Lubuk Larangan - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Foto oleh kissearth dari Pixabay.com

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Minggu, 5 Desember 2021 08:53 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Lubuk Larangan

    Seorang bocah yang penasaran dengan lubuk larangan di kampungnya. Apakah dia dan temannya dapat melepaskan rasa penasarannya? Apa sebenarnya lubuk larangan itu? Apakah itu hanya sekadar tradisi desanya? Atau ada sesuatu di balik lubuk itu? Sesuatu yang melewati batas normal.

    Dibaca : 542 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

                Aku sudah lama melihat lubuk larangan yang berada tepat di desa kami. Konon katanya ada seorang penjaga di lubuk itu. Dia akan melindungi lubuk itu dari perbuatan-perbuatan orang jahat. Kami hanya boleh mengambil ikan di dalamnya setelah pak kepala desa mengizinkan kami. Kami biasanya memanen ikannya setiap empat bulan sekali. Aku masih tidak tahu mengapa kami menunggu selama itu padahal aku bisa melihat ikan-ikan yang besar dari atas jembatan ini. Aku bisa saja melompat dan menangkap ikan itu tetapi aku tidak ingin dimarahi ibu di rumah nanti. “Aku pulang saja.” Aku sudah melihat warga yang sudah bersiap-siap untuk memanen ikan. Pak kepala desa mengatakan bahwa seminggu lagi lubuk itu sudah bisa dipanen. Apakah kami bisa bertahan selama itu?

                “Bang, adek lapar. Abang punya uang tidak?” Aku hanya bisa melihat pasrah si Andi. Tentu saja bagi kami uang jajan itu hanyalah mitos. Aku biasanya membantu warga untuk mendapatkan uang saku. Jika ada pagar yang rusak, aku akan membantunya. Jika ada pipa yang bocor, aku akan membantunya. “Tidak ada dek. Besok abang janji.” Dia pergi dengan wajah murungnya. Ibuku tiba-tiba pulang di siang hari. “Ada apa bu?” Ibuku terlihat sangat senang. “Syukurlah nak, jamu ibu sudah habis terjual hari ini.” Sudah wajar bagi bapak-bapak yang ingin memanen ikan akan meminum jamu penambah energi. Syukurlah. “Ibu, apakah abang bisa meminta uang jajan?” Ibuku, dengan suasana hatinya yang bergembira seharusnya mau memberikan uang jajan kepadaku. “Tidak boleh. Ibu kan sudah bilang, uang hasil jamu kita untuk makan dan minum kita sehari-hari. Jika abang ingin uang jajan, abang cari sendiri.” Mengapa bapak harus menerapkan pemikiran ini di keluarga kami? Aku berlari meninggalkan ibu.

                “Ali!” Aku melihat temanku membawa jaring dan alat pancing. Aku mendapatkan firasat buruk melihatnya. “Jangan bilang. Aku sudah tahu apa yang akan kau lakukan.” Dia terlihat marah dan tetap menarikku. “Sudah. Ayo ikut bersamaku! Kau tidak diberikan uang jajan kan? Aku sudah tahu melihat wajahmu yang murung.” Dia memang orang yang cerdik. Aku meremehkan dia. “Kita dilarang untuk menangkap ikan di lubuk ini. Apakah kau mau dikurung oleh pak kepala desa seharian di gudangnya lagi?” Desa kami yang terlihat ramah dan bahagia memiliki sisi gelap terkait lubuk ini. “Jika tidak ketahuan, itu bukan melanggar namanya.” Aku tarik perkataanku terkait kecerdikannya. “Ayo bantu aku! Aku baru saja melihat ikan merah!” Aku tarik kembali perkataanku terkait dia bukan orang yang cerdik. Dia memang cerdik. “Kau serius?” Dia dengan sigap mengikuti ikan merah yang terlihat berenang ke hulu sungai. Aku memasang cacing ke alat pancing dan mulai beraksi. Aku memancing di belakang semak-semak sebagai pelindung agar tidak terlihat dari atas jembatan.

