Sesaat - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Foto oleh mspark0 dari Pixabay.com

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Minggu, 5 Desember 2021 08:55 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Sesaat

    Seorang pria biasa yang bekerja di lantai rumah sakit khusus pasien kanker. Dia yang bekerja tanpa tujuan hidup sambil menahan kesedihan di hatinya. Apakah dia berhasil menemukan tujuan dan obat hatinya? Apakah dia hanya seorang pria biasa? Apakah ada sesuatu yang besar di balik semua ini?

    Dibaca : 511 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

                Aku melihat manusia seperti dedaunan. Mereka sangat rapuh. Mereka sangat mudah jatuh ke tanah. Mereka sangat mudah terombang-ambing oleh angin. Bahkan sekarang, aku sedang berada di antara mereka. “Nak, bisakah kau ambilkan bunga yang dibawakan anakku.” Bapak itu masih terlihat muda. Dia berada di rumah sakit ini sudah sebulan. Setiap minggu keluarganya akan datang menjenguknya. Aku bertugas di lantai di mana semua pasien pengidap kanker ditempatkan. “Tentu saja pak.” Beliau tersenyum melihat bunga itu. Anaknya masih duduk di bangku SMP. Anaknya selalu datang berseragam sekolah. “Nak, apakah kau sudah lama bekerja di sini?” Bapak itu berbicara kepadaku yang sedang membersihkan lantai seolah menghilangkan kesepiannya. “Sudah pak. Kira-kira sudah dua tahun pak.” Bapak itu terkejut dan melihat di sekelilingnya. Beliau kemudian menatapku dengan sedih. “Apakah kau betah bekerja di tempat ini? Terutama di lantai ini?” Aku melanjutkan pekerjaanku dan membawakan makan siang bapak itu. Aku kemudian tersenyum dan memasang tempat makan di tempat tidurnya. “Tentu saja pak.” Dia kemudian tersenyum dan mulai memakan sup sayurnya.

                Beberapa bulan kemudian, aku yang biasanya membersihkan kamar ini dalam keadaan kosong, namun hari ini seorang anak kecil ditempatkan di kamar ini. Berita yang buruk, aku tahu itu. Dia masih menahan ibunya yang ingin pergi bekerja meninggalkan dia. Dia masih menangis saat ibunya sudah keluar dari kamarnya. Aku melanjutkan pekerjaanku dan melihat boneka miliknya jatuh. Aku memberikannya kepada dia. Dia menatapku dengan ketakutan dan mengambil bonekanya. Aku melanjutkan pekerjaanku dan terpeleset di lantai yang licin. Aku kemudian mendengar suara tertawa kecil dari tempat tidurnya. Aku tidak melihatnya dan melanjutkan pekerjaanku. “Abang tidak apa-apa?” Dia menanyakan keadaanku sambil menahan tertawanya. Aku menghargai usahanya. “Tentu saja, abang harus kuat karena abang merupakan seorang abang.” Dia heran dengan perkataanku dan meletakkan bonekanya di sampingnya. “Apakah abang juga sakit sepertiku?” Aku kemudian berhenti bekerja dan duduk di samping tempat tidur gadis kecil itu. “Ibu selalu mengatakan kepada Cika kalau Cika harus kuat saat sakit ini.” Aku tersenyum dan mengeluarkan batu hijau yang bersinar dari saku celanaku. Dia tercengang dan mengambil batu itu. “Tidak, abang tidak sakit. Tapi, lihatlah abang yang tidak sakit tetap kuat. Jadi, Cika yang belum sehat seharusnya lebih kuat dari abang. Cika bahkan sudah lebih kuat dari abang. Abang bahkan tidak bisa berhenti menangis jika ditinggal sendirian di rumah.” Dia kemudian mengangguk. “Terima kasih bang telah menyenangkan Cika. Cika tidak sedih lagi. Cika harus kuat agar ibu tidak bersedih lagi.” Aku kemudian berdiri dan melanjutkan pekerjaanku.

