto menghubungiku secara tiba-tiba dan bilang bahwa tulisanku masuk sepuluh besar, dan besok aku harus menjelaskan mengenai ide yang ada di tulisan tersebut pada para juri untuk penentuan juara.
    Pada saat itu hatiku rasanya campur aduk, mungkin aku belum juara tapi tulisanku sudah masuk sepuluh besar, aku merasa haru dan bahagia. Sebuah pencapian yang sangat kuharapkan, tidak sampai di situ, beberapa jam kemudian datang guru Bahasa Indonesia ke rumahku untuk memberikan pelatihan singkat supaya besok aku bisa menjelaskan seluruh ide yang ada pada tulisanku. Tentu aku merasa sangat senang dan kaget melihat beliau dan yang semua guru lakukan sekarang ini.


    Besok harinya aku memulai hari dengan kepercayaan diri yang tinggi dan dukungan penuh dari para guru yang ada di SMA. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk menjelaskan ide yang ada di tulisanku, aku berbicara dengan lantang dan penuh keyakinan, di situ tepercik sebuah pengharapan besar di benakku bahwa aku ingin juara pertama. Benar saja, aku memang berhasil mendapat juara pertama. Di situ aku merasa bahagia dan mau menangis tapi tentu aku tidak bisa menangis. “Ada banyak orang yang akan melihatku”, itulah yang kupikirkan saat itu. Rasa haruku dan sedih kuganti dengan senyuman yang gembira pada setiap orang.


    Ucapan selamat membanjiriku di SMA, semua orang memberikan salam padaku, ini sesuatu yang ada di luar dugaanku, aku tidak pernah berpikiran akan menjadi terbuka dan gembira seperti ini, tapi aku senang, aku ingin berterimakasih pada semuanya, terutama pada Pak Yanto yang sudah membuka jalanku menjadi lebih baik dan bermanfaat selama di SMA.
    Tidak sempat ketemu Pak Yanto, aku malah mendapat tamu dari Harian Berita Lokal, mereka ingin mewawancaraiku, dan pada saat itu aku bilang bahwa ”Aku bisa menjadi juara dan memberikan yang terbaik, itu semua karena perjuangan yang dilakukan bersama dengan para guru, aku berterimakasih mereka selalu memberikan dukungan padaku”. Tepuk tangan yang meriah membanjiriku atas tanggapan singkat yang kuberikan, termasuk tepuk tangan dari Pak Yanto dari kejauhan. Aku sadar bahwa setiap orang bisa menciptakan perubahan. Pak Yanto adalah contoh seseorang yang melakukan itu, beliau sangat mengapresiasi setiap orang dan memercayai mereka, sebuah hal kecil namun berarti begitu besar.  
    Beberapa waktu berlalu. Kini berkat Pak Yanto SMA itu menjadi sekolah yang lebih baik, sekolah yang lebih terbuka dan mementingkan aspek-aspek moral, rasa menghargai, dan pendidikan. Begitupun diriku, aku menjadi seorang yang percaya diri dan selalu berjuang untuk hal yang besar.  

    Ikuti tulisan menarik Molly Hana lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.