                Aku sudah setengah jam menunggu, tetapi aku bahkan belum menangkap sesuatu. Pergi ke mana semua ikannya? Yusuf juga belum kembali dari hulu sungai. Aku bahkan belum salat Dzuhur. Aku menyusun kembali alat pancingnya dan mencari Yusuf. Ikan merah memang ikan yang melegenda di desa ini namun mereka dilarang untuk dimakan. Mereka yang sudah pernah memakannya mengatakan bahwa daging ikannya sangat manis. Aku kemudian menemukan jaring yang dibawa Yusuf. Siapa yang menangkap ikan dengan tangan kosong? “Yusuf!” Aku mulai khawatir. Cerita yang beredar di desa kami terkait mereka yang melanggarnya akan ditelan oleh lubuk ini dan tidak akan terlihat lagi selamanya. Itu tidak benar, itu hanya mitos. “Yusuf!” Aku kemudian melihat pria tinggi berbaju hitam dan memakai tongkat di samping pohon bambu yang lebat. “Bocah! Kau tidak seharusnya berada di sini! Apa tujuanmu datang ke sini?” Mengapa? Mengapa aku tidak bisa berbicara? Napasku sesak sekali. Kalimat tidak mau keluar dari mulutku. “Oh maaf bocah, saya lupa.” Dia memukul tongkatnya ke batang bambu di sampingnya. “Hah, hah, hah!” Aku akhirnya bisa bernapas lega. “Sekarang katakan bocah, mengapa engkau berada di sini?!” Aku masih ketakutan untuk menatap keberadaannya. Apakah dia yang menjaga lubuk ini? “Maaf pak, saya hanya mencari teman saya yang pergi ke hulu sungai. Saya tidak bermaksud untuk mengganggu.” Dia kemudian menunjuk ke arah lubuk. “Jika kau mencari bocah yang sedang memburu ikan merah sambil berteriak kencang, itu adalah dia.” Dia menunjuk ke arah ikan merah yang sedang berenang di lubuk. “Maaf pak, saya mencari teman saya, manusia pak.” Dia kembali memukul bambu di sampingnya. “Bagi mereka yang mengganggu ketenangan lubuk ini sebelum diizinkan oleh juru kunci akan diberikan hukuman.” Aku ingin bertanya lagi tetapi aku kembali tidak bisa mengeluarkan kata-kata dari mulutku. “Dia telah datang tanpa rasa sopan santun, berteriak-teriak, mengganggu ketenangan lubuk ini! Aku harus memberikan bocah itu hukuman! Bagaimana denganmu? Apakah kau punya rasa sopan santun?” Aku bahkan tidak bisa berdiri. Kakiku terasa sangat berat. Aku hanya bisa terdiam. Ayolah! Jika aku tidak menjawab pertanyaannya aku akan dihukum! “Bang, terima kasih ya bang.” Aku tiba-tiba terbayang wajah adikku yang terlihat senang saat aku membelikan dia es potong. Pria tinggi besar itu kemudian berhenti. Dia tidak lagi menatapku dengan kebencian. “Sepertinya niatmu berbeda dengan bocah yang tadi. Waktu sudah Maghrib, aku harus pulang ke tempatku! Ingatlah ini nak! Bagi mereka yang mempunyai niat buruk datang ke lubuk ini akan saya hukum! Bagi mereka yang mempunyai niat baik datang ke lubuk ini, seperti kau nak, saya akan sangat senang! Senang sekali masih bisa melihat kalian yang peduli untuk sesama kalian! Aku sangat senang! Ha! Ha! Ha! Terima kasih nak telah membuat saya tertawa! Sebagai imbalannya, saya akan mengembalikan temanmu!” Yusuf tiba-tiba melompat keluar dari lubuknya. Aku juga tidak melihat pria tinggi besar itu lagi.

                “Ali! Syukurlah! Aku bar saja bermimpi yang sangat aneh! Aku menjadi ikan merah! Kau percaya tidak?!” Aku menutup mulutnya agar tidak dihukum kembali oleh bapak itu. Aku melihat bambunya yang semakin bergoyang kencang. Aku langsung membawa Yusuf pulang ke desa. Para warga sudah menunggu kami di jembatan. Ibuku juga sudah menangis melihatku. Aku merasa bersalah. Yusuf juga langsung berlari ke arah ayahnya dan setelah itu diberikan pukulan kasih sayang. Aku juga berlari ke arah ibuku dan mendapatkan perlakuan yang sama. Aku kemudian didatangi pak kepala desa. “Namamu Ali ya? Kau sudah bertemu dengan bapak itu kan nak?” Dia tersenyum menanyakan hal itu kepadaku. “Apakah bapak adalah juru kuncinya?” Dia tersenyum dan mengusap kepalaku. Dia tertawa kecil sambil menatap lubuk itu. “Aku tidak menyangka bahwa dia mengatakan itu terhadap temannya.” Aku juga melihat pria tinggi besar itu bersandar di bawah pohon bambu yang lebat. “Apakah bapak mengenal dia?” Aku menunjuk kea rah pohon bambu itu yang langsung diturunkan oleh pak kepala desa. “Tentu saja. Dia adalah pria yang kaku, menurutnya semua harus bersikap sopan di depan orang tua. Tentu saja itu merupakan sebuah kewajiban, tetapi itu bukan merupakan salah anaknya. Orang tuanya juga berperan penting terkait itu.” Aku kemudian melihat pria tinggi besar itu melambaikan tongkatnya dan pergi ke dalam kelebatan hutan. “Aku harap aku bisa bertemu dengannya lagi.” Aku melihat senyum pak kepala desa. Benar, terlihat seperti teman yang merindukan sesama temannya.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.