                Aku melihat sinyal di langit. Waktuku di sini sebentar lagi akan selesai. Apakah aku sudah bermanfaat bagi mereka? Aku melihat jam tanganku yang menunjukkan angka 41%. “Hanya 41 kah?” Aku mengambil sapuku dan kembali melanjutkan pekerjaanku. Aku selalu menyempatkan waktu untuk datang ke kamar bapak dan gadis kecil itu walaupun kamar mereka sudah bersih. Angkaku tidak pernah meningkat dengan drastis belakangan ini. Aku melihat teman seangkatanku kemarin yang baru saja menolong orang-orang yang terjebak di gedung yang terbakar. Angkanya yang semula 40% melompat ke angka 95%. Sedikit lagi dia akan kembali pulang. Dia baru 1 tahun berada di bumi ini. Aku sudah lama tinggal di sini. Aku bahkan belum mencapai angka 50%. Apakah aku tidak terlalu membantu mereka selama 10 tahun ini? Gadis kecil itu kemudian menunjukkan bonekanya kepadaku yang melihat ekspresi wajahku yang sedang murung. “Lihat bang! Ibuku baru saja membelikanku boneka baru!” Gadis itu terlihat sangat bergembira. Aku bahkan harus menahannya agar tidak melompat-lompat di tempat tidur.

                Keesokan harinya seorang pria tua mendatangiku dan mengajakku mengobrol di taman rumah sakit. “Apakah kamu yang sering bekerja di lantai itu?” Dia menunjuk ke arah jendela di mana gadis kecil itu tinggal. Aku berharap dia bukan orang aneh. “Betul pak. Ada masalah apa pak?” Bapak itu tersenyum dan memegang tanganku. “Terima kasih nak. Kau mungkin tidak ingat tetapi dia selalu terlihat senang saat menceritakan abang baik yang selalu menemani dia kepada kami keluarganya.” Tentu saja aku ingat gadis itu. Dia juga merupakan gadis yang mengidap penyakit kejam ini. Aku selalu menyempatkan waktuku untuk mengurangi hari-hari kelamnya. Aku tidak ingin dia melihat dunia ini sebagai dunia yang kejam. Saat aku pertama kali sampai di tempat ini aku melihat burung beterbangan, pohon-pohon yang menari, dan penghuninya yang saling tertawa bahagia. “Tidak perlu berterima kasih pak. Aku hanya melaksanakan tugasku pak.” Bapak itu tertawa kecil dan menepuk-nepuk pundakku. “Tugasmu hanya membersihkan lantai itu nak tetapi kau melakukan satu hal yang semua orang selalu melewatkannya.” Aku bingung dengan perkataan bapak itu, namun kemudian beliau pergi dengan alat bantu jalannya. “Tentu saja aku ingat gadis itu pak. Diriku yang ragu-ragu waktu itu menyebabkan cerita gadis itu harus berakhir.

                Aku kemudian kembali bekerja dan tidak menemukan gadis itu saat membersihkan kamarnya. Aku mendatangi petugas terdekat dan dia mengatakan bahwa gadis itu sudah dibawa ke ruang ICU untuk dilakukan operasi. Aku berlari ke arah ruang ICU di ujung lantai. Aku melihat mereka yang sudah berusaha menyelamatkan gadis kecil itu. Lalu, bagaimana dengan diriku? Apakah aku tidak bisa melakukan sesuatu? “Abang akan pulang kan? Adik akan menunggu abang sampai kapan pun.” Apa yang seharusnya kulakukan? Aku kemudian melihat barang-barang gadis itu sudah dibersihkan dari kamar itu. Aku kemudian menguatkan tekadku. “Maaf adik, sepertinya abang belum bisa pulang lagi tahun ini.” Aku melepaskan jam tanganku dan mengeluarkan semua persentasenya dan memberikannya kepada persentase keberhasilan operasi gadis tersebut. Aku kemudian melihat persentase operasinya yang hanya 10%. “Apakah kau serius?” Aku kemudian duduk dan merenungkan nasibku. Jika aku terus menolong orang-orang daripada hanya membuat mereka bahagia aku sudah dapat menyelamatkan gadis ini! Aku kemudian dipanggil ke titik pertama. Aku akan dihukum karena melanggar protokol saat berada di tempat ini. “Subjek Elpida. Subjek telah melanggar protokol saat berada di Objek Tujuan. Hak kembali pulang untuk Subjek Elpida telah dicabut.” Aku hanya bisa melihat pasrah ke atas kapal kami. Apakah yang aku lakukan tadi sepadan? Aku bahkan tidak tahu apakah gadis kecil itu dapat kuselamatkan pada akhirnya. “Subjek Yperifaneia. Subjek telah memenuhi persyaratan untuk mendapatkan hak kembali pulang. Subjek Yperifaneia menolak hak tersebut dan tetap berada di Objek Tujuan.” Ada juga yang seperti dia. “Hebat sekali ya.” Dia kemudian mendatangiku. “Tentu saja aku hebat. Tidak sepertimu. Kau memang sudah berperan sebagai pecundang dari tempat asal kita. Hahahaa.” Aku tidak bisa mengatakan apa-apa dan pergi kembali ke rumah sakit itu.

                Aku takut untuk masuk ke dalam kamarnya. Aku takut tidak melihat gadis kecil itu tidak lagi menatap ke pohon taman sambil menunggu sarapannya. Aku membuka pintunya dan melihat tempat tidurnya yang sudah rapi dan bersih. Aku seketika bertekuk lutut dan tidak dapat menahan air mataku. Semua orang heran melihat seorang pegawai yang menangis di lorong rumah sakit. “Abang kenapa menangis? Bukannya abang bilang kalau abang itu kuat ya?” Aku melihat ke sampingku di mana ada seorang gadis kecil yang duduk di kursi roda bersama dengan ibunya. “Ini bang aku berikan batu hijaunya.” Aku menggenggam tangan gadis itu dan kembali menangis. Apakah ini sepadan? Aku masih belum tahu jawabannya.

                “Hey! Tolong gantikan tugasku untuk menyapu halaman depan! Terima kasih duluan!” Pria itu selalu seperti itu. Setiap hari Sabtu pacarnya selalu datang mengunjunginya. Mereka terlihat bahagia. Mereka seharusnya menikah saja mengingat umur pria itu yang tidak muda lagi. Umurku juga sudah kembali bergerak sejak hukuman waktu itu. Aku sudah semakin yakin tidak akan bisa pulang lagi ke tempat asalku. “Bang, jangan melamun saat pagi hari seperti ini.” Gadis kecil itu bahkan sudah tumbuh menjadi siswi SMA yang sehat terbebas dari penyakit kejam itu. “Maaf. Kau tidak perlu mampir ke sini saat pergi berangkat ke sekolah. Teman-temanmu nanti meninggalkanmu.” Dia memberikan sebuah kertas yang sudah ditandatangani oleh pihak sekolah dan keluarganya. “Apa ini?” Dia tersenyum dan mengambil lagi kertas itu. “Aku akan magang di rumah sakit ini. Mohon kerja samanya, senior. Hihi.” Aku sudah tahu tujuan dia masuk ke sekolah keperawatan. Dia mungkin ingin membantu orang-orang yang kesenangannya direnggut. “Kau juga ingin menolong orang-orang yang kesusahan kan? Aku mengerti perasaanmu.” Dia menggelengkan kepalanya dan terlihat kecewa. “Salah ya?” Dia kemudian melompat ke arahku dan memelukku. “Abang salah besar!” Aku melihat wajahnya yang senang dan akhirnya bisa menjawab pertanyaanku selama ini. “Tentu saja ini sepadan.” Gadis itu turun dan melihatku dengan wajah bingung. “Abang mengatakan sesuatu?” Aku kemudian mengusap-usap kepalanya. “Tidak ada.” Dia terlihat marah dan melepaskan tanganku. “Ah, abang masih menganggapku sebagai anak kecil ya?” Aku tertawa dan mengambil kertas yang ada di tangannya. “Ayo junior, waktunya bekerja.” Aku hanya bisa berharap bahwa adikku dan keluargaku di sana baik-baik saja. “Bang! Tunggu aku!” Sepertinya adikku di sini juga tidak bisa kutinggalkan. “Ah, wajah itu adalah wajah yang masih menganggapku sebagai anak kecil kan?!” Adikku di sini juga bisa membaca pikiran. Aku harus berhati-hati tidak mengeluarkan perasaan asliku. “Hahaha, tentu saja tidak.”

                “Apakah kau yakin pak atas keputusan ini?” Bapak itu menaruh kacamatanya dan mendekati jendela kapalnya yang menampakkan bumi. “Tentu saja. Penghuni di planet ini tidak percaya lagi akan harapan. Aku berusaha membawa itu kepada mereka. Itulah mengapa aku menamai dia seperti itu.” Bapak itu kemudian menghadap ke belakangnya. “Kami juga tidak berarti menelantarkan dia. Kami sebentar lagi akan mengunjunginya di hari besarnya!”



